Menu

Sekolah Menengah Kejuruan

Panduan ini akan memberikan informasi lengkap seputar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mulai dari bidang dan jurusan yang ada di dalamnya, persiapan kuliah untuk anak SMK, hingga apa yang harus dilakukan bagi lulusan SMK yang ingin terjun langsung di dunia kerja.

Salah satu tujuan didirikannya Sekolah Menengah Kejuruan adalah untuk mencetak sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan keterampilan yang dapat langsung diterapkan di dunia kerja. Nggak heran kalau mereka yang memilih untuk masuk SMK, bertujuan untuk dapat langsung bekerja setelah lulus nantinya.

Sayangnya, pada kenyataannya masih ada gap yang cukup signifikan antara jumah lulusan SMK dengan jumlah yang mampu diserap oleh industri dan dunia kerja.  Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, jumlah pengangguran di Indonesia per Agustus 2017 mencapai sebesar 7,04 juta orang, bertambah 10 ribu orang dibanding realisasi 7,03 juta orang di Agustus 2016. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,50 persen atau turun 0,11 poin.

Dari TPT tersebut, Kepala BPS, bapak Suhariyanto jumlah pengangguran terbanyak adalah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yaitu sebanyak 11,41 persen. Waduh, kok bisa begini, ya?

Banyak faktor yang menyebabkan tingkat pengangguran yang tinggi ini didominasi oleh lulusan SMK—kelompok yang seharusnya dipersiapkan untuk mengurangi pengangguran. Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, M. Sairi Hasbullah menyatakan bahwa jumlah pengangguran paling banyak lulusan SMK adalah karena keahlian mereka belum tentu sesuai dengan kebutuhan industri. Lebih jauh, Kepala Sekolah SMKN 13 Malang, Husnul Khotimah, mengungkapkan bahwa kurangnya penerapan konsep belajar dan keterampilan abad 21 seperti kreativitas dan berpikir kritis dalam kurikulum SMK, menjadi salah satu faktor yang berpengaruh pada tingginya angka pengangguran SMK ini.

Sekarang gini deh, kita semua tahu bahwa industri kerja butuh tenaga-tenaga kerja yang nggak hanya punya hard skill (misalnya, hapal teori dan rumus), tetapi juga soft skill (misalnya, mandiri, penuh inisiatif, kreatif). Namun pada kenyataannya, sekolah di Indonesia sangat lemah dalam mengajarkan soft skill kepada siswanya.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Industri Indonesia Benny Soetrisno menuturkan, pendidikan tenaga kerja di Indonesia nggak disusun berdasarkan kebutuhan atau permintaan industri, Akibatnya, lulusan pendidikan di Indonesia terkadang nggak selaras dengan kebutuhan dunia kerja. Bahkan ada yang berpendapat, di Indonesia, banyak orang berpendidikan tinggi, tetapi berkemampuan rendah.

Terus gimana, dong, solusinya?

 

Soft Skill Apa Aja yang Dibutuhkan Agar Kamu Survive di Dunia Kerja?

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, SMK memang dirancang untuk mencetak lulusan yang siap kerja, tapi pada kenyataannya masih ada kesenjangan antara materi yang diajarkan di SMK dengan apa yang dibutuhkan di dunia kerja. Gap ini menjadi salah satu faktor mengapa lulusan SMK yang seharusnya bisa langsung menjadi tenaga kerja siap pakai, malah berkontribusi besar terhadap tingginya angka pengangguran di negeri ini.

Irham Mustofa, alumni SMK N 24 Jakarta, menuturkan bahwa kurikulum SMK sangat kurang dalam memberikan siswanya materi-materi terkait soft skill yang dibutuhkan di dunia kerja. Irham yang kini sudah bekerja sebagai Interaction Designer di Youthmanual merasa bahwa ada banyak hal yang ia temui di dunia kerja, belum pernah diajarkan sebelumnya di SMK. Kemampuan-kemampuan seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan kepemimpinan ternyata nggak diajarkan secara komprehensif nih di sekolahnya dahulu.

