Menu

13 Hal yang Harus Dicontoh Mahasiswa Dari Bung Tomo

Hari Pahlawan memang selalu identik dengan Bung Tomo. Tapi sebenarnya Bung Tomo itu siapa, sih?

Oke, pertama-tama, kita harus ingat bahwa Bung Tomo tokoh pertempuran Surabaya tahun 1945 berbeda dengan dr. Sutomo pendiri Budi Utomo, ya!

(soalnya, saya aja suka lupa, hihihi)

Kali ini, kita akan bicara soal Bung Tomo tokoh dari Surabaya.

Sutomo, alias Bung Tomo, awalnya hanya seorang tokoh pemuda Jawa Timur yang aktif di banyak gerakan masyarakat. Namun namanya langsung beken saat pertempuran Surabaya pecah pada tahun 1945. Kenapa? Soalnya Bung Tomo ujug-ujug menggagas sebuah ide brilian, yaitu mendirikan pemancar radio bernama Radio Pemberontakan.

Lewat orasinya di radio tersebut, Bung Tomo yang pintar dan jago pidato langsung sukses mengimbau masyarakat untuk memberontak melawan Sekutu dan Belanda. Hasilnya sukses. Masyarakat langsung pada “panas” dan membentuk laskar-laskar rakyat. Bahkan para kiai Jawa Timur yang biasanya “adem” jadi tergerak untuk mengirimkan santrinya ke Surabaya untuk ikutan perang.

Semasa hidupnya, Bung Tomo pernah membentuk Barisan Pemberontakan Republik Indonesia, menjadi letnan jendral TNI, menjabat sebagai anggota DPR dan bahkan Menteri Negera Urusan Bekas Pejuang pada  tahun 1955.

Bung Tomo juga adalah idola para mahasiswa pada jamannya, karena beliau sangat vokal dan berani banget mengkritik pemerintah. Semacam badass gitu, lah!

Tapi bukan cuma keberanian serta semangat bela negara Bung Tomo yang patut dikagumi. Semangat belajar Bung Tomo juga harus dicontoh, lho! Emang kayak gimana, sih?

1. Bung Tomo, yang lahir pada 3 Oktober 1920, adalah anak dari keluarga pas-pasan. Ibu Sulistina Sutomo—istri Bung Tomo yang kini sudah berusia 90 tahun—bercerita kepada majalah TEMPO bahwa rumah Bung Tomo kecil sampai nggak ada listriknya.

Gara-gara nggak punya listrik, Bung Tomo kecil terpaksa belajar di pinggir jalan di bawah lampu jalanan. “Kebetulan di depan rumahnya ada tiang listrik yang dilengkapi lampu penerang jalan,” kata Ibu Sulistina.

Buku Bung Tomo Suamiku, Biar Rakyat yang Menilai Kepahlawananmu, karya Ibu Sulistina

2. Meski hidup susah, semangat belajar Bung Tomo tetap tinggi. Ini sesuai dengan ajaran ayahnya, Kartawan Tjiptowidjojo, yang sangat mementingkan pendidikan dalam keluarga.

Bung Tomo menamatkan sekolah tingkat dasar 12 tahun di Hollandsch Inlandsch School (HIS), atau sekolah rendah untuk kaum pribumi. Bung Tomo lalu meneruskan sekolah ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) yang setingkat dengan SMP. Sayangnya, Bapak Kartawan nggak mampu membiayai Bung Tomo untuk lanjut sekolah, sehingga ia harus drop-out dari MULO.

Tapi semangat belajar Bung Tomo nggak pernah padam. Setiap teman-temannya pulang sekolah, ia langsung mengejar mereka untuk nanya, “Dapat apa hari ini, dapat pelajaran apa?”

3. Orang tua Bung Tomo pun terus berusaha agar anak mereka tetap bisa sekolah formal. Akhirnya Bung Tomo lanjut sekolah ke Hogere Burger School, yang setingkat dengan SMP-SMA.

4. Bung Tomo juga sebenarnya pernah mengambil kursus korespondensi Leidse Scrift Onderwiys dan berhasil menyelesaikan seluruh kursus tersebut. Namun karena ujian dan pengambilan ijazahnya harus dilakukan di Eropa, Bung Tomo nggak bisa lulus dengan resmi. Nggak sanggup ke Eropanya!

5. Sutomo termasuk mahasiswa “telat”. Beliau baru masuk kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di usia… 39 tahun! Tepatnya pada tahun 1959, lama setelah masa perjuangan kemerdekaan selesai.

