Menu

Tentang Hari Perempuan Internasional dan Perjuangan yang Masih Harus Dilanjutkan

Selamat Hari Perempuan Internasional!

Setiap tahunnya, tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Momentum ini digunakan sebagai peringatan untuk merayakan prestasi perempuan-perempuan hebat di seluruh dunia, juga menyoroti perjuangan panjang menuju tercapainya kesetaraan gender.

Gaes, tahu nggak kalau Hari Perempuan Internasional punya sejarah yang panjaaaaang banget (seperti jalan kenangan, hehe)? Semuanya dimulai pada 28 Februari 1909, dimana pada saat itu Partai Sosialis Amerika Serikat memperingati setahun berlalunya demonstrasi yang dilakukan oleh buruh-buruh perempuan atas hak berpendapat dan berpolitiknya.

Setelah itu, pada 8 maret 1917 di Rusia, demonstrasi yang dilakukan oleh para perempuan di Petrogard memicu terjadinya Revolusi Rusia. Pemerintah Soviet Rusia kala itu pun akhirnya menetapkan Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret sebagai hari libur nasional di negara-negara komunis maupun sosialis.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri baru secara resmi menetapkan tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional pada tahun 1977. Hal ini dilakukan untuk memperingati panjangnya sejarah perjuangan hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia.

Tapi, apakah semuanya selesai sampai di situ?

Perjuangan yang Belum Selesai

Jadi ceritanya, pada hari Sabtu (03/03) kemarin saya berpartisipasi dalam suatu acara bertajuk Women’s March atau Pawai Perempuan. Berjalan dari Gedung Sari Pan Pacific hingga Monas bersama ratusan orang lainnya, kami mengusung poster dan banner berisi slogan-slogan yang menyuarakan beragam tuntutan terkait hak perempuan dan kesetaraan gender.

“Indonesia Darurat Kekerasan Terhadap Perempuan!”

“Hapus Kekerasan Berbasis Gender”

“Jauhkan Kebijakanmu Dari Tubuhku”

“Hak Perempuan adalah Hak Asasi Manusia”

“Stop Perkawinan Anak di Bawah Umur”

Slogan-slogan di atas adalah segelintir dari slogan yang saya lihat berseliweran sepanjang pawai berlangsung. Serunya, nggak hanya perempuan lho yang berpartisipasi dalam kegiatan ini. Saya melihat sejumlah lelaki ikut berorasi, bernyanyi, berpuisi, dan menyuarakan aspirasinya terkait kekerasan dan ketidakadilan berbasis gender yang masih banyak terjadi di dunia—khususnya Indonesia.

Gaes, meski gerakan yang menjadi cikal-bakal dari Hari Perempuan Internasional ini telah berusia lebih dari satu abad, tapi nyatanya masih buanyaaak banget permasalahan yang dihadapi oleh kaum perempuan di seluruh dunia. Salah satunya adalah mengenai kekerasan dan pelecehan seksual.

Pada saat acara Women’s March berlangsung, ada seorang orator yang merupakan ibu dari anak yang menjadi korban pelecehan seksual oleh gurunya sendiri di sekolah. Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap pihak sekolah dan penegak hukum yang belum juga menuntaskan kasus ini. Mereka abai, dan sebagai akibatnya, guru yang bersangkutan belum juga tersentuh hukum sama sekali. Sebaliknya, anak yang menjadi korban tindak pelecehan tersebut harus menanggung trauma dan luka psikis yang berat selama sisa hidupnya.

Bayangin, sekolah yang seharusnya menjadi salah satu tempat teraman bagi anak, malah menjadi sarang dari predator yang mengintai keselamatan mereka. Parahnya lagi, predator-predator tersebut masih dapat melenggang bebas setelah mereka melakukan tindak kejahatannya terhadap anak-anak itu.

Terkait isu perlindungan anak, masalah lainnya yang juga menjadi tuntutan utama dari Women’s March tahun ini adalah mengenai perkawinan anak. Tahu nggak, kalau setiap harinya sebanyak 41.000 perempuan menikah di bawah usia 18 tahun? Menurut PBB bahkan Indonesia berada pada peringkat ketujuh di dunia dalam perihal tingginya tingkat perkawinan anak.

