Menu

Yang Bikin Saya Menyesal Kuliah Sastra

Dulu saya kuliah di Fakultas Ilmu Budaya, yang populer dengan sebutan kampus Sastra. Di situ, saya mengambil Program Studi Inggris.

Setelah menjalani masa kuliah, lulus, dan bekerja, ternyata saya masih menyisakan penyesalan. Hiks!

Nyesel masuk Sastra? Kenapa?

Hmmm…

Coba saya ceritain, deh.

Kuliah Sastra—lebih luasnya Ilmu Budaya—ternyata lebih menyenangkan dan menggairahkan daripada bayangan saya sebelumnya. Namun setelah lulus, saya merasakan beberapa penyesalan yang masih “mengganjal” sampai sekarang.

Kalau kamu anak Sastra atau tertarik mengambil jurusan Sastra, baca deh, supaya nggak menyesal di kemudian hari, seperti saya.

Saya menyesal karena menganggap remeh mata kuliah bahasa dasar, seperti Grammar, Writing, Speaking, Reading, dan Listening. Mata kuliah ini ada di hampir setiap semester dan hadir di berbagai level, mulai dari level 1 sampai level 6. SKS-nya kecil, hanya 1 atau 2 SKS.

Karena materi kuliahnya terkesan "basic" dan SKS-nya minim, saya jadi menyepelekan mata kuliah-mata kuliah dasar ini. Tetap masuk kelas dan mengikuti perkuliahan, sih, cuma ala kadarnya aja. Saya lebih fokus ke mata kuliah yang SKS-nya besar, demi menggenjot IP.

Hasilnya, penguasaan materi bahasa dasar saya bisa dibilang standar. Padahal sebagai mahasiswa yang mengambil konsentrasi bahasa, skill saya dalam Grammar, Writing, dan kawan-kawannya itu mestinya outstanding.

Jadi kalau kamu kuliah Sastra, jangan sampai mengulangi kesalahan ini, ya. Apalagi di dunia kerja, skill dasar bahasa, tuh, kepake banget.

Saya menyesal karena nggak banyak menulis dengan bahasa yang saya pelajari, Inggris. Kalau kuliah di Fakultas Ilmu Budaya, kita pasti nggak lepas dari dunia tulis-menulis. Idealnya, anak Sastra bisa nulis dengan oke, baik dalam bahasa yang dipelajari maupun bahasa Indonesia.

Nah, di jurusan saya, nggak semua mata kuliah mewajibkan penggunaan bahasa yang kami pelajari a.k.a bahasa Inggris dalam tugas atau ujian. Alhasil, saat mengerjakan tugas dan ujian, saya lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Tujuannya, sih, biar cepat selesai dan nggak rempong ngedit grammar atau mikirin pemilihan kata.

Gara-gara malas begitu, kemampuan saya untuk menulis dalam bahasa Inggris jadi kaku, sementara kemampuan teman-teman lain yang rajin menulis dalam bahasa Inggris meningkat pesat.

Padahal belakangan ini, saya semakin banyak melihat manfaat kemampuan menulis dalam bahasa asing. Bisa untuk tulisan ilmiah, artikel populer, advertising dan lain sebagainya. Huft, jadi makin nyesel!

Saya menyesal kurang berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Bahasa itu dinamis dan berubah-ubah, nggak kaku seperti ilmu pasti. Jadi kalau kita sering menggunakan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari, kemampuan bahasa asing kita tentunya akan  semakin canggih. Sebalikanya, kalau bahasa asing tersebut hanya dipelajari di kelas dan jarang digunakan sehari-hari, kemampuan kita bakal berkurang atau bahkan hilang.

Kuliah di Sastra Inggris bukan jaminan kita akan cas-cis-cus faseh bahasa enggres, lho! Faktor yang paling menentukan kelancaran berbahasa Inggris kita adalah KITA sendiri. Salah satu cara efektif untuk melancarkannya adalah sesering mungkin berkomunikasi dalam bahasa Inggris, seenggaknya di kampus.

