Menu

Profesiku: Organizational Development and Research Associate, Flavia Norpina Sungkit

Dalam seri "Profesiku", kamu bisa kenalan dengan berbagai profesi, lewat cerita para senior yang menekuninya. Kali ini, yuk, kenalan dengan profesi Organizational Development and Research Associate bersama Flavia Norpina Sungkit!

Ngomongin soal program studi Psikologi, pasti masih banyak miskonsepsi yang membayangi para mahasiswa juga lulusannya. Masih ada aja yang menganggap kalau anak Psikologi bisa baca pikiran orang, nggak bakal belajar hitung-hitungan, atau nggak akan punya peran penting di posisi strategis suatu perusahaan.

Nggak juga, kok. Dalam artikel kali ini, ada Flavia Norpina Sungkit (Flavia) yang berbagi opini tentang hal ini. Alumni program studi Psikologi Universitas Gadjah Mada ini bakal berbagi sudut pandangnya sebagai seorang Organizational Development and Research Associate (Psikolog Organisasi Industri) di Nutrifood Indonesia. Mari disimak, gaes!

Profesiku:

"Organizational Development and Research Associate di Nutrifood Indonesia, salah satu perusahaan FMCG lokal."

Tugasku sehari-hari:

"Sesuai nama, tugasku adalah membuat strategi pengembangan organisasi dan melakukan riset-riset terkait dalam lingkup sumber daya manusia/human resources (HR).

Sehari-hari, sebenarnya tugasku lebih banyak yang berbentuk by project, yang artinya nggak terjadwal. Aku juga turut bantu melaksanakan berbagai fungsi HR untuk mengembangkan strateginya dalam mengoptimalkan proses bisnis perusahaan. Seperti seperti konsultan internal HR gitu, deh.

Kalau pekerjaan yang by project, contoh pekerjaan yang biasa aku handle berupa mengembangkan algoritma rekrutmen sehingga rekrutmen tidak perlu dilakukan secara manual lagi, menganalisa kebutuhan jumlah karyawan yang disesuaikan dengan load di posisi tersebut untuk mengoptimalkan produktivitas karyawan, membobot grade karyawan, dan sebagainya.

Sampai sini, pasti ada yang bertanya-tanya: kok anak Psikologi ngerjain begituan? Ya karena di program studi Psikologi, kamu akan banyak belajar ilmu statistik! Hehehe."

Alasan memilih profesi ini:

"Sebagai lulusan psikolog industri, jalan karier paling relevan yang bisa ditempuh  memang berkutat di ranah industri yang berperan sebagai konsultan internal perusahaan dalam pemetaan sumber daya manusianya.

Selain karena sesuai dengan spesialisasi profesi, alasan aku memilih profesi ini juga karena aku senang melakukan pekerjaan yang banyak melibatkan proses penyusunan strategi dan riset. Tentunya yang menjadi challenge adalah bagaimana di profesi ini aku bisa memasukkan unsur psikologi berupa perilaku manusia yang mungkin nggak terpikirkan oleh orang-orang dari bidang yang berbeda. Jadi, lulusan Psikologi juga bisa menjadi fungsi strategis di perusahaan, kok."

Modal utama untuk menjalani profesi ini:

"Kalau dari latar belakang pendidikan, yang terpenting menurutku adalah menempuh pendidikan pascasarjana Profesi Psikologi Industri & Organisasi. Kenapa nggak cukup kuliah sampai jadi Sarjana Psikologi aja? Soalnya, ilmu yang didapatkan di S1 Psikologi belajarnya hanya hal-hal umum, sedangkan di pascasarjana Profesi Psikologi Industri & Organisasi akan belajar banyak hal yang terkait dengan industri dan organisasi dari segi psikologi.

Trus, dalam proses pembelajaran, kamu harus mampu memahami pengembangan organisasi dan perilaku manusia. Kalau nggak paham tentang seluk beluk psikologi organisasi dan manusia, maka akan sulit untuk mengembangkan strategi HR yang pas untuk diterapkan perusahaan.

Kalau dari segi skill, yang paling penting untuk dikuasai adalah analytical thinking. Kamu harus mampu menganalisa data dengan baik, karena dalam mengembangkan strategi sangat dibutuhkan kemampuan statistik. Jadi, untuk bisa menjajal profesi ini, menguasai hal-hal yang termasuk di bidang soshum dan saintek sekaligus hukumnya wajib!"

flavia norpina nutrifood indonesia

Hal yang menarik selama menjalani profesi ini:

"Aku bisa banyak belajar hal baru setiap harinya, dan ini adalah sesuatu yang menarik banget buatku. Di setiap project yang aku handle, aku mengerjakan hal yang berbeda-beda—mulai dari ranah manajemen, komunikasi, hingga analisa data. Selain itu, profesi ini juga  sangat fleksibel dan dinamis sekali karena nggak mengharuskan untuk melakukan aktivitas yang rutin.

