Menu

Kuota SNMPTN Terus Dikurangi. Jalur “Undangan” Dinilai Kurang Efektif?

Salah satu jalur utama untuk masuk PTN adalah lewat SNMPTN atau “jalur undangan”. Tahun 2017 ini, kuota minimal SNMPTN dikurangi, dari 40 persen menjadi 30 persen. Apa alasan pengurangan tersebut? Apakah lantaran SNMPTN dinilai kurang efektif serta bermasalah?

SNMPTN dari masa ke masa

Di masa saya masih jadi dedek-dedek gemez kelas 3 SMA, nggak ada, tuh, yang namanya SNMPTN. Kalau mau masuk PTN (S1), ya harus menempuh ujian tertulis, semacam SBMPTN.

Ada, sih, jalur “eksklusif” yaitu PMDK (Penelusuran Minat dan Bakat) yang seleksinya super duper ketat. Hanya untuk creme de la creme alias para juara sekolah, sehingga jumlah yang diterima pun nggak banyak. Seingat saya, dari sekitar 47-an maba Sastra Inggris UI, hanya 3 yang lewat jalur PMDK. Artinya, nggak sampai 10 persen.

Sisanya, benar-benar menggantungkan pada tes seleksi masuk PTN. Yup, ibarat ujian “hidup-mati” yang menentukan masa depan.

Nah, tujuan dibukanya jalur SNMPTN adalah supaya pelajar dengan prestasi baik dan konsisten selama SMA punya peluang lebih besar masuk PTN.

Awalnya, tahun 2011, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi dibagi menjadi SNMPTN Undangan yaitu seleksi tanpa tes berdasarkan prestasi serta SNMPTN Tertulis yaitu seleksi dengan ujian. SNMPTN Tertulis akhirnya berganti nama menjadi SBMPTN pada 2013, supaya nggak ketuker-tuker.   

Tahun 2013-2015, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menetapkan kuota minimal  50 persen untuk SNMPTN dan Sisanya, 30 persen untuk SBMPTN. Sedangkan Seleksi Mandiri boleh ada atau tidak, dengan kuota maksimal 20 persen.

Tahun 2016, ada penurunan kuota minimal SNMPTN menjadi 40 persen. Tahun ini, kuota minimal SNMPTN tersebut kembali dikurangi menjadi 30 persen. Sehingga syarat minimal kuota SNMPTN dan SBMPTN menjadi sama.   

Gimana seleksinya?

Intinya, SNMPTN itu nggak pakai ujian. Jadi pakai apa, dong? Pakai cintaku padamu? Zzzzzz…

Dua elemen penilaian penting dalam SNMPTN adalah:

1. Prestasi siswa dilihat dari nilai rapor semester 1 sampai 5 (Atau sampai semester 7 untuk SMK dengan masa studi 4 tahun)

2. Akreditasi sekolah.

Jadi, SMA yang memilki akreditasi A, bisa menyertakan 50 persen siswanya dengan peringkat teratas untuk ikut seleksi nasional, akreditasi B 30 persen, akreditasi C 10 persen, dan sekolah yang tidak terakreditasi, dapat menyertakan 5 persen siswa terbaiknya.

Elemen penilaian lainnya berubah dari masa ke masa, di antaranya faktor nilai UN, senior dari SMA tersebut yang diterima SNMPTN dan SBMPTN (yup, semakin banyak senior dari SMA kamu yang diterima di jurusan dan PTN tersebut, semakin besar peluangmu.), prestasi di luar rapor, dan sebagainya.

Pro-kontra dan pengurangan kuota

Ada beberapa alasan dan asumsi seputar pengurangan kuota SNMPTN. Ada juga yang pro dan kontra terhadap jalur seleksi ini.

1. Supaya makin selektif.

Awalnya jatah SNMPTN sebesar 50 persen, kemudian menjadi 40 persen dan yang paling update 30 persen. Dengan pengurangan porsi SNMPTN diharapkan seleksi dan persaingannya semakin ketat, sehingga yang berhasil masuk merupakan siswa best of the best dengan kualitas kece.   

