Menu

Persiapan Kuliah

Panduan ini akan membantumu untuk menyusun rencana kuliah dari bangku sekolah, mengenali bidang-bidang program studi kuliah, serta memilih kampus yang paling tepat buatmu.

jurusan sastra indonesia inggris terbaik prospek kerja

Studi bidang budaya dan bahasa seringkali dipandang sebelah mata. Padahal bidang budaya dan bahasa bertahan melintasi zaman sekaligus lentur mengadaptasi perubahan. Yup, di era yang semakin canggih, di masa beberapa industri mulai usang dan ditinggalkan, ilmu budaya dan bahasa akan tetap dibutuhkan.

 

Cakupan Studi Bidang Budaya dan Bahasa

Studi bidang Budaya dan Bahasa bisa kamu tempuh di Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Sastra, atau Sekolah Tinggi/program studi Pariwisata. Jika mengambil bidang ini, kamu bakal mempelajari  bahasa dan kebudayaan, yang meliputi budaya tradisional, budaya populer, perkembangan kebudayaan dari masa ke masa, berbagai isu di tengah masyarakat, sastra, linguistik, peninggalan sejarah, dan lain sebagainya.

Mulai dari karya sastra klasik dan Pantun hingga fiksi kayak Harry Potter masuk dalam ranah budaya dan bahasa. Gerakan feminisme, isu kesetaraan gender, budaya punk, studi mengenai museum, kesenian dan kekhasan suatu daerah, hingga perubahan gaya hidup generasi milenial dan generasi Z juga termasuk yang dipelajari dalam bidang ini. Kebayang ‘kan, gimana luas dan serunya?

Karena cakupannya yang luas, nggak mengherankan bila ilmu budaya dan bahasa nyambung banget dengan berbagai sektor dan industri, mulai dari pariwisata, bisnis, hingga teknologi. Misalnya, di bagian humas dan marketing perusahaan, ilmu budaya dan bahasa digunakan untuk mengamati tren, gaya hidup, dan kultur yang terkait dengan konsumen. Pendekatan ilmu budaya dan bahasa juga bisa lho, dimanfaatkan untuk menuliskan penjelasan mengenai suatu produk teknologi. Supaya instruksi teknis bisa diterjemahkan ke dalam bahasa yang dipahami konsumen.

Dengan mempelajari budaya dan bahasa, selain mendapatkan ilmu, kamu juga membantu melestarikan kebudayaan dan bahasa suatu daerah/negara.

 

Sejarah dan Perkembangan Bidang Budaya dan Bahasa

Peradaban kuno Mesir, China, India, Yunani, dan Mesopotamia dianggap sebagai tempat awal perkembangan bahasa dan juga sastra. Selanjutnya, studi formal budaya dan bahasa menyebar dan berkembang ke Eropa dan Amerika Serikat di berbagai institusi pendidikan. Bahkan, History and Literature merupakan departemen pertama di di Harvard University Amerika Serikat.

Ilmu budaya sendiri merupakan inovasi yang menggabungkan ilmu sosial dengan budaya. Stuart Hall merupakan lulusan program studi Inggris di Oxford University yang disebut-sebut sebagai tokoh pencetus teori Ilmu Budaya. Pada tahun 1964, Hall bergabung di Centre for Contemporary Cultural Studies di University of Birmingham. Universitas ini pun disebut sebagai pioner sekaligus pusatnya Ilmu Budaya.

Hampir bersamaan dengan kemajuan budaya, di tahun ’60-an studi bidang pariwisata juga berkembang di Eropa. Perkembangan studi ini nggak terlepas dari kemajuan industrinya. Dari segi ekonomi, industri pariwisata adalah industri yang berkembang sangat baik dan mampu bertahan walau sempat diterpa krisis ekonomi global.

Menurut World Tourism Organization, sepuluh tahun yang lalu, tepatnya tahun 2007, jumlah turis internasional adalah 900 milyar, sedangkan tahun 2016 menjadi 1,236 miliar dan tahun 2020 diperkirakan jumlahnya di atas 1,600 miliar. Itu belum turis domestiknya, lho!

