Menu

Profesiku: Constance Higley, Food Stylist

Setiap kamu melihat foto makanan yang bikin super ngiler—misalnya, di majalah, di menu restoran, atau di feed Instagram seorang food blogger—penasaran nggak, sih, bagaimana images itu bisa tercipta? Kok hasil potret makanan kita biasanya nggak jadi napsuin?

Dibalik setiap foto makanan yang kece, pasti ada peran serta food styling. Percaya, deh, ada segudang persiapan dan pengaturan untuk membuat sebuah foto makanan menjadi #foodporn.

Nah, orang yang sehari-harinya berprofesi mengarahkan gaya pemotretan makanan alias food styling tersebut adalah food stylist.

Sejujurnya, saya penasaran banget dengan profesi yang tampak keren ini dan kebetulan, situs Bloguettes berbincang-bincang dengan Constance Higley, seorang food stylist dan Fotografer‍  film yang berbasis di Phoenix dan Chicago, Amerika Serikat. Simak, yuk!

Bagaimana kamu bisa terjun ke profesi food styling?

Setelah lulus kuliah jurusan seni, saya bekerja beberapa tahun sebagai fotografer pernikahan.

Setelah itu, saya nggak sengaja kecebur ke industri makanan. Awalnya, sih, gara-gara saya dan suami sama-sama suka masak dan makan. Well, sebenarnya yang lebih jago masak suami saya, sih, sementara saya lebih jago jadi tukang nyicip, hehehe.

Saya juga senang karena kegiatan “makan-makan” bisa membuat orang berkumpul, bersilaturahmi, sehingga lama-lama membangun komunitas.

Dari dulu sebenarnya saya ingin sekali mengejar karier di bidang fotografi dan styling makanan, tetapi saya khawatir nggak cocok dan nggak mampu menciptakan bisnis yang sukses dan menguntungkan.

Untungnya lalu saya mendapat dukungan dan nasehat yang luar biasa banyak dari stylist, fotografer dan chefs lain.

Intinya, memulai karier sebagai food stylist awalnya memang sangat menantang bagi saya, tetapi pada akhirnya worth it, kok.

Deskripsikan rutinitas kerja kamu sehari-hari!

Wah, bisa berbeda-beda banget! Namun sebenarnya, itulah salah satu hal yang saya sukai dari pekerjaan ini.

Saya sedang berusaha menciptakan rutinitas yang lebih pasti, tetapi sekarang ini, minggu kerja saya diisi oleh dua hari penuh syuting, dua hari editing, dan satu hari mengurus administrasi, seperti membuat perencanaan, mengurus penagihan pembayaran, email-emailan, diselingi dengan ngopi-ngopi atau makan siang bareng teman, hehehe.

Apa kesalahpahaman terbesar tentang pekerjaan kamu?

Sudah pasti ini: “Ah, kerjanya enak banget, cuma ‘mempercantik’ makanan!”

Padahal profesi ini adalah profesi paling sibuk yang pernah saya jalankan. Pekerjaannya seperti nggak ada habisnya, mulai dari berbelanja bahan makanan dan peralatan masak, memasak, membuat konsep, mencari partnership, merencanakan event, beberes dan cuci piring tiada habisnya. Tapi semuanya worth it!

Apa saja skill penting yang diperlukan untuk bekerja di bidang ini?

Selain skill hobi makan? Hahaha.

Hmmm, sebenarnya saya punya beberapa jawaban, nih.

Menurut saya, skill terpenting yang saya pelajari dari profesi ini adalah bagaimana cara untuk “put myself out there” alias benar-benar total dalam bekerja. Kalau kamu nggak yakin dengan pekerjaan yang kamu lakukan, gimana kamu bisa meyakinkan orang lain?

Skill lain yang nggak kalah penting adalah menerima penolakan. Menerima penolakan itu berat, tapi sangat penting. Saya benar-benar percaya bahwa kemampuan menerima kritik [membangun] dan gigih menjalin hubungan dengan orang-orang lain adalah skills utama untuk profesi ini.

Sikap-sikap lain yang diperlukan dalam profesi ini adalah kesabaran, kreativitas, kemampuan untuk tahu kapan harus memimpin, dan kapan harus bisa menerima instruksi.

Seorang food stylist seringkali harus berkolaborasi dengan beberapa individu yang semuanya terbiasa jadi “bos” (misalnya, fotografer, creative director, klien, humas, dll), jadi kita harus tahu kapan harus “speak up” dan kapan harus “nurut”.

