Menu

Rahasia Jadi Mahasiswa Berprestasi dan Lulus Kuliah 3 Tahun a la Siti Khotimah, Alumnus Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada

Kamu yang ingin jadi mahasiswa berprestasi di bidang akademik dan non-akademik sekaligus selama masa kuliah, cung tangan!

Realitanya, memaksimalkan kegiatan akademik dan non-akademik bukanlah hal yang mudah, lho, gaes. Dibutuhkan banyak pengorbanan, komitmen, dan manajemen waktu yang baik. Perlu kamu ingat juga bahwa kamu nggak dapat melakukan semua hal dalam waktu yang bersamaan, maka dari itu diperlukan prioritas.

Kamu yang saat ini statusnya mahasiswa dan pejuang skripsi, saya mau ajak teman-teman untuk kenalan sama Kak Siti Khotimah yang sangat menginspirasi, nih. Kak Siti baru saja resmi lulus dari program studi Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) si “Kampus Kerakyatan” di kota pelajar, Yogyakarta. Ada yang mau ngikutin jejaknya Kak Siti, nggak, nih? Hihihi.

Eniwei, kenapa Kak Siti sangat menginspirasi? Well, HI UGM adalah salah satu program studi bergengsi alias favorit dan terbilang cukup sulit untuk ditembus, gaes. IPK yang didapatkan Kak Siti pasca skripsi adalah 3.81 dari 4.00 alias hampir sempurna.

Trus, gelar S1 Kak Siti raih hanya dalam waktu 3 tahun 1 bulan, lho! Nggak heran, Kak Siti menyandang predikat “Lulusan dengan IPK Tertinggi” di (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik) Fisipol UGM pada wisuda (22/11) yang lalu. Kak Siti pun dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dan menoreh segudang prestasi di ranah non-akademik. Wow banget, nggak, tuh?

Buat kamu yang penasaran dengan rahasia Kak Siti yang berprestasi di bidang akademik dan non-akademik sekaligus, simak deh rangkuman ngobrol-ngobrol cantik saya bareng Kak Siti di bawah ini.

Cekidot!

Hai, Kak Siti! Boleh ceritain nggak, perjuangan kakak dalam mencapai predikat “Lulusan dengan IPK Tertinggi” di Fisipol UGM ketika wisuda beberapa waktu lalu?

“Hai juga. Mungkin bakal aku ceritakan detail cara-caraku mendapatkan nilai yang baik di setiap mata kuliah, ya.

Jadi, waktu kuliah, aku punya target nilai per mata kuliah (matkul). Untuk mata kuliah pilihan, tentu saja aku memilih matkul yang menjadi minatku atau yang menurutku seru. Ketika matkulnya seru, saat aku belajar mengenainya pasti akan lebih semangat. Nah, pada mata-mata kuliah tersebut, aku selalu mematok nilai A, sehingga jika setiap nilai matkulnya bagus, (insyaAllah) pasti akan lebih mudah untuk mendapatkan predikat cum laude.

Setelah aku memberi target untuk diriku sendiri, aku realisasikan dengan cara berkonsentrasi secara penuh ketika sedang mengerjakan tugas-tugas kuliah dan mengikuti kelas matkul di kelas. Nggak boleh ada kompromi terkait hal tersebut karena aku menyadari bahwa waktuku di luar kuliah (kegiatan akademik) sudah banyak aku gunakan untuk berorganisasi dan volunteering, serta kepanitiaan beberapa acara. Terutama ketika mengerjakan tugas-tugas kuliah, aku selalu pastikan bahwa aku berusaha mengerjakannya dengan maksimal dan sungguh-sungguh.”

Wow, ternyata simpel banget, ya, Kak. Oya, trus gimana cara Kakak untuk survive di program studi yang katanya “susah” ini?

“Susah sih nggak juga, ya. Aku percaya kalau masing-masing program studi kuliah pasti memiliki tantangannya masing-masing.

Sepengalamanku, di Fisipol UGM jika dibandingkan dengan program studi Ilmu Komunikasi, Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Politik dan Pemerintahan, dan Sosiologi, bisa dibilang bahwa tugas anak HI relatif lebih banyak. Oleh karena itu, untuk bisa survive, wajib hukumnya anak HI untuk rajin membaca buku, jurnal, dan berita mengenai isu internasional. Selain itu, jangan takut untuk mempelajari segala sesuatu dari nol dengan sungguh-sungguh.”

