Menu

Dunia Kuliah

Panduan ini akan mengajak kamu untuk menyelami dunia kuliah mulai dari berkenalan dengan berbagai istilah yang ada di dalam dunia perkuliahan, serba-serbi merantau dan kost, kegiatan dan organisasi kemahasiswaan, hingga panduan lengkap akademik perkuliahan.

Semester pendek (dikenal juga dengan SP) adalah semester singkat yang diadakan di antara semester genap dan ganjil pada setiap tahun ajaran universitas. Misalnya, selesai Semester 2, ‘kan pada libur panjang, tuh, sebelum masuk Semester 3. Nah, pas liburan tersebut, diadain deh yang namanya semester pendek.

Semester pendek merupakan program yang menjadi otoritas kampus ataupun fakultas tertentu di suatu kampus. Jadi, bisa jadi semester pendek tidak selalu ada di tiap kampus ataupun tiap fakultas. Kebijakan pelaksanaan semester pendek pun bisa berbeda-beda.

Seberapa pendek?

Durasi semester pendek setiap fakultas berbeda-beda, tapi biasanya, semester pendek berlangsung sekitar 4-6 minggu. Semester pendek pun hanya diselenggarakan di libur semester genap masa perkuliahan (Juli-Agustus).

Apa tujuan semester pendek?

Tujuannya ada dua. Pertama, untuk remediasi atau perbaikan nilai.

Misalnya, di Semester 2 nilai kamu untuk mata kuliah X jelek, cuma dapat C, bahkan D atau E alias fail. Nah, di semester pendek, kamu berkesempatan ngambil mata kuliah X lagi, dengan durasi yang lebih pendek, untuk memperbaiki nilai tersebut.

Kedua, untuk akselerasi atau mempercepat masa studi.

Semasa kuliah sarjana, umumnya kita harus menyelesaikan 144 SKS. Kalau mau lulus dalam waktu 4 tahun, kita harus menyelesaikan 18 SKS setiap semester, atau 36 SKS dalam setahun (1 tahun = 2 semester, maka setiap semester = 18 SKS). Let’s say diantara semester ganjil dan semester genap, kamu rajin ngambil semester pendek sebanyak 6 SKS. Maka dalam setahun, kamu bisa menyelesaikan 42 SKS. Ini berarti kamu bisa lulus kuliah dalam waktu 3,5 tahun sahaja. Luar biasa!

Walaupun ini berarti deadline untuk nyari pendamping wisuda jadi lebih mepet, sih #eh

Kalau tujuan kamu ngambil semester pendek adalah untuk akselerasi, kamu bisa mengambil mata kuliah-mata kuliah yang baru akan dibuka di semester yang akan datang. Colong start, gitu.

Sayangnya, nggak semua fakultas menawarkan semester pendek akselerasi begini. Beberapa fakultas hanya menawarkan mata kuliah yang diulang dari semester sebelumnya, untuk perbaikan nilai aja.

Apa aja syarat umum untuk ngambil semester pendek?

Pertama, biasanya ada biayanya.

Kedua, kalau kamu ngambil semester pendek untuk remediasi, nilai kamu untuk mata kuliah ini sebelumnya harus C, D, atau E. Kamu nggak bisa ambil semester pendek untuk mengubah nilai B menjadi A.

Ketiga, kalau kamu ngambil semester pendek untuk akselerasi, biasanya IP atau nilai rata-rata kamu di semester sebelumnya harus mencapai nilai minimal. Misalnya, minimal 3,2. Tapi syarat ini beragam, nggak semua fakultas atau prodi memberlakukan syarat yang sama.

Selain yang udah disebutkan diatas, tiap fakultas mungkin punya syarat-syarat tambahan yang berbeda-beda. Check with your campus!

Gimana cara mengambil semester pendek?

Hal paling pertama adalah identifikasi kebutuhan kamu untuk mengambil semester pendek, dan menyesuaiakannya dengan kebijakan yang berlaku di kampus atau fakultasmu.

