Menu

Beware: Kekerasan dan Pelecehan dalam Pacaran

Tak jarang, pelaku kekerasan dan pelecehan di kalangan anak muda adalah orang terdekat alias pacar. Yang lebih berbahaya, kasus seperti ini  seringkali nggak disadari. Atau mungkin (sebenarnya) sadar, tapi denial alias menyangkal dengan seribu satu pembenaran. Ditambah lagi, pacaran seringkali dicitrakan sebagai sesuatu yang indah dan menyenangkan, love melulu, dan bunga-bunga lainnya.

Tak Melulu Indah

“Tiap hari, pacar selalu minta diantar pulang. Malamnya, wajib teleponan. Dia juga sangat cemburuan. Kalau beraktivitas tanpa dirinya, saya harus kirim foto. Jika tidak, dia bakal ngamuk, pernah sampai cakar-cakar segala. Saya sebenarnya nggak tahan dan kepengen putus, tapi dia mengancam mau bunuh diri.”

“Dia sangat perhatian dan sayang sama gue. Tapi kalau marah, berubah 180 derajat. Nggak sampai main tangan, sih. Tapi, bisa membentak-bentak dan mengeluarkan kata-kata kotor pada gue. Dia bahkan pernah menghina keluarga gue. Tapi setelah itu, dia akan benar benar meminta maaf dan kembali  bersikap manis.”

“Orang orang bilang aku beruntung karena punya pacar yang baik, dewasa, dan bertanggung jawab. Ortu juga sudah percaya sama dia. Sampai suatu hari, ketika lagi berduaan, dia menggerayangi tubuhku. Aku sangat kaget, dan berusaha menepis tangannya. Tapi dia malah makin menjadi. Untung ada teman yang mendadak datang. Aku sungguh ketakutan, namun dia malah tersinggung. Dia bilang itu hal yang lazim dilakukan orang pacaran. Lagipula, suatu saat nanti kita akan menikah.”

Relate dengan kisah di atas?  

Tema cinta-cintaan memang bisa bikin orang terbuai. Nggak heran kalau drama dan musik bertema percintaan laris manis. Kadang malah kekerasan atau pelecehan diromantisasi dalam cerita. Misalnya, gambaran tentang pasangan yang posesif dan cemburuan berat karena ia sangat menyayangi sang kekasih. Atau saking cintanya sampai mengatakan akan bunuh diri jika ditinggalkan. Realitanya, hal tersebut mengerikan.

Kita tetap harus berkepala dingin dan waspada terhadap kekerasan serta pelecehan.  Kenyataannya, hubungan asmara, tak melulu indah. Dalam Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2019 disebutkan bahwa laporan kekerasan dalam pacaran mengalami peningkatan, terutama kekerasan seksual. Selain itu, hubungan pacaran ini rentan karena nggak ada jaminan hukum dan nggak formal. Jadi bila terjadi kekerasan (atau pelecehan), korban bisa menghadapi hambatan dalam mendapati  Kutipannya adalah sebagai berikut:

“Hal lain yang menarik perhatian dari kekerasan di ranah privat, adalah meningkatnya pengaduan kasus kekerasan dalam pacaran ke institusi pemerintah (1750 dari 2073 kasus). Bentuk kekerasan tertinggi dalam relasi pacaran ini adalah kekerasan seksual.”  - Catatan Tahunan 2019 Komnas Perempuan

Dan juga ini:

“Relasi pacaran adalah relasi yang tidak terlindungi oleh hukum, sehingga jika terjadi kekerasan dalam relasi ini, korban akan menghadapi sejumlah hambatan dalam mengakses keadilan.” - Catatan Tahunan 2019 Komnas Perempuan

Kenapa Perlu Waspada?

Kenapa kita perlu waspada terhadap kekerasan dan pelecehan dalam pacaran? Setidaknya, karena yang berikut ini:

1. Seperti yang kita lihat di atas, menurut catatan Komnas Perempuan laporan kekerasan dalam pacaran mengalami peningkatan. Menurut saya, hal ini seperti gunung es. Kasus yang tampak adalah yang dilaporkan, sementara yang tidak dilaporkan jumlahnya sangat banyak.

