Menu

Menghapus Stereotipe Terhadap Institusi Pendidikan

Gaes, sebagai seorang peserta didik (atau mantan peserta didik) kalian pasti pernah denger deh kalimat-kalimat berikut:

“Lulusan PTN lebih gampang masuk kerja”

“Swasta mahal, nggak sanggup aku, Kak.”

“Anak SMK nggak berprestasi, kerjanya tawuran mulu”

Familiar dengan ungkapan-ungkapan di atas? Yep. Beberapa ungkapan tersebut adalah sebagian dari banyaknya stereotipe yang melekat pada institusi pendidikan kita. Stereotipe-stereotipe itu telah sangat melekat, sampai-sampai nyaris dijadikan sebuah fakta yang dipertimbangkan seorang calon peserta didik dalam memilih institusi pendidikan yang akan dimasukinya.

Memangnya apa yang salah sih dari stereotipe di atas? Bukannya memang ada benarnya, ya?

Begini, stereotipe sendiri ‘kan merupakan penilaian yang didasarkan pada persepsi terhadap kelompok di mana seseorang/sesuatu itu berada. Stereotipe itu biasanya kita gunakan untuk menyederhanakan hal-hal kompleks dan membantu untuk mengambil keputusan secara cepat.

Kata kuncinya adalah persepsi dan kompleks. Yup. Karena hanya didasarkan persepsi, maka apa yang menjadi stereotipe dari suatu hal itu belum tentu benar adanya—dan ini pun mengarahkan kita pada poin selanjutnya, yaitu kompleksitas dari sebuah objek. Jika kita mengingat fungsi dari hadirnya stereotipe, yang mana adalah untuk menyederhanakan sesuatu, maka otomatis stereotipe yang kita miliki terhadap objek-objek tertentu bakalan membuat kita mengabaikan fakta bahwa objek tersebut juga punya ‘nook and crannys’ alias detil-detil penting nan kompleks yang, bisa jadi, nggak sama dengan stereotipenya.

Coba sekarang kita tarik contoh dari beberapa institusi pendidikan yang udah disebutin di atas—SMK misalnya. Banyak orang yang memiliki persepsi bahwa siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) itu nggak berprestasi karena mayoritas dari mereka merupakan anak-anak ‘buangan’ yang gagal masuk SMA. Terlebih lagi, masalah minimnya sarana dan prasarana di beberapa SMK, membuat orang semakin menganggap bahwa SMK memang layak untuk dijadikan pilihan ke-sekian seorang peserta didik yang ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah tingkat menengah atas.

Tapi, ingat, SMK sebagai sebuah institusi pendidikan nggak hanya bisa dilihat dari hal-hal tersebut di atas. Banyak aspek lain yang, kalau kalian mau melihat sedikiiiiit aja lebih dekat, sebenarnya bisa mengubah stereotipe yang selama ini kalian miliki tentang SMK.

Misal, tahukah kamu kalau anak-anak SMK memiliki kurikulum yang memungkinkan mereka untuk bisa mendapatkan skill spesifik yang siap digunakan di dunia kerja? Contoh deh, Irham Mustofa, Interaction Designer Youthmanual yang merupakan lulusan SMK jurusan Rekayasa Perangkat Lunak. Di SMK, ia mempelajari skill programming yang ternyata kepake banget nih dalam kesehariannya di tempat kerja.  Menurutnya, teman-temannya yang lain juga banyak yang langsung bekerja di beberapa perusahaan sebagai IT staff/support setelah mereka lulus SMK.

Hari gini, udah nggak jamannya SMK dipandang sebelah mata, gaes. Nggak perlu gengsi juga untuk masuk SMK kalau kamu memang memiliki minat yang besar untuk mempelajari ilmu-ilmunya. Kesempatan masuk perguruan tinggi? Tetap banyak! Baca deh, nih, kisah-kisah lulusan SMK yang melanjutkan pendidikan mereka ke perguruan tinggi di sini dan di sini.

Stereotipe lainnya yang kerap masih melekat di institusi pendidikan kita adalah terkait Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Udah bukan rahasia lagi lah ya, PTN masih menjadi primadona di kalangan calon-calon mahasiswa. Banyak calon maba yang mati-matian berjuang, berbanjir peluh, air mata, dan darah untuk bisa tembus ke PTN idaman lewat jalur SNMPTN, SBMPTN, dan Mandiri.

Beberapa poin yang bisa di-highlight dari fenomena ini adalah sebagai berikut: Kualitas PTN lebih bagus daripada daripada PTS (katanya). Lulusan PTN lebih gampang dapet kerja (katanya). Mahasiswa PTN lebih berprestasi (katanya). Biaya PTN lebih murah (katanya, tapi untuk beberapa poin ini benar adanya, sih).

