Menu

Masuk SMA Favorit dan Unggulan, Penting Nggak, Sih?

Masih ingat kehebohan Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) terutama di tingkat SMA beberapa waktu lalu? Yup, kebanyakan orang ingin masuk sekolah unggulan yang difavoritkan, baik di SMA negeri ataupun swasta. Banyak yang rela mengantri, menjadi cadangan, mengeluarkan biaya ekstra, menempuh jarak jauh (bahkan ada yang nekat berbuat curang!) demi masuk SMA unggulan. Sebaliknya, mereka merasa kecewa dan down saat gagal masuk SMA idaman.

Sepenting itukah sekolah di SMA unggulan? Apakah SMA unggulan memang memiliki banyak kelebihan atau sebenarnya overrated alias terlalu dianggap hebat?  Apakah kamu merasa bahwa sekolah di SMA unggulan akan lebih baik bagi masa depanmu ketimbang di sekolah non unggulan?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, baca dulu deh cerita berikut ini.

Ilustrasi 1

Saat PPDB, S berhasil masuk ke salah satu SMA negeri populer yang termasuk favorit. Beberapa bulan sekolah di situ, S mulai terlibat perkelahian antarpelajar dan kenakalan lainnya. Kebetulan, jarak antara rumahnya dengan sekolah memang agak jauh dan melewati sekolah favorit lain, yang ternyata hobi tawuran. S pun sempat menjadi korban. Akhirnya, “menyerang atau diserang” menjadi prinsip S untuk survive, walaupun level tawurannya hanya sekadar ikut-ikutan. “Kalau pun ikut tawuran, gue milih di posisi paling belakang. Selain karena takut, gue nggak pengen ketangkap polisi dan masuk penjara,” S bercerita.   

Suatu ketika, aksi S dan teman-temannya ketahuan pihak sekolah dan ia pun mendapat teguran keras berupa skors panjang. Orang tua S memutuskan memindahkannya ke sekolah swasta yang nggak terkenal di dekat rumah. Awalnya, S kecewa karena pindah sekolah. “Kiamat kecil dalam kehidupan SMA gue, karena harus pindah sekolah di kelas dua,” curhatnya. Ternyata, kepindahan S justru membuat banyak perubahan positif, salah satunya ia  menjadi lebih fokus di kelas. Di luar kelas, S juga juga cukup aktif, punya banyak teman, dan nggak ada lagi kegiatan tawuran. Tak disangka S berhasil jadi peringkat 2 di kelas, padahal sebelumnya ia nggak pernah masuk 10 besar. Walau nggak banyak alumni sekolahnya yang masuk PTN, S berhasil menembus salah satu PTN terbaik idamannya.       

Ilustrasi 2

I adalah siswi  yang berasal lingkungan yang sederhana. Ia begitu semangat belajar hingga berhasil masuk SMA favorit dan mendapatkan keringanan biaya. Di SMA tersebut I bertemu banyak siswa yang cerdas, berprestasi, serta memiliki cita-cita tinggi. Kondisi ini sangat mempengaruhi diri I, sehingga ketika lulus SMA dan tidak memiliki cukup uang untuk kuliah, ia tidak menyerah. Mengambil gap year selama setahun untuk bekerja dan mengumpulkan uang dilakoni I. Selama kuliah pun ia tetap bekerja sampingan hingga berhasil lulus.

I merasa beruntung bisa bersekolah di SMA favorit yang siswanya sangat peduli dengan pendidikan. Pasalnya, lingkungan sekitar I kurang memperhatikan pendidikan. Banyak anak muda, terutama perempuan, yang hanya memikirkan pacaran, sehingga mayoritas nggak lanjut kuliah. “Untung saya sekolah di SMA unggulan, yang murid-muridnya fokus dengan pendidikan. Pikiran saya jadi terbuka dan saya jadi punya cita-cita tinggi,” curhatnya.

Ilustrasi 3

Sejak SD R sudah mengenyam pendidikan di sekolah negeri unggulan yang notabene jauh dari rumah. Sementara kebanyakan  tetangga dan teman di sekitarnya bersekolah di dekat rumah. Tantangan yang dialami R cukup besar, di antaranya harus keluar rumah pukul 05.30 pagi untuk mengejar KRL. Awalnya, R minder lantaran rumahnya yang sangat jauh dan ini sering jadi bahan ledekan di  antara teman-temannya. Di samping itu, siswa di sekolahnya kebanyakan kelas menengah ke atas, sementara R berasal dari keluarga yang sederhana. Namun lama-kelamaan R menjadi terbiasa.