Kalau yang paling berkesan, sih, ketika aku bisa membuat atasan puas dengan project yang aku buat. Rasanya bangga banget ketika berhasil meyakinkan mereka dengan strategi yang sudah kususun sedemikian rupa dan implementasinya memberikan efek yang signifikan. Apalagi ketika dalam prosesnya aku banyak melakukan riset, banyak menemukan hal-hal baru, yang tidak terpikirkan sebelumnya, dan belum pernah dikerjakan orang lain."

Kendala yang pernah ditemukan selama bekerja, dan cara mengatasinya:

"Kalau menurutku pribadi, kendala yang sering aku temukan di lapangan adalah ketika harus menjembatani antara hal yang praktis dengan hal yang teoritis. Praktisi di perusahaan, 'kan, biasanya maunya yang cepat dan instan, hahaha. Sementara secara profesional nggak semua hal bisa begitu. Adalah suatu tantangan yang cukup sulit buatku untuk memformulasi project yang menjawab kebutuhan atasan, namun tetap "masuk akal" untuk diimplementasikan.

Cara mengatasinya adalah dengan mengkomunikasikan kendala ini kepada atasan untuk menyamakan ekspektasi, serta harus banyak baca dan belajar/benchmarking tentang project serupa agar terlihat feasibility-nya."

Miskonsepsi umum mengenasi profesi ini:

"Hmmm, paling mentok pertanyaan yang sering saya dengar adalah: apa hubungannya divisi Organizational Development and Research dengan ilmu Psikologi? Hehehe.

Padahal, banyak banget, lho, ilmu psikologi yang bisa diterapkan di organisasi dan psikologi tidak melulu hanya belajar tentang manusia. Pada tau nggak sih psikologi itu juga belajar cukup dalam tentang statistika dan eksperimen?

Yang bisa diterapkan ilmu psikologi dalam profesi ini tuh banyak banget, mesti tahu gimana dinamika psikologis manusia saat ini dan kedepannya ketika kita membuat kebijakan tertentu, bagaimana mengkomunikasikannya, bagaimana menyusn strategi pengembangan sumber daya manusia yang sesuai dengan berbagai karakter karyawan, sampai penempatan dan relevansi isu generation gap di dunia kerja."

Tips untuk anak muda agar sukses berkarier dan berkarya di masa depan:

"Pertama: Mau belajar! Perkembangan ilmu itu sangatlah cepat. Jadi harus banget mau belajar apa pun, namun juga harus membekali diri dengan skill spesifik yang bisa jadi pembeda antara kamu dan yang lain.

Lalu, jangan takut mencoba dan gagal. Kamu juga harus harus cepat bounce back dan cari lagi kesempatan yang bisa dikerjakan.

Dan yang paling penting adalah punya target yang jelas, tahu mau menjadi apa dan aktif mencari tahu bagaimana caranya mewujudkannya. Jangan cuma modal mimpi kosong dan berharap suatu saat mimpimu akan menjadi nyata tanpa ada usaha apa-apa."

***

Wih, pesannya Kak Flavia untuk anak muda "jleb" banget! Daripada nggak sama sekali, ada baiknya kalau kamu mulai mencari berbagai kesempatan dan mencoba melakukan berbagai kegiatan baik untuk dirimu. Lebih oke lagi kalau membawa faedah.

Selama 13 tahun, Nutrifood terus berkomitmen menemukan dan mencetak pemimpin masa depan yang inspiratif melalui Nutrifood Leadership Award. And the good news is, pendaftaran Nutrifood Leadership Award 2018 sudah dibuka! Untuk kamu yang punya mimpi besar dan ingin memulai kisah sukses versi kamu, Nutrifood Leadership Award 2018 bisa menjadi langkah awalmu.a

nutrifood leadership award 2018

So, jangan lupa daftarkan dirimu di www.nutrifood.co.id/nutrilead sebelum 23 September, ya!

LATEST COMMENT
Maulida Nur Perdani | 1 jam yang lalu

bantu jawab ya.. kalau memang hanya minat di rumpun soshum, ambil soshum saja bisa kok, gak harus ipc ^^

Strategi Sukses IPC di SBMPTN Serta Pertimbangan Memilih IPC
Anisa | 11 jam yang lalu

Kk aku kan dari jurusn ipa, tapi pas mau kuliah mau ngambil soshun, itu apakah harus utbk nya sohsun atau ipc kk?

Strategi Sukses IPC di SBMPTN Serta Pertimbangan Memilih IPC
Tisam Ali | 18 jam yang lalu

Apakah masih bisa diubah? Jika ya, silakan coba di prodi yang lain. Namun apabila telah telanjur dan tidak bisa diubah, maka saran saya coba jalani. Bulatkan tekad untuk menjalani perkuliahan. Dari situ, kamu benar-benar dapat mengetahui apakah salah jurusan atau ternyata bisa dijalani.

Balada Salah Jurusan Kuliah dan Solusinya. Nggak Harus Pindah Jurusan, Kok!
Tisam Ali | 18 jam yang lalu

Hai Kristin, untuk teknis pengisian, bisa kamu tanyakan ke pihak kampus. Kebanyakan kampus sudah menerapkan pengisian berbasis komputer secara online. Ada pula yang masih mengisi secara manual (tertulis).

Strategi Mengisi KRS: Memilih Mata Kuliah dan Menentukan Jumlah SKS
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©