Tapi, dari sekian banyak soft skill yang ada, ternyata nggak semuanya dibutuhkan di dunia kerja, lho. Malah, beberapa soft skill yang dulu dibutuhkan, sekarang sudah kurang dicari. Penyebabnya adalah perkembangan zaman serta tuntutan kerjaan yang beda.

Nah, buat kamu anak SMK yang berencana untuk langsung kerja setelah lulus nanti, Youthmanual telah mengumpulkan soft skills apa saja yang dibutuhkan agar kamu survive di dunia kerja.  Simak ,yuk!

  1. Komunikasi interpersonal

    Komunikasi meliputi kemampuan mendengarkan, presentasi, hingga menulis. Kenapa soft skill komunikasi ini penting? Simpelnya, tanpa kemampuan komunikasi yang baik, kita akan kesulitan untuk menjelaskan sesuatu ke partner kerja maupun klien. Belum lagi soal aktivitas networking dan pemasaran yang membutuhkan komunikasi.

    Karena kita membicarakan tentang komunikasi interpersonal, maka kemampuan untuk menangani konflik, bekerja sama, dan menyampaikan pendapat kepada rekan kerja maupun atasan juga krusial untuk menjaga kelancaran pekerjaan.
     
  2. Adaptasi

    Adaptasi di sini artinya luas, gaes. Nggak hanya beradaptasi dengan orang-orangnya di tempat kerja, tetapi juga dengan budaya dan sistem di suatu perusahaan/organisasi. Soalnya, kultur perusahaan itu berbeda-beda. Ada yang sangat ketat soal peraturan, ada pula yang cenderung santai. Nah, jika kamu sudah memasuki dunia kerja nanti, kamu harus bisa menempatkan diri sesuai dengan kultur yang ada di perusahaan. 

    Adaptasi di dunia kerja juga termasuk menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan yang ada di perusahaan, lho. Hal-hal seperti peraturan baru, pemindahan posisi, perubahan kebijakan, dan perkembangan target sangat mungkin kamu alami saat sudah bekerja.
     
  3. Manajemen

    Merencanakan dan mengeksekusi tugas mutlak diperlukan di dunia kerja. Dulu, banyak perusahaan yang membuka lowongan Project Manager, tapi sekarang relatif jarang karena perusahaan berharap semua staf memiliki kemampuan ini. Kalau kita ingin bisa mencapai posisi manajerial, tentunya kemampuan manajemen sangat diperlukan.
     
  4. Pemecahan Masalah

    Masalah yang ada di dunia kerja berkali lipat lebih menantang daripada permasalahan yang kamu temukan selama ada di sekolah. Ada banyak orang cerdas. Tapi nggak semuanya bisa jeli melihat akar permasalahan serta mencari solusinya. Orang yang punya kemampuan problem-solving sangat dicari perusahaan. Selain jeli, dia juga pantang menyerah, berpikiran positif, dan kreatif mencari solusi. Jadi, pastikan untuk terus mengasah skill ini, ya.

 

Etika Dasar Bekerja Yang Harus Kamu Pahami

Selain soft skills yang sudah disebutkan di atas, kamu juga harus memahami etika-etika yang ada di dunia kerja. Jangan sampai kamu ‘nggak kenal medan’ sebelum ‘bertempur’ di lingkungan yang sama sekali baru bagimu.

Nggak seperti masa-masa sekolah dimana kesalahan kecil masih bisa ditolerir, dunia kerja itu jauh lebih keras, gaes. Dunia kerja menuntut profesionalitasmu baik di dalam lingkup dalam maupun lingkup luar kerja. Kalau kamu sampai melupakan etika ketika bekerja, akibatnya bisa berabe!

Hal ini dibenarkan oleh Meinar R. Siagian, Corporate Learning Head Cigna Indonesia. Menurut beliau, kalau soal kualitas kerja, mungkin terkadang masih ada yang salah atau lupa. Tapi, itu semua bisa ditingkatkan dan diberikan feedback.