2. Relasi pacaran itu kompleks dan dilematis. Karena termasuk ranah privat, tak jarang orang lain luput melihat masalahnya. Di sisi lain, nggak ada ikatan atau status hukum dalam pacaran. Seperti yang disebutkan Komnas Perempuan di atas.

3. Masih nyambung dengan nomor 2, jika terjadi date rape alias pemerkosaan atau pelecehan seksual, pelaku bisa berdalih “suka sama suka”.

kekerasan

4. Nah, Komnas Perempuan mencatat laporan kekerasan dalam pacaran terhadap perempuan. Namun kenyataannya, laki-laki juga berpotensi jadi korban kekerasan dalam pacaran, terutama kekerasan verbal dan emosional.

5. Dalam pacaran, ada perasaan sayang, cinta, atau ketergantungan. Hal ini yang kadang membuat seseorang abai dengan kekerasan yang ia alami. Apalagi kalau hubungannya ups and downs. Jadi setelah mengalami kekerasan, tiba tiba hubungan jadi amat sangat baik. Akhirnya “lupa” dengan kekerasan yang telah terjadi.

6. Coba deh amati. Banyak kekerasan dalam pacaran di sekitar kita. Korbannya beragam, baik cewek maupun cowok, dari yang masih abege sampai yang lebih dewasa,  ada yang masih sekolah ada juga yang punya gelar tinggi. Orang yang kritis dan berani sekalipun bisa jadi korban.

Level dan bentuk kekerasannya juga macam macam, dari yang hobi melarang (dan ngamuk berat kalau nggak diikuti), melontarkan ancaman dan hinaan, hingga melakukan tindakan fisik, seperti mencengkram tubuh dengan kasar saat marah.

7. Nggak sedikit korban yang sulit keluar dari hubungan ini. Bahkan ada yang “terjebak” hingga pernikahan, karena:

* Nggak mengakui bahwa pasangannya melakukan kekerasan dengan memberikan pembenaran. Misalnya, “Dia nggak sengaja” “Maksudnya bukan begitu”, atau “Melarang adalah hal wajar dalam pacaran”.

* Ada juga yang percaya bahwa ia bisa mengubah pasangan menjadi lebih baik.

* Merasa diri sendiri juga punya kekurangan, jadi harus menerima kekurangan alias kekasaran pasangan.

* Terlalu sayang, jadi nggak bisa lepas.

* Karena saat pasangan nggak kasar dia sangat baik dan menyenangkan.

* Takut sendirian, butuh kehadiran pasangan.

*Ketika pacaran nggak menyangka bahwa ia adalah orang yang kasar/melakukan kekerasan. Kemungkinan karena sulit untuk bersikap objektif dengan orang yang disayang. Nah, setelah menikah baru lah kekerasan makin terasa.

8. Ada kalanya kita terlalu mempercayai orang yang dekat dengan kita, seperti pacar. Saat kita lengah, kepercayaan tersebut disalahgunakan. Misalnya dalam kasus date rape.

Kasus kekerasan dalam Hubungan Pacaran

Berikut ini adalah contoh kekerasan dalam hubungan pacaran.

a. Nggak segan memaki saat ia marah dan melontarkan kata kasar. Bisa juga, dia nggak melakukannya dengan berteriak, namun kata katanya sangat merendahkan/melecehkan diri kita, termasuk body shamming dan slut shamming. Ini merupakan bentuk kekerasan verbal.

b. Merendahkan dan sengaja mempermalukan dirimu di depan orang lain, menggunakan kalimat atau gesture menjatuhkan/melecehkan walau dengan dalih bercanda.

kekerasan

c. Melakukan kekerasan fisik, seperti memukul, menendang, mencekik, mencakar, menjambak, mencengkram dengan kasar,  dan lainnya. Ini nggak hanya dilakukan oleh cowok, tapi bisa juga oleh cewek, lho. Bisa juga dengan ia menyakiti dirinya sendiri di depanmu.