Nah, hal yang menarik dalam studi budaya dan bahasa adalah bidang ini mempelajari teori, sejarah, dan pemikiran di masa lalu, dan juga mempelajari hal progresif serta kekinian. Misalnya, di jurusan Sastra/Program Studi Inggris, dipelajari sastra, bahasa, dan sejarah bangsa Inggris, serta budaya kontemporer dan tren di sana.

Sementara dalam studi Pariwisata, mahasiswa wajib update dengan teknik dan teknologi terbaru yang diterapkan industri pariwisata. Namun di sisi lain, mereka juga harus mempelajari akar budaya dan sejarah yang terkait dengan objek wisata.

Studi bidang budaya dan Bbhasa juga bersinggungan dengan bidang lain, sehingga menghasilkan studi interdisipliner (perpaduan dua atau lebih bidang), seperti Neorolinguistik yang mempelajari keterkaitan antara kemampuan bahasa dengan otak. Walau masuk ke dalam ranah lingusitik, tapi skill Neorolinguistik bisa dipakai untuk terapi wicara pasien stroke. Selain itu, ada juga wisata pendidikan, wisata kesehatan, yang mengangkat bidang pendidikan dan kesehatan dalam pariwisata.

Kebutuhan dan peluang lintas bidang ini melahirkan variasi jurusan, konsentrasi, hingga mata kuliah baru yang mempelajari gabungan disiplin ilmu tersebut.

 

Gambaran Bidang Budaya dan Bahasa Di Indonesia

Pada tahun 1940, berdiri Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte (Fakultas Sastra dan Kemanusiaan) di Batavia (Jakarta) yang nantinya bergabung dengan fakultas lain dan menjadi Universitas Indonesia. Sedangkan Faculteit Sastra, Filsafat, dan Keboedajaan berdiri di Universitas Gadjah Mada tahun 1946. Nama Fakultas di UGM dan UI berganti-ganti hingga kini menjadi Fakultas Ilmu Budaya.

Di Indonesia, ilmu Pariwisata termasuk baru dibanding program studi bidang Sastra dan Budaya lainnya. Di UGM, jurusan Pariwisata masuk ke Fakultas Ilmu Budaya, sedangkan di Universitas Brawijaya masuk ke dalam Fakultas Ilmu Administrasi. Ada juga sih, sekolah tinggi atau akademi khusus Pariwisata.

Di Indonesia, potensi bidang budaya dan bahasa sangat besar. Namun peluang ini belum dikelola dan dimanfaatkan dengan baik. Dari sektor wisata, Indonesia berhasil mencatat kenaikan konsisten jumlah wisatawan dari tahun ke tahun hingga mencapai target 10 juta wisatawan. Data dari Kementerian Pariwisata menunjukkan bahwa tahun jumlah 2016 lalu wisatawan mancanegara meningkat 15.54 persen dibanding tahun 2015, yaitu dari 10,406,759 menjadi 12,023,971 turis dan mencatat devisa 12,44 miliar dollar. Tapi ini masih kalah jauh dengan Malaysia yang mencapai 27 juta dan Singapura 15 juta turis.

Saat ini, pemerintah sedang getol membangun Pariwisata Indonesia, terutama di 10 daerah yatu Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo Tengger Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Morotai. Ditambah lagi kebijakan bebas visa untuk sekitar 90 negara (berlaku sejak 2015), yang berpotensi menaikkan minat wisatawan mancanegara.

FYI, sekarang sektor Pariwisata menjadi penyumbang devisa negara nomor 4 di bawah Minyak dan Minyak dan Gas, Batubara, serta Kelapa Sawit. As we all know, eksploitasi ketiga sektor tersebut (minyak, gas dan batubara) berdampak merusak alam, dan sumber dayanya pun mulai menipis. Ini tentu berbeda dengan sektor Pariwisata, terutama dari aspek budaya yang bisa terus dieksplorasi, seperti kata Menteri Pariwisata Arief Yahya bahwa Pariwisata merupakan penyumbang PDB, Devisa, serta lapangan kerja, yang relatif mudah dan murah pengelolaannya.   Makanya, di tahun 2020 diharapkan sektor Pariwisata Indonesia makin maju dan menjadi sumber devisa utama negara.

