Menu

Searching, FIlm Thriller Tentang Remaja dan Pelajaran yang Bisa Kamu Ambil

Searching merupakan film drama thriller yang tayang pada Sundance Film Festival 2018. Kisahnya tentang seorang remaja bernama Margot (Michelle La) yang hidup berdua dengan sang ayah (John Cho) setelah ibunya meninggal dunia dua tahun silam. Sejak kematian sang ibu, Margot menjadi pribadi yang tertutup, bahkan ia pun menutup diri dari ayah, orang yang terdekat dengan dirinya.

Di dunia nyata, Margot menjadi sosok yang pendiam dan penyendiri. Namun ia mulai membuka diri di dunia maya. Ia sering posting video dan bercerita mengenai harinya kepada orang-orang yang tidak ia kenal. Ia menjalin pertemanan baru di dunia maya.

Layaknya masyarakat zaman now, kehidupan keluarga Margo tak bisa dipisahkan dari gadget. Berkomunikasi, urusan pekerjaan,  mengerjakan tugas, menyimpan memori (foto dan video), menyusun planner harian, catatan transaksi bank, dan lainnya, dilakukan dengan perangkat elektronik mereka. Menekankan pada gaya hidup yang serba digital, seluruh adegan dalam film ini ditampilkan dengan angle screen gadget. Dari segi cerita dan teknik visualisasi, tampilan “gadget" inilah yang menjadi keunikan film.

searching film

Balik ke cerita, suatu hari si ayah mendapati Margot menghilang. Mereka terakhir kali berkomunikasi via Facetime ketika Margot sedang kerja kelompok di rumah temannya. Setelah itu ternyata Margot tidak pulang ke rumah. Setelah dilaporkan hilang, pihak berwajib turun tangan mencari Margot, termasuk menelusuri jejak digitalnya. Misteri pun menyelimuti pencarian Margot.

Oke, Youthmanual nggak mau spoiler, tapi pengen mengulik pelajaran yang bisa kamu ambil dari film yang disutradarai Aneesh Chaganty ini.

1. Jangan menutup diri dengan kawan kawan di dunia nyata. Well, kadang kita memang merasa lebih nyaman di media sosial atau secara online.  Namun interaksi dengan orang dan lingkungan di sekitarmu sangat diperlukan.

2. Pikir dua kali saat mau share sesuatu di media sosial/ internet, terutama jika tidak di-private sehingga bisa dilihat orang lain yang bukan teman yang dikenal di dunia nyata.

Kadang orang tidak menyadari bahwa ia telah banyak membagikan informasi personal kepada orang lain. Seperti di mana rumahnya, masalah yang dialami, hal-hal yang ditakutkan atau disukai, seputar keluarga, hingga jadwal sehari-hari realtime. Ini sesuatu yang kesannya harmless sih, tapi bisa disalahgunakan orang lain.

3. Kamu perlu waspada, bahkan sama teman sendiri. Apalagi dengan orang yang baru dikenal. Ingat prasangka buruk berbeda dengan waspada. Waspada fokusnya adalah menjaga keamanan diri, dan bukan soal menilai/nge-judge orang lain.

Berkaitan dengan waspada nih, bisa saja kamu ketemu teman baru yang klop dan ngertiin dirimu banget. Tapi mungkin aja lho, dia banyak tahu tentang diri kamu gegara kamu banyak membagikan informasi di medsos dan online.

4. Kewaspadaan ini harus ekstra saat kamu berteman di dunia maya, sama orang yang sama sekali kamu nggak kenal. Apalagi kalau dia ngajakin ketemuan. Kamu perlu cari tahu tentang orang tersebut. Dan kalau memang mau ketemuan, ajak orang lain yang kamu percayai.

5. Kalau kamu mau pergi ke suatu tempat, pastikan orang lain tahu keberadaanmu. Apalagi kalau kamu sendirian dan malam hari.

6. Jangan tertutup dengan keluarga. Jika kamu menghadapi masalah, keluarga lah yang pertama akan membantu. Memang sih, hubungan dengan anggota keluarga nggak selalu lancar dan baik. Namun jika ada masalah, berusahalah untuk memperbaikinya.

7. Zaman sekarang mudah untuk mencari tahu tentang seseorang lewat internet. Yup, kamu bisa google orang tersebut, dan sebaliknya orang lain juga bisa googling kamu. Makanya, pertimbangkan terlebih dahulu sebelum kamu membagi informasi mengenai dirimu.

 (sumber gambar: bookmyshow.com, empire.c

LATEST COMMENT
Sheila Amadea | 5 jam yang lalu

Hai, aku bantu jawab. Aku Sheila, saat ini mahasiswi Okupasi Terapi UI tahun kedua. Prospek kerja di daerah bukan perkotaan justru besar banget. Kalau bisa dibilang, Okupasi Terapi adalah salah satu jurusan yang jarang ditemui di Indonesia. Di Bogor, tempat tinggalku sekarang aja hanya ada 1 orang Okupasi Terapis di RS, dan belum termasuk mahasiswa yang sedang praktek klinik atau magang di RSJ (dari info yang aku tahu sejauh ini, ya. Mungkin saat ini sudah bertambah di klinik-klinik). Kalau kamu dari daerah yang jauh dari kota, kemungkinannya sangat sangat besar tenaga Okupasi Terapis dibutuhkan. Jadi, kalau kamu tertarik dengan jurusan ini dan saat ini tinggal di daerah bukan perkotaan, ini jadi peluang yang buagus banget buat kamu meningkatkan kesejahteraan daerah kamu sendiri. Semangat!

Mengenal Lebih Dekat Program Studi Okupasi Terapi
priandari | 9 jam yang lalu

sistem penilaian untuk tesnya bagaimana ya kak?

Serba-Serbi Seleksi Mandiri Universitas Airlangga
Puan Nur R | 16 jam yang lalu

Mau tanya kak kalau ketrima sbmptn boleh ikut Ujian Mandiri atau tidak ya?

10 Perubahan Penting SNMPTN dan SBMPTN 2019
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©