Menu

Penyebab Kebakaran Hutan di Indonesia. Kamu Pasti Nggak Tau!

Udah berbulan-bulan kita dibuat sesak oleh asap kebakaran hutan yang mengepung tanah air. Bahkan saking akutnya pandemi kebakaran ini, pemerintah sampai terkesan pasrah untuk menindak lanjutinya. Pemerintah aja bingung, apalagi kita?!

Kemarin saya baca sebuah artikel dari The Guardian, yang judulnya cukup bikin miris: “Indonesia's fires labelled a 'crime against humanity' as 500,000 suffer”.

Widih, sesadis itukah kasus kebakaran hutan ini, sampai patut disandingkan dengan kasus Holocaust Nazi atau Apartheid? Disebut sebagai kejahatan kemanusiaan pula!

***

Kebakaran hutan sebetulnya bukan hal baru di negara kita, bahkan merupakan event tragedi rutin tiap tahun. Tapi kenapa tahun ini efeknya heboh banget? Trus, apa sih yang ngebedain tragedi kebaran ini dari tahun-tahun sebelumnya?

Sebelumnya, yuk kita pahami dulu kondisi dan sejarah hutan di Indonesia.

Hingga tahun 1900, wilayah Indonesia masih diliputi oleh 170 juta hektar hutan tropis, menjadikan Indonesia negara dengan hutan tropis terbesar setelah Brazil.

Fast forward sedikit ke tahun 2000an awal. Saat itu, wilayah Indonesia "cuma" diliputi kurang dari 100 juta hektar hutan tropis. Hutan kita menyusut dengan super drastis!

Di tahun 2012, tingkat deforestasi (pembukaan ladang hutan/penebangan hutan liar) Indonesia menjadi lebih tinggi daripada Brazil. Kita resmi jadi negara dengan laju deforestasi tercepat di dunia. Warbiyasak!

Dengan laju penebangan perusakan hutan seperti ini, pengamat memperkirakan hutan di Indonesia bakal habis dalam kurun waktu 100 tahun ke depan. Ouch. Kasian banget anak-cucu kita.. :(

Secara global, rusaknya hutan tropis menjadi penyebab utama perubahan iklim (climate change), karena hutan yang dibakar akan melepaskan gas metana dan gas rumah kaca ke atmosfer, sehingga mempercepat pemanasan global (global warming).

Salah satu efek deforestasi: banjir.

Trus kenapa, dong, hutan terus-terusan dirusak dan ditebang?

Penebangan hutan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan lokal ataupun multinasional yang telah mendapatkan izin konsesi dari pemerintah untuk mengolah lahan hutan.

Konsesi penggunaan ladang ini memberikan pendapatan bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Jadi, izin ini sifatnya win-win. Menguntungkan sisi perusahaan DAN pemerintah.

Hutan di Sumatera yang sudah ditebang dan digunakan untuk menanam tanaman yang akan memproduksi bubur kertas dan kertas.Hutan Sumatera yang sudah ditebang dan digunakan untuk menanam pohon yang akan memproduksi bubur kertas dan kertas

Penebangan dan pengolahan lahan hutan didorong oleh kebutuhan, misalnya kebutuhan kayu (timber), bubur kertas dan kertas (pulp & paper), minyak kelapa sawit (palm oil) dan pertambangan (mining).

Sebetulnya ada beberapa cara membuka lahan, misalnya dengan menggunakan excavator.

Sebuah excavator  meratakan dan membersihkan ujung hutan gambut di area lahan konsesi kelapa sawit di Indragiri Hulu, Riau

But nope, cara ini sulit, mahal dan makan waktu. Cara yang paling gampang untuk membuka ladang adalah dengan... membakar hutan.

Membakar hutan untuk membuka lahan sebetulnya adalah sistem bercocok tanam yang sudah dipraktekkan puluhan ribu tahun lalu di era Neolitik, dan hingga kini masih digunakan, termasuk di Indonesia.