Membahas soal lapangan pekerjaan, Pariwisata menyerap sekitar 9.8 Juta pekerja. Good news lagi, berdasarkan keterangan Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata (Kemenpar) I Gede Pitana, Indonesia membutuhkan 2.5 juta pekerja di bidang pariwisata. Di sisi lain Indonesia juga masih butuh banget tambahan arkeolog, karena idealnya di tiap daerah ada arkeolog. Studi jurusan Arkeologi yang hanya ada di lima kampus di Indonesia, dengan perkiraan lulusannya sekitar 80-100 per tahun.

Nggak ketinggalan Bidang budaya dan bahasa juga berkaitan banget dengan industri ekonomi kreatif. Nah, sektor ekonomi kreatif ini sedang gencar—gencarnya ditingkatkan oleh pemerintah di bawah Badan Ekonomi Kreatif.

 

Kenapa Harus Pilih Bidang Budaya dan Bahasa?

kenapa

Ilmu bidang bahasa dan budaya tergolong abadi, dalam artian akan selalu ada dan dibutuhkan di tiap zaman. Bidang ini memiliki potensi yang sangat besar, mengingat Indonesia kaya akan budaya dan bahasa yang belum sepenuhnya dieksplorasi dan dikelola. Di sisi lain banyak juga budaya dan bahasa mancanegara dan global yang bisa dipelajari.

Globalisasi dan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean juga memberi dukungan terhadap bidang ini, terutama di jurusan Sastra atau program studi asing seperti Prodi (program studi) Jepang, Cina, Korea, Jerman, Inggris, dan lainnya. Lulusan jurusan-jurusan Sastra, bahasa, dan budaya yang menguasai bahasa asing memiliki kesempatan untuk direkrut perusahaan atau organisasi internasional, baik sebagai pegawai, pengajar bahasa, atau interpreter.

Selain peluang kerja dan usaha, studi ini cocok untuk kamu yang tertarik mempelajari manusia dan kebudayaannya.  Kamu bisa bertemu dengan banyak orang, menganalisa berbagai hal, serta pergi ke berbagai tempat dengan mempelajari bidang bahasa dan budaya.

Alasan lain mengambil bidang ini adalah ketertarikan akan bahasa. Jika kamu tertarik belajar bahasa asing yang baik dan benar dengan pengetahuan dan kemampuan menyeluruh, yaitu berbicara, menulis, membaca, tata bahasa dan kebudayaannya, maka bidang bahasa cocok banget buat kamu.

Trus, ada keuntungan kuliah di program studi yang masih jarang diambil atau baru, kayak Arkeologi, Sastra Rusia, dan Sastra Korea. Karena mahasiswa dan lulusannya jarang, tentu kamu akan dicari dan berpeluang mendapatkan berbagai kesempatan. Ini seperti yang dialami Ajeng Ayu Arainikasih, pengajar  muda prodi Arkeologi UI yang sedang mengambil PhD (S3) di Leiden University. “Saat kuliah S1, aku sering mendapat benefit karena jurusan yang diambil  (Arkeologi) tergolong unik. Kesempatan untuk berkarya dan berkembang lebih besar. Misalnya, dapat beasiswa, diterima ikutan seminar, kesempatan field work, terpilih pertukaran mahasiswa, dan lainnya,” jelas Ajeng.

