Menu

Dunia Kuliah

Panduan ini akan mengajak kamu untuk menyelami dunia kuliah mulai dari berkenalan dengan berbagai istilah yang ada di dalam dunia perkuliahan, serba-serbi merantau dan kost, kegiatan dan organisasi kemahasiswaan, hingga panduan lengkap akademik perkuliahan.

Skripsi adalah sebuah “mahakarya” mahasiswa berupa karya tulis ilmiah yang memaparkan hasil penelitian mengenai  suatu fenomena bidang ilmu tertentu, dengan menggunakan kaidah-kaidah yang berlaku. Skripsi merupakan tugas akhir dari para mahasiswa tingkat strata satu (S1) sebelum layak menyandang sarjana. Di strata 2 (S2) dan strata 3 (S3), karya tulis ilmiah ini disebut dengan tesis dan disertasi.

Pada hakikatnya, skripsi atau tugas akhir hanyalah sebuah mata kuliah yang kebetulan berada di akhir masa studi dengan jumlah SKS yang juga kebetulan lebih banyak daripada mata kuliah lainnya.

Pembeda utama skripsi dengan mata kuliah lain ada pada proses pembelajarannya. Kalau di mata kuliah lain kamu akan duduk di kelas, dengerin dosen ceramah, dan ngumpulin tugas makalah, nah skripsi ini lebih condong pada proses perancangan dan penyusunan sebuah karya tulis yang merupakan hasil pemikiran kamu sendiri.

Legendanya, skripsi menjadi satu kata yang jadi momok bagi hampir seluruh mahasiswa, terutama mahasiswa yang sudah menginjak masa-masa semester akhir. Nggak jarang banyak dari mereka yang menyerah atau gugur selama proses pengerjaannya saking mengerikannya tugas akhir yang satu ini. Akibatnya, waktu masa studi pun harus bertambah dan file skripsi hanya teronggok nggak tersentuh di sudut laptop.

Hmm, emang bener skripsi berat dan semenyeramkan itu? Tentu tidak! Skripsi tidaklah berat dan menyeramkan jika kamu mengerjakannya dengan baik dan benar. Di sini, Youthmanual akan memandu kamu dalam menyelesaikan skripsi dari A-Z plus trik-trik cantik yang bikin kamu bebas drama skripsi.

 

Pro-Kontra: Skripsi atau Non-Skripsi?

Sebelum kita langsung mulai dengan persiapan penyusunan skripsi, ada baiknya kalau kamu mengetahui dulu sebuah fakta bahwa skripsi bukanlah satu-satunya syarat kelulusan mahasiswa untuk bisa diwisuda dan mendapatkan gelar sarjana.

Yup! Ada beberapa kampus dan fakultas di Indonesia yang memiliki kebijakan bahwa skripsi bukanlah satu-satunya syarat kelulusan yang harus ditempuh oleh mahasiswa. yang menawarkan jalur magang dan ujian komprehensif sebagai alternatif syarat kelulusan. Kamu bisa menanyakan perihal kebijakan alternatif pilihan non-skripsi ini ke sub-bagian akademik di kampusmu.

Banyak, lho, pro dan kontra tentang jalur non-skripsi. Dan mungkin kamu bakal merasa galau dan mengalami pergulatan batin ketika harus menentukan pilihan mau skripsi atau nggak, apalagi waktu menemukan anggapan-anggapan yang kontra non-skripsi, seperti:

  1. Nggak bisa melanjutkan pendidikan S2 dan mendaftar beasiswa

    Katanya, sih, kalau mau lanjut S2, skripsi S1 menjadi keharusan. Apalagi kalau ngincer beasiswa. Katanya, lho, ya.

    Well, mungkin ada program studi atau scholarship foundation tertentu yang mensyaratkan skripsi bagi calon penerimanya. Tapi, kenyataannya ada mahasiswa yang bisa menempuh jalur non-skripsi dan hal itu nggak menghambatnya untuk meneruskan studi ke pascasarjana. Malah, ada juga yang non-skripsi ada yang sukses mendapatkan beasiswa full untuk program Magister di luar negeri.

