Menu

Gap Year

Panduan ini akan membantu kamu menyiapkan gap-year setelah lulus SMA, SMK, maupun kuliah lengkap dengan pertimbangan plus-minusnya serta pilihan kegiatan seru yang bisa kamu lakukan.

Kita salut banget, lho, sama kamu yang berani mengambil keputusan untuk “cuti” setahun sebelum melanjutkan studi. Gap year memang bukan kegiatan yang bisa diikuti oleh sembarang anak muda, karena kamu haruslah memahami apa tujuan kamu dalam mengambil gap year, dan tentunya berani mengambil risiko karena gap year masih dipandang sebelah mata di negara kita.

Banyak yang nggak tahu kalau gap year itu ternyata lebih dari "cuti-sekolah-setahun-buat-ngerjain-hal-lain-yang-nggak-sempet-kamu-lakuin-selama-sekolah". Ketika ngomongin kata "cuti", korelasinya langsung jatuh ke kata "pengangguran" yang artinya orang nggak ada kerjaan. Duh, negatif banget?

Gap year bisa menjadi suatu masa penuh kefaedahan kalau kamu tahu hal apa yang paling tepat untuk kamu lakukan. Daripada kamu keburu sangsi dengan berbagai isu dan asumsi yang nggak tepat soal gap year (dan malah bikin perdebatan yang nggak perlu dengan orang tuamu), ada baiknya kalau kamu ketahui lebih dulu sisi plus dan minus dari gap year.

 

Sisi Plus dan Minus Gap Year

Tapi, memangnya fungsi gap year hanya untuk itu? Nah, sebelum membahas lebih dalam mengenai gap year serta serba-serbinya, kamu harus tau dulu nih apa sisi plus dan minus dari mengambil gap year. Jangan sampai kamu memutuskan untuk mengambil (atau nggak mengambil) gap year hanya karena ikut-ikutan orang lain.

Sisi Plus Gap Year

Gap year umumnya dianggap sebagai masa pendewasaan diri, karena pada masa tersebut, anak-anak muda mulai meninggalkan rumah mereka dan belajar hidup mandiri. Selama gap year, mereka nggak sekedar melakukan apapun yang mereka sukai, tetapi juga membekali diri dengan kemampuan dan keterampilan yang nggak mereka dapatkan di bangku sekolah.

Dengan kata lain, gap year nggak hanya sekedar “cuti sekolah”, karena gap year bisa membuat kamu mengenal diri kamu sendiri dengan lebih dalam, dengan cara mendalami hal-hal yang kamu minati, atau justru melakukan hal-hal baru di luar comfort zone kamu.

Kalau kamu termasuk calon mahasiswa yang masih galau tentang jurusan kuliah dan tujuan hidup kamu, mungkin kamu bisa mempertimbangkan untuk mengambil “cuti kuliah” ala gap year ini, lalu ikut program magang atau kursus tertentu untuk mengkeksplor minat dan bakat kamu. Pertanyaan sesimpel “gue mau kuliah jurusan apa” pun bisa terjawab dengan tepat, lho, dengan gap year ini.

Travelling selama gap year juga oke banget untuk membuka mata dan menambah wawasan kamu tentang dunia. Ingat artikel Youthmanual tentang alasan kenapa kamu harus sering jalan-jalan, dan pentingnya pengalaman multikultural? Nah, dua hal berharga tersebut bisa kamu dapatkan dengan jalan-jalan keliling dunia di masa muda.

Trus, gap year juga bisa melatih kamu hidup mandiri dan nggak tergantung dengan orang lainAdulting is hard, gaes! Kamu bakal harus bertanggung jawab atas banyak hal, nyari duit untuk memenuhi kebutuhan, dan merawat diri kamu sendiri. Sebagai gambaran, kamu bisa hura-hura sampai subuh. Nggak ada yang peduli. Tapi ketika kamu sakit, nggak ada yang peduli juga. Being an adult takes a lot, both physically and mentally.