 

Pilihan Program Studi Dalam Bidang Budaya dan Bahasa

Di Indonesia, kamu bisa memilih program studi bidang budaya dan bahasa dengan pembagian berikut ini:

  1. Program Studi Sastra Indonesia, Nusantara, Daerah (Jawa, Sunda, dll), Inggris, Prancis, Belanda, Jerman, Rusia, China, Jepang, Arab, Korea, dan lainnya. Atau disebut Program Studi Indonesia, Prodi Jerman, Prodi Jawa, dan sebagainya. Secara umum yang dipelajari di jurusan ini adalah:
    • Bahasa = kemahiran berbahasa (menulis, membaca, berbicara, tata bahasa) dan ilmu linguistik
    • Sastra = mempelajari karya Sastra seperti drama, prosa, dan puisi.
    • Kewilayahan = mempelajari sejarah, pemikiran, politik, nilai, gaya hidup yang berkembang di  daerah yang dipelajari.
  2. Ilmu Sejarah: program studi mempelajari tentang segala peristiwa yang terjadi di masa lalu, mulai dari sejarah zaman kuno seperti Mesir, Yunani, India, yang dimulai sebelum masehi, sampai zaman modern di atas abad dua puluh. Bahkan Ilmu Sejarah juga mempelajari konteks yang sangat luas, mencakup aspek politik, budaya, ekonomi, agama, dan sosial.
  3. Sejarah dan Kebudayaan Islam: mempelajari tentang Agama Islam dari sisi Sejarah dan Kebudayaan Agama Islam. Kalian akan belajar Agama Islam dari sisi sejarah politik, budaya, ekonomi, sosial, seni dan berbagai aspek sejarah dan kebudayaan Agama Islam.
  4. Arkeologi: mempelajari pendekatan sejarah dengan meneliti sumber-sumber primer seperti budaya material dan kondisi lingkungan dari peradaban sebelumnya.

 

Metode Belajar yang Sesuai

metodebelajar

Bidang budaya dan bahasa memerlukan referensi yang banyak dan luas, maka bidang ini identik dengan membaca.  Selain itu membaca merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan skill bahasa.

Metode berikutnya adalah pengamatan. Karena yang dipelajari adalah bahasa dan budaya manusia, maka pengamatan sangat diperlukan. Pengamatan bisa merupakan bagian dari proyek penelitian atau menjadi proses penting untuk menyusun karya tulis.  

Dalam perkuliahan, mahasiswa bidang budaya dan bahasa juga akan akan diminta banyak menganalisa. Hasil bacaan dan pengamatan akan dianalisa dan dikaitkan dengan berbagai teori dan pemikiran.

Metode praktek juga wajib hukumnya, terutama untuk skill bahasa. “Mempelajari Bahasa itu harus dipraktekkan dan terus di-update. Sedangkan kemampuan editing penulisan dan penerjemahan terasah lewat jam terbang,” jelas Nandia, mahasiswi program Master Communication dan Language Coaching di Radboud University Nijmegen.

 

Karakter Mahasiswa yang Sesuai dengan Bidang Budaya dan Bahasa

  • Tekun: Karena mahasiswa di bidang Budaya dan Bahasa harus banyak membaca dan melakukan pengamatan, maka ia harus tekun. Mencari banyak referensi, melahap buku yang tebal harus dilakoni dan nggak boleh bosenan.
  • Kritis: Sikap kritis sangat diperlukan, terutama saat mempelajari budaya manusia. Bisa dibilang, di hampir semua mata kuliah dibutuhkan analisa. Makanya kamu harus kritis serta tajam dalam mengamati dan meneliti.
  • Observan: Mahasiswa Bahasa dan Budaya haruslah suka mengamati. Kalau kamu cuek dan nggak peka akan sulit untuk mempelajari budaya dan bahasa.
  • Terstruktur: Di perkuliahan mahasiswa akan banyak mendapatkan materi dan referensi tertulis, melakukan pengamatan dan penelitian, kemudian mengevaluasi. Untuk itu, kamu harus bisa belajar dan bekerja dengan terstruktur. Dalam belajar bahasa kamu pun harus memenuhi struktur yang berlaku dalam tata bahasa.
  • Independen: Banyak proses dalam belajar, mengamati, dan menganalisa yang mahasiswa lakukan secara mandiri.

