Menu

Ternyata Masih Ada Perempuan yang Nggak Boleh Kuliah. Kenapa?

Di zaman secanggih ini, ternyata masih ada, lho, perempuan yang nggak boleh kuliah! Saya nggak ngomongin soal perempuan di kawasan terpencil atau di daerah miskin, lho. Saya ngomongin soal perempuan di perkotaan yang dekat dengan akses pendidikan, yang tinggal di tengah-tengah masyarakat yang (mayoritas) berpendidikan.

Shocking, but (sadly) true.

Saya tumbuh di keluarga yang sangat memprioritaskan pendidikan, baik untuk anak laki-laki mau perempuan, jadi saya cukup kaget menemukan fenomena ini di lingkungan saya sendiri.

Windy Triastuti, alumni Manejemen Informatika Universitas Gunadarma, Depok, cerita, “Tiga dari tujuh cewek yang se-geng sama gue pas SMP nggak lanjut kuliah. Teman-teman cewek yang lain juga banyak yang nggak lanjut kuliah,”

Umar Zaky, alumni Teknik Informatika Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan Suci Indah alumni Manajemen Informatika Universitas Gunadarma, Depok pun menyatakan hal yang sama, yaitu sering menemukan perempuan yang nggak kuliah di sekitar mereka.

Apa, sih, hal-hal yang bikin cewek bisa nggak bisa kuliah? Lewat pengamatan pribadi dan serangkaian diskusi, saya menyimpulkan beberapa alasannya, seperti:

1. Keuangan keluarga terbatas, sehingga dana hanya dialokasikan untuk pendidikan anak laki-laki

Setiap orang tua pasti ingin semua anak mereka mengenyam pendidikan tinggi. Apa daya, ada keluarga yang kemampuan ekonominya pas-pasan. Alhasil, keluarga tersebut memprioritaskan anak cowoknya untuk kuliah, karena anak cowok (dianggap) bakal jadi tulang punggung keluarga.

Hal ini banyak terjadi di lingkungan Suci Indah. Banyak anak muda perempuan di sekitarnya nggak kuliah karena alasan ekonomi. “Gue datang dari lingkungan yang sederhana. Setelah lulus SMA, gue kepengen banget nerusin kuliah, walaupun keuangan keluarga terbatas. Akhirnya gue ikutan membantu membiayai kuliah dengan kerja sambilan,” curhat Suci yang berhasil menamatkan kuliahnya.

Kasus begini seriiiiing banget terjadi. Kalau kamu termasuk yang mengalami kesulitan ini, ada dua hal yang bisa kamu lakukan:

a. Aktif cari info beasiswa dan bekerja super giat untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Di Indonesia, beasiswa perguruan tinggi (dan informasinya) agak sulit diakses. Jadi mau nggak mau, kamu harus proaktif.

b. Masuk sekolah kejuruan atau ikut kursus keahlian tertentu. Jadi setelah lulus, kamu bisa berkerja sambil mengumpulkan biaya kuliah.

2. Berpikir bahwa percuma perempuan kuliah, karena toh ujung-ujungnya hanya mengurus rumah tangga dan nggak berkarir jauh.

Ada yang setuju dengan pemikiran ini? Temenan sama cabe rawit dan terasi, gih, biar bisa diulek bareng! Hihihi.

Buat mereka yang berpikiran seperti ini, nih, saya kasih quote Dian Sastrowardoyo. Kali aja, kalau do’i yang ngasih tau, pintu hatinya jadi pada terbuka.

“Entah ingin menjadi seorang wanita karir atau ibu rumah tangga, setiap wanita harus memperoleh pendidikan yang tinggi. Karena mereka akan menjadi seorang ibu, dan seorang ibu yang cerdas akan melahirkan anak- anak yang cerdas.” - Dian Sastrowardoyo

Zaky pun berkomentar, “Kuliah itu nggak sekadar untuk cari kerja atau menuntut ilmu, tapi juga untuk membentuk pola pikir. Pola pikir ini sulit didapat di luar bangku kuliah. Nah, mengatur rumah tangga serta mendidik anak itu susah, lho! Kalau ada cewek nggak kuliah, trus dia nikah dan punya anak, kemungkinan besar dia bakal kesulitan memantau dan mendidik anaknya nanti.” Nah! 