Jadi, di kelas, di kantin, saat curhat atau saat ngegombalin gebetan (eh!), pakailah bahasa yang kamu pelajari di kampus.

Saya menyesal nggak mengambil kesempatan ke luar negeri. Salah satu keuntungan jadi anak Sastra adalah mendapat banyak kesempatan keluar negeri. Bukan dengan tiket promo, yah, melainkan dengan beasiswa. Beasiswanya bisa berupa beasiswa summer course, short course, atau pertukaran pelajar selama satu semester bahkan setahun.

“Alah, palingan yang dapet cuma anak-anak yang IPK-nya di atas 3,9!” pikir saya apatis. Soalnya 'kan IPK saya dulu cuma 3.85 (tapi bo’ong, hehe!)

Kenyataanya, banyak mahasiswa yang diberangkatkan ke luar negeri lantaran semangat mereka yang tinggi, bukan IPK-nya. Kalau saja dulu saya mencoba… #nyesek

Saya menyesal kurang banyak membaca. Dulu, saya merasa bangga lantaran ngerasa sudah banyak membaca. Yaeyalah, soalnya setiap mata kuliah saya pasti memberikan tugas baca! Trus, baru tau 1-2 nama sastrawan keren serta beberapa karya sastra klasik aja udah bikin saya belagu berat. Hihihi...

Tetapi sebenarnya, bacaan saya sewaktu kuliah masih kurang. Saya seharusnya lebih banyak membaca lagi. Teman saya yang kuliah S2 di luar negeri cerita, dia baru nyadar kalau selama kuliah S1 dia tergolong malas membaca, terutama kalau dibandingkan mahasiswa di luar negeri. Mereka rajin baca dan betah berlama-lama baca buku di perpustakaan.

Sementara saya? Ke perpustakaan hanya demi ngadem atau sekadar melipir ke kedai kopi hits yang ada di dekatnya.

***

Kalau diingat-ingat lagi, rasanya saya benar-benar menyesal. Lebih nyesal daripada pas nolak balikan sama mantan #eaaa. Kalau aja saya kuliah dengan lebih baik, pasti skill, pengalaman serta wawasan saya bakal lebih kaya.

Tapi penyesalan memang selalu datang belakangan, saat nasi sudah jadi bubur ayam pakai sate ati. Lah, jadi enak dong?

Saya nggak bisa mengulang waktu dan balik ke masa kuliah. Tapi kamu, para mahasiswa atau calon mahasiswa, masih punya kesempatan untuk melakukan yang terbaik saat kuliah Sastra, dan nggak mengulangi penyesalan saya.

(sumber gambar: Standford, Hexjam, Hillarius Time, Tiptop Lifestyle)

LATEST COMMENT
Aufa B | 45 menit yang lalu

Lebih baik ikut utbk jarena ada beberapa univ yg mandiri juga menggunakan kombinasi dengan nilai utbk

Jadwal Lengkap SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri 2019
Aufa B | 46 menit yang lalu

Nama tesnya utbk, jalur masuknya sbmptn

Jadwal Lengkap SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri 2019
Aufa B | 47 menit yang lalu

Nggak berpengaruh

Jadwal Lengkap SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri 2019
Witri syafrida femelia | 6 jam yang lalu

min saya ikut utbk soshum dan saintek namun nilai soshum saya lebih tinggi, saat mendaftar sbmptn saya ingin ambil program studi soshum untuk kedua pilihannya apakah bisa min?atau harus ambil jurusan satu saintek dan satu soshum?

Serba-Serbi SBMPTN 2019, Cek Informasi Lengkapnya!
Dela Amelianta Ginting | 8 jam yang lalu

Kak maksud dari" jangan menempatkan prodi dgn kriteria kelulusan skor tinggi di bwh prodi yg skor lukusnya relatif rendah" itu kyk mana ya..

Pengertian Keketatan Persaingan, Daya Tampung, dan Peluang dalam SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©