Menu

Bahaya Kebiasaan Men-Judge Orang Lain dengan Sembarangan Terhadap Diri Sendiri

Judging people is fun! Kadang saya juga merasa begitu, kok.

Tinggal buka media sosial, lihat foto atau video, kita langsung aja menilai hal-hal yang kita lihat. Terus, pas lihat komen, ternyata banyak yang komen sembarangan. Nggak tahan cuma diem doang, akhirnya kita ikutan komen ngasal, deh!

Hal di atas adalah gambaran kebiasaan anak muda alay yang hobi menilai sesuatu secara sembarang. Mereka cuma melihat sekilas, terus ikut-ikutan meninggalkan jejak digital yang menyakitkan. Youthmanual pernah menulis tentang alasan kenapa kita suka meninggalkan komen jahat di internet. Baca, deh, supaya kamu nggak terjerumus juga dan menjadikannya kebiasaan.

Kalau sudah tahu alasannya, sekarang saya mau ngasih tahu akibatnya. Ternyata, menurut penelitian yang dipublikasikan oleh Washington Post, Kalau kamu kebiasaan menilai orang lain dengan sembarangan, dalam artian menilainya dari sisi paling negatif, bukan mereka yang rugi, gaes. Bisa-bisa, bahaya berikut malah menimpa kamu.

1. Kamu menjadi orang yang kurang berempati

Ini, sih, udah jelas banget ya. Semakin kamu menilai seseorang dengan sembarang tanpa mencari tahu dulu kebenarannya, atau memahami alasan dibalik tindakannya, maka justru kamulah yang akan kehilangan respect. Kamu akan dinilai sebagai sosok yang kurang berempati. Padahal empati itu penting, lho, untuk membangun hubungan sosial yang baik dengan siapapun.

Misalnya, kamu melihat teman kamu memakai dompet mahal ke kampus. Padahal, teman kamu itu tiap ke kantin makannya mie instan doang. Kamu langsung aja menilai dia lebih mementingkan penampilan. Rela makan mie instan melulu demi beli dompet mahal yang menurut kamu nggak penting-penting amat. Ternyata, dompet tersebut adalah kenang-kenangan dari mamanya yang udah almarhum dan dia udah janji bakal selalu memakai dompet tersebut.

Malu dong, ya, kalau kamu udah keburu menilai dia sembarangan?

2. Kamu menjadi orang yang kurang kreatif

Lho, apa hubungannya menilai orang lain dengan kreativitas kita? Ada banget, sob!

Prof. Dean Simonton, seorang psikolog asal Amerika yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memepelajari produktivitas dan kreativitas, menemukan bahwa ada dua hal yang dimiliki orang-orang yang sangat kreatif:

Pertama, orang kreatif nggak pernah tau kapan karya mereka bakal diterima oleh orang lain atau nggak. Mereka cuma mencipta, berdasarkan apa yang ada di pikiran mereka.

Kedua, orang kreatif nggak punya bakat untuk menciptakan sesuatu yang kreatif terus menerus. Mereka cuma nggak pernah berhenti berusaha, di tengah usaha mereka itulah mereka menemukan ide-ide baru.

Kamu bayangkan, deh, kalau setiap orang mendapat penilaian yang negatif dari orang lain atas apa yang dilakukannya, akhirnya semua orang bakal berhenti melakukan hal-hal yang mereka suka. Mereka akan menyimpan rapat-rapat hal-hal yang berkembang di pikirannya. Semua jadi mainstream, karena takut dinilai orang lain.

Kebiasaan kita menilai orang lain dengan sembarangan, akan berdampak terhadap psikologis kita bahwa orang lainpun akan menilai apa yang kita lakukan. Ujung-ujungnya, we do nothing. Kita takut melakukan sesuatu yang luar biasa. Kita cuma akan melakukan hal yang sama dengan orang lain, hal yang diterima dan nggak menuai celaan.

3. Kamu menjadi orang yang suka membuang-buang waktu

Sudah berapa lama mantengin media sosial orang yang kamu nggak suka? Berapa lama juga waktu yang kamu habiskan untuk ngomongin orang tersebut via chat bareng teman-teman lain?

Coba kalau kamu menghabiskan waktu tersebut untuk belajar materi kuliah besok, atau belajar kemampuan baru yang belum kamu kuasai? Kayaknya masa depan kamu bakal bebas dari hal-hal negatif dan jauh lebih berkualitas deh, sob.

Judging people is wasting your time, terlebih lagi, kebiasaan ini merusak akal sehat, lho. Stop menilai kenapa orang lain nggak melakukan ini dan itu. Coba ubah cara pandang kamu bahwa mereka punya alasan yang mungkin nggak sejalan sama kamu, tapi bukan berarti kamu bisa jadi hakim dari perbedaaan tersebut.

 

(Sumber gambar: tinybuddha.com, brainzooming.com)

LATEST COMMENT
Anisa | 3 jam yang lalu

Kk aku kan dari jurusn ipa, tapi pas mau kuliah mau ngambil soshun, itu apakah harus utbk nya sohsun atau ipc kk?

Strategi Sukses IPC di SBMPTN Serta Pertimbangan Memilih IPC
Tisam Ali | 10 jam yang lalu

Apakah masih bisa diubah? Jika ya, silakan coba di prodi yang lain. Namun apabila telah telanjur dan tidak bisa diubah, maka saran saya coba jalani. Bulatkan tekad untuk menjalani perkuliahan. Dari situ, kamu benar-benar dapat mengetahui apakah salah jurusan atau ternyata bisa dijalani.

Balada Salah Jurusan Kuliah dan Solusinya. Nggak Harus Pindah Jurusan, Kok!
Tisam Ali | 10 jam yang lalu

Hai Kristin, untuk teknis pengisian, bisa kamu tanyakan ke pihak kampus. Kebanyakan kampus sudah menerapkan pengisian berbasis komputer secara online. Ada pula yang masih mengisi secara manual (tertulis).

Strategi Mengisi KRS: Memilih Mata Kuliah dan Menentukan Jumlah SKS
Syafara nur Jannah | 13 jam yang lalu

Kirain jurusan dokter forensik dibedain jurusan dokter pada umumnya

Mengenal Serba-Serbi Profesi Dokter Forensik
arinal izzay | 18 jam yang lalu

go visit : http://news.unair.ac.id/2018/09/10/manajemen-perhotelan-unair-siapkan-mahasiswa-hadapi-dunia-kerja/

Serba-Serbi Jurusan Perhotelan: Dari Mata Kuliah Hingga Prospek Kerja
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©