Misalnya, ada kampus yang hanya memperbolehkan mahasiswanya mengambil semester pendek untuk mencuci nilai. Tapi, ada juga kampus yang memperbolehkan mahasiswa baik yang ingin mencuci nilai ataupun mempercepat masa studi untuk mengikuti semester pendek.

Kedua, pastikan kalau kampus atau fakultas kamu menyelenggarakan program semester pendek di tahun ajaran tersebut. Ada kasus dimana semester pendek ditiadakan karena bentrok dengan libur nasional atau jumlah peminat yang tidak sesuai target. Kalau kampus atau fakultasmu nggak menyediakannya, artinya kamu harus cuci nilai atau kejar mata kuliah yang ingin kamu percepat di semester reguler.

Ketiga, isi KRS semester pendek segera setelah kamu menerima KHS semester ganjil. Umumnya, jumlah SKS maksimal yang bisa kamu ambil di semester pendek adalah 6 SKS. Makanya semester pendek ini bisa diselesaikan hanya dalam waktu 4-6 minggu, karena jadwal kuliah akan dipadatkan di hari Senin-Jumat. Bahkan, bisa aja kamu mendapatkan jadwal kuliah mata kuliah tertentu selama 5 hari berturut-turut!

Terakhir, jangan lupa lunasi pembayaran yang dikenakan untuk semester pendekmu. Berbeda dengan biaya kuliah reguler dimana kamu diwajibkan untuk membayar UKT tetap tanpa mempengaruhi jumlah SKS yang kamu ambil, di semester pendek kamu wajib membayar sesuai jumlah SKS yang kamu ambil. Biaya per SKS dikenakan sekitar 120-300 ribu, balik lagi ke kebijakan yang berlaku di kampus atau fakultas masing-masing.

 

Plus Minus Mengambil Semester Pendek

Kalau sudah paham mengenai apa itu semester pendek, kamu juga perlu menyimak perspektif sisi plus dan sisi minus dari mengikuti semester pendek agar kamu bisa mulai mempertimbangkan dari sekarang, kamu akan ikutan Semester Pendek atau nggak di tahun ini.

Sisi Plus Ikut Semester Pendek

  1. Kamu jadi bisa memperbaiki nilaimu yang jelek di semester sebelumnya, alias cuci nilai.
  2. Kamu bisa nyicil jumlah SKS, sehingga mempercepat masa studimu secara keseluruhan. Tapi sayangnya kebijakan ini nggak diperbolehkan oleh beberapa kampus.

    Misalnya, di kampus X kebijakan semester pendek adalah mahasiswa yang IPK-nya di atas 3, saat semester pendek boleh mengambil mata kuliah semester selanjutnya. Sementara mahasiswa yang IPK-nya kurang dari 3. cuma boleh mengulang mata kuliah semester sebelumnya.

    Untuk kamu yang IPK-nya diatas 3, kamu bisa memanfaatkan semester pendek untuk mengambil SKS lebih sedikit di semeter reguler. Misalnya, kalau dalam satu semester reguler seharusnya bisa mengambil 24 SKS, kamu bisa hanya mengambil 18 SKS, karena 6 SKS sisanya sudah diambil saat semester pendek. Nah, waktu luang yang kamu punya bisa dia gunakan untuk ikut kegiatan lain, seperti berorganisasi, kerja magang, dan sebagainya.
  3. Karena durasi kuliah di Semester Pendek singkat, belajar jadi benar-benar intensif. Hal ini bisa membuat materi perkuliahanmu adi lebih cepat nempel di kepala, meskipun nggak selalu.
  4. Kalau saat Semester Pendek kamu mengambil mata kuliah yang seharusnya untuk semester depan, nanti kamu jadi bisa “berbagi ilmu” ke teman-teman yang belum mengambil mata kuliah tersebut. Minimal bagi-bagi catatan, lah. Dijamin, kamu pasti tambah disayang teman-teman! Hehe.
  5. Beberapa kampus menarik biaya untuk semester pendek, tapi ada juga yang tidak. Cek Informasi dan kebijakan yang berlaku di sub bagian akademik kampusmu.
  6. Saat Semester Pendek, ada kemungkinan kamu akan sekelas dengan senior-senior yang mengulang mata kuliah. Lumayan ‘kan, bisa jadi ajang mengakrabkan diri sama senior?