  2. Susah dapat kerja

    “Kalau nggak skripsi, nanti susah dapat kerja, lho,” katanya. Wah, sejauh ini sepertinya belum ada, tuh, nemu lowongan pekerjaan atau staf HR yang minta lampiran skripsi! Jadi sepertinya poin ini nggak begitu relevan, ya.
     

  3. Nggak merasakan menjadi mahasiswa seutuhnya

    Ada yang bilang, kuliah tanpa skripsi itu kayak makan gorengan tanpa cabe rawit. Kurang greget! Tapi ada juga yang nggak beranggapan begitu. Intinya, subyektif dan debatable, lah.

    Dengan pergi ke kampus, belajar di kelas, ikut unit kegiatan mahasiswa, plus nongkrong bareng teman-teman mahasiswa lain, kayanya kamu sudah cukup merasa jadi mahasiswa seutuhnya, tuh.

  4. Lulus tanpa karya

    Yes, skripsi memang sebuah karya yang patut dibanggakan. Iya dong, ah—ngerjainnya aja pake perjuangan. Apalagi kalau skripsi kita bisa bermanfaat untuk orang banyak atau berhasil mendapatkan suatu penghargaan.

    Makanya, skripsi itu harus dikerjakan dengan niat, jangan asal-asalan. Soalnya, semakin baik skripsi kita, semakin baik juga “jejak” yang kita tinggalkan di kampus. Dan yang pasti, jangan plagiat!

    Nah, kalau kita nggak punya skripsi, apakah berarti kita nggak bisa punya “jejak karya” di kampus?

    Bukan. Artinya, mahasiswa non-skripsi punya tantangan baru: how to leave your mark at campus. Mungkin dengan ikutan membela tim olahraga fakultas di kompetisi? Menggelar sebuah acara kampus? Bikin paper yang keren banget sampai masuk jurnal ilmiah? Atau menyusun bundel catatan mata kuliah untuk di-copy dan diturunkan ke anak-cucu junior? Bisa juga ‘kan…

  5. Kesulitan bikin tesis

    Sebenarnya, skripsi dan tesis beda, lho. Tapi bisa dibilang, penyusunan tesis jauh lebih rumit.

    Tapi keduanya sama-sama karya tulis ilmiah yang membutuhkan riset dan olah data, sehingga saya setuju bahwa pengalaman menyusun skripsi adalah salah satu bekal menggarap tesis. Jadi, bisa aja kamu akan menemukan beberapa kesulitan ketika nanti mengerjakan tesis karena kamu belum memiliki kemampuan dasar dalam meriset dan mengolah data untuk tesismu.

Terlepas dari beberapa low points-nya, saya akhirnya tetap mantap memilih jalur non-skripsi karena beberapa poin pro non-skripsi, yaitu:

  1. Nggak ada hal menarik yang ingin diangkat.

    Ini adalah alasan yang sangat personal: mungkin aja kamu nggak menemukan topik yang ingin diulik. Ada yang bilang kalau menggarap skripsi butuh passion. Daripada maksa menggarap topik skripsi dengan setengah hati, mendingan nggak usah sekalian.

    Kamu boleh aja mengatasnamakan passion kalau kebijakan di kampus dan fakultas kamu menyediakan pilihan non-skripsi. Tapi kalau kampus dan fakultas kamu mewajibkan skripsi, mau tidak mau kamu harus terus berusaha sampai menemukan topik yang sreg di hati.

  2. Pengganti skripsi lebih seru

    Selain skripsi, biasanya ada alternatif magang, kelas tambahan, ataupun ngerjain proyek bareng dosen. Opsi yang paling umum disediakan oleh kampus adalah kelas tambahan pengganti skripsi.

    Asal tau aja, tugas-tugas dari kelas-kelas pengganti skripsi sungguhlah luar biasa. Banyak dan susah banget! Tapi, kalau di kelas pengganti tersebut kamu mempelajari hal-hal yang sangat kamu butuhkan dan sesuai dengan passion-mu, pastinya tugas yang banyak dan berat nggak jadi masalah, ‘kan?

  3. Tetap kuliah bareng teman-teman

    Jujur, masa-masa skripsi adalah masa-masa kesepian. Kamu dan temanmu nggak mengerjakan hal yang sama dan nggak dalam waktu yang sama. Masing-masing sibuk sama skripsinya, nggak ada waktu untuk ngurusin hal lain—apalagi untuk kongkow bareng seperti masa-masa maba. Huhu.