R kemudian masuk SMP dan SMA unggulan yang juga jauh dari rumah, tapi memiliki kualitas yang bagus. Hasilnya, R terekspos dengan pergaulan yang lebih luas sehingga wawasannya makin terbuka. R pun bisa bermimpi lebih besar dan nggak takut keluar dari zona nyaman. Selanjutnya, R berhasil kuliah di luar negeri, menjalani karier cemerlang, dan akhirnya membuka usaha sendiri. Semua hal tersebut belum tentu bisa ia raih jika R hanya mengambil jalan yang mudah dan nyaman, seperti memilih sekolah di dekat rumah, bergaul hanya dengan lingkungan sekitar, dan nggak menantang diri sendiri.

Ilustrasi 4

A adalah seorang murid yang cerdas dan juara kelas. Orang menduga A akan masuk SMA unggulan yang jadi favorit. Tapi A memilih meneruskan sekolah di SMA yang sama dengan SD dan SMP di mana ia mengenyam pendidikan. SMA pilihan A adalah sekolah yang biasa-biasa saja, bukan sekolah bergengsi apalagi favorit. Justru banyak yang underestimate dengan lulusan SMA tersebut. Sebagian orang pun mempertanyakan dan menyayangkan keputusan A.

Ternyata A berprinsip bahwa bukan sekolah yang menentukan masa depan seseorang melainkan orang itu sendiri. A justru merasa tertantang dan ingin membuktikan bahwa walaupun bersekolah di tempat yang dianggap biasa saja, ia bisa berprestasi, memiliki wawasan luas, dan menembus perguruan tinggi berkualitas. Anyway, walaupun sekolahnya sederhana dan nggak masuk unggulan, A merasa sekolah tersebut punya banyak kelebihan seperti pendidikan karakter dan spiritual yang mumpuni. A pun terpacu untuk membanggakan almamaternya. Akhirnya, A berhasil lulus SMA dengan prestasi gemilang dan masuk PTN.

Yes, keempat ilustrasi di atas adalah real story yang bisa memberikan inspirasi bagi kita. Setidaknya, ada 6 hal yang bisa dijadikan pelajaran bersama.

1. Sekolah di SMA/sederajat unggulan atau nggak, sama-sama bisa sukses.

Dulu, saya termasuk orang yang percaya bahwa masuk sekolah unggulan adalah “harga mati”. Pokoknya itulah yang terbaik. Tapi setelah bertemu orang orang di atas dan menyimak pengalaman mereka, pandangan saya berubah. Tiap sekolah memiliki plus dan minus, dan semua balik lagi ke si siswa. Yup, kamu lah yang bisa memilih mana yang terbaik dan sesuai untukmu.

Jika kamu yakin bahwa sekolah tersebut cocok dan bakal memberi nilai positif untukmu, maka berusaha lah agar bisa masuk ke sana. Sebagai contoh, ada tipe orang yang merasa gampang terbawa arus pergaulan, maka dalam memilih sekolah, hal itu mesti ia perhatikan. Jangan sampai masuk SMA favorit dengan banyak siswa yang pintar, tapi minim pengawasan sehingga kerap terjadi tawuran dan bullying. Inilah yang perlu jadi bahan pertimbangan kamu. Apakah kamu seperti S yang bakal terpengaruh dengan kultur sekolah?

2. Selain prestasi akademis, banyak aspek dari suatu sekolah yang perlu dipertimbangkan.

Dalam mempertimbangkan pilihan sekolah, jangan cuma lihat faktor akademis dan angka-angka aja. Menjadi sekolah unggulan yang berakreditasi A atau sekolah dengan nilai masuk tertinggi memang merupakan suatu pencapaian. Namun, bukan hanya itu lho, yang bisa jadi nilai plus sebuah sekolah. Coba cek deh, bagaimana kurikulum dan pendekatan belajar mengajar yang diterapkan di sekolah. Biasanya, kalau sekolah negeri relatif sama, ya kurikulumnya. Sementara metode dan proses belajar di sekolah swasta lebih variatif. Kamu juga bisa melihat bagaimana kegiatan dan ekskul sebuah sekolah. Pertimbangkan juga kondisi fasilitas dan lingkungan sekolah, serta jarak antara sekolah ke rumah.

