Menu

Gap Year

Panduan ini akan membantu kamu menyiapkan gap-year setelah lulus SMA, SMK, maupun kuliah lengkap dengan pertimbangan plus-minusnya serta pilihan kegiatan seru yang bisa kamu lakukan.

Abis lulus sekolah, apa yang akan kamu lakukan?

Kalau mendapat pertanyaan ini, Youthmanual yakin banget 90% jawabannya adalah pengen lanjut kuliah. Nggak heran kalau mulai awal kelas 12, banyak siswa yang udah bersiap-siap belajar dan ‘bertempur’ demi menghadapi beragam seleksi masuk perguruan tinggi. Tapi, apakah hanya itu pilihan yang dimiliki oleh anak SMA dan sederajat yang sebentar lagi akan lulus?

Jawabannya adalah: tentu aja nggak. Sekarang, yuk kenalan dengan yang namanya gap year!

 

Apa Itu Gap Year?

Menurut Wikipedia, gap year adalah “cuti”—yang lazimnya ditempuh selama satu tahun ajaran (2 semester /12 bulan)—yang dilakukan setelah seorang pelajar lulus dari sekolah menengah tingkat atas, sebelum dia melanjutkan studi ke tinggi (atau ke dunia kerja). Ibarat kata, “cuti sekolah” dulu.

Tren gap year dimulai dari negara-negara Eropa—Pangeran William, Benedict Cumberbatch, dan J.K. Rowling adalah contoh orang yang dulu juga ngambil gap year, lho!—sebelum akhirnya ikutan ngetren di Amerika.

Eniwei, tahu Malia Obama? Yup, anak dari Presiden Amerika ke-44 ini juga memutuskan untuk mengambil cuti setahun setelah ia lulus SMA pada tahun 2016 silam. Jadi, Malia baru akan masuk ke perguruan tinggi pada pertengahan 2017.

Gap year sangat umum dilakukan oleh anak-anak muda di negara Barat, dan gap year biasanya diisi dengan berbagai cara, misalnya, mengambil kursus keterampilan, bekerja part time atau full time, magang, volunteer, travelling, dan sebagainya.

Konsep gap year sendiri memang nggak femes di kalangan anak muda Indonesia. Nggak heran, sih, soalnya kebanyakan lulusan SMA di Indonesia ngebet banget pengen kuliah secepatnya, meskipun kadang mereka belum tahu mau kuliah dimana dan di jurusan apa (nah, lho). Pokoknya, yang penting judulnya “gue kuliah”! Padahal nyatanya gaswat pisan, ‘kan, kalau kamu sampai salah jurusan?

Malia Obama aja memutuskan untuk mengambil gap year setelah melakukan riset mendalam tentang kampus yang akan menjadi tujuannya, yaitu Harvard University. FYI, Harvard—dan banyak universitas lainnya di Amerika Serikat—juga sangat menyarankan calon mahasiswanya untuk mengambil gap year dulu sebelum mereka mulai kuliah. Tujuannya agar mereka bisa mendapatkan pengalaman-pengalaman yang jadi “mendewasakan” mereka selama gap year, sehingga mereka jadi lebih siap menghadapi adult life yang (ternyata) sulit bingits.

Di Indonesia sendiri, gap year biasanya diambil oleh mereka yang gagal dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Tujuan mengambil gap year-nya sendiri adalah untuk mempersiapkan diri lebih dalam lagi demi menghadapi seleksi yang sama di tahun depan.

 

Haruskah Kamu Mengambil Gap Year Tahun Ini?

Meskipun terbukti memiliki banyak manfaatnya bagi perkembangan diri anak muda, bukan berarti gap year nggak punya sisi negatif. Jeda waktu satu tahun tersebut harus pintar-pintar kamu gunakan dengan kegiatan dan tujuan yang berfaedah agar nggak merugikan diri sendiri dan orang lain—baik dari segi waktu, tenaga, dan materi. Apalagi kalau dihabisin cuma buat mager-mageran di rumah!

Yes, gap year is not for everyone. Makanya, jangan jadikan alasan kalau belum keterima kuliah di universitas mana pun untuk mengambil gap year, kecuali kalau kamu sudah mempertimbangkan matang-matang mengenai apa tujuan gap year kamu dan aktivitas apa aja yang bakal kamu lakukan selama menjalaninya.