 

Kemampuan Pendukung yang Dibutuhkan Mahasiswa dan Lulusan Bidang Budaya dan Bahasa

b

  • Bahasa lokal dan bahasa asing: Kemampuan berbahasa yang baik dan benar, baik bahasa Indonesia maupun bahasa asing lain (di luar jurusan yang diambil) akan mendukung kamu studi di bidang Budaya dan Bahasa. Itulah makanya, mata kuliah Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia menjadi penting. Apalagi kalau bisa bahasa asing lain. Misalnya nih, kamu Program Studi Prancis atau Manajemen Perhotelan, tapi kamu juiga bisa Bahasa Jepang. Poin plus banget!
  • Menulis. Di dunia kerja, kemampuan menulis dengan baik akan sangat bermanfaat. Memiliki kemampuan menulis yang mumpuni akan membuka banyak peluang karier untukmu.  
  • Literasi digital dan penggunaan teknologi. Bisa dan memahami penggunaan komputer dan internet, terutama untuk riset, promosi, sosial media, dan lainnya, serta update dengan perkembangan dan tren dunia digital.
  • Komunikasi: Komunikasi verbal dan tertulis menjadi skill yang sangat mendukung studi dan karier di bidang ini.

 

Profesi dan Karier dalam Bidang Budaya dan Bahasa

  • Freelancer: Pertama, nggak sedikit lulusan bidang budaya dan bahasa yang memilih menjadi pekerja lepas alias freelance. Mereka bekerja sebagai interpreter, translator, penulis novel, tutor bahasa, hingga tour guide.
  • Wirausaha: Selain itu, bisa juga berwirausaha atau mengembangkan pekerjaan freelance menjadi usaha kecil-kecilan. Bisa dengan membuat bisnis agen perjalanan wisata, vendor konten (usaha untuk mengisi konten), mendirikan konsultan bahasa, mengembangkan situs/aplikasi belajar bahasa, menjadi event organizer, dan lain sebagainya.
  • Pegawai Negeri: Lulusan bidang Bahasa dan Budaya juga berpeluang bekerja untuk negara dan menjadi PNS. Mereka dapat masuk di Departemen Luar Negeri, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan Departemen Pariwisata, atau bekerja di Kedutaan Besar mengurusi bidang budaya.
  • Karyawan perusahaan multinasional: Lulusan bahasa asing berpeluang masuk perusahaan multinasional sesuai bahasa yang dipelajari. Misalnya, lulusan Sastra Jepang menjadi tim promosi Bank asal Jepang. Biasanya, ia diterima karena menguasai bahasa Jepang, kemudian diberikan pelatihan karyawan. Nggak mengherankan kalau lulusan bidang budaya dan bahasa ada yang bekerja di perusahaan besar multinasional.
  • Pekerja kreatif: Startup, media massa, agensi iklan serta pekerjaan kreatif lainnya juga menjadi lapangan pekerjaan bagi lulusan sastra, bahasa, dan budaya. Biasanya mereka akan diminta untuk menulis atau mengkreasikan konten. Sedangkan lulusan Pariwisata, berpotensi untuk bekerja di industri pariwisata, seperti di tempat/objek wisata dan agen wisata, dan lainnya.

Yup, Dengan latar belakang Budaya dan Bahasa, seseorang bisa bekerja di berbagai sektor. Sebab industri atau pekerjaan apapun nggak lepas dari bahasa dan budaya. Salah satu contohnya adalah bekerja di perusahaan berbasis teknologi.

 

Prospek Bidang Budaya dan Bahasa di Masa Depan

Oke, saat ini memang cukup banyak pilihan pekerjaan bagi lulusan bidang Budaya dan Bahasa. Tapi, gimana dengan prospeknya di masa depan? Seperti yang kita ketahui, perkembangan pesat teknologi membuat banyak perubahan. Kehidupan yang semakin praktis dan cepat, serta pengaruh globalisasi yang makin terasa. Di era digital dengan gadget yang makin hari makin canggih, masih adakah tempat untuk lulusan bidang Budaya dan Bahasa?

Pengajar Departmen Linguistik Program Studi Inggris Harumi Manik Ayu Yamin M.Hum pun menjawabnya, “Bidang Bahasa akan tetap relevan di masa depan karena profesi apapun pasti menggunakan bahasa. Misalnya, di balik Google Translate, pasti ada ahli bahasa yang membantu.”