3. Orangtua khawatir dengan keamanan anak perempuannya, berhubung kampus jauh dan musti pulang malam terus.

Oke, kasus kriminal yang terjadi pada mahasiswa—baik cewek maupun cowok—memang ngeri. Wajar kalau orang tua jadi deg-degan.

Tapi resiko keamanan di kampus bisa diminimalisir, kok, caranya:

a. Mahasiswa harus aware dengan keamanan dirinya sendiri. Pakai common sense! Misalnya, gunakan angkutan umum yang aman dan jangan jalan lewat jalan pintas yang sepi sendirian.

b. Kompak dengan sesama mahasiswa, misalnya dengan pulang bareng teman yang rumahnya sejalur dan sebisa mungkin nggak bikin kegiatan di kampus sampai larut malam.

c. Pihak kampus juga harus aktif menjaga keamanan, misalnya dengan mempertimbangkan jam kuliah malam demi keamanan mahasiswa. Sejumlah kampus udah melakukan hal ini, kok, dengan pertimbangan keamanan mahasiswanya. 

Saya punya kenalan yang ibunya sangat protektif terhadap anaknya. Si ibu parno banget kalau anaknya kuliah trus harus sering pulang malam dari kampus. Solusinya, anaknya kuliah di universitas terbuka yang jadwal kuliahnya lebih fleksibel.

Intinya, keamanan bisa diatur, kok!

4. Khawatir terpengaruh hal buruk dan pergaulan bebas.

“Banyak orang tua yang nggak mengizinkan anak gadisnya kuliah karena khawatir anaknya jadi terpengaruh pergaulan yang nggak bener. Masalah itu memang perlu dikhawatirkan ortu. Tapi solusinya jelas bukan melarang anak kuliah atau menikahkan mereka di usia dini!” kata Zaki tegas.

Nggak bisa dipungkiri, memang ada mahasiswa, cewek atapun cowok, yang bergaya hidup bebas tanpa aturan. Ada juga mahasiswa yang doyan foya-foya dan terlibat hal-hal negatif. Ada pula mahasiswa yang sebenarnya baik, tapi trus terbawa pergaulan buruk aja.

Tapi percayalah, dibandingkan yang labil begitu, masih banyak mahasiswa lain yang baik-baik dan asik. Apalagi sekarang ada banyak kegiatan atau kelompok mahasiswa yang positif dan terpercaya. Anggotanya bakal saling mengingatkan dan menjaga, terutama kalau ada pihak luar yang berniat jelek.

Meskipun begitu, pencegahan yang paling efektif itu datang dari diri sendiri. Seorang mahasiswa harus bisa menilai mana hal yang baik dan yang buruk buat dirinya, dan kemampuan membuat penilaian ini datangnya dari nilai-nilai yang ditanamkan dari keluarga.

Lagian, resiko ini ‘kan nggak hanya untuk anak perempuan, tapi juga untuk anak laki-laki. Jadi kenapa anak perempuan harus dilarang kuliah?

5. Kuliah? Ribet, ah. Nanti cari cowok aja, trus nikah!

“Sedihnya, di lingkungan saya, masih banyak yang berpikiran kuliah itu nggak perlu. Cukup pacaran aja, trus nikah. Selesai. Untung dulu saya sekolah di SMA unggulan, di mana murid-muridnya fokus dengan pendidikan. Pikiran saya jadi terbuka dan saya jadi punya cita-cita tinggi,” curhat Suci.

Sis, asal tahu aja, belajar dan berusaha itu akan terjadi seumur hidup. Bukan cuma di bangku kuliah. Hidup nggak sesimpel bersolek, selfie sana-sini, update medsos, dan menunggu pangeran tampan. Zzzzz… Jangan males gitu, dong!

Lagipula bidang ilmu macam-macam banget, kok. Suka makeup? Sok atuh, seriusin belajar makeup. Suka fotografi? Kuliah jurusan fotografi ada banyak banget, lho. Kejarlah ilmu, jangan cuma ngejar gebetan aja.

“Tapi nanti nggak nikah-nikah, dong?”

Yaelah, jodoh ‘kan di tangan Tuhan! Dan percaya, deh. Kalau kamu memang menjalaninya dengan niat, kuliah nggak akan menghalangi nikah. Begitu juga sebaliknya.

