Menu

Profesiku: Christopher Situmorang, Founder Startup

Dalam seri "Profesiku", kamu bisa kenalan dengan berbagai profesi, lewat cerita para senior yang menekuninya. Kali ini, yuk, kenalan dengan profesi founder startup, bersama Christopher Situmorang!

Christopher Situmorang (34 tahun) adalah seorang founder sebuah startup bernama Sikatabis.com, yang memberikan jasa informasi kredit properti di Indonesia. Chris merupakan lulusan National University Singapore, Singapura, jurusan Teknik Sipil, angkatan 2000. Bercita-cita ingin mendirikan startup kamu sendiri? Cari tahu dulu, deh, serba-serbinya bersama Kak Chris!

Profesiku:

Founder sebuah startup pembanding paket kredit dari berbagai bank (misalnya Kredit Pemilikan Rumah), yang bernama Sikatabis.com. Tujuannya agar penggunanya bisa dengan mudah memilih dan mengajukan KPR termurah.”

Pekerjaan sehari-hari:

“Karena founder adalah orang yang mengawali perusahaan, ya, awalnya gue mengerjakan semuanya.

Tapi spesifiknya, tugas-tugas utama founder startup adalah, pertama, memikirkan sebenarnya kita mau buat produk atau servis apa, sih? Apa manfaatn produk atau servis ini bagi masyarakat, sehingga masyarakat mau lebih memilih produk ini, dibandingkan alternatif lainnya?

Kedua, konsep bisnis.  Gue harus memikirkan bagaimana caranya agar bisnis ini mendapat pemasukan, agar mminimal bisa membiayai ongkos operasional perusahaan, supaya servis kami bisa terus berjalan. Apakah dana tersebut datang dari partner bisnis, konsumen, sponsor, donatur? Kenapa mereka mau membayar atau mendanai kami?

Ketiga, gue harus memikirkan bagaimana caranya agar masyarakat tahu tentang jasa startup gue ini dan tentang kelebihannya. Dengan kata lain, memikirkan sisi marketing-nya.

Trus, kalo pekerjaannya sudah mulai banyak, gue harus memikirkan bagaimana cara mendelegasikan pekerjaan-pekerjaannya ke orang lain. Kalau semuanya dikerjakan oleh hanya satu orang, kerjanya akan pelan sekali, dan hasilnya nggak akan optimal.

Gue juga harus memikirkan, seperti apa profil orang-orang yang gue butuhkan? Misalnya, gue butuh tenaga marketing. Gue harus cari tahu, orang seperti apa yang cocok untuk melakukan pekerjaan marketing di perusahaan sejenis perusahaan gue.

Saat ini, kami lagi memperluas cakupan servis ke kredit kendaraan, asuransi kesehatan, dan sebagainya. Jadi gue sedang memikirkan, fitur dan produk apa saja yang nanti mau dimasukkan? Prioritasnya seperti apa? Dan sebagainya.”

Apa, sih, hal yang unik dari pekerjaan ini?

“Kerjaannya bervariasi dan nggak ada habisnya.

Kalau kita jadi pegawai, pekerjaan kita ‘kan pasti ada lingkupnya. Misalnya, hari ini kita disuruh menyelesaikan pekerjaan A, B, C, D oleh bos. Kalau A, B, C, D sudah selesai, ya udah, kita bisa pulang dan santai-santai.

Sementara seorang founder harus memikirkan banyak hal, seharian, setiap hari. Misalnya gue menentukan, oke, hari ini kita perlu ngerjain A, B, C. Tapi begitu hal-hal tersebut selesai dikerjakan, baru terpikir, oya kalau gitu perlu mengerjakan D, E, F juga! Kerjaannya nambah, deh!

Jadi misalnya, jam 10 pagi gue ngerjain urusan marketing, jam 1 siang gue ngerjain business development, dan jam 4 sore gue udah ganti lagi mikirin UX (i).”

Meskipun begitu, variasi pekerjaan begini adalah nilai plus bagi gue, kok, karena gue memang suka belajar hal-hal baru."

Apa alasan, motivasi, dan latar belakang memilih menjadi founder startup?

“Sebenarnya, gue udah kepengen bikin usaha berbasis teknologi begini sejak lulus kuliah dulu.

Salah satu hal spesifik yang memicu gue untuk membuat usaha ini adalah dulu, di tahun 2005, gue masih kerja di Singapura dan gue mengajukan kredit untuk beli apartemen di sana. Wah, nyari infonya aja susah banget. Pokoknya serba nggak efisien, deh.

Sehingga gue berpikir, kenapa gue nggak bikin jasa untuk bantu orang lain yang mengalami kesulitan yang sama seperti ini?

Tetapi bikin bisnis ‘kan perlu banyak waktu. Dan waktu itu, gue baru lulus kuliah dari jurusan Civil Engineering (Teknik Sipil), yang nggak ada hubungannya dengan teknologi informasi. Sayang juga ilmu kuliah gue. Mana waktu itu gue nggak punya duit, hahaha.