Selain serius dalam menjalani kegiatan akademik, ternyata Kakak juga aktif dalam berorganisasi, volunteering, dan kepanitiaan acara. Bagaimana Kakak memaksimalkan semua hal itu atau mengatur prioritas dengan baik?

“Yup! Kegiatan non akademik sangat diperlukan untuk mengasah soft skills yang juga berguna ketika sudah meniti karier kelak.

Selama kuliah, aku aktif dalam beberapa organisasi kampus. Pada saat aku masih di semester 2, aku bergabung pada Dewan Mahasiswa FISIPOL divisi kajian strategis dan juga Center for East Asia Social Studies (CEARS) divisi eksternal. Di semester 3, aku bergabung di Srikandi UGM, yaitu sebuah organisasi yang bertajuk pemberdayaan perempuan sekaligus partai mahasiswa perempuan di UGM.

Memasuki semester 4, aku pun memberanikan diri untuk mencalonkan diriku menjadi Senat KM UGM melalui Partai Srikandi UGM. Ternyata, aku berhasil mendapatkan banyak suara pada saat pemilihan umum mahasiswa, sehingga aku terpilih menjadi Senat KM UGM. Lambat laun, aku pun dipercaya untuk menjabat sebagai Ketua Komisi IV Senat KM UGM 2017.

Prinsipku adalah antara organisasi dan kuliah nggak boleh dijalani dengan 50:50, melainkan harus berusaha 100% memaksimalkan keduanya alias totalitas. Soalnya, keduanya adalah hal yang esensial dan ketika telah memutuskan untuk menjalani keduanya maka harus berkomitmen penuh untuk memberikan 100% yang terbaik di keduanya. Terlebih lagi, kalau kita mendapatkan amanah menjadi ketua atau pengurus harian, tentu saja kita harus bekerja dengan penuh tanggung jawab.  

Nah, kalau lagi suntuk dengan padatnya jadwal atau pekerjaan, aku menerapkan beberapa cara untuk mengatasinya, yaitu:

  1. Mengerjakan hal yang paling penting dan mendesak terlebih dahulu.

  2. Tetap berpegang pada komitmen, salah satunya dengan cara berani menolak ajakan teman untuk nongkrong.

  3. Berdialog dengan Tuhan.

  4. Memberi hadiah atau self-appreciation pada diriku sendiri ketika aku sukses dalam menyelesaikan sesuatu.”

Selain aktif dalam organisasi, volunteering, dan kepanitiaan acara, apakah Kakak memiliki kesibukan lain di luar kampus?

“Ketika aku melepas jabatan Ketua Komisi IV Senat KM UGM 2017, aku beranikan diri untuk melamarkan diri pada program magang di Center for East Asia Research and Studies (CEARS) sebagai asisten riset. Selain itu, aku pun sempat magang sebagai Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk ASEAN.

Magang di ASEAN

Di sela-sela kehidupan kuliahku, aku pun dipercaya menjadi Asisten Perkuliahan (Tutor Akademik) sejak tahun kedua perkuliahanku. Ada pun mata-mata kuliah yang aku bantu, yaitu: Politik Sosial Budaya Jepang, Perbandingan Politik, Hubungan Internasional di Timur Tengah, Militer dan Politik, serta Gender dan Politik.”

Mengenai skripsi Kakak, boleh tahu nggak topik dan tema yang Kakak pilih? Trus, melihat kelulusan kuliah Kakak yang tercapai hanya dalam waktu yang terbilang cukup singkat, apakah Kakak sudah mulai memikirkan kerangka atau gambaran skripsi yang hendak Kakak tulis sejak awal semester?

“Skripsi yang aku tulis adalah Kebijakan Reformasi Struktural Womenomics di Bawah Perdana Menteri Shinzo Abe (Jepang) yang Dicetuskan oleh Koalisi Liberal Democratic Party (LDP) dan Partai Komeito. Alasanku memilih untuk menulis mengenai hal tersebut karena aku minat terhadap masalah pemberdayaan perempuan dalam pemerintahan global. Kebetulan juga, aku punya cita-cita, yaitu bekerja di UN Women.  

Aku memikirkan mengenai tema yang aku ambil untuk skripsi itu sejak aku masih di semester 3, lalu aku mulai membuat kerangka penelitiannya di semester 4 dan kemudian aktif mencari data.

Oya, aku juga punya trik cepat agar cepat menyelesaikan skripsi, yaitu: nggak gonta-ganti tema skripsi karena skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai. Hehehe.”