Umumnya, kebakaran hutan sengaja dilakukan oleh perusahaan-perusahaan perkebunan dan petani, secara ilegal, sebagai teknik pembukaan lahan yang cukup murah.

Undang-Undang no. 32 tahun 2009 mengenai Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup membolehkan petani  menebang dan membakar hutan untuk budidaya tanaman selama lahan tersebut kurang dari 2 hektar. Bahkan beberapa daerah membuat aturan lokal yang memperbolehkan petani untuk membakar hingga 5 hektar. Malah, aturan ini konon dibuat untuk menghormati kebudayaan lokal. Waduh!

Akibat praktek tersebut, sekarang ini, puluhan ribu hektar hutan telah terbakar selama lebih dari dua bulan.

Berdasarkan informasi dari Mongabay, pemanfaatan lahan hutan untuk menanam dan memproduksi minyak kelapa sawit menjadi pendorong terbesar deforestasi di Indonesia. Hmmm......

Lahan yang baru "dibuka" dan sudah ditanami sawit

Kenapa kelapa sawit?

Karena Indonesia adalah salah satu negara yang memproduksi dan meng-ekspor minyak sawit terbanyak di dunia. Kelapa Sawit menjadi saah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara kita. Bahkan, Indonesia dan Malaysia memasok lebih dari 85% kebutuhan minyak sawit dunia, lho.

Aktivis lingkungan pun menuduh pembakaran hutan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang didukung oleh investor-investor dari Malaysia dan Singapura demi kelapa sawit.

Memang, minyak sawit digunakan di berbagai macam produk konsumen sehari-hari dan snacks favorit kita, seperti kosmetik, shampo, sabun, biskuit, margarin, mi instan, es krim, coklat, hingga detergen dan bahan bakar biodisel.

Beberapa contoh brand yang menggunakan minyak sawit dalam bahan bakunya adalah Starbucks, McDonalds,  Burger King, Nestle, Danone, Unilever,  Kraft, L’oreal, P&G, dan KAO.

Untuk mengatasi deforestasi karena minyak sawit, pada tahun 2004 dibentuklah Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sebuah badan sertifikasi minyak sawit dunia yang memberikan cap sustainable. Sertifikasi sustainable ini menandakan jika minyak sawit diperoleh dengan cara yang tidak merusak lingkungan. Semacam cap halal dari MUI begitu, deh!

Walaupun ada banyak perusahaan yang berkomitmen tinggi terhadap penggunaan sawit yang ramah lingkungan (deforestation-free palm oil), nggak semua perusahaan punya komitmen yang sama. Bahkan banyak perusahaan yang terkesan cuek dan nggak mau berkomitmen dalam kaitan diatas.

Mirisnya, sebagian besar perusahaan yang cuek tersebut adalah perusahaan-perusahaan yang sering kita konsumsi sehari-hari, seperti KFC, Pizza Hut, Domino’s, Wendy’s, Starbucks, Dairy Queen, dan Kraft. Coba cek Scorecard dan Commitment Level perusahaan-perusahaan yang sering kamu konsumsi disini.

"Tahun-tahun lalu, efek menebang dan membakar hutan kok kayaknya biasa-biasa aja? Nggak parah? Paling kebakaran sebentar abis itu ujan dan berhenti."

Not this year! Gara-gara kemarau panjang akibat El Nino, api jadi sangat cepat menyebar dan susah dipadamkan.








Bukan hasil Photoshop atau filter Instagram, lho! Ini udara yang asli butek akibat asap tebal :(

Kebakaran menyebabkan udara jadi sangat beracun dan berubah warna jadi sephia di wilayah-wilayah terparah di Sumatera dan Kalimantan. Di titik-titik tersebut, tingkat Indeks Standard Polutan (PSI) telah mencapai 2.000. Padahal, indeks di atas 300 udah dianggap berbahaya. Nah, lho!

Sepanjang 2015, ada hampir 100,000 kebakaran aktif terdeteksi di Indonesia. Dan setiap hari sejak bulan September, emisi yang dihasilkan oleh kebakaran tersebut melebihi emisi rata-rata harian yang dihasilkan oleh semua aktivitas ekonomi di Amerika Serikat. Dor!


