Menu

Ketika Barack Obama Bicara Soal “Pekerjaan” Barunya Selepas Menjadi Presiden Amerika Serikat

Sejak awal tahun 2017, Barack Obama sudah menyelesaikan tugasnya sebagai orang pertama di Amerika Serikat. Beliau pun terlihat menikmati “kebebasan”nya dengan berlibur bersama keluarga dan melakukan berbagai kegiatan yang super seru—mulai dari nge-yacht bareng Oprah Winfrey dan Tom Hanks sampai asik-asikan ikutan olahraga air ekstrim.

You really deserve that awesome vacation, Sir!

Sekembalinya berliburan, ternyata beliau nggak lanjut leyeh-leyeh menimkati masa purnatugasnya, lho, gaes. Hari Minggu (23/4) lalu menjadi penanda kembalinya Obama untuk tampil di hadapan publik sejak meninggalkan jabatannya sebagai Presiden Amerika Serikat tanggal 20 Januari lalu.

Momen tersebut dihabiskan oleh Mantan Presiden AS ke-44 ini dengan menjadi pembicara di salah satu forum di University of Chicago, yang berlokasi di kota dimana pertama kali beliau memulai kariernya sebagai seorang politikus.

“Jadi, apa saja yang sudah terjadi selama saya pergi [berlibur]?” guraunya saat menyapa kurang lebih lima ratus tamu undangan yang hadir pada saat itu.

1

Dalam pidato kemunculan perdananya setelah masa kepresidenannya itu, Obama bercerita panjang lebar mengenai iklim politik secara keseluruhan saat ini pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS periode berikutnya, namun tetap enggan berkomentar mengenai penggantinya tersebut.

Pasalnya, beliau terlihat jauh lebih antusisas ketika membahas soal “pekerjaan” barunya setelah turun jabatan, lho, gaes. Dalam pidatonya kali ini, ia mengutarakan rencana kegiatannya di masa depan sebagai seorang politisi—yang melibatkan peran penting anak muda.

Wah! Gimana, tuh?

Obama menuturkan bahwa ia masih memiliki keinginan untuk memperbaiki sistem politik yang kini masih berlangsung di AS. Dengan dihadapi berbagai isu-isu dunia seperti peradilan hukum yang masih timpang sampai perubahan iklim, beliau menjadi termotivasi untuk tidak hanya membantu memberikan solusi yang terbaik, tapi juga membantu mendidik calon penerus yang bisa memberikan solusi yang lebih baik.

“Saya menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan mengenai apa yang dapat saya lakukan untuk “pekerjaan” saya selanjutnya, dan apa yang saya yakini adalah [bahwa] meskipun ada banyak masalah di luar sana yang saya pedulikan dan ingin saya selesaikan, hal terpenting yang bisa saya lakukan adalah membantu mempersiapkan generasi kepemimpinan berikutnya dengan cara apa pun yang bisa saya lakukan. Inilah saat yang tepat bagi saya untuk menyelesaikan estafet kepada para calon pemimpin dan melihat mereka mengubah dunia.” ujarnya.

Menurutnya, kini orang-orang (terutama kaum muda) sejatinya memiliki dasar keyakinan yang sama, namun persepsi media dapat membuat berbagai perbedaan. Internet, sebagai contoh, dapat memicu individu dalam menginisiasi pembicaraan seperti di dunia nyata.

Tapi, nggak semuanya akan terjadi sama persis di kehidupan politik dengan kehidupan bermasyarakat, nih, sob. Bisa jadi kurangnya antusisas masyarakat dalam keterlibatannya pada kehidupan bermasyarakat dan berpolitik menimbulkan semakin persepsi yang salah mengenai kedua dunia tersebut—dan ujung-ujungnya malah bersikap skeptis dan menyerah. Hal ini terbukti dengan rendahnya partisipasi generasi muda di pemilihan presiden AS lalu karena adanya gap antara calon pemerintah dengan idelisme yang dianut.

2

“Maka dari itu, saya percaya bahwa hanya anak muda—bukan saya—yang bisa menyelesaikan masalah ini.” tambahnya. “Saya ingin memfokuskan tenaga saya untuk meruntuhkan “benteng” yang membuat generasi muda enggan terlibat dengan politik dan membuat mereka siap menjadi pemimpin masa depan. Jika hal itu berhasil, saya yakin [masa depan] kita akan baik-baik saja.”

Dengan kata lain, Obama berjanji akan mengerahkan seluruh tenaga dan upayanya untuk membangun generasi muda menjadi pemimpin yang nggak hanya kuat dari segi kemampuan dan pengetahuan, tapi juga peduli dengan kemasyarakatan dan melek politik karena masa depan ada di tangan kita sebagai generasi muda, alih-alih hanya berperan sebagai “komentator” bagi dunia hanya dengan bermodal membawa titel.

That’s the role model we all need in our life!

Eniwei, sebelum kemunculan publik perdananya ini, beliau juga menyempatkan diri untuk berdiskusi bersama enam tokoh muda dari organisasi Chicago Create Real Economic Destiny (CRED) yang memfasilitasi generasi muda dalam mengasah skill dan bersaing di dunia kerja. Psst, organisasi ini sempat dibina beliau saat ia berumur 25 tahun, lho!

Dalam mengakhiri pidatonya, Obama pun menyimpulkan observasinya terhadap generasi muda yang menginspirasi dirinya untuk menyukseskan “pekerjaan” ini. “Ada satu alasan kenapa saya selalu bersikap optimis meski kenyataan tidak berjalan seperti yang saya inginkan. Itu adalah karena generasi muda selalu menyikapinya seperti itu.”

Tuh, gaes, generasi "tua" aja masih peduli sama masa depan generasi kita. Masa' kamu nggak peduli dengan masa depan generasi kamu sendiri?

(sumber gambar: forbes.com, startstat.com)

LATEST COMMENT
Maulida Nur Perdani | 3 jam yang lalu

bantu jawab ya.. kalau memang hanya minat di rumpun soshum, ambil soshum saja bisa kok, gak harus ipc ^^

Strategi Sukses IPC di SBMPTN Serta Pertimbangan Memilih IPC
Anisa | 13 jam yang lalu

Kk aku kan dari jurusn ipa, tapi pas mau kuliah mau ngambil soshun, itu apakah harus utbk nya sohsun atau ipc kk?

Strategi Sukses IPC di SBMPTN Serta Pertimbangan Memilih IPC
Tisam Ali | 20 jam yang lalu

Apakah masih bisa diubah? Jika ya, silakan coba di prodi yang lain. Namun apabila telah telanjur dan tidak bisa diubah, maka saran saya coba jalani. Bulatkan tekad untuk menjalani perkuliahan. Dari situ, kamu benar-benar dapat mengetahui apakah salah jurusan atau ternyata bisa dijalani.

Balada Salah Jurusan Kuliah dan Solusinya. Nggak Harus Pindah Jurusan, Kok!
Tisam Ali | 20 jam yang lalu

Hai Kristin, untuk teknis pengisian, bisa kamu tanyakan ke pihak kampus. Kebanyakan kampus sudah menerapkan pengisian berbasis komputer secara online. Ada pula yang masih mengisi secara manual (tertulis).

Strategi Mengisi KRS: Memilih Mata Kuliah dan Menentukan Jumlah SKS
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©