Dengan melihat berbagai faktor—bukan hanya nama beken dan status sebagai sekolah unggulan—kamu bakalan lebih mantap memilih sekolah yang tepat. Trus, kamu juga bisa membuat beberapa alternatif pilihan sekolah, jadi nggak mentok hanya satu SMA tujuan aja.

3. Tinggalkan pemikiran “Yang gampangnya aja deh.”

Saya percaya bahwa seseorang bisa berprestasi dan berhasil walau nggak mengenyam pendidikan di sekolah unggulan atau beken. Tapi, jangan memilih sekolah, jurusan, atau apa pun hanya karena “Pengen gampangnya aja”. Kenapa? Sikap kayak begini nih, yang bikin kamu jadi malas dan mager di zona nyaman sehingga sulit mengembangkan diri.

Memilih sekolah yang relatif dekat dengan rumah, berdasarkan pertimbangan bahwa hal tersebut akan lebih baik untuk kondisi fisik (kesehatan) dan memberikan kamu banyak waktu untuk les serta mengembangkan diri merupakan hal yang bijak. Tapi kalau memilih sekolah yang dekat rumah, hanya supaya kamu bisa bangun tidur 20 menit sebelum bel masuk, yha gemana, ya?!

Sebab kalau kamu mau sukses pasti akan butuh usaha. Usahanya bisa berupa berangkat subuh ke sekolah naik angkutan umum, mengorbankan waktu main buat ikutan kursus atau klub, berada di luar comfort zone buat cari pengalaman baru, dan lainnya. Kalau semua serba mau gampang, ya hasil yang diraih juga bakalan segitu-segitu aja.      

4. Tidak kecewa berlebihan saat nggak berhasil masuk sekolah incaran.

Perlu diingat bahwa nggak berhasil masuk sekolah yang diinginkan bukan akhir dunia. Miris rasanya melihat orang-orang yang maksa pengen masuk ke sekolah idaman mereka sampai nekat berbuat curang, seperti memalsukan Surat Keterangan Tidak Mampu (supaya bisa diterima lewat jalur  keluarga miskin), menyogok, dan lainnya. Kejujuran dan karakter yang kuat itu lebih berharga dibandingkan kebanggaan masuk sekolah unggulan, gaes. Lagipula, kalau sampai ketahuan, bisa gawat banget. Serius!

Jika nggak bisa masuk sekolah incaran, ya kamu harus menerima bahwa ada jalan lain yang lebih baik untukmu. Sekolah yang kamu jalani saat ini bisa menjadi  yang terbaik bagimu, jika memang kamu menginginkannya. You can do something! Kembangkan diri kamu dan raih prestasi. Nggak terbatas soal akademis, tapi bisa juga ekskul dan organisasi siswa. Kamu pun bisa menemukan aktivitas yang kamu senangi di sekolah tersebut. Misalnya, kamu tertarik dengan film, kamu bisa gabung dengan klub film atau bikin event lomba film pendek di sekolah. Atau sekolah kamu punya perpustakaan yang keren, ya manfaatkanlah kelebihan tersebut.

Kamu harus move on dari kekecewaan akibat nggak masuk sekolah incaran. Kalau kamu terus-terusan menyesali nggak diterima di SMA favorit dan jadi kurang semangat sekolah maka hasilnya pun jadi nggak oke. 

5. Yang masuk sekolah favorit, jangan jumawa.

Ini juga nih, yang perlu dicatat baik-baik ketika sudah berhasil masuk SMA yang  difavoritkan: jangan merasa sudah menang dan cepat puas. Selamat, kamu telah berhasil masuk SMA yang diidam-idamkan, tapi perjuangan belum selesai. Keberhasilan masuk sekolah terbaik pun nggak akan ada artinya apabila kamu nggak mengembangkan diri sendiri. Apalagi kalau dengar cerita teman di SMA favorit yang malah hobi bikin ulah. Bahkan, sampai ada yang berurusan dengan polisi karena kasusnya fatal.

Dulu saya berhasil masuk ke SMA negeri favorit dengan peringkat atas. Namun karena kebanyakan main dan menggampangkan sekolah, di awal SMA saya sempat ranking 4….. dari belakang. Yup, guru sempat memanggil orang tua saya dan intinya mereka semua kecewa. Untung juga sih, saya dapat peringatan dari awal sehingga bisa memperbaiki diri. Setelah itu, ada sekitar 11 orang teman yang nggak naik kelas, dan sebagian dari mereka memutuskan pindah.