***

Bagi kamu para mahasiswa, terutama yang cewek, keputusan kamu untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi itu ngaruh, lho, untuk nasib cewek-cewek lain.

Kok bisa?

Misalnya ada ortu yang tadinya nggak mau memperbolehkan anak perempuannya kuliah karena alasan-alasan di atas. Lalu ortu tersebut melihat anak tetangga yang merupakan mahasiswi pintar, sopan, suka membantu dan berprestasi. Eh, pandangan si ortu tentang kuliah jadi berubah, deh. Sesimpel itu.

youthmanual - najwa shihab

Najwa Shihab, sosok perempuan berpendidikan tinggi, yang cerdas, santun, dan bertanggung jawab. Walau menikah muda, ia tetap aktif di bangku kuliah dulu.

Sebaliknya, misalnya ada mahasiswi nyetir dalam keadaan mabuk atau foto-foto dengan pose liar, trus nyebar ke medsos dan jadi ketahuan oleh banyak orang tua. Hal kayak begini mungkin kamu anggap sebagai sekedar lucu-lucuan, tapi bisa memicu para ortu untuk melarang anak perempuan mereka kuliah.

Kesimpulannya, sebagai mahasiswa, kamu adalah panutan. Kamu bisa membuat para orang tua jadi yakin—atau jadi ragu!—terhadap manfaat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

***

Anak perempuan harus didukung untuk menuntut ilmu yang tinggi.

Saya setuju bahwa ilmu bisa diperoleh dari mana aja, nggak terbatas di bangku kuliah. Orang yang nggak kuliah belum tentu miskin ilmu kalau dia terus belajar dan mengembangkan diri.  

Tapi sejauh ini, perguruan tinggi adalah jalur yang paling pasti dan terjamin untuk menuntut ilmu dan mengembangkan pola pikir, soalnya sistem, fasilitas, serta pengajarnya sudah jelas. Jadi tinggal diikuti. Ada jaminan berbentuk ijazah, pula.

youthmanual - ligwina hananto

Contoh, deh, Ligwina Hananto. Seorang ibu berpendidikan tinggi yang sukses jadi financial planner dan bisa membantu banyak orang dengan menciptakan lapangan kerja.

Saya harap, para ortu yang menentang anak perempuan mereka berkuliah mau berpikir kembali, supaya anak perempuan mereka bisa mengenyam pendidikan tinggi, apapun bentuknya. Mau di universitas terbuka kek, kampus dekat rumah kek, atau mindahin rumah ke sebelah kampus juga boleh, hehehe.

But  most of all, saya berharap kamu, para mahasiswa—terutama yang perempuan—bisa jadi penyemangat, contoh, dan pendorong agar anak-anak perempuan bisa lanjut kuliah.

(sumber gambar: www.post-gezette.com, zwitsal.co.id, Bina Antarbudaya, Laila Achmad)

LATEST COMMENT
Maulida Nur Perdani | 1 jam yang lalu

bantu jawab ya.. kalau memang hanya minat di rumpun soshum, ambil soshum saja bisa kok, gak harus ipc ^^

Strategi Sukses IPC di SBMPTN Serta Pertimbangan Memilih IPC
Anisa | 11 jam yang lalu

Kk aku kan dari jurusn ipa, tapi pas mau kuliah mau ngambil soshun, itu apakah harus utbk nya sohsun atau ipc kk?

Strategi Sukses IPC di SBMPTN Serta Pertimbangan Memilih IPC
Tisam Ali | 18 jam yang lalu

Apakah masih bisa diubah? Jika ya, silakan coba di prodi yang lain. Namun apabila telah telanjur dan tidak bisa diubah, maka saran saya coba jalani. Bulatkan tekad untuk menjalani perkuliahan. Dari situ, kamu benar-benar dapat mengetahui apakah salah jurusan atau ternyata bisa dijalani.

Balada Salah Jurusan Kuliah dan Solusinya. Nggak Harus Pindah Jurusan, Kok!
Tisam Ali | 18 jam yang lalu

Hai Kristin, untuk teknis pengisian, bisa kamu tanyakan ke pihak kampus. Kebanyakan kampus sudah menerapkan pengisian berbasis komputer secara online. Ada pula yang masih mengisi secara manual (tertulis).

Strategi Mengisi KRS: Memilih Mata Kuliah dan Menentukan Jumlah SKS
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©