Kalau menurut Youthmanual, sih, kamu sangat dianjurkan untuk mengambil gap year tahun ini kalau kamu…

Belum bisa “mengenal” diri sendiri

Mengenal diri sendiri itu butuh waktu yang nggak sebentar, lho, gaes. Jangankan kamu yang baru lulus SMA, mereka yang udah kuliah atau bahkan sudah menjajal dunia kerja pun mungkin masih belum memahami siapa diri mereka yang sebenarnya.

Ketika kamu ditanya nanti mau kuliah di mana, jurusan apa, dan ingin menjalani karier yang bagaimana kamu masih bingung untuk menjawabnya, artinya kamu masih belum mengenal diri kamu sendiri dengan baik. Nah, mengambil gap year bisa jadi solusi yang tepat untuk “kenalan” lagi dan mencari tahu jawaban konkrit untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan barusan.

Trus apa, nih, yang harus dilakukan untuk bisa mengenal diri sendiri selama gap year?

Banyak, sob! Lakukan eksplorasi seluas-luasnya terhadap minat dan bakat terpendam yang kamu miliki. Siapa tahu selama kamu sibuk bersekolah, kamu nggak sempet mendalami hobimu. Atau, kamu ingin mencoba-hal-hal baru yang ada di luar zona nyaman kamu yang sekarang. Siapa tahu, jari diri kamu yang sebenarnya muncul setelah melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. The possibility is endless!

Masih butuh waktu mempersiapkan diri untuk bangku kuliah

Belum tembus seleksi perguruan tinggi negeri dan swasta idaman? Nggak masalah, gaes. Dengan mengambil gap year tahun ini, artinya kamu memiliki satu tahun tambahan untuk fokus mengejar apa yang kamu impikan.

Mempersiapkan diri untuk dapat melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah nggak cuma sekadar belajar mati-matian untuk bisa tembus seleksi perguruan tinggi, lho. Kamu juga harus mempersiapkan mental untuk bisa survive di dunia perkuliahan nanti. Kedewasaan seperti mandiri, proaktif, dan terbuka itu penting banget untuk dimiliki semua mahasiswa, sob!

Nah, kedewasaan ini tentunya nggak bisa kamu dapatkan seiring dengan bertambahnya usia. Kalau kamu bisa memanfaatkan gap year dengan kegiatan yang tepat, nggak cuma pengalaman berharga yang kamu dapatkan, bisa jadi kamu kecerdasan mental kamu turut berkembang dengan baik.

Waktu jaman-jamannya saya mau lulus SMA, saya punya satu temen bimbingan belajar (bimbel) dari angkatan satu tahun di atas saya. Dia mengambil gap year untuk fokus belajar di bimbel untuk dapat tembus seleksi perguruan tinggi negeri di jurusan yang ia idamkan. Selain itu, ia juga meluangkan waktu untuk melakukan hobinya, yaitu travelling. Hasilnya, di tahun yang sama, ia berhasil mewujudkan impiannya. Kewl!

Ingin mengembangkan diri di luar kegiatan akademik

Siapa bilang kegiatan-kegiatan non-akademik yang bisa kamu lakukan di gap year cuma ngabisin uang? Kalau kamu menyikapinya dengan sudut pandang yang berbeda, pasti kamu akan mensyukuri apa pun yang kamu dapatkan selama menjalani gap year, meskipun hal tersebut benar-benar menguras waktu, tenaga, dan materi.

Ada banyak banget, lho, kegiatan seru yang bisa kamu eksplorasi di luar apa aja yang udah kamu dapatkan di pendidikan nonformal, yang bisa aja menjadi inspirasi kamu dalam merancang masa depan.

Travelling alias jalan-jalan adalah kegiatan gap year yang paling populer dilakukan oleh anak muda. Emang, sih, “modal”nya harus kenceng, tapi pengalaman yang akan didapatkan sangat nggak terkira harganya. Mulai dari kemandirian, kepercayaan diri, sampai pengalaman multikultural yang nggak bisa sembarangan kamu dapatkan. Saik!


Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©