6. Menurut cerita Bambang Sulistiomo, anak Bung Tomo, kepada majalah TEMPO edisi 9-15 November 2015, Bung Tomo nekat lanjut kuliah biarpun sudah “berumur” karena beliau sebel terus-terusan diejek “kurang pendidikan” oleh para pejuang Surabaya. “Bapak pernah dihina oleh orang-orang intelektual. Dibilang ‘Bung Tomo ngerti apa, nggak sekolah.” Mengingat karakter Bung Tomo yang gampang “panas”, pantes aja beliau langsung kuliah lagi. Ini, nih, contoh “terprovokasi” yang baik, hehehe.

7. Lalu Sutomo nekat menemui Profesor Doktor Djokosoetono, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, demi bisa masuk fakultas tersebut. Akhirnya Sutomo diberi kesempatan ikut ujian colloquium doctum—tes masuk perguruan tinggi tanpa memandang ijazah yang dimiliki—bersama tiga orang lain.

8. Selama dua bulan sebelum ujian, Sutomo mati-matian belajar dan mengulang materi pelajaran SMP dan SMA agar lulus. Nggak sia-sia, tiga dosen penguji menyatakan Bung Tomo diterima di Universitas Indonesia. Resmilah Bung Tomo menjadi mahasiswa “tua”!

9. Sebagai mahasiswa, Bung Tomo suka silaturahmi ke berbagai SMA di Jakarta untuk berpidato. Tapi pidatonya jarang memprovokasi, lho! Ia lebih banyak bicara tentang semangat juang.

10. Sutomo juga sering mengkritik gaya hidup mahasiswa zaman itu. Dalam surat untuk Senat Mahasiswa Universitas Indonesia pada 18 April 1963, Bung Tomo mengangkat isu banyaknya mahasiswi yang bersedia jadi wanita penghibur demi uang. Waduh!

“Banyaknya gadis yang tidak lagi mementingkan ‘love is for the hearts’ (cinta untuk hati), tetapi menganggap sudah benar kalau ‘love is for the purse’ (cinta untuk dompet) kesemuanya itu hanya menggembirakan bagi bandot-bandot tua yang banyak uang,” tulisnya. Pedes, Buuung…

11. Sebenarnya nilai-nilai kuliah Sutomo sangat bagus, bahkan termasuk cum laude. Tapi lantaran nggak bisa berhenti berpolitik, kuliah Bung Tomo jadi tersendat-sendat.

Salah satu aksi politik Bung Tomo semasa kuliah adalah mendukung aksi unjuk rasa mahasiswa untuk menolak komunisme. Memang, Bung Tomo sempat bersebrangan dengan Sukarno dan dukungannya terhadap komunisme.

12. Untuk skripsinya, Bung Tomo mengambil tema pembangunan ekonomi di pedesaan, dengan pembimbing Selo Soemardjan, pakar sosiologi. Penelitiannya dilakukan di sejumlah desa di kawasan tengah Indonesia seperti Bali dan Nusa Tenggara.

13. Menurut Ibu Sulistina, skripsi suaminya sebenarnya sudah selesai, tapi sayang, skripsinya nggak pernah diuji dan Bung Tomo nggak sempat lulus kuliah. Kenapa? Karena sebelum skripsinya bisa diuji, Bung Tomo terlanjur berangkat haji dan ternyata meninggal saat wukuf di Arafah pada 7 Oktober 1981. Mengutip kata TEMPO, “toga tak pernah tersemat di kepala Bung Tomo.

:(

Makam Bung Tomo di TPU Ngagel

… meski begitu, Youthmanual optimis banget, semangat Bung Tomo akan selalu tersemat di benak dan hati mahasiswa Indonesia. Harus, dong!

Sumber gambar: Smeaker, Asree84.wordpress, 4shared, Merdeka.com, Endrx Hardjo)

LATEST COMMENT
Gioabi Fashar | 6 jam yang lalu

siapa bilang gk bisa? yg ada di jurusan arsitektur itu gk ada itung2an dan jurusan arsitektur juga bukan cuma soal gambar. Jurusan arsitektur harus jago problem solving tapi bukan berarti harus jago matematika

5 yang harus Kamu Persiapkan Sebelum Masuk Jurusan Arsitektur
Nancy Tasia Sopaheluwakan | 20 jam yang lalu

Min , saya mau nanya kalau misalnya kita dari semester 1 dan 2 tidak masuk kuliah , apakah di semester 3 kita masih bisa masuk kuliah atau tidak ?

Strategi Mengisi KRS: Memilih Mata Kuliah dan Menentukan Jumlah SKS
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©