Akhirnya gue memutuskan, kerja sebagai pegawai kantoran dulu aja, deh. Yang pasti-pasti dulu aja.

Setelah hampir sepuluh tahun bekerja sebagai insinyur di Singapura, akhirnya gue berani mewujudkan cita-cita tersebut.

Jadi bisa dibilang, bidang yang gue geluti sekarang adalah passion gue yang sebenarnya.”

Modal yang dibutuhkan untuk bekerja di profesi ini:

1. “Harus aktif mencari tahu, dan mau mendengar masukan dan saran orang lain.  

Karena seperti yang gue contohkan tadi. Misalnya, gue perlu mempekerjakan seorang tenaga marketing di startup gue. Gue bukan seorang marketer dan nggak pernah sekolah marketing, jadi gue harus banyak nanya. Dengan kata lain, gue harus rendah hati, nggak malu bertanya, nggak gengsi dikasih tahu, dan jangan sok tahu. Apalagi kalau memang nggak tahu, hahaha.”

2. “Harus punya kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi, untuk networking. Partner usaha gue ‘kan bank-bank besar, jadi akan sangat membantu kalau gue punya atau bisa menciptakan network di dunia perbankan.

Lagipula, banyak hal yang lebih bagus dan lebih cepat kalau dikerjakan dengan berkolaborasi ‘kan?”

3. “Harus kerja keras. Hal ini penting, terutama kalau kita bekerja di perusahaan atau startup yang kecil dan punya banyak saingan. Kalau kita santai, banyak urusan yang akan tertunda, sehingga akhirnya kita kalah saing.”

Tantangan terbesar dalam profesi ini:

“Kayaknya nggak ada yang terus-terusan kepikiran, deh. Hahaha. Apalagi gue belum berkeluarga, jadi komitmen waktu dan dana di luar keperluan pribadi rasanya nggak banyak.

Meskipun begitu, bukan berarti pekerjaan ini nggak ada tantangannya sama sekali, sih.

Kalau tantangan untuk diri gue pribadi adalah, gue harus mengorbankan waktu bersosialisasi dan nongkrong bareng teman, karena sibuk dengan pekerjaan. Semua pekerjaan pasti kadang butuh pengorbanan waktu pribadi, sih. Tetapi gue merasa, pengorbanan ini lebih besar kalau kita menjadi founder perusahaan.

Sementara tantangan untuk perusahaan palingan dana yang nggak melimpah, dan harus disiplin memisahkan keuangan pribadi dan keuangan perusahaan.

Tetapi tetap, tantangan-tantangan ini nggak sampai bikin gue susah tidur, kok, hehehe.”

Miskonsepsi terbesar terhadap profesi ini:

“Terima komentar, ‘Enak, ya, kerja buat diri sendiri. Jam kantornya bisa suka-suka.’

Hahaha, itu asumsi salah. Walaupun gue lagi nggak di kantor, gue kerja juga.

Lagipula, seorang founder harus memikirkan banyak hal yang berat, contohnya masa depan orang lain alias para pegawainya. Modal dan pemasukan perusahaan ini cukup nggak untuk ongkos operasional sampai tahun depan? Cukup nggak untuk ongkos THR (Tunjangan Hari Raya) para pegawai?

Kalau kita jadi pegawai, kita punya job security yang lebih besar. Apalagi kalau perusahaannya besar dan sudah mapan, seperti misalnya perusahaan MNC yang pegawainya ada 50,000 orang atau lebih. Kecil kemungkinan bagi perusahaan untuk bangkrut, sehingga pegawai kena PHK bulan depan.

Trus, seorang founder perusahaan sering harus rela nggak punya pemasukan dulu. Saat awal-awal mendirikan perusahaannya, founder startup biasanya nggak ambil keuntungan atau menggaji dirinya sendiri dulu, karena ada banyak prioritas lain, seperti misalnya, ekspansi perusahaan.

Bisa aja, lho, seorang founder menghabiskan tabungannya selama dua tahun untuk menjalankan startup-nya, tetapi trus ujung-ujungnya perusahaannya bangkrut. Resikonya sangat besar.

Namun di lain pihak, potensi belajar, mengembangkan diri, dan sukses sebagai founder juga besar.”

Karakteristik orang seperti apa yang cocok untuk menjalankan profesi ini?

“Penasaran, rendah hati, berani ambil resiko, dan gigih.”

Jurusan kuliah Kak Chris ‘kan nggak berhubungan langsung dengan profesi yang dijalankan sekarang ini. Tetapi apa, nih, ilmu yang didapat dari zaman kuliah yang bermanfaat untuk profesi ini?

“Jaman kuliah, saya belajar ilmu teknis, ilmu non-teknis, dan soft-skill. Ilmu teknisnya seperti thermodynamics, fluid mechanics, dan sebagainy. Ilmu teknis tersebut jelas nggak kepake untuk pekerjaan saya yang sekarang ini, karena industrinya nggak nyambung.

Tetapi skills yang saya dapat di kampus, seperti cara presentasi, cara pakai Excel untuk hitung-hitungan dan memproses data, cara berorganisasi dan sebagainya, sangat kepake, lho.