    Dengan jalur non-skripsi, kamu masih bisa masuk kelas secara reguler atau bahkan nyobain magang kalau ada waktu luang. Kebersamaan kamu bareng temen-temen seperjuangan nggak akan luntur!

  4. Risiko tertunda lulus lebih kecil

    Ini sebenarnya tergantung pribadi masing-masing, sih. Bagi sebagian orang, skripsi yang timeline pengerjaannya diatur diri sendiri itu lebih banyak godaannya. Bisa aja kamu merasa nggak mood sampai berminggu-minggu, trus malah terpaksa begadang seminggu karena kejar tayang ditagih pembimbing. Belum lagi kalau harus ngejar-ngejar dosen pembimbing yang sibuk.

    Sebaliknya, alternatif skripsi relatif lebih teratur penjadwalannya. Mungkin inilah kenapa banyak mahasiswa non-skripsi bisa lulus hanya dalam waktu 3,5 tahun.

  5. Nggak ribet dengan hal teknis

    Salah satu hal yang bakal bikin kamu nervous nyusun skripsi adalah detil teknisnya, seperti nge-print - fotokopi - jilid - hard copy - revisi - nge-print lagi - salah halaman - nge-print - jilid - dan seterusnya sampai tahun kelapa. Apalagi kalau kamu kurang teliti dengan hal-hal detil. Yang ada kamu banyakan paniknya dibanding fokus ngerjain skripsi.

Jika dihadapkan dengan pilihan skripsi atau non-skripsi, setiap orang pasti punya preferensi masing-masing, walaupun dengan segala plus minusnya. Dan nggak ada hal yang salah jika kamu lebih memilih untuk menjalani salah satu dari kedua opsi tersebut. Yang salah adalah sikap meremehkan lulusan non-skripsi, atau sebaliknya.

Kalau kamu masih bingung mau pilih skripsi atau non-skripsi, coba deh cari info sebanyak-banyaknya tentang keduanya. Trus, tukar pikiran dengan dosen pembimbing, ortu, senior, pacar,  gebetan, tetangga, atau siapa pun yang kamu rasa memahami hal ini. Apapun pilihanmu, jalanilah dengan komitmen penuh.

 

Persiapan Skripsi: Satu Semester Sebelum Pengerjaan Skripsi Dimulai

Idealnya, Ketika kamu memutuskan untuk menghabiskan satu semester kedepan untuk menyelesaikannya. Sukur-sukur enam bulan bisa kelar, ya, gaes. Jangan sampai kamu harus ambil ekstra enam bulan lagi!

Membuat timetable atau jadwal pengerjaan skripsi adalah salah satu tips yang sangat efektif untuk membuat skripsimu bisa selesai lebih cepat. Tapi jangan lupa, setelah menyusun jadwal, kamu tentunya nggak boleh leha-leha gitu aja sampai tenggat waktu. Gimana ceritanya skripsi bisa cepet kelar kalau kamunya sendiri males-malesan?

Membuat jadwal pengerjaan skripsi yang baik dan benar agar skripsi kamu bisa kelar dalam waktu enam bulan aja—nggak pake lebih—sebenarnya bukanlah hal yang sulit. Tapi, sebelum kamu siap menghabiskan 6 SKS-mu untuk skripsi, ada baiknya kamu mulai sejak satu semester sebelum kamu mulai mengerjakan skripsi. Kenapa?

Pertama-tama, saya mau meluruskan miskonsepsi dulu, nih. Emang bener, sih, skripsi itu bisa diselesaikan dalam jangka waktu satu semester alias enam bulan aja. Tapi, kamu bisa keteteran kalau sampai mulai dari nol tepat ketika kamu memutuskan untuk mengambil skripsi di semester tersebut.

Kamu juga harus tahu kalau skripsi bukanlah mata kuliah biasa yang bisa kamu ambil kapan saja dan tanpa ada syarat. Umumnya, untuk mengambilmata kuliah skripsi, kamu wajib untuk:

  • Menyelesaikan 138 SKS. Kenapa 138? Soalnya syarat kelulusan adalah menyelesaikan 144 SKS, dan jumlah kredit skripsi adalah 6 SKS. Jadi 144 - 6 = 138. Gichu.

