Menu

Cinta Negara Dengan Berpijak di Indonesia

Alkisah, saya pergi liburan keluarga ke Singapura.

Kunjungan ke Singapura bukanlah hal asing bagi saya, tapi di liburan kemaren ini, saya mendapat satu pengalaman baru, yaitu menyaksikan preview kemeriahan dirgahayu Singapura yang akan datang.

Ya, berhubung jalan-jalan kami ke Singapura waktu itu berdekatan dengan dirgahayu mereka yang ke-50, kami mendapat tontonan gratis latihan kemeriahan National Day Parade di kawasan Marina Bay. Mulai dari latihan pertunjukkan kembang api yang spektakuler, sampai latihan airshow para Angkatan Udara yang berjumpalitan dengan pesawat-pesawat mereka. Keren gilak, lah, kayak di film-film. Seandainya aja mereka bikin atraksi tebar duit dari atas pesawat, pasti lebih keren #eaaa.

FYI, kemeriahan National Day Parade begini rutin dilakukan Singapura tiap tahun, lho, nggak hanya untuk dirgahayu yang ke-50 ini. Mewah!

Maka saat serombongan pesawat Hercules terbang diatas kepala kami sambil mengibarkan bendera Singapura raksasa, suami saya nanya, “Merinding nggak liatnya?”

Merinding, dan jujur, cemburu.

Bagi manusia urban seperti saya, Singapura, tuh, termasuk kota impian. Saya selalu bahagia-bahagia-norak menikmati hal-hal menyenangkan yang ada di Singapura—keteraturan, kebersihan, keamanan, ruang publik yang mumpuni, efisiensi, dan berbagai hal lainnya yang mungkin nggak akan saya rasakan di Jakarta. Padahal ‘kan usia Singapura 20 taun lebih muda daripada Indonesia… dan 438 tahun lebih muda daripada Jakarta. Pret! Curang, ah.

Dengan demikian, Singapura terasa dekat tapi jauh. Secara lokasi, Singapura dekat banget. Naik pesawat dari Jakarta aja cuma makan waktu satu jam. Baru taro pantat di kursi pesawat, ngemil Pop Mie, pipis, eh udah sampai. Namun karena kemajuan Singapura yang warbiyasak, Singapura terasa amat jauh, bagaikan beda planet.
 

***

Setiap kali kita melihat atau merasakan negara-negara yang lebih unggul dari tempat tinggal kita, kita pasti cemburu. We also can’t help wanting to pack our bags, and leave to a better place.

Nggak heran ketika teknologi membuat travelling semakin mudah dan murah, warga Indonesia—termasuk saya—berbondong-bondong plesir nggak berhenti-berhenti.

Travelling memang seru dan penting, namun yang nggak kalah penting adalah kita selalu ingat akar kita, nggak terlena dengan kehebatan negara-negara tujuan wisata kita, lalu mencaci maki negara sendiri.

Indonesia nggak sempurna. Pasti banyak orang yang udah nggak betah, mungkin termasuk kamu. Menurut saya, kalau memang udah begah sama Indonesia, silahkan pindah aja nggak, sih? Kalau memang pengen banget hengkang, jalannya pasti ada kok. Nggak ada yang maksa kita harus tinggal dimana. Daripada terus-terusan stress?

Tapiii… kalau kita sudah menetapkan Indonesia sebagai tempat tinggal, maka “akar”kanlah diri kita di Indonesia. Root yourself. ‘Kan ini pilihan kita sendiri?

Indonesia nggak sempurna, tapi nggak sepenuhnya busuk juga. Ada banyak sisi keren dari Indonesia, dan saya khawatir sisi-sisi keren ini ketutup oleh keluhan kita.

berpijak di indonesia juara

***

Kembali lagi ke Singapura.

Inderjit Singh adalah seorang anggota People’s Action Party, salah satu partai politik di Singapura. Selama masa jabatannya, Inderjit Singh sering melontarkan kritik terhadap Sang Negara Singa, salah satunya adalah, menurut beliau, generasi muda Singapura sekarang nggak nganggep negaranya sendiri sebagai rumah mereka.

Singh mengibaratkan Singapura sebagai hotel bintang 6. Kiasan ini maknanya ada dua. Pertama, Singapura bisa terasa nyaman dan sempurna HANYA kalau kamu punya banyak duit, seperti di hotel bintang 6. Dengan kata lain, apa-apa mahal banget, sob.

Kedua, kiasan “hotel” ini juga berarti bahwa Singapura cenderung cuma jadi tempat numpang lewat saja sebelum orang-orangnya pada melanjutkan perjalanan hidup masing-masing, bahkan bagi warga negaranya sendiri.

Per hari ini, Singapura penuh banget oleh warga asing yang menetap sementara dan menjadikan Singapura batu loncatan sebelum pindah ke negara lain. Namun yang gawat adalah warga negara Singapura sendiri pun sekarang cenderung menganggap Singapura sebagai batu loncatan aja. Semakin sedikit anak muda Singapura yang “mengakarkan” diri di negaranya sendiri. Mereka nggak berniat untuk memberikan sumbangsih untuk negaranya kelak.

Seorang teman Singh bahkan komentar, “At times, I do not feel like Singapore is my home. Yes, Singapore is a brilliant place to make money, but not to live anymore.”

Sekali lagi, Indonesia nggak sempurna, tapi saya bersyukur masih punya sense of home di bumi pertiwi ini. Kemanapun saya pergi, ada rasa kangen untuk pulang, ada rasa simpati kalau negara ini makin kalut, dan (masih) ada keinginan untuk memajukan bangsa, meski dalam skala kecil. Seenak-enaknya nginep di hotel, tetap ada rasa kangen rumah juga.

Bagaimanapun juga, Indonesia adalah tanah kelahiran saya. Saya nggak bisa milih dilahirkan dimana, sama seperti saya nggak bisa milih orangtua saya siapa. Sekarang ini, saya berkeputusan tinggal di Jakarta. Dan selama saya masih hidup disini, saya bertekad untuk terus berdamai dengan keputusan saya tersebut, seberat apapun itu *lirik sebel macetnya jalanan protokol*

(bulan lalu, Indonesia merayakan dirgahayunya juga. Walau tanpa atraksi airshow bak film Hollywood dan pertunjukkan kembang api yang spektakuler, semoga hari jadimu tetap meriah di hati masyarakat, ya.)

(sumber gambar: vintag.es, marinabaycountdown.sg, channelnewsasia.com, foto.okezone.com)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©