Nah, setelah kamu sempat ngejalanin gap year, dijamin kamu bakal menahan diri minta uang ke orang tua, karena kamu jadi sadar, bahwa cari duit itu susah!

Sisi Minus Gap Year

Di sisi lain, memilih untuk menjalani gap year juga ada sisi nggak enaknya. Pertama, setelah kamu selesai gap year dan akhirnya masuk kampus, bisa aja kamu jadi nggak siap untuk kembali belajar secara formal, karena terbiasa mencari ilmu dan pengalaman di luar kampus. Setelah “mencari jati diri” selama sekian bulan, mungkin otak kamu udah lupa sama aljabar atau ilmu biologi yang diperlukan untuk ujian saringan masuk universitas. Mau nggak mau harus kebut bimbel lagi, deh.

Lalu, bayangkan berapa biaya yang akan kamu keluarkan selama gap year! Meskipun bersifat membangun, tapi beberapa aktivitas yang kamu lakukan selama gap year tentunya butuh biaya, seperti biaya kursus, dan pelatihan. Trus, kalau kamu magang pun, belum tentu kamu digaji. Jadi, walaupun kamu bekerja, kondisi dompet, sih, tetap kondisi dompet pengangguran. Sedih!

Belum lagi kalau kamu ambil opsi travelling. Dompet kamu mesti kuat, sob! Kalau kamu beruntung, kamu bisa mendapat sponsor atau ikut program pertukaran pelajar. Kalau nggak? Ya, alamat melarat. Pantas aja, sih, kalau cuma anak-anak “golongan tertentu” aja yang bisa melakukan gap year *ehemMaliaObamaehem*. Everything comes with a price, right?

Last but not leastgap year bisa dipandang negatif di Indonesia, karena stigma pendidikan yang, ehem, agak salah di negara ini. Maklumlah, Indonesia ‘kan lebih menghargai prestasi akademis daripada ilmu yang didapat di dunia luar. Sehingga, orang tua bisa menuduh kamu malas, dan gelisah karena kamu nggak buru-buru kuliah. Malah memilih jadi “pengangguran” dulu selama kuliah!

So, di luar trade off biaya, waktu dan pengalaman, masalahnya bukan apakah gap year applicableatau nggak di Indonesia, ya, gaes. Tapi balik lagi ke diri kamu sendiri—apakah kamu bersedia dan sanggup untuk mengembangkan diri kamu lewat gap year ini, yang jarang dilakukan oleh anak-anak muda Indonesia lainnya?

 

Apa yang Bisa Dilakukan Selama Gap Year?

Oke, jadi kamu telah memilih untuk mengambil gap year setelah lulus SMA. Lalu apa? Apa yang bisa dilakukan selama masa ‘cuti’ satu tahun kamu ini?

Well, sebelumnya sudah pernah disinggung bahwa banyak siswa yang mengambil gap year hanya karena mereka nggak berhasil lolos di perguruan tinggi idaman, jadi mereka menggunakan waktu setahun itu untuk belajar lagi demi menembus seleksi di tahun berikutnya.

Memang sih, kegiatan yang bisa kamu lakukan selama gap year itu nggak ada batasnya. Kamu mau ikut bimbil alumni lagi untuk persiapan seleksi masuk perguruan tinggi di tahun depan, mau ikut kursus-kursus dan seminar untuk meningkatkan soft skill, mau magang—it’s all up to you! Tapi, agar gap year kamu semakin berfaedah, ada baiknya kalau kamu menyesuaikan kegiatan tersebut dengan tujuan kamu mengikuti gap year itu sendiri. Asal jangan sampai gap year kamu diisi dengan leyeh-leyeh dan malas-malasan setahun penuh, lho, ya.