  • Menyelesaikan mata kuliah prasyarat skripsi atau kegiatan intrakurikuler prasyarat skripsi. Ada kampus dan fakultas yang hanya mensyaratkan untuk menyelesaikan semua mata kuliah lanjutan dan Metode Penelitian, ada juga yang mensyaratkan untuk mengikuti kegiatan Kuliah  Kerja Nyata (KKN) atau magang sebelum mengambil skripsi.

  • Menuntaskan mata kuliah yang harus mengulang (tidak lulus). Jika kamu masih punya mata kuliah yang nilainya masih dibawah batas kelulusan, pastikan kamu sudah mengulang mata kuliah terkait dan dinyatakan lulus dalam mata kuliah tersebut.

Ngerjain skripsi itu nggak cuma sekadar ketak-ketik di depan laptop dan ngobrol cantik bareng dosbing aja, gaes. Justru persiapan pengerjaan skripsi ini nggak kalah nyusahin dibanding masa-masa ngerjain skripsinya itu sendiri.

Hampir semua mahasiswa tingkat akhir, tuh, masih have no idea gimana cara memulai skripsi, lho, gaes. Nggak ada mahasiswa yang bisa ngerjain skripsi dengan lancar jaya dari nol cukucuk setelah enam bulan trus kelar. Semua butuh persiapan dari jauh-jauh hari, karena sesungguhnya skripsi itu susah-susah gampang. Susah kalau nggak ada persiapan, gampang kalau persiapannya mateng, gitu.

Untuk mempermudah jalan kamu selama enam bulan ke depan, yang harus kamu lakukan adalah:

1. Ambil mata kuliah Metode Penelitian

Tenang, gaes, kamu pun nggak semerta-merta dilepas begitu aja sama kampusmu buat ngerjain skripsi tanpa pegangan apa pun, kok. Kamu akan dibekali dengan pengetahuan dasar mengenai penyusunan skripsi tepat di semester sebelum kamu mendapatkan lampu hijau untuk mengambil mata kuliah skripsi.

Yup, sudah menjadi kewajiban untuk kamu mengambil mata kuliah Metode Penelitian sebelum mulai “nyekripsi”. Biar nggak planga-plongo aja, disini kamu bakal diajarin gambaran besar suatu penelitian dan bagaimana cara melakukannya, mulai dari memilih jenis penelitian, bentuk penelitian, cara mencari kajian teori yang relevan, cara menentukan sampel, cara menarik data, sampai cara menganalisa data yang sudah kamu dapatkan dengan teori temuan agar kamu bisa menarik kesimpulan.

Sounds complicated, tapi kalau udah dijalanin, dijamin kamu bakal paham, kok.

2. Sering-sering mengunjungi perpustakaan

Mungkin dulu kamu jarang mengunjungi perpustakaan karena kamu nggak punya maksud dan tujuan untuk mengunjunginya. Nah, di semester-semester akhir gini, ada baiknya kalau kamu sering-sering mengunjungi perpustakaan dibanding kantin biar kamu bisa dapet pencerahan untuk skripsimu.

Coba, deh, pinjem beberapa skripsi milik seniormu di perpus untuk kamu baca-baca dan analisa. Selain bisa membantu kamu untuk menemukan skripsi yang menarik, kamu juga bisa membandingkan kajian pustaka dan metode penelitian yang digunakan di skripsi tersebut sebagai acuan.

3. Ikut bedah jurnal

Biasanya, dosen-dosen senior akan sering melakukan bedah jurnal di mata kuliah seminar penelitian. Nah, rugi banget, nih, kalau kamu sampai nge-skip mata kuliah ini di semester sebelum kamu mengambil skripsi.

Soalnya, seiring kamu terbiasa membedah jurnal, kamu akan semakin mengerti dengan bagaimana alur suatu penelitian dilakukan. Kamu bisa membedakan mana penelitian yang harus menggunakan metode kualitatif ataupun kuantitatif, mana penelitian yang membutuhkan banyak sampel, dan sebagainya. Kalau kamu sudah menguasai pengetahuan seperti ini, yakin, deh, kamu bakal jauh dari yang namanya ‘revisi’.