So, nama sekolah kamu bisa bergengsi banget, tapi intinya ada pada dirimu. Percuma juga dong, berstatus siswa sekolah unggulan kalau pengetahuaan kamu pas-pasan atau kalau hanya malas-malasan. Jangan terlena ya, gaes!

6. Sama-sama punya kesempatan masuk PTN atau perguruan tinggi lainnya.

Jika kamu mengincar SNMPTN, maka masuk SMA dengan akreditasi A dan unggulan sejauh ini memang memberikan peluang lebih besar. Apalagi kalau sekolah tersebut memiliki banyak alumni yang masuk PTN. Yup, di tahun 2018 dan 2017, kuota untuk bisa ikutan SNMPTN adalah:  

* Sekolah akreditasi A, 50 persen siswa terbaiknya (kelas 12) bisa mengikuti SNMPTN

* Sekolah akreditasi B, 30 persen siswa terbaiknya (kelas 12) bisa mengikuti SNMPTN

* Sekolah akreditasi C, 10 persen siswa terbaiknya (kelas 12) bisa mengikuti SNMPTN

* Sekolah yang belum terakreditasi, 5 persen siswa terbaiknya (kelas 12) bisa mengikuti SNMPTN

Tapi,  di luar SNMPTN masih ada jalan lain untuk masuk PTN yaitu SBMPTN dan tes mandiri. Di situ, kesempatan seluruh peserta dari berbagai sekolah bisa dibilang sama, dan yang mendapatkan hasil terbaik lah yang bakalan dinyatakan lolos.

Lebih jauh lagi, kamu juga bisa masuk perguruan tinggi swasta atau kampus di luar negeri.

Intinya, siswa sekolah unggulan dan siswa sekolah non unggulan sama-sama bisa sukses. Faktor yang paling menentukan adalah diri sendiri. Semoga kamu sukses di mana pun (SMA-nya) berada ya!

Baca juga:

(sumber gambar:parent24.com)

LATEST COMMENT
Amaliais | 24 menit yang lalu

Kalau sbmptn dah diterima dan sebagai pemohon bidikmisi namun belum verifikasi dan daftar simak bidikmisi dan lolos apakah bisa ambil yg simak bifikmidi dan meninggalkan sbmptn nya ?

Bolehkah Peserta yang Diterima SBMPTN 2019 Ikut Seleksi Mandiri?
Zulva Nur Imawati | 12 jam yang lalu

Makasih kakk udah jawab. Soalnya aku yakin ini jurusan yang aku cari2 sejak dulu. Tapi saya tinggal bukan di perkotaan, agak khawatir sama prospek kerja. Memang sih di daerah saya setelah saya mencari data tenaga kerja RS untuk okupasi terapis tidak ada. Hanya ada fisioterapi itupun hanya 1 orang. Terimakasih kak, semoga dimudahkan sekolahnya. Doakan saya bisa masuk jurusan ini yaa

Mengenal Lebih Dekat Program Studi Okupasi Terapi
Asyila | 14 jam yang lalu

Kalo tembus fkui lewat jalur sbmptn, biayanya semahal di PTS ga sih kak? Jujur aja aku pengen bgt keterima fk cuma kasian papa aku krn mengeluarkan biaya kedokteran ku yg pastinya mahal bgt, dan juga ada ibu dan kakakku yg perlu dinafkahi oleh ayah ku, rasanya aku agak egois ga sih?

Jurusan 101: Tanya Apapun Tentang Jurusan Kedokteran di Youthmanual
Komang S. Satyanata | 15 jam yang lalu

Mohon maaf Baru balas Bantu jawab, Boleh ttapi alangkah baiknya bila ambil aja sbm nya (A)

Seleksi Mandiri Universitas Udayana 2019: Mulai Dari Syarat Pendaftaran Hingga Program Studinya
Sabrina Halimatus Sakdiyah | 15 jam yang lalu

Saya bingung nanti setelah lulus SMA saya ngambil jurusan apa. Kata temanku dan guru seniku gambaran saya bagus tapi menurutku biasa aja soalnya saya melihat temen selain kelasku ada yang lebih bagus dari saya malah jauh lebih bagus. Saya sih pengen banget jurusan kecantikan tapi takut salah melangkah jauh. Tolong saran untuk saya?

8 Pekerjaan yang Banyak Dibutuhkan di Tahun 2020
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©