Nah, daripada kamu terjebak dalam stereotipe-stereotipe tersebut, coba kita gali lebih dalam lagi. Kualitas PTN lebih bagus dari PTS? Aspek kualitas apa dulu yang dinilai? Jika kita melihat akreditasi, banyak lho, PTS yang jurusannya memiliki akreditasi yang lebih tinggi dibandingkan jurusan-jurusan yang sama di PTN. Selain itu, kualitas pengajar dan alumninya pun nggak kalah kece dibanding dengan PTN. Banyak kok alumni-alumni PTS yang kini telah sukses meniti karir profesional maupun mendirikan usaha sendiri.

Baca juga: 5 Entrepreneur Kece Alumni Universitas Prasetiya Mulya Yang Bisa Menjadi Inspirasi Buat Anak Muda Untuk Terjun Ke Dunia Bisnis

Soal biaya? Well, ini memang agak tricky. PTN biasanya menggunakan sistem Uang Kuliah Tunggal untuk biaya pendidikannya. Ini berarti jika masuk PTN, kamu nggak perlu lagi membayar gedung, uang pangkal, dan juga uang untuk tiap SKS yang diambil. Per semesternya seluruh biaya untuk hal-hal tersebut udah masuk ke dalam tagihan tunggal SPP kamu, dan umumnya, UKT ini memiliki beberapa golongan yang disesuaikan dengan penghasilan orang tua calon mahasiswa.

Hal yang serupa nggak berlaku kalau kamu berkuliah di PTS. Sistem biaya kuliah di PTS biasanya terdiri dari beberapa poin yang terpisah untuk masing-masing kebutuhan—misal, uang gedung sendiri, uang pangkal sendiri, dan uang SKS sendiri. Inilah yang membuat banyak orang melihat biaya pendidikan PTS teramat mahal jika dibandingkan dengan biaya pendidikan PTN.

Padahal, nggak semua PTS memiliki skema pembiayaan yang jumlahnya bisa bikin pening kepala—and vice versa, nggak semua PTN menerapkan biaya murah untuk mahasiswanya. Pada beberapa kasus, ada juga lho uang kuliah PTN yang jumlahnya bahkan jauh lebih mahal dari keseluruhan uang kuliah PTS.

Telkom University misalkan, memiliki rata-rata biaya tahunan sebesar 11 juta rupiah, lebih murah jika dibandingkan dengan Universitas Indonesia yang memiliki rata-rata biaya tahunan sebesar 13 juta rupiah.

Lagipula, kalau soal biaya, banyak kok kampus swasta yang menyediakan jalur prestasi maupun beasiswa untuk para mahasiswanya. Selama kamu nggak males untuk mencari, dan terus menjaga track record nilaimu, pasti kamu bakalan banyak deh nemu kesempatan beasiswa untuk membantu meringankan biaya kuliahmu.

Jadi, gaes, yang penting adalah bukan dari mana kamu lulus, tapi bagaimana kamu bisa mengembangkan diri dan memaksimalkan potensimu di tempat kamu belajar hingga kamu lulus dari sana nantinya. Nggak masuk PTN atau SMA idola? Nggak masalah! Jalan menuju sukses nggak cuma dari PTN ataupun SMA favorit, kok.

Dan inget, jangan malas untuk mencari informasi seeeebanyak-banyaknya tentang kampus, jurusan, maupun sekolah yang akan kamu tuju. Bingung nyarinya di mana? Yuk, main ke laman Eksplorasi Youthmanual untuk menemukan ribuan informasi terpercaya soal kampus, jurusan, dan bahkan profesi-profesi idaman. Klik di sini untuk memulai eksplorasimu sekarang!

Baca juga:

LATEST COMMENT
Lia Marliana | 18 jam yang lalu

Kak kalo udah pilih pendaftaran jalur mandiri di link bidik misinya nantinya langsung di panggil oleh kampus atau ada link dr kampus yg harus kita isi?

Program Bidikmisi Jalur SNMPTN, SBMPTN dan Ujian Mandiri/PMDK/UMPN 2019
M Rian Nasrullah Al-fath | 2 hari yang lalu

Mungkin kek ekonomi pembangunan ya,kali ya aku jg kurang tau

66 Program Studi Baru di SBMPTN 2019 dan Daya Tampungnya
zahara fonna | 2 hari yang lalu

Pilihan 1: kedokteran (unsyiah) Pilihan 2: biologi (unsyiah) Bisa gak kira kira?

Strategi Menentukan Pilihan Program Studi Pertama, Kedua, dan Ketiga pada SBMPTN
Andari Widanto Fitria Aisyah | 2 hari yang lalu

Memang ada psikologi saintek dan psikologi soshum. Nah, untuk selengkapnya kamu bisa baca di sini https://www.youthmanual.com/post/dunia-kuliah/jurusan-dan-perkuliahan/bedah-jurusan-psikologi-soshum-ips-dan-psikologi-saintek-ipa-beserta-pilihan-kampusnya.

Hasil UTBK 2019: Mulai dari Nilai Tertinggi di Bidang Saintek Hingga Hal-Hal yang Harus Kamu Persiapkan Setelah Pengumuman Ini
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©