Sisi Minus Ikut Semester Pendek

  1. Menurut beberapa mahasiswa, semester pendek bisa membuat mahasiswa jadi asal mengejar SKS, tanpa benar-benar menguasai materi, akibat durasi kuliahnya yang pendek.
  2. Kamu juga jadi bisa meremehkan mata kuliah di semester reguler. Bikin agak males-malesan, gitu! Soalnya kamu bisa jadi berpikir, “Ah, karena kalau nilai mata kuliah ini jelek, toh bisa diperbaiki di semester pendek!” Hal ini membuat nggak semua fakultas atau prodi menyelenggarakan semester pendek setiap tahun.
  3. Kalau semester pendek di kampus kamu nggak gratis, kamu harus pintar-pintar berstrategi.

    Misalnya, kampus kamu hanya menawarkan semester pendek untuk remediasi, tetapi nggak untuk akselerasi. ‘Kan sayang ya, kalau kamu mengorbankan uang dan waktu liburanmu hanya untuk memperbaiki nilai. Kalau ikut semester pendek untuk akselerasi, masih OK lah. Karena meskipun kamu keluar uang, seenggaknya tujuannya agar kamu cepat lulus. Tetapi kalau hanya untuk remediasi, rasanya rugi, sob!
  4. Kalau kamu mengambil semester pendek, kamu harus ketemu kampus lagiii, kampus lagi. Sementara teman-temanmu yang lain mungkin sudah leha-leha liburan, pulang kampung, atau cari pengalaman lewat magang. Bahkan ketika teman-teman lain sudah pada asyik liburan hedon, kamu malah harus belajar nungguin UTS UAS yang datangnya dua minggu sekali!

    Intinya, dengan Semester Pendek, liburan kamu jadi terasa sangat sebentar. Apalagi kalau Semester Pendeknya dilakukan saat bulan puasa begini. Setelah Semester Pendek, datang Lebaran, eh trus harus langsung ngampus lagi. Kapan leha-lehanya?
  5. Ada beberapa kampus yang bisa membatalkan pengadaan Semester Pendek, kalau peminatnya sedikit. Kebayang ‘kan sebelnya, kalau kamu sudah berharap dan bersiap-siap Semester Pendek, tau-tau mendadak batal?

  6. Di beberapa kasus, Semester Pendek juga malah bisa jadi menunda kelulusanmu, terutama kalau kamu mengambil Semester Pendek saat semester akhir, misalnya semester. Kok bisa?

    Begini. Misalnya wisuda di kampusmu diadakan setiap bulan Maret dan September. Maka jika Semester Pendek diadakan Juni – Juli, maka nilai kamu baru akan keluar paling cepat bulan Agustus.

    Sementara kalau kamu mau wisudah bulan September, maksimal bulan Juli kamu harus beres melakukan ini-itu, misalnya, sidang skripsi atau ujian komprehensif (sekali lagi, ini tergantung fakultasnya, ya). Biasanya, syarat ujian komprehensif adalah semua nilai harus sudah keluar.

    Nah, kalau kamu mahasiswa akhir dan ikut Semester Pendek di bulan Juni-Juli, otomatis masih ada nilai yang belum keluar kan? Akibatnya, kamu nggak jadi wisuda September, tetapi tahun depannya lagi di bulan Maret. Semester Pendek bisa menaikkan IPK, sih. Tetapi ya, ada risiko begitu.

Gimana, gaes? Apakah sebaiknya di tahun ajaran ini kamu sebaiknya mengambil semester pendek?


Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©