4. Mulai incar calon dosen pembimbing

Kalau kampus kamu termasuk kampus yang memperbolehkan mahasiswanya untuk memilih dosbingnya sendiri, kamu patut bersyukur. Karena artinya kamu bisa menyesuaikan diri dengan karakteristik calon dosen pembimbing (dosbing) kamu tanpa harus makan waktu untuk pedekate terlebih dahulu. Dan percayalah, pedekate dengan calon dosbing itu akan membawa banyak kemudahan ketika kamu menyusun skripsi nanti.

Tips dikit, nih, gaes. Agar bisa enjoy bimbingan sama dosbing dan dosbingmu juga enjoy ngebimbingin kamu, jangan cuma lirik dosen yang baik hati, tapi pilihlah dosbing yang mata kuliahnya juga sejalan dengan topik skripsimu. Misalnya, kalau topik skripsimu tentang pemasaran barang mewah, incarlah dosen yang pernah mengajar mata kuliah manajemen merek atau perilaku konsumen. Gitu.

5. Persiapkan proposal penelitian

Apalah artinya skripsi tanpa proposal penelitian? Yup, simpelnya, proposal penelitian adalah “tiket” kamu untuk bisa melanjutkan tahap selanjutnya, yaitu menyusun skripsi. Karena mencari topik skripsi yang menarik itu tidaklah mudah, ada baiknya jika kamu sudah menyusun proposal skripsi untuk diajukan ke sub-bagian akademik dan calon dosbing dari jauh-jauh hari.

Kalau kamu sendiri udah paham soal apa yang akan kamu bahas panjang lebar di skripsimu, kamu nggak akan kesulitan untuk menyusun proposal ini, kok. Kamu tinggal siapkan latar belakang singkat, rumusan masalah, dan metode penelitian apa yang akan kamu gunakan.

Sedikit tips, nih. Kalau kamu nggak yakin dengan topik apa yang akan disetujui oleh calon dosbingmu, buatlah 2 sampai 3 proposal penelitian dengan topik yang berbeda. Jadi, in case dosbing kamu kurang “sreg” dengan topik awalmu, kamu tinggal ajukan topik cadangan tanpa perlu pusing-pusing lagi muter otak buat nyari topik baru. Ihiy!

 

Timeline Pengerjaan Skripsi Agar Skripsimu Bisa Selesai Dalam 6 Bulan

Bulan ke- 1

  • Mengumpulkan berkas dan kelengkapan untuk pengerjaan skripsi

  • Submit proposal penelitian ke sub-bagian akademik untuk perihal administrasi dan ke calon dosen pembimbing untuk meminta persetujuan topik skripsi

  • Konsultasi jadwal bimbingan dengan dosen pembimbing. Jangan lupa jadwalkan bimbingan rutin untuk kedepannya dan apa saja yang harus kamu persiapkan untuk mengikuti bimbingan sesuai dengan aturan beliau

  • Mulai mengerjakan Bab 1 yang isinya: Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, dan Manfaat Penelitian

  • Bimbingan rutin

  • Revisi (jika ada)

Bulan ke - 2

  • Rampungkan Bab 1 sampai tidak ada revisian lagi

  • Mulai mengerjakan Bab 2 yang isinya: Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran, dan Hipotesis

  • Bimbingan rutin

  • Revisi (jika ada)

Bulan ke - 3

  • Rampungkan Bab 2 sampai tidak ada revisian lagi

  • Mulai mengerjakan Bab 3 yang isinya: Metode Penelitian yang Digunakan, Operasionalisasi Variabel, Sumber dan Cara Penentuan Data, Teknik Pengumpulan Data, dan Rancangan Analisis Data

  • Rampungkan Bab 3 sampai tidak ada revisian lagi

  • Rapikan daftar pustaka

  • Bimbingan rutin

  • Revisi (jika ada)

  • Persiapan sidang usulan penelitian/sidang proposal.