d. Mengancam apabila kamu tidak menuruti keinginan dirinya. Bisa ancaman menyakiti secara fisik, mempermalukan, bahkan ancaman bunuh diri. Beberapa orang seperti “tersandera” dalam hubungan karena pacarnya mengancam bunuh diri bila diputusin.

e. Melakukan kontak fisik yang nggak kamu kehendaki. Ini bisa masuk dalam ranah kekerasan seksual, pelecehan, hingga pemerkosaan. Kadang pelecehan ini dilakukan dengan memaksa, kadang juga secara manipulatif.

f. Membuat kamu merasa bersalah hingga dirimu down, padahal kamu nggak salah. Misalnya, karena ada tambahan les kalian nggak bisa janjian. Nah, pacar ngambek dan mengamuk sampai membuat kamu menangis dan memohon-mohon. Ya, konflik dan kesalahpahaman dalam hubungan memang wajar terjadi. Tapi kalau sering kejadian seperti ini, bisa berujung pada kekerasan emosional.

g. Melarang/mewajibkan kamu melakukan sesuatu, apalagi dengan alasan yang nggak jelas. Pacar atau sahabat kamu boleh banget memberi masukan. Mereka juga boleh tegas ketika kamu akan melakukan hal yang jelas negatif, seperti terlibat tawuran. Tapi kalau melarang kamu ikutan ekskul, mengatur kamu harus ke mana, dan semacamnya, itu sudah melewati batas. Walau berstatus pacar, dia nggak punya hak akan dirimu.

h. Membuat kamu terisolasi dari pergaulan, karena dia sangat posesif. Dia nggak mau perhatian kamu terbagi ke teman lain, bahkan keluarga.

i. Memaksa menggunakan uang/fasilitas yang kamu miliki. Sekali lagi, pacar TIDAK PUNYA HAK.

j. Membuat kamu kesulitan untuk mengembangkan diri. Mau daftar beasiswa, pacar keberatan karena nggak mau jauh dari kamu. Kamu pengen gabung di OSIS, pacar mencegah karena takut perhatian terhadapnya berkurang. Perilaku seperti ini nggak sehat.

k. Menyebarkan cerita, video, foto, dan hal pribadi lain yang sifatnya privasi, mengandung aib, atau kamu nggak mau disebarkan ke orang lain.

l. Terus menerus menyakitimu secara emosional, seperti selingkuh atau flirting.

m. Menjadi stalker kamu. Membuka hape dan dompet tanpa izin, serta melanggar privacy kamu.

Putuskan Rantai Kekerasan

Ya, kekerasan dan pelecehan memang beragam  level dan jenisnya. Jangan menganggap remeh kekerasan skala kecil atau yang terkesan remeh, karena kekerasan/pelecehan tersebut sangat mungkin mengalami eskalasi.

Evaluasi hubunganmu. Jika hubungan kalian sudah tidak sehat dan terjadi kekerasan, langah terbaik adalah tinggalkan. Jangan segan meminta bantuan dan masukan orang terpercaya, seperti ortu, guru atau psikolog. Karena akan sulit menghadapinya sendirian.

Saatnya kamu lepas dari rantai kekerasan dan hubungan yang toxic. Banyak hal positif yang bisa dilakukan anak muda. Jangan sampai kamu terhambat meraih cita-cita dan mengembangkan diri gara gara terjebak dalam hubungan kekerasan.

Satu lagi, jika justru perilaku kamu yang mengarah pada kekerasan, segera hentikan dan carilah bantuan.   

(sumber gambar: pexels.com)

LATEST COMMENT
Tisam Ali | 5 jam yang lalu

Tidak Nurul :)

Panduan dan Jadwal Lengkap UTBK SBMPTN 2019
nurul fitriani | 7 jam yang lalu

kak berarti ini tidak harus bawa laptop sendiri kan?

Panduan dan Jadwal Lengkap UTBK SBMPTN 2019
Mira Nopiyani | 12 jam yang lalu

Kak mau tanya apa seandainya bukan dari fakultas tarbiyah dan fakultas dirasat islamiyah itu wajib juga memakai rok untuk mahasiswi fakultas lain?terimakasih

4 Hal yang Harus Kamu Tahu Tentang UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©