Nah, attitude dan etika yang baik adalah hal yang paling sulit ditemukan di para pencari kerja. Sebaik apa pun kemampuan dan sebanyak apa pun kemampuan yang kamu miliki, nggak akan ada artinya kalau attitude kamu jongkok. Itulah sebabnya kamu nggak boleh melupakan etika dasar dalam bekerja ketika kamu memutuskan untuk terjun ke sana.

Eniwei, apa aja etika dasar bekerja yang harus kamu tahu dan terapkan di dunia kerja?

  1. Ketepatan Waktu

    Ketepatan waktu di sini, nggak hanya berhubungan dengan jam masuk kantor aja lho. Sebagai salah satu aspek penting dalam dunia kerja, ketepatan waktu juga terkait dengan apakah kamu bisa menyelesaikan tugas yang diberikan padamu sesuai dengan tenggat waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Kalau kamu nggak bisa memenuhinya, hasilnya bisa gawat. Ketika kamu nggak tepat waktu dalam menyelesaikan tugas yang diberikan padamu, kegiatan lain bisa terganggu dan merusak alur kerja dari seluruh tim.
     
  2. Akuntabilitas

    Akuntabilitas berarti kamu bertanggung jawab atas setiap tindakan dan hasilnya dalam berbagai situasi, serta menghindari membuat alasan saat apa yang kamu kerjakan nggak berjalan sesuai rencana. Dalam hal ini, kamu juga harus berani mengakui kesalahan yang kamu perbuat dan menggunakannya sebagai sebuah pembelajaran agar kedepannya kamu nggak melakukan kesalahan serupa.
     
  3. Rasa saling menghargai

    Sesantai apapun lingkungan kerjamu, jangan sampai lupa untuk menghormati sesama pegawai, senior, dan terutama atasan. Apalagi kalau posisimu adalah seorang pegawai yang baru saja masuk ke kantor baru. Dengarkan instruksi atasan kamu dengan seksama. Jangan takut bertanya, tapi jangan kebanyakan nanya. Kalau ternyata terlalu banyak detil yang harus kamu tahu, sebaiknya bawa buku catatan kecil untuk menulis instruksi-instruksi tersebut.

    Kamu juga harus menunjukkan bahwa kamu menghormati setiap pendapat dan masukan dari pegawai yang lebih senior maupun atasan. Sekiranya kamu nggak setuju, sampaikan hal tersebut dengan cara yang objektif dan didukung dengan alasan yang masuk akal.
     
  4. Determinasi Tinggi

    Dengan memiliki determinasi tinggi, kamu nggak akan membiarkan masalah yang kamu temui menghentikanmu untuk mengerjakan tugas yang menjadi tanggung jawabmu.Sebaliknya, kamu justru akan dengan antusias menghadapinya sebagai sebuah tantangan yang menarik untuk dilalui.

    Di dunia kerja nanti, kamu akan banyak banget lho berhadapan dengan masalah-masalah terkait pekerjaanmu mulai dari hasil yang nggak sesuai ekspektasi atasan, klien yang sulit, hingga partner yang susah untuk diajak bekerja sama. Determinasi tinggi untuk menyelesaikan tanggung jawab sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya pun sangat dibutuhkan di sini.
     
  5. Kerjasama

    Di dunia kerja nanti, kamu nggak bisa lho kerja sendirian. Semuanya harus dikomunikasikan dan dikoordinasikan dengan rekan-rekan kerja lain terutama yang berada di dalam satu tim yang sama dengamu. Maka itu, kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain menjadi penting di dunia kerja nantinya. Jangan sampai kamu jadi anggota tim yang hanya bisa memerintah atau sebaliknya, hanya iya-iya aja ketika disuruh mengerjakan sesuatu—meski itu bukan bagian dari tugasmu.

    Oya, ada yang menarik nih gaes soal kerjasama di dunia kerja. Menurut Mark Amstrong, seorang psikolog di bidang karier, kalau ada ajakan makan siang bareng teman-teman sebaiknya jangan kamu tolak. Meskipun kamu bawa makan siang sendiri untuk jaga-jaga, kesempatan makan siang bareng teman-teman menunjukkan bahwa kamu siap bekerja sama dan menjadi bagian dari tim.

 


Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©