Dengan sengaja ataupun tidak, keseharian yang gue jalani selama kuliah sangat membentuk struktur berpikir gue dalam mengolah informasi,  mengambil keputusan, mengatur jadwal, dan sebagainya. Hal-hal tersebut menjadi fondasi dalam kehidupan gue, termasuk di pekerjaan  ini.

Oh, sama ilmu bahasa Inggris!

Bagi founder startup, bahasa Inggris sangat berguna dan penting. Alasannya, pertama, karena di media dan internet, banyak informasi yang lebih dulu muncul dalam bahasa Inggris. Misalnya, artikel, jurnal, atau riset di bidang sains, ekonomi, sosial, dan sebagainya.

Jadi, demi bisa memahami informasi-informasi tersebut dengan cepat, kita harus bisa bahasa Inggris.

Kedua, karena bahasa Inggris sangat penting untuk berkomunikasi dengan calon partner. Sebagai contoh, investor startup ‘kan ada yang dari luar negeri, ada yang lokal. Nah, investor lokal pun sering ngomong dalam bahasa Inggris. Saat ketemu sama calon investor, 90% mereka ngomong pakai bahasa Inggris sama gue. Nggak tahu kenapa, padahal kadang sama-sama orang Indonesia!

Kalau kita bisa sama-sama berkomunikasi dalam bahasa Inggris, komunikasinya akan lebih lancar. Mereka pun akan lebih percaya dan sreg dengan kita.

Kemampuan bahasa Inggris ini harus dipertajam, minimal kemampuan Reading, agar kita bisa memahami berbagai artikel dan jurnal bahasa Inggris, setelah itu baru kemampuan Writing, agar kita bisa berkorespondensi dengan investor atau partner.

Orang, tuh, banyak yang menghakimi tulisan, lho. Bayangin aja kalau kamu nerima chat yang ditulis dengan bahasa alay. Walaupun isi pesannya penting dan pengirimnya orang penting, kamu bisa ilfil bacanya. Akhirnya, kamu malah fokus ke ke-alay-annya, dan lupa sama isi tulisannya.”

Tips untuk anak muda yang ingin menggeluti profesi ini:

“Banyak yang mengira bahwa founder startup harus punya uang banyak untuk menjalankan usahanya. Tapi uang bisa dicari lewat investor, kok.

Banyak juga orang yang ingin jadi wirausahawan, tapi saat ditanya “Wirausaha-nya bikin apa?” malah bingung. Nah, pikirkan dulu idenya dengan matang dan detil.

Jarang 'kan, dengan orang bilang, "Eh, gue pengen jadi pegawai nih.” Orang pasti menentukan dulu, mau jadi pegawai apa? Jadi akuntan? Engineer? Peneliti? Sama seperti berwirausaha.

Lalu, kalau sudah punya ide, pikirkan apa saja yang harus kamu kerjakan untuk membuat ide tersebut sukses. Dari situ kamu bakal tahu, kamu butuh orang seperti apa aja untuk membentuk tim yang kuat.

Nggak mungkin kamu mengerjakan ide bisnis kamu sendiri, karena—misalnya—dari 10 hal yang harus dikerjakan untuk membuat ide tersebut sukses, paling-paling kamu bisa mengerjakan aspek nomor 1 dan 2. Yang ngerjain 3-10 siapa?

Jadi, kamu harus pikirin dulu, apa yang mau dikerjakan, lalu cari orang-orang yang bisa mengerjakan hal-hal tersebut untuk bergabung denganmu.”

(sumber gambar: dokumentasi pribadi, sikatabis.com)

LATEST COMMENT
Maulida Nur Perdani | 2 jam yang lalu

bantu jawab ya.. kalau memang hanya minat di rumpun soshum, ambil soshum saja bisa kok, gak harus ipc ^^

Strategi Sukses IPC di SBMPTN Serta Pertimbangan Memilih IPC
Anisa | 11 jam yang lalu

Kk aku kan dari jurusn ipa, tapi pas mau kuliah mau ngambil soshun, itu apakah harus utbk nya sohsun atau ipc kk?

Strategi Sukses IPC di SBMPTN Serta Pertimbangan Memilih IPC
Tisam Ali | 18 jam yang lalu

Apakah masih bisa diubah? Jika ya, silakan coba di prodi yang lain. Namun apabila telah telanjur dan tidak bisa diubah, maka saran saya coba jalani. Bulatkan tekad untuk menjalani perkuliahan. Dari situ, kamu benar-benar dapat mengetahui apakah salah jurusan atau ternyata bisa dijalani.

Balada Salah Jurusan Kuliah dan Solusinya. Nggak Harus Pindah Jurusan, Kok!
Tisam Ali | 18 jam yang lalu

Hai Kristin, untuk teknis pengisian, bisa kamu tanyakan ke pihak kampus. Kebanyakan kampus sudah menerapkan pengisian berbasis komputer secara online. Ada pula yang masih mengisi secara manual (tertulis).

Strategi Mengisi KRS: Memilih Mata Kuliah dan Menentukan Jumlah SKS
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©