Kamu biasanya memasak sendiri makanan yang mau kamu foto, atau dimasakin orang lain?

Setengah-setengah, lah. Aslinya saya nggak bisa masak. Sejujurnya, saat baru menikah, saya bahkan nggak bisa bikin telur orak-arik. Suami saya kasihan banget, deh!

Saya baru mulai masak sendiri karena perlu membangun portfolio saya. Tadinya saya benar-benar nggak berniat untuk terus menciptakan konten saya sendiri (baca: masak sendiri) begitu saya mulai mendapatkan proyek-proyek yang berbayar.  

Tetapi pada akhirnya, saya suka banget masak. Nggak nyangka! Ternyata memasak, tuh, punya efek menenangkan yang tinggi, lho, bahkan ketika masakan saya gagal total.

Saya tetap lebih pilih masakannya para pro dibandingkan kreasi saya sendiri, sih, tetapi saya nggak akan berhenti belajar.

Buat kamu, apa peralatan paling penting untuk styling makanan?

Coconut oil spray, alias semprotan minyak kelapa. Dia, tuh, seperti makeup untuk makanan! Coconut oil spray bisa membuat semua makanan tampak lebih kece dan lebih segar.

Menurut kamu, bagaimana evolusi gaya fotografi makanan sejauh ini?

Di masa lalu, food styling & photography tuh agak “kelam” dan—menurut saya—cukup lebay dan natural. Pokoknya yang penting adalah image final di piring, dan food stylists-nya bisa menggunakan apapun untuk menciptakan image yang dibutuhkan. Mulai dari wax, cat, lilin, sampai pengeriting rambut. Pokoknya, cara-cara styling-nya sangat nggak natural untuk makanan.

Trus seringkali, fotografer menggunakan pencahayaan artifisial untuk menciptakan kontras tinggi dan foto yang dramatis. Sehingga image yang dihasilkan tampak agak “palsu” dan nggak relatable bagi konsumen,

Namun beberapa tahun terakhir, industri food styling & photography menjadi lebih artistik dan natural.

Sekarang, tujuan kita nggak hanya menciptakan foto makanan belaka, tetapi “menceritakan” kisah dibalik makanannya, proses pembuatannya, dan para pelakunya seperti para petani dan koki. Konsumen pun jadi bisa merasa menjadi bagian dari proses pembuatan makanan tersebut.

Apa tiga tips utama kamu untuk food styling?

1.    Yang paling utama, pastikan makanannya tampak menyelerakan
2.    Saat memotret atau syuting makanan, selalu gunakan atau cari pencahayaan terbaik
3.    Tetaplah konsisten dan setia kepada gaya estetika kamu

(sumber gambar: bloguettes.com, constancehigley.com, Instagram @constancehigley)

LATEST COMMENT
Tisam Ali | kurang dari 1 menit yang lalu

Pada prinsipnya untuk mata pelajaran pilihan pada Ujian Nasional, pilihlah yang paling kamu kuasai. Persiapkan dengan sebaik mungkin, ya :)

Ujian Nasional SMA 2017: Hanya 4 Mata Pelajaran dan Bisa Dipilih Siswa, lho. Ini Tipsnya!
Himmacounty | 3 jam yang lalu

Hayyyy kaka aku bingung ni,sama ujian nanti kan di suruh cari 3 jurusan yaitu ekonomi,sosiologi,geografi,aku lebih suka semuanya,tapi mnrt aku lebih ringan sosiologi karna kalau memilih antara geo/eko saya kurang paham dan juga saya kalau ekonomi gak tau cara menghintung,yang benar, kadang juga masih ada salahnya kalau geo,Tentang alam dan di luar angkasa saya kurang paham Tentang bumi dan lain"nya sedangkan saya masih sedikit salah juga si,sosiologi juga sama si ada salahnya tentang masyarakat,dll sama juga ada salahnya nah bingung saya harus memilih jurusan apa yaaah kalau mnrt kaka gimana...

Ujian Nasional SMA 2017: Hanya 4 Mata Pelajaran dan Bisa Dipilih Siswa, lho. Ini Tipsnya!
Riefky | 4 jam yang lalu

Di fsrd itb belajar fisika / kimia ga?

Serba-Serbi Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB
Riefky | 1 hari yang lalu

Arkeologi bukan yg terbaik ya?

25 Pilihan Jurusan Kuliah Terbaik Untuk Anak IPS
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©