Saya dan teman-teman di Youthmanual yakin bahwa jalan penulisan skripsi bukanlah sebuah jalan yang mudah dan lurus untuk ditempuh. Kalau iya, apa aja kendala atau hambatan yang Kakak jumpai saat penulisan skripsi?

“Yup, aku pun setuju, kok. Tentu saja penulisan skripsi nggak mudah. Banyak sekali kendala yang harus aku hadapi: rasa malas, data yang “invisible”, kesulitan dalam menganalisis data, kesibukan dalam bekerja dan berorganisasi, bahkan galau masalah perasaan. Hal-hal tersebut wajar atau lazim terjadi, sih.

Aku pernah stres banget dalam menghadapinya, sampai terkadang menangis di kala malam, menyalahi diri sendiri, dan merasa sangat tertekan. Di akunya jadi beban banget.”

I Can Do It

Wah, lalu gimana cara Kakak untuk kembali bangkit dan “melawan” kendala-kendala tersebut?

“Aku mengatasinya dengan tidur yang cukup dan menjauhi hal-hal toxic, misalnya dengan deaktivasi akun Instagram, Twitter, dan AskFm. Aku pun juga berusaha menghubungi semua orang yang sekiranya bisa membantuku mengatasi kendala dalam menulis skripsi. Lagi dan lagi, berdialog dengan Tuhan adalah hal yang tak boleh terlupakan.

Terkait kegalauan masalah cowok, nggak terlalu aku pusingin, meskipun rasa sedih pasti tetap menghampiri. Ketika hal tersebut sedikit menggangguku, aku selalu mengingatkan diriku pada sebuah kutipan Michelle Obama: “There’s no boy at this age who is cute enough or interesting enough who can stop me from getting my education.” Ntap banget, ‘kan?”

Ntap banget, Kak! Terakhir nih, apa pesan Kakak untuk anak muda di Indonesia, terutama para maba dan pejuang skripsi?

“Untuk adik-adik maba, jangan takut untuk menjadi ambisius dan menghidupi mimpi, selama itu berkaitan dengan hal yang positif. Ayo, belajar yang rajin dan jangan pernah takut capek! Ingatlah bahwa kecerdasan nggak bisa didapat secara instan, bahkan kalau kita mau makan mie instan yang matang, nggak bisa langsung tiba-tiba matang, ‘kan?

Oya, jangan lupa juga untuk aktif menimba ilmu di dalam dan di luar kampus karena pendidikan lebih dari sekadar modal untuk mencari pekerjaan. Justru pendidikan menyertakan proses aktualisasi diri dan pendewasaan.

Untuk para pejuang skripsi, fokuslah pada tujuanmu. Selalu usahakan untuk menjauhi hal-hal toxic yang mendistraksi. Ingatlah bahwa Instagram, pacaran, dan kulit yang cantik bisa diusahakan setelah skripsimu di-acc dan revisi skripsimu selesai.”

***

Pada akhirnya, setiap orang memang memiliki jalan hidupnya masing-masing, tapi kadang kala kita boleh banget, lho, meneladani sifat dan sikap baik seseorang. Yuk mulai aktif berorganisasi, berkomitmen pada prioritas, dan raih tujuan utama sebuah pendidikan, yaitu bukan hanya berfokus pada nilai tinggi, melainkan mendewasakan diri.

All in all, terima kasih banyak Kak Siti untuk ceritanya. Teruslah menginspirasi, Kak!

 

(sumber gambar: furihanifahzanuardi.wordpress.com, dokumentasi pribadi)

 

LATEST COMMENT
Ahmad Faidoli Siregar | 6 jam yang lalu

Apa bisa modal jago gambar kita masuk jurusan arsitektur?

5 yang harus Kamu Persiapkan Sebelum Masuk Jurusan Arsitektur
Cindy Tan | 9 jam yang lalu

Semoga lolos dan keterima SBMPTN ke UI 2019

Berapa Passing Grade SBMPTN 2019?
Hawwa 'Ainaa | 11 jam yang lalu

Saya sma jurusan ipa, apakah bisa masuk fsrd lewat jalur snmptn?

Serba-Serbi Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB
Adrian Sasori | 23 jam yang lalu

Kak, mau bertanya. Boleh nggak mengambil 1 prodi saja di 2 PTN berbeda?

Serba-Serbi SNMPTN 2019 yang Penting Kamu Ketahui
Adrian Sasori | 23 jam yang lalu

Kak, mau tanya. Boleh nggak mengbila 1 prodi pada 2 PTN yang berbeda? Sekian terima kasih!

Serba-Serbi SNMPTN 2019 yang Penting Kamu Ketahui
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©