Menu

Metode Eisenhower: Untuk Manajemen Waktu yang Lebih Efektif dan Efisien

Saya mau membuat pengakuan, saya adalah orang yang buruk dalam perihal manajemen waktu. Sebagai seorang seorang deadliner sejati, saya nggak bisa ngerjain tugas kalau belum H-1 batas akhir pengumpulan (jangan ditiru!). Berabe banget ‘kan tuh kebiasaan kayak gitu kalau dibiarkan berlama-lama, bisa-bisa saya nanti ber-evolusi jadi makhluk surem yang nggak produktif *merinding*.

Nah, untungnya saya menemukan satu metode yang berhasil mengubah semua itu. Yup, metode Eisenhower. Metode ini membagi tiap tugas yang harus kita kerjakan menjadi empat kategori utama: Penting dan Urgent, Penting tapi Tidak Urgent, Tidak Penting tapi Urgent, Tidak Penting dan Tidak Urgent.

Penting dan Urgent, Apa Bedanya?

Sebelum kita membahas bagaimana metode ini bekerja, tentunya kita harus tau dulu dong apa bedanya tugas ‘penting’ dengan tugas ‘urgent’ yang menjadi fondasi utama dari metode Eisenhower sendiri.

Apa itu tugas yang penting? Tugas-tugas ini ialah tugas yang secara kangsung memiliki kontribusi terhadap tujuan, misi, dan nilai-nilai hidup kita dalam jangka panjang. Ketika kita tengah mengerjakan tugas-tugas yang ‘penting’, maka secara psikologis kita akan berada dalam mode responsif yang membantu kita untuk tetap tenang, fokus, dan terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.

Lalu, apa itu tugas yang urgent? Tugas yang urgent adalah tugas-tugas yang membutuhkan perhatian saat itu juga. Semua elemen dari tugas itu seolah berteriak “Kerjakan aku sekarang!”, dan ini membuat benak kita merespon dengan tindakan-tindakan yang defensif, cepat, dan dengan pola pikir yang cenderung lebih sempit.

Empat Kotak Sortir

Sudah paham soal perbedaan tugas ‘penting’ dan ‘urgent’? Sekarang saatnya kita bedah lebih lanjut mengenai bagaimana cara  metode ini bekerja.

Seperti yang udah sempat saya singgung tadi, metode Eisenhower membagi tugas yang harus kita kerjakan menjadi 4 kategori berdasarkan ingkat kepentingan dan level urgensinya.

Saya suka menyebutnya sebagai sebuah kotak sortir, karena untuk menggunakannya kita akan menyoritr semua tugas dan hal-hal yang harus kita lakukan untuk kemudian ‘dimasukkan’ ke dalam kotak-kotak tersebut.

1. Kotak 1: Penting dan Urgent

Kotak ini berisi tugas-tugas yang harus segera dilakukan sekarang juga. Misalkan deadline tugas. Nggak mau ‘kan kamu nunda-nunda ngerjain tugas dan berujung panik pada saat deadline tiba?

2. Kotak 2: Penting tapi Tidak Urgent

Hampir mirip dengan kotak sebelumnya, kotak ini berisi tugas yang harus dilakukan, tapi kamu masih punya banyak waktu untuk melakukannya. Jadwalkan waktu di kemudian hari untuk mengerjakanya. Contoh: menyusun rencana pilihan prodi untuk SNMPTN dan SBMPTN saat kamu masih duduk di kelas 11.

3. Kotak 3: Tidak Penting tapi Urgent

Tugas ini sebenarnya nggak penting-penting banget tapi kamu harus melakukannya saat ini juga agar nggak mengganggu tugas-tugas lainnya. Siasatnya, kamu bisa mendelegasikan orang lain untuk melakukan tugas tersebut. Contohnya adalah ketika kamu harus mengantarkan adik ke sekolah padahal kamu juga harus belajar untuk persiapan SBMPTN di bimbel. Nah, kamu bisa mendelegasikan tugas mengantar adik ini dengan memesankan ojek online untuknya. Teknologi, sob!

4. Kotak 4: Tidak Penting dan Tidak Urgent

Kayaknya saya nggak perlu menjelaskan isi kotak ini ya. Menonton film horror baru di bioskop, atau sekedar nyobain kafe-kafe hits demi mengisi feeds instagram tentunya nggak harus masuk skala prioritas. Pentingan mana, ikut Try-out SBMPTN atau nonton bioskop? Kalian pasti tau lah ya jawabannya.

***

Nah, sudah paham ‘kan mengenai metode ini? Jadi, sekarang nggak ada lagi ya alasan nggak ngumpulin tugas karena lupa ngerjain atau kelewatan deadline. Dengan metode Eisenhower, semua tugas dan kegiatan penting yang harus kamu lakukan bakal lebih terorganisir dan terencana dengan rapi. Selamat mencoba!

Baca juga:

(sumber gambar: thenextweb.com)

LATEST COMMENT
Sheila Amadea | 6 jam yang lalu

Hai, aku bantu jawab. Aku Sheila, saat ini mahasiswi Okupasi Terapi UI tahun kedua. Prospek kerja di daerah bukan perkotaan justru besar banget. Kalau bisa dibilang, Okupasi Terapi adalah salah satu jurusan yang jarang ditemui di Indonesia. Di Bogor, tempat tinggalku sekarang aja hanya ada 1 orang Okupasi Terapis di RS, dan belum termasuk mahasiswa yang sedang praktek klinik atau magang di RSJ (dari info yang aku tahu sejauh ini, ya. Mungkin saat ini sudah bertambah di klinik-klinik). Kalau kamu dari daerah yang jauh dari kota, kemungkinannya sangat sangat besar tenaga Okupasi Terapis dibutuhkan. Jadi, kalau kamu tertarik dengan jurusan ini dan saat ini tinggal di daerah bukan perkotaan, ini jadi peluang yang buagus banget buat kamu meningkatkan kesejahteraan daerah kamu sendiri. Semangat!

Mengenal Lebih Dekat Program Studi Okupasi Terapi
priandari | 9 jam yang lalu

sistem penilaian untuk tesnya bagaimana ya kak?

Serba-Serbi Seleksi Mandiri Universitas Airlangga
Puan Nur R | 16 jam yang lalu

Mau tanya kak kalau ketrima sbmptn boleh ikut Ujian Mandiri atau tidak ya?

10 Perubahan Penting SNMPTN dan SBMPTN 2019
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©