Peserta Women's March Kupang yang menentang perkawinan anak

Kemiskinan menjadi faktor utama mengapa perkawinan anak masih marak terjadi di Indonesia. Mereka yang terlahir dari keluarga miskin cenderung lebih rentan menjadi korban perkawinan anak, karena orang tuanya menganggap pernikahan dapat mengurangi beban finansial keluarga mereka. Selain itu, faktor lain seperti sulitnya akses ke pendidikan yang berkualitas, ketimpangan gender, minimnya layanan dan pendidikan kesehatan reproduksi, hingga peluang kerja yang terbatas turut berkontribusi terhadap tingginya angka perkawinan anak ini.

Nih ya, padahal, bukannya menyelesaikan masalah-masalah yang disebutkan di atas, perkawinan anak justru menambah panjang masalah tersebut. Dari segi kesehatan saja misalnya, anak perempuan yang hamil di usia 10-14 tahun memiliki resiko kematian 5 kali lebih besar dibandingkan mereka yang hamil di usia 20-24 tahun.

Selain itu, perkawinan anak juga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka putus sekolah. Anak-anak perempuan yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah, terpaksa harus mengubur mimpinya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi demi mengurus rumah, suami, dan bahkan anak mereka. Pada akhirnya, anak-anak perempuan tersebut kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan nggak berdaya untuk meningkatkan kesejahteraannya sendiri.

Kalau sudah begini, lingkaran kemiskinan pun kembali terulang tanpa menemukan titik terang.

Tapi Perempuan Juga Bisa...

Ada kejadian lucu yang saya alami saat mengikuti Women’s March kemarin. Jadi, waktu peserta sedang melakukan pawai di sepanjang jalan M.H. Thamrin, beberapa pengendara motor sempat membunyikan klaksonnya keras-keras saat rombongan lewat.  Bikin macet, katanya.

Lalu teman saya, sebut saja namanya Puspita, tiba-tiba berteriak lantang di depan para pengendara motor tersebut:

“Kalau nggak mau macet, penuhin hak kita dong!”

Seketika, seluruh peserta pawai yang berada di sekitar kami (termasuk saya) pun bersorak bersamanya. Sebaliknya, para pengendara motor yang tadi membunyikan klaksonnya pun diam untuk beberapa saat hingga rombongan kami melewati mereka.

(Keep in mind, bahwa Women’s March adalah sebuah aksi damai yang sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian lalu lintas perihal penggunaan jalan yang dijadikan rute pawai.)

Saya rasa, aksi teman saya tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya perempuan nggak takut untuk melawan. Perempuan nggak bakal tinggal diam membiarkan ketidakadilan menekan mereka. Meski nggak semua perempuan menunjukkan ini dengan turun ke jalan dan berorasi di depan gedung pemerintah, saya percaya kaum perempuan memiliki caranya sendiri untuk melawan penindasan dan membuktikan kehebatan dirinya.

Perempuan-perempuan seperti Susi Pudjiastuti, Sri Mulyani, dan Tri Rismaharini misalkan, telah menunjukkan bahwa perempuan juga bisa menduduki jabatan tinggi nan strategis di kursi pemerintahan. Mereka mematahkan anggapan bahwa yang bisa menjadi pemimpin hanyalah kaum laki-laki.

Gaes, peran perempuan dalam sektor pemerintahan, khususnya pada proses pembuatan kebijakan publik itu penting banget, lho. Tahu nggak, kenapa banyak banget ditemukan kebijakan publik yang seolah nggak adil bagi perempuan; seperti peraturan jam malam untuk perempuan di daerah-daerah tertentu, kebijakan yang mengatur bagaimana perempuan harus berpakaian, hingga pasal zina dari RKUHP kontroversial yang berpotensi memenjarakan korban perkosaan?

Jawabannya sederhana kok: karena masih sedikit banget perempuan yang terlibat dalam proses pembuatan peraturan dan kebijakan tersebut.

Dilansir dari hukumonline.com, Yuniyanti Chuzaifah, Komisioner Komnas Peremppuan menyatakan bahwa, "Pembuatan regulasi kebijakan minim pelibatan terhadap perempuan, dan rata-rata kasusnya adalah pembatasan ekspresi terhadap perempuan, pembatasan identitas perempuan, dan memposisikan perempuan tidak setara dengan laki-laki."