Jadi, kenali dulu apa yang kamu butuhkan dan hal apa yang ingin kamu kejar selama mengikuti gap year. Dengan begitu, kamu bisa memilih jenis kegiatan mana yang paling tepat dengan kebutuhan, dan bagiamana kegiatan tersebut bisa membantu kamu mencapai tujuan yang sudah kamu tetapkan.

#1 Kalau kamu masih ingin mengenal diri sendiri lebih dalam, sebaiknya kamu…

  • Pergi travellingJalan-jalan keliling dunia selama gap year itu manfaatnya jauh lebih besar dari sekadar nambahin stok foto aestethic kamu aja, lho. Travelling memberikan kamu kesempatan untuk melihat dunia dari sudut pandanng yang berbeda, sehingga kamu bisa menemukan jati diri kamu sering berjalannya waktu dan pengalaman kamu selama berkelana. Psst, kamu juga bisa memperkaya pengalaman multikultural kamu lewat kegiatan ini, lho!

  • Ikut program volunteerKegiatan ini cocok banget buat kamu yang ingin mengalami bagaimana rasanya berkontribusi dan memberikan manfaat kepada lingkungan. Lewat program volunteer, kamu bisa memahami diri dan tujuan hidup kamu di masa depan dengan berbagai kegiatan seru yang bisa kamu sesuaikan dengan bentuk kontribusi apa yang bisa kamu berikan.

#2 Kalau kamu ingin mengeksplorasi minat dan bakatmu lebih dalam, sebaiknya kamu…

  • Ikut kursus kemampuan sesuai hobi. Kalau kamu merasa hobi dan minatmu belum terasah dan terdalami denga baik, nggak ada salahnya, lho, kalau kau ikutan les atau kursus spesifik yang bisa mengembangkan kemampuanmu dalam bidang spesifik. Siapa tahu, jalan kesuksesan kamu bermula dari hobi kamu!

  • Apply magang/pekerjaan part timeMau mengasah skill di bidang yang lebih spesifik? Coba, deh, apply magang atau pekerjaan apa pun yang bisa kamu lakukan dengan kompetensi yang sudah kamu miliki saat ini. Kegiatan ini pun juga sangat direkomendasikan untuk lulusan SMK yang ingin mengambil gap year karena kamu bisa mencoba mengaplikasikan kemampuan-kemampuan terapan yang kamu dapatkan di bangku sekolah di dunia kerja yang sesungguhnya.

    Banyak lulusan sekolah menengah tingkat atas yang sangsi untuk langsung terjun  ke dunia kerja karena jenis pekerjaan yang biasa ditawarkan untuk tingkat pendidikan minimun adalah yang bersifat blue collar. Eits—jangan salah, meskipun kamu baru bisa mendapatkan pekerjaan blue collar, pengalaman yang akan kamu dapatkan sesungguhnya jauh lebih berfaedah dari yang kamu bayangkan!

#3 Kalau kamu sudah mengenal diri kamu tapi masih butuh persiapan ekstra untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sebaiknya kamu…

  • Intensif belajar di bimbingan belajar. Kece banget, nih, kalau kamu sudah bisa merancang masa depan kamu ketika gap year. Agar lebih maksimal, boleh banget, nih, kamu belajar intensif di bimbingan belajar kamu untuk mempersiapkan diri memasuki jurusan pilihan di perguruan tinggi idaman.

Buat nambahin inspirasi kegiatan gap year kamu tahun ini, yuk intip aktivitas gap year yang pernah dilakukan oleh para tokoh dunia di bawah ini.

Penulis yang menuai kebekenannya berkat serial Harry Potter ini ternyata sedang dalam masa gap year ketika menulis karya fenomenal tersebut, lho. JK Rowling mengawali gap year-nya dengan mengajar bahasa Inggris di kota Porto, Portugal, yang menginspirasinya untuk menulis chapter “The Mirror of Erised” dari buku pertama Harry Potter di minggu pertamanya tinggal di sana.