Menurut keterangan pada artikel Evaluasi Siswa Dibenahi di koran Kompas, penurunan kuota SNMPTN ini berdasarkan hasil kajian. Kajian tersebut menyimpulkan jika batas minimal kuota SNMPTN lebih dari 30 persen, hasilnya adalah IPK yang relatif lebih rendah dibandingkan IPK mahasiswa hasil seleksi SBMPTN.

2. SBMPTN lebih objektif.

Elin Driana, seorang pakar evaluasi dari Universitas Muhammadiyah Prof Dr. Hamka menyatakan bahwa penilaian dengan nilai rapor memang lebih bisa menggambarkan kemampuan siswa, apalagi rentang waktunya semester 1 sampai 5. Sedangkan SBMPTN hanya 1  kali tes.

Tapi… nilai rapor cenderung bisa dimanipulasi. Bisa saja ada oknum yang sengaja meninggikan atau “memainkan” nilai siswa. Sementara nilai SBMPTN dianggap lebih objektif  serta lebih jujur. (Peluang mengotak-atik nilai sangat kecil dibandingkan SNMPTN).

Malah menurut Elin, harusnya SNMPTN dihapus, atau dikurangi habis-habisan hingga tinggal 5 persen. Woops, setuju kah kamu?

3. Prestasi mahasiswa “lulusan” SBMPTN lebih baik ketimbang SNMPTN.

“Rendahnya kualitas dari seleksi SNMPTN tersebut disampaikan panitia evaluasi SNMPTN dari Universitas Gadjah Mada,” jelas Bapak Warsono, Rektor Universitas Negeri Surabaya seperti yang dikutip dari situs JPNN.

Menurut pengamatan, setelah kuliah, performa mahasiswa dari jalur SBMPTN lebih baik ketimbang SNMPTN dari segi angka Indeks Prestasi.

4. Seleksinya “nggak jelas” dan “nggak adil”.

Saya pernah mendengar keluhan dan uneg-uneg mengenai jalur SNMPTN. Misalnya, 'Kenapa yang nilainya di bawah saya, lolos seleksi sedangkan saya nggak?'. Trus, seleksinya nggak transparan dan nggak jelas seperti apa.

Menurut saya, hal ini perlu diteliti lebih jauh dan jangan terburu-buru menyimpulkan. Soalnya, tahun ini penilaian peringkat siswa di sekolah untuk seleksi SNMPTN adalah berdasarkan nilai  pelajaran berikut:

Jurusan IPA: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika, dan Biologi.

Jurusan IPS: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sosiologi, Ekonomi, dan Geografi.

Jurusan Bahasa: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sastra Indonesia, Antropologi, dan salah satu Bahasa Asing.

SMK: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Kompetensi Keahlian (Teori dan Praktek Kejuruan).

Jadi mungkin saja ada teman dengan ranking sekolah di bawah kamu. Tapi ketika dilihat dari pelajaran yang diseleksi di atas, nilainya jadi lebih baik daripada kamu.

Nah, kalau masih kurang jelas dengan syarat dan kriteria SNMPTN, kamu bisa cari tahu ke pihak sekolah dan universitas masing-masing. Karena selain kriteria umum seperti nilai dan akreditasi sekolah, ada juga kriteria/syarat yang diajukan tiap program studi dan universitas.

Misalnya, syarat Fakultas Kedokteran di universitas X adalah lulusan program IPA, tidak buta warna, dan lain sebagainya. Info ini bisa kamu lihat di situs kampus.

Anggis, alumni SMAN 70 Jakarta, termasuk yang menilai pelaksanaan jalur SNMPTN cukup baik dan infonya jelas. “(SNMPTN dilakukan) Dengan mempertimbangkan progress nilai anak tersebut selama sekolah serta prestasi yang dimilikinya. Menurutku, cukup, fair, sih!” ungkapnya. Anggis yang berusaha menjaga prestasi dan kestabilan nilainya selama SMA akhirnya berhasil masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Di sana ia pun cukup berprestasi hingga bisa lulus dalan waktu 3.5 tahun di usia 19 tahun.