Yup, profesi baru seperti Computational Linguist dan Technical Writer akan banyak dicari di industri teknologi. Kedua profesi ini membutuhkan kemampuan bahasa untuk mengkomunikasikan inovasi teknologi. Selain itu, lulusan sastra dan studi budaya juga bisa masuk ke bagian konten di perusahaan teknologi. Mereka bisa menganalisa minat konsumen, kemudian mengkreasikan produk yang sesuai.

Era digital, ekonomi kreatif, dan perkembangan usaha startup di Indonesia (btw, jumlahnya udah mencapai 1,500 startup) punya pengaruh besar pada bidang budaya dan bahasa. Salah satu yang mengaplikasikan bahasa dengan teknologi adalah startup Bahaso. Bahaso merupakan situs dan aplikasi untuk belajar bahasa asing yang didirikan Tyovan Ari. Atas inovasinya, Tyovan masuk dalam list anak muda berpengaruh Forbes 30 Under 30 Asua,

Gimana dengan prospek karya Sastra seperti yang dihasilkan penulis novel/puisi, skenario, puisi, prosa, dan drama? Produser dan Sutradara Nia Dinata serta Raditya Dika memiliki pandangan senada, yaitu Indonesia kekurangan penulis skenario. Di Industri perfilman dan televisi, hal ini menjadi kendala produksi tayangan/film yang berkualitas.

Untuk produksi buku, menurut data IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) tahun 2014-2014 jumlahnya sekitar 30,000 judul pertahun, termasuk buku pelajaran. Di sisi lain, minat baca di Indonesia  masih rendah banget, gaes. Kalau menurut data UNESCO tahun 2012, hanya 1 dari 1,000 penduduk Indonesia yang suka membaca. Hiks! Makanya nih, perlu banyak penulis Indonesia yang kreatif dan berkualitas untuk membantu menaikkan minat baca. Apalagi sekarang sudah banyak sistem self publishing yang memudahkan para penulis buat berkarya.

Sektor lain yang menjanjikan untuk bidang ilmu budaya adalah pariwisata. Yup, dari hasil konferensi mengenai the future of travel industry yang dibahas di situs Global Change disebutkan bahwa diperkirakan perjalanan ke Eropa dan Amerika relatif stagnan di masa depan. Justru yang bakalan meningkat pesat adalah traveling dengan tujuan negara dengan pasar yang berkembang (emerging markets) seperti India, China, dan Rusia.

Kalau Indonesia bisa memanfaatkan situasi ini, pasti pariwisata kita bakalan meningkat pesat. Selama ini sudah meningkat, sih. Tapi masih di bawah Singapura, bahkan pemasukan industri pariwisata kita hampir setengahnya Malaysia. Yah! Padahal potensi wisata alam dan terutama wisata budaya Indonesia gede banget. Makanya, pemerintah sedang membenahi dan meningkatkan pariwisata, dengan jargonnya “Wonderful Indonesia”.

Salah satu, target pemerintah adalah menaikkan pemasukan negara (Pendapatan Domestik Bruto) dari Pariwisata menjadi 2 kali lipat. Yang sebelumnya, 4 persen di tahun 2015, menjadi 8 persen di tahun 2019 serta menjadikan Pariwisata sebagai penyumbang devisa nomor satu di Indonesia.  Nah, kunci untuk memajukan industri Pariwisata adalah sumber daya manusia. Menurut keterangan Departemen Pariwisata, masih diperlukan sekitar 2.5 juta pekerja di sektor Pariwisata. Jadi harusnya, lulusan studi Pariwisata “terjamin” dalam artian lapangan pekerjaannya sangat banyak. Trus, kamu yang belajar sastra dan bahasa asing juga punya peluang besar di sektor pariwisata.

Catatan khusus, nih, untuk program studi Arkeologi. Pada tahun 2011, hanya ada 4 kampus dan jumlah lulusan per tahunnya 80. Hingga kini, penambahannya pun hanya satu perguruan tinggi. Padahal, kebutuhan akan arkeolog cukup banyak. Idealnya, di tiap kabupaten/kota ada balai arkeologinya. Berarti seharusnya ada sekitar 514 balai arkeologi di kabupaten/kota.