Karena itulah, perempuan-perempuan pemangku kekuasan dibutuhkan untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan publik yang nggak diskriminatif dan ramah bagi semua gender.

Selain di sektor pemerintahan, banyak perempuan juga telah membuktikan bahwa kesuksesan dan prestasi itu nggak tergantung gender. Di bidang teknologi misalnya, ada Ada Lovelace, penemu komputer mekanika pertama; Katherine Johonson, insinyur NASA; Susan Wojcicki, CEO Youtube; dan nggak lupa srikandi-srikandi negeri sendiri seperti Hanifa Ambadar, CEO dan Founder dari Female Daily Network dan Aulia Halimatussadiah (Ollie), CEO Nulisbuku.com.

Dengan eksposur yang telah banyak diarahkan pada banyak tokoh perempuan berpengaruh, gadis-gadis kecil kini nggak perlu ragu lagi untuk menggantungkan mimpinya setinggi mungkin. After all, kalau mereka bisa, mengapa kita nggak? Betul ‘kan?

#AkuJuga

Kampanye #MeToo yang sempat viral di media sosial membuka jalan bagi perempuan untuk angkat bicara mengenai diskriminasi dan ketidakadilan yang mereka alami selama ini. Majalah Time sebagai salah satu media internasional terkemuka bahkan menjadikan kampanye ini sebagai topik utama dari edisi Person of The Year mereka.

Nggak bisa dipungkiri, masalah yang harus dihadapi perempuan masih banyak banget bentuknya; mulai dari kekerasan di ranah domestik, kemiskinan, pelecehan di lingkungan sekolah, diskriminasi di tempat kerja, hingga peraturan pemerintah yang nggak berpihak pada mereka. Untuk itulah, di Hari Perempuan Internasional ini saya pribadi ingin menyampaikan bahwa perempuan bisa bangkit, perempuan bisa bersuara, dan perempuan bisa melawan beragam diskriminasi dan ketidakadilan yang dialami oleh kita dan saudara-saudara kita.

Perjuangan akan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender nggak berhenti setelah Women’s March selesai, atau setelah hari ini berlalu. Perjuangan membela hak-hak perempuan masih akan terus berlanjut, dan kamu, perempuan-perempuan muda Indonesia, akan menjadi garda terdepan yang akan memastikan terciptanya masa depan yang cerah dan setara bagi kita semua.  

Sekali lagi, Selamat Hari Perempuan Internasional!

Baca juga:

sumber gambar: instagram.com/puspitamysr, instagram.com/womensmarchkupang

LATEST COMMENT
Maulida Nur Perdani | 1 jam yang lalu

bantu jawab ya.. kalau memang hanya minat di rumpun soshum, ambil soshum saja bisa kok, gak harus ipc ^^

Strategi Sukses IPC di SBMPTN Serta Pertimbangan Memilih IPC
Anisa | 11 jam yang lalu

Kk aku kan dari jurusn ipa, tapi pas mau kuliah mau ngambil soshun, itu apakah harus utbk nya sohsun atau ipc kk?

Strategi Sukses IPC di SBMPTN Serta Pertimbangan Memilih IPC
Tisam Ali | 18 jam yang lalu

Apakah masih bisa diubah? Jika ya, silakan coba di prodi yang lain. Namun apabila telah telanjur dan tidak bisa diubah, maka saran saya coba jalani. Bulatkan tekad untuk menjalani perkuliahan. Dari situ, kamu benar-benar dapat mengetahui apakah salah jurusan atau ternyata bisa dijalani.

Balada Salah Jurusan Kuliah dan Solusinya. Nggak Harus Pindah Jurusan, Kok!
Tisam Ali | 18 jam yang lalu

Hai Kristin, untuk teknis pengisian, bisa kamu tanyakan ke pihak kampus. Kebanyakan kampus sudah menerapkan pengisian berbasis komputer secara online. Ada pula yang masih mengisi secara manual (tertulis).

Strategi Mengisi KRS: Memilih Mata Kuliah dan Menentukan Jumlah SKS
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©