Bulan ke- 4

  • Revisi bab 1-3 (jika ada)

  • Mulai kumpulkan data. Jika penelitianmu kualitatif, kamu sudah harus mulai mewawancarai narasumber yang dibutuhkan. Jika penelitianmu kuantitatif, kamu sudah harus mulai menyebar kuesioner ke sampel-sampel penelitianmu sampai jumlahnya mencukupi yang dipersyaratkan

  • Jika kamu menggunakan penelitian kuantitatif dan data yang dibutuhkan sudah terkumpul, kamu juga sudah bisa mengolah data yang kamu dapatkan dengan aplikasi pengolah data tertentu

  • Bimbingan rutin

Bulan ke - 5

  • Mulai mengerjakan Bab 4 yang isinya: Hasil pengolahan Data, Analisis Pengolahan Data, dan Pengujian Hipotesis

  • Mulai mengerjakan Bab 5 yang isinya: Kesimpulan dan Saran

  • Bimbingan rutin

  • Revisi (jika ada)

Bulan ke - 6

  • Mempersiapkan administrasi yang diperlukan untuk mengikuti sidang akhir, salah satunya adalah tanda tangan persetujuan dari dosen pembimbing dan dan dosen penguji

  • Revisi akhir (jika ada)

  • Mengumpulkan berkas dan kelengkapan bukti penyelesaian skripsi, serta menyerahkan hardcopy dan softcopy skripsi

  • Mempersiapkan segala keperluan terkait sidang akhir dan pendaftaran wisuda. Ihiy!

 

Langkah Jitu untuk Menemukan Topik dan Membuat Judul Skripsi yang Menarik

Di muka bumi ini, cuma ada 2 jenis mahasiswa. Yaitu: mahasiswa yang topik dan judul skripsinya dicariin dosen, dan mahasiswa yang topik dan judul skirpsinya nyari sendiri.

Kalau kamu termasuk jenis mahasiswa yang pertama, bisa jadi kamu tergolong mahasiswa berprestasi yang dimandatkan untuk membantu proyek penelitian dosen, atau mahasiswa desperate yang udah berkali-kali ajuin proposal tapi ditolak melulu sama calon dosbing. Mau yang mana pun, good for you—karena kamu nggak perlu kelamaan muter otak lagi untuk cari topik dan judul yang oke untuk skripsimu.

Tapi, kalau kamu adalah mahasiswa yang kedua, bukan berarti kamu lagi sial. Kamu tetaplah mahasiswa yang seutuhnya yang mampu menyelesaikan tanggung jawab terakhirmu secara independen. Ecie.

Menentukan topik dan membuat judul skripsi memang agak tricky. Topik yang diangkat dan judul yang dimiliki harus menarik agar bisa tampil menonjol di mata dosen pembimbing, dari lautan topik dan judul lainnya. Kalau nggak menarik, bisa-bisa judul kamu ditolak lagi, lagi, dan lagi.

Jadi kalau kamu sedang kesulitan menemukan topik dan membuat judul skripsi yang menarik, berikut cara-cara jitu anti galau topik dan judul skripsi yang patut kamu coba.

1. Gali minat dan passion kamu di perkuliahan secara spesifik

Semua mata kuliah yang kamu pelajari, tuh, ruang lingkupnya masih luas banget, sob. Nggak heran kalau kamu masih kebingungan harus mengangkat topik apa dalam skripsi kamu.

Jangan lupa, dalam mencari topik dan judul yang menarik, bukan berarti kamu harus mengesampingkan passion. Hal-hal yang kamu suka bisa saja menjadi pemicu ide kamu dalam menemukan topik dan judul skripsi yang menarik.

Misalnya, selama berkuliah, kamu suka banget dengan mata kuliah wajib A. Nah, dari situ kamu sudah bisa mengerucutkan pilihan-pilihan topik yang bisa kamu angkat dan kaji berdasarkan hal-hal yang kamu pelajari di mata kuliah tersebut, sekaligus memfokuskan sudut pandang penelitian kamu. Dan karena kamu mengerjakan hal yang kamu senangi, kamu nggak akan merasa tertekan ataupun terbebani selama menyelesaikan skripsi.

2. Tetap update dengan isu-isu terkini

Salah satu kunci judul skripsi yang menarik adalah judul dengan isu atau fenomena terkini. Kamu bisa banget, lho, mendapatkan inspirasi topik dan judul skripsi dari berita-berita yang kamu dengar setiap hari.