Di sisi lain tantangan karier bidang Budaya dan Bahasa di masa depan adalah:

  1. Banyak pekerjaan bidang Budaya dan Bahasa yang bisa dikerjakan freelance, sehingga bisa mengurangi peluang untuk menjadi pekerja tetap di bidang budaya dan bahasa. Misalnya, perusahaan mempekerjakan interpreter, penulis konten, dan pengajar bahasa dengan sistem honorer/kerja lepas.  
  2. Pemberian insentif/gaji yang relatif rendah untuk beberapa profesi, seperti pengajar/tutor bahasa.
  3. Pekerjaan bidang Bahasa dan Budaya umumnya bisa dikerjakan lulusan dari disiplin ilmu lain. Yup, coba saja kamu cek lowongn pekerjaan seperti penulis konten, bagian kreatif media, diplomat, dan lainnya, biasanya syaratnya adalah berbagai jurusan. Alhasil, persaingan bagi lulusan Budaya dan Bahasa pun makin ketat.

 

Inspirasi Profesional di Bidang Budaya dan Bahasa

Ajeng Ayu Arainikasih (Arkeologi Universitas Indonesia). Dosen Universitas Indonesia ini sedang menyelesaikan program beasiswa S3-nya di Belanda. Ajeng juga merupakan penggiat museum dan founder komunitas Museum Ceria, independent museum educator.

 

M Aan Mansyur (Sastra Inggris Universitas Hasanuddin, Makassar). Aan merupakan penulis dan penggiat sastra. Karyanya antara lain Tokoh-tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012), Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi (2015), serta Tidak Ada New York Hari Ini (2016) yang ditampilkan di film AADC 2. Aan juga aktif di Makassar International Writers Festival dan pustakawan di ruang kreatif Katakerja.

 

Leoni Sihombing (Sastra Jerman Universitas Indonesia). Deputy Editor in Chief GADIS, majalah dan media digital untuk anak muda.

 

RA Adriani Kusuma Wardani (Sastra Inggis Universitas Sebelas Maret, Solo). Diplomat Indonesia yang kini memegang jabatan Kepala Bagian (Sekretaris 2) di Direktorat Kerjasama ASEAN dan Hubungan Inter-regional, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

 

Rekomendasi Perguruan Tinggi dengan Program Studi Bidang Budaya dan Bahasa Terbaik di Indonesia

Berikut ini beberapa rekomendasi perguruan tinggi negeri dan swasta berakreditasi A untuk program studi di bidang Budaya dan Bahasa.

Arkeologi

  • Universitas Indonesia
  • Universitas Gadjah Mada
  • Universitas Udayana
  • Universitas Hasanuddin

Program Studi Sastra, Bahasa, dan Kewilayahan

  • Universitas Indonesia
  • Universitas Padjadjaran
  • Unika Atma Jaya
  • Universitas Gadjah Mada
  • Universitas Bina Nusantara
  • Universitas Negeri Jakarta
  • Universitas Pendidikan Indonesia
  • Universitas Andalas
  • Universitas Udayana
  • Universitas Gunadarma
  • Universitas Negeri Malang
  • Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya

Program Studi Ilmu Sejarah

  • Universitas Padjadjaran
  • Universitas Negeri Yogyakarta
  • Universitas Indonesia
  • Universitas Andalas
  • Universitas Airlangga
  • Universitas Gadjah Mada
  • Universitas Negeri Malang
  • Universitas Udayana

 

Rekomendasi 10 Negara Terbaik untuk Mengambil Studi Bidang Budaya dan Bahasa

Kamu lebih tertarik mendalami bidang budaya dan bahasa dengan studi di luar negeri? Berikut ini adalah 10 negara dan kampus terbaik untuk kuliah bidang budaya dan bahasa pilihan Youthmanual. Rekomendasi ini  berdasarkan daftar ranking perguruan tinggi dunia di versi QS World University Rankings.