Image satelit kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan

Trus, jangan lupa, kebakaran dan pengalihan fungsi juga hutan merusak keaneka ragaman hayati (bio diversity) dan ekosistem hutan. Satwa langka seperti orangutan dan harimau Sumatera terpaksa melarikan diri atau bahkan mati karena rumahnya habis terbakar.

Jadiii, bisa disimpulkan, akar permasalahan dan penyebab kebakaran hutan adalah keserakahan manusia. Naiknya permintaan barang konsumen dan faktor bisnis mendorong petani serta perusahaan untuk menebang dan membakar hutan sesuka hati, secara legal maupun ilegal.

Kalau dipikir, ini semua lingkaran setan yang saling berkaitan.

Penebangan lahan hutan dilakukan terus menerus selama ratusan tahun. Akibatnya? Ekosistem bumi yang rusak dan perubahan iklim. Akibatnya? El Nino yang menciptakan kemarau panjang. Akibatnya? Hujan nggak turun, dan saat hutan kembali dibakar-bakar, ia susah padam. Akibatnya? Nggak usah dijelaskan lagi, ya. Intinya, semua makhluk hidup menderita.

Bisa aja, lho, masyarakat Kalimantan dan Sumatra yang setiap tahun terkena efek pembakaran hutan akan berbondong-bondong migrasi ke Jawa. Akibatnya, pulau Jawa yang sudah padat jadi semakin padat. Akhirnya di Jawa akan semakin banyak pengangguran, kekurangan bahan makanan, dan dalam jangka panjang, akan mengakibatkan kekacauan sosial seperti yang sudah terjadi dan pernah kita tulis disini. Persis kayak yang selama ini kita tonton di film-film. Syereeem!

Dulu mungkin kamu masih bisa cuek, tapi sekarang udah nggak bisa lagi. Embel-embel Go Green dan Save The Planet nggak bisa lagi dijadikan sekedar jargon kosong. Indonesia butuh pemahaman kolektif dan aksi konkrit dari kita semua, agar kebakaran hutan ini bukan menjadi kejahatan kemanusiaan seperti yang dituduhkan pihak lain.

***

Untungnya, ada teman-teman kita yang turun langsung membantu mengatasi bencana ini. Coba, deh, baca tulisan mengenai kisah heroik pahlawan muda untuk tahu kisah mereka. Memang, nggak banyak dari kita yang punya kemewahan kemampuan untuk terjun secara langsung mengatasi kebakaran hutan seperti mereka. Namun dengan memahami permasalahan ini, paling nggak anak muda Indonesia bisa lebih kritis dan turut berperan aktif dalam melakukan aksi-aksi preventif serta memberikan dukungan secara tidak langsung.

Ini negeri kita, ini planet kita. Masa depan kita dan generasi berikutnya juga berada di tangan kita. Yuk, mulai bantu untuk membuat perubahan sekecil apapun.

(sumber gambar : Mongabay, Greenpeace, Asian Correspondent, @glennhurowits)

LATEST COMMENT
Rachel S | 1 jam yang lalu

Utk prodi soshum gimana kak?

25 Prodi Saintek dengan Nilai UTBK Tertinggi di SBMPTN 2019
Elis Kurniawan | 7 jam yang lalu

Lanjut ke skor utb 600 sd 650 kak... Biar jadi acuan buat th depan, tks

25 Prodi Saintek dengan Nilai UTBK Tertinggi di SBMPTN 2019
Lutfiya R | 8 jam yang lalu

Min, sistem minus itu hanya untuk kemampuan ipa/ips saja atau kemampuan dasar juga ?

Serba-Serbi Seleksi Mandiri Universitas Indonesia (SIMAK UI) 2019
Bhahari Abdul Gani | 11 jam yang lalu

Kak Mau tanya Kalau penerima Bidikmisi di UIN bayar apa tidak UKT nya?

4 Hal yang Harus Kamu Tahu Tentang UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©