 

Buat kamu yang ngikutin franchise X-Men, pasti udah familiar banget sama aktor pemeran tokoh Wolverine ini. Semasa sekolah, ia menjalani gap year dengan menjadi asisten pengajar bahasa Inggris di… Inggris. Yup, bahkan Om Hugh sendiri ngerasa heran dengan posisinya saat itu sebagai warga negara Australia malah mengajari penduduk Inggris bahasa ibunya sendiri!

 

Aktris muda berbakat satu ini emang pas banget jadi panutan kita semua, gaes. Alih-alih pergi berkelana, Emma malah menghabiskan satu tahun untuk memperkaya pengetahuannya dengan membaca berbagai buku, khususnya yang bertemakan feminism. Nggak salah, nih, bisa sampai terpilih jadi salah satu ambassador PBB!

 

Bisa dibilang Malia sangat beruntung karena bisa menagtur waktu gap year-nya dengan berbagai kegiatan super seru. Mulai dari magang di Kedutaan Besar AS di Spanyol, sekolah alam di Bolivia dan Peru, sampai mendalami hobinya di salah satu perusahaan produksi film ternama di Hollywood—putri pertama mantan presiden AS ini bisa banget manfaatin gap year-nya dengan aktivitas-aktivitas yang kece lagi berfaedah.

 

Pasti banyak dari kamu yang nggak nyangka kalau pemeran Sherlock di serial TV hitz Sherlock Holmes ini pergi “menyendiri” ke sebuah kota kecil bernama Darjeeling di India dan mengajari para biksu Buddha asal Tibet di sana. Menurutnya, pengalaman itu sangat life-changing karena benar-benar membuka matanya tentang dunia.

 

Penasaran dengan kegiatan apa yang dilakukan dua keturuan kerajaan Inggris ini di masa gap year mereka? Well, baik Pangeran Harry dan Pangeran William menghabiskan masa gap year mereka (dalam periode yang terpisah) dengan menjalani kehidupan bersama di area pedesaan sampai ikut pelatihan tantara penjaga kerajaan. Wih!

 

Sebelum sukses menjadi koki selebriti, Nigella Lawson dulunya sama sekali nggak punya basic sama sekali di dunia tata boga, lho. Nigella menemukan passionnya ketika mengambil gap year untuk bekerja sebagai seorang pelayan di kota kecil di Italia. Dari sanalah ia mendapatkan inspirasi untuk membuat buku resep memasak pertamanya, yang membawanya ke kesuksesan seperti sekarang ini.

 

Sepanjang kariernya, atlet figure skating asal Amerika Serikat ini emang dedikasi seratus persen untuk mendalami dunia figure skating hingga ia berhasil memenangkan medali di olimpiade di era 90-an. Tapi, ternyata ia juga nggak melupakan pentingnya pengembangan diri di soft skill lain, yang membuatnya menempuh gap year untuk medalami studi Psikologi di salah satu universitas di Kanada. Kece!

 

Sebelum mantap mendirikan Apple Inc., almarhum Steve Jobs sempat menghabiskan waktu berbulan-bulan di India untuk bermeditasi di pegunungan untuk mencari “esensi kehidupan”. Hasilnya, ia membawa berbagai penyakit membahayakan dan ide brilian untuk memulai project Macintosh sekembalinya ia ke Amerika Serikat. Untung penyakitnya nggak bertahan lama seperti kesuksesannya, ya!

***

So, gaes, daripada kamu mengikuti bandwagon daftar universitas sana-sini tanpa tahu sebenarnya apa yang mau kamu lakukan dengan hidup kamu, lebih baik beranikan diri untuk ‘libur’ dulu setahun untuk mematangkan pilihan kamu akan masa depan. Inget, salah jurusan tuh nggak enak lho, jadi pertimbangkan baik-baik ya semua pilihan yang kamu ambil setelah lulus SMA nanti.

Semangat!


Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2018 Youthmanual ©