1. Inggris (University of Oxford, University of Cambridge)

2. Amerika Serikat (Harvard University, UCLA, Yale University, Standford University)

3. Jepang (The University of Tokyo, Kyoto University)

4. Hong Kong (The University of Hong Kong)

5. Australia (The University of Sydney, The University of Melbourne)

6. Kanada (University of Toronto, University of British Columbia)

7. Singapura (National University of Singapore)

8. China (University of Peking, Tsinghua University)

9. Prancis (Universite Paris-Sorbonne)

10. Korea Selatan (Seoul National University)

 

Pilih Bidang Budaya dan Bahasa Nggak, Ya?

Jawabannya tergantung seberapa niat kamu untuk menekuni jurusan ini dan seberapa keras usahamu untuk bisa menguasai skill jurusan yang dipilih.

Memang untuk masuk kuliah jurusan Budaya dan Bahasa persaingannya relatif nggak seketat jurusan lain, seperti Pendidikan Dokter, Manajemen, atau Akuntansi. Nggak terlalu sulit juga untuk sekadar menjalani kuliah dan lulus. Tapi kalau kamu nggak terlalu niat menekuni bidang ini, dan hanya “yang penting lolos”, rekomendasi kami adalah jangan ambil bidang Budaya dan Bahasa.

Jika masuk jurusan ini, performance kamu harus outstanding. Memperluas wawasan, menguasai skill dengan sangat baik, dan mempertajam analisa.

Sebab lapangan kerja untuk lulusan bidang ini memang banyak tersedia, bahkan interdisipliner seperti di bidang teknologi dan kesehatan. Tapi jika kamu nggak benar-benar oke, maka akan terdepak oleh saingan atau karier kamu nggak bakalan maju.

Jika mantap ingin kuliah di bidang budaya dan bahasa, pastikan kamu:

  • Senang dan tekun mempelajari bahasa asing dan bahasa Indonesia.
  • Mau dan suka banyak membaca.
  • Rajin melatih kemampuan analisa dan pemikiran kritis.
  • Update dengan perkembangan berita. Masyarakat, dan sekitar kamu.
  • Menyadari bahwa menguasai bahasa asing lain (selain yang dipelajari) akan memberi nilai plus.
  • Berusaha menguasai skill pendukung seperti kemampuan menulis dan komunikasi.
  • Memperkaya pengetahuan dengan belajar interdisipliner, misalnya mencari pengetahuan seputar ilmu komputer, startup, atau marketing.
  • Tertarik untuk berhubungan, berkomunikasi, serta bekerja sama dengan orang lain.

 

Sumber:

http://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/industri-sektor/pariwisata/item6051
http://www.globalchange.com/future-of-travel-industry-tourism-hotels-hospitality-and-business-travel.htm
https://studipariwisata.com/referensi/daftar-institusi-pendidikan-pariwisata-di-indonesia/
http://discoversociety.org/2014/03/04/stuart-hall-and-the-birmingham-centre-for-contemporary-cultural-studies/
http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170214165236-269-193499/industri-pariwisata-indonesia-butuh-25-juta-tenaga-kerja/
www.linguisticsociety.com
http://complit.yale.edu/about-department
http://travel.kompas.com/read/2017/02/12/204418227/kunjungan.wisatawan.ke.ntt.tembus.1.juta.orang
http://www.kemenpar.go.id/userfiles/file/buku%20pes%202016.pdf
http://cis.ucla.edu/studyarea/courseprint.asp?id=135
https://www.findamasters.com/masters-degrees/united-kingdom/?40w900&Keywords=neurolinguistics
http://wartakota.tribunnews.com/2017/03/25/jumlah-penulis-di-indonesia-tidak-sebanding-dengan-produksi-film
http://www.mediaindonesia.com/index.php/news/read/17382/raditya-dika-indonesia-krisis-penulis/2015-04-27
https://www.academia.edu/19579907/Industri_Penerbitan_Buku_Indonesia_dalam_Data_dan_Fakta
http://www2.unwto.org/
https://globalchange.com/


Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©