Menu

Selamat Hari Hak Asasi Hewan :’(

Setiap tanggal 15 Oktober, kita memperingati Hari Hak Asasi Hewan Sedunia. Mungkin ada teman-teman yang mikir, ngapain, sih, kita harus rempong membela hak asasi hewan?

Soalnya mereka nggak bisa membela hak asasinya sendiri, sob!

Hewan juga nggak bisa bicara untuk menyampaikan keinginannya dengan jelas, padahal hewan juga punya hak untuk hidup dengan baik dan layak, seperti manusia.

Sebenarnya anatomi, biologis dan fisiologis hewan hampir sama dengan kita, lho. Kalau fisik mereka disakiti atau dikasari, tentu mereka bakal kesakitan. Hewan juga bisa merasa gembira, sedih dan bete.

Per hari ini, ada hampir 1 juta spesies hewan di dunia. Itu baru jumlah yang tercatat secara ilmiah, lho! Menurut jurnal Patroli News, sebenarnya total ada sekitar 7,77 juta spesies hewan di bumi ini. Wow!

Gimana dengan di Indonesia?

Tau nggak, sih, sekitar 25 persen spesies ikan di dunia ada di perairan nusantara? Banyak banget, ya. Itu baru Ikan lho, belum mamalia, burung, reptil serta satwa lainnya. Fauna kita kaya banget, sob! Keren!

Tapiiiii… kasus penganiayaan hewan di Indonesia juga banyak sekali terjadi.

Masih ingat dengan kasus penembakan kucing hutan oleh seorang anak muda, lalu bangkainya dia pamerkan di sosial media? Lebih gokilnya lagi, si tersangka ternyata menembak kucing-kucing tersebut cuma buat menguji senapan anginnya. Kzl! Pantas aja kalau organisasi penyayang binatang, Animal Defenders, langsung melaporkan kejadian ini sebagai kasus penganiayaan hewan.

Belum lagi isu pembantaian orangutan di Kalimantan, juga tindakan kekerasan pada ternak sapi sampai-sampai Australia sempat menghentikan ekspor sapinya ke Indonesia. Lalu, kebakaran hutan yang belakangan ini heboh terjadi juga otomatis bikin para hewan kehilangan habitat hidupnya.

Sementara yang pada ngebakar hutan mikir nggak, sih, bahwa mereka sebenarnya menghancurkan rumah dari ribuan hewan? Tau nggak sih, kalau hewan-hewan tersebut berperan penting untuk keseimbangan ekosistem kita? Gemez, deh!

Di Bali, gerakan perlindungan terhadap hak hidup hewan lebih gencar lagi, sebab masyarakatnya nggak mau mengulangi kesalahan masa lalu yang menyebabkan punahnya spesies langka. Sejarah mencatat, Bali pernah jadi habitat Panthera tigris balica atau harimau Bali, salah satu dari tiga jenis harimau di Indonesia. Harimau Bali, atau biasa disebut Samong oleh masyarakat, punah pada 27 September 1937 gara-gara perburuan dan hilangnya habitat mereka. Padahal samong merupakan kekayaan hayati Bali yang nggak ternilai harganya.

Kini, harimau Bali serta harimau Jawa telah punah, sementara harimau Sumatera juga ikut terancam punah.

Dokumentasi terakhir harimau Bali, yang mati ditembak pada tahun 1925 di Sumbar Kima, Bali Barat.

Hak Asasi Hewan vs Kita

Coba pikirin, dari mana, sih, bahan baku barang-barang kita? Barang-barang seperti jaket kulit, tas kulit, sepatu, jam tangan hingga ikat pinggang. Kalau dari kulit hewan, bagaimana cara kulit tersebut diambil? Apakah sudah sesuai prosedur?

Coba pikirin juga, dari mana, sih, asal makanan kita? Bagaimana cara penyembelihan daging hewan yang kita konsumsi?

Asal tahu aja, ada lima hak hidup hewan yang mesti kita perhatikan, yaitu:

  • Bebas dari rasa lapar dan haus.
  • Bebas dari rasa sakit, cidera dan penyakit.
  • Bebas dari ketidaknyamanan, penganiayaan, dan penyalahgunaan.
  • Bebas dari rasa takut dan tertekan.
  • Bebas mengkpresikan perilaku alaminya.

Salah satu tayangan yang berhasil bikin saya nangis adalah video yang dibuat oleh International Animal Right Days Organization. Ceritanya, organisasi tersebut membuka stand dimana para sukarela bisa mendaftar untuk berpartisipasi merayakan Hari Hak Asasi Hewan. Lalu, para volunteer tersebit diberikan baju dan sarung tangan, dan mereka satu persatu diminta untuk menggendong hewan yang telah meninggal akibat kekejaman manusia.

Oya, sebagai informasi, menurut data Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM), jumlah dokter hewan di Indonesia sekitar 12 ribu orang, padahal yang dibutuhkan 20 ribu orang. Masih kurang banget! Selain untuk buka praktek, spesialisasi dokter hewan juga diperlukan di berbagai bidang, seperti bidang teknologi pangan, perlindungan konsumen, kesejahteraan hewan, karantina, perlindungan lingkungan, pengajaran dan riset.

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Dr. drh. Joko Prastowo, M.Si., bilang, meski sejarah profesi dokter hewan di negara kita telah berusia seabad lebih, namun pertambahan jumlah dokter hewan di Indonesia belum tinggi.

Kalau kamu memang punya minat ke bidang biologi dan kedokteran, mungkin kamu bisa mempertimbangkan kuliah dan profesi sebagai dokter hewan. Saat ini sudah ada 10 universitas di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan dokter hewan, di antaranya UGM, IPB, Universitas Airlangga Surabaya serta Universitas Udayana Bali.

(sumber foto: IARD, Barkpost, Rappler, Simply Indonesia, No to Dog Meat)

LATEST COMMENT
Betta Agustina | 4 jam yang lalu

Kurang suka menghitung tapi suka lebih suka cari kesalahan atau suka memacahkan masalah

13 Ciri Kamu Cocok Kuliah di Jurusan Teknologi dan Komputer
Dwisat Wulandari | 6 jam yang lalu

Iya bener tuh lebih baik UTBK diadakan tahun depan biar siswa gak pusing "

UTBK SBMPTN 2020 Tidak Dimajukan. Simak Penjelasannya!
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©