5. Kuota SNMPTN yang besar bikin siswa terlalu berharap sehingga nggak mempersiapkan jalur lain.

Well, kalau yang ini balik ke masing-masing. Mungkin saja ada yang sudah pede atau sangat berharap dengan jalur SNMPTN  tanpa tes.

Menuruk kami, walaupun kamu punya peluang gede untuk lolos SNMPTN, pastikan kamu siap untuk plan B, dan plan C. Karena kamu nggak pernah tahu apa yang akan terjadi. Prinsip ini nggak hanya berlaku untuk SNMPTN, tapi juga untuk hal lainnya.

***

Gaes, kalau kita cermati memang masih ada kekurangan di sana-sini dalam pelaksanaan SNMPTN. Seperti masih ada oknum yang mengatur nilai rapor, kualitas siswa yang belum merata sehingga yang lolos SNMPTN nggak semuanya berkualitas, hingga kriteria seleksi yang berubah-ubah (dan masih harus disempurnakan). Belum lagi proses penerimaan mahasiswa jalur SNMPTN yang belum sepenuhnya transparan.

Walau demikian, menurut saya jalur SNMPTN tetap perlu. Soalnya, orang-orang dengan prestasi serta nilai rapor yang bagus dan konsisten (nggak turun naik) sepanjang SMA, memang layak mendapat kesempatan masuk PTN. Tinggal kriterianya yang dimatangkan dan prosesnya yang diawasi supaya bisa makin jujur, adil, dan bisa menjaring kualitas terbaik.

Masalah pengurangan kuota SNMPTN, saya sendiri nggak merasa keberatan (yaeyalahhh, kan udah lulus dari kapan tau! Hihihi.). Intinya, saya rasa Kemenristekdikti, PTN dan panitia sudah mempertimbangkan kuota minimal 30 persen tersebut. Lagipula, saya rasa komposisinya cukup oke, karena relatif sama dengan SBMPTN.

Selanjutnya, tinggal PTN yang akan menentukan apakah jalur SNMPTN tetap di angka minimal 30 persen, atau diberi porsi lebih. Dari pengamatan saya, beberapa universitas top memberlakukan angka 30 persen untuk jalur SNMPTN dan porsi yang lebih untuk SBMPTN.

Untuk kamu yang ikuan seleksi SNMPTN, semoga mendapatkan hasil menggembirakan tanggal 26 April mendatang.

(sumber gambar: youthmanual.com, memegenerator.com, liputan6.com)

LATEST COMMENT
Maulida Nur Perdani | 1 jam yang lalu

bantu jawab ya.. kalau memang hanya minat di rumpun soshum, ambil soshum saja bisa kok, gak harus ipc ^^

Strategi Sukses IPC di SBMPTN Serta Pertimbangan Memilih IPC
Anisa | 11 jam yang lalu

Kk aku kan dari jurusn ipa, tapi pas mau kuliah mau ngambil soshun, itu apakah harus utbk nya sohsun atau ipc kk?

Strategi Sukses IPC di SBMPTN Serta Pertimbangan Memilih IPC
Tisam Ali | 18 jam yang lalu

Apakah masih bisa diubah? Jika ya, silakan coba di prodi yang lain. Namun apabila telah telanjur dan tidak bisa diubah, maka saran saya coba jalani. Bulatkan tekad untuk menjalani perkuliahan. Dari situ, kamu benar-benar dapat mengetahui apakah salah jurusan atau ternyata bisa dijalani.

Balada Salah Jurusan Kuliah dan Solusinya. Nggak Harus Pindah Jurusan, Kok!
Tisam Ali | 18 jam yang lalu

Hai Kristin, untuk teknis pengisian, bisa kamu tanyakan ke pihak kampus. Kebanyakan kampus sudah menerapkan pengisian berbasis komputer secara online. Ada pula yang masih mengisi secara manual (tertulis).

Strategi Mengisi KRS: Memilih Mata Kuliah dan Menentukan Jumlah SKS
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©