Harus dicatat, kamu nggak terpaku dengan berita yang berat-berat aja, kok. Kamu bisa, lho, mendapatkan judul skripsi yang menarik dari fenomena-fenomena simpel yang belum pernah dikaji dan dijadikan objek penelitian di bidang kamu sebelumnya. Misalnya, fenomena naik daunnya drama korea, kontroversi akun haters, sampai green tea. Hal-hal tersebut bisa aja, lho, jadi kajian menarik untuk skripsi kamu.

3. Ikut seminar / workshop yang berhubungan dengan minatmu

Coba, deh, sempatkan ikut seminar atau workshop yang berhubungan dengan minat kamu. Hal ini bakal sangat membantu kamu, karena seminar atau workshop biasanya membahas tema yang sudah spesifik.

Seminar dan workshop sekarang udah nggak selangka zaman dulu, tergantung kamu niat atau nggak untuk mencarinya dimana pun. Misalnya, kamu adalah mahasiswa jurusan Manajemen Keuangan dan berminat terhadap dunia saham. Nah, coba cari inspirasi skripsi dengan cara datang ke seminar yang membahas soal investasi dalam perusahaan, atau ke online trading workshop dari sekuritas yang bekerjasama dengan fakultas ekonomi di kampusmu.

4. Cari referensi dari literatur dan penelitian terdahulu

Ketika kamu nggak lagi punya jadwal kuliah yang mengharuskan kamu datang ke kampus, bukan berarti kamu nggak perlu datang ke kampus lagi sama sekali. Justru kamu harus lebih rajin datang ke kampus, untuk nongkrong di perpustakaan.

Ngapain? Tentunya untuk membaca-baca jurnal akademik dan skripsi/tesis milik senior yang sekiranya memang sejalan dengan minat dan penelitian yang akan kamu lakukan. Dari sana, kamu bakal mendapatkan latar belakang kuat yang bisa membuat judul skripsi kamu makin kuat dan menonjol. Eits, jangan sampai salah paham, mencari inspirasi bukan berarti memplagiat karya orang lain, ya!

5. Konsultasi dengan dosen pembimbing

Setelah sibuk memutar otak dan "kelayapan" mencari ide dan fenomena kesana-kemari, pasti setidaknya kamu sudah punya beberapa calon topik dan judul. Supaya galaunya nggak berkelanjutan, konsultasikan calon-calon topik dan judul yang sudah kamu buat dengan dosen pembimbing.

Jangan sampai merasa nggak pede untuk mengajukan judul skripsi ke dosen pembimbing, ya. Jelaskan juga ke beliau tentang latar belakang, objek, dan jenis penelitian kamu sebagai pendukung dan bahan pertimbangan lainnya agar beliau makin tertarik dengan penelitian yang akan kamu lakukan.

Kalau beliau masih kurang "sreg", jangan sungkan untuk meminta koreksi dan masukan.

 

Ciri-Ciri Proposal Skripsi yang Baik dan Berkualitas (dan Nggak Bakal Bikin Kamu Dibantai Dosen Penguji)

Setelah dosen pembimbing menyetujui topik dan judul skripsi yang kamu ajukan, kamu akan mendapat lampu hijau untuk mulai menggarap skripsimu. Nah, sesegera mungkin, kamu sudah harus mengerjakan skripsi dari bab 1 sesuai dengan timetable ideal seperti yang sudah disusun di atas.

Tapi, sebelum siap menyusun skripsi sampai bab paling akhir, tentunya kamu harus melewati yang namanya sidang usulan penelitian atau seminar proposal. Nah, yang diujikan di tahap ini adalah rancangan atau proposal penelitian yang sudah kamu susun sedemikian rupa sebelum melakukan penelitian.

Tapi banyak banget, nih, mahasiswa yang menganggap remeh skripsi hanya sebagai syarat kelulusan aja. Padahal bahaya banget, lho, kalau proposal skripsi itu digampangin dan dikerjakan asal-asalan. Jangankan harus siap-siap dibantai dosen penguji, calon dosen pembimbing aja bisa-bisa nggak bakal ada yang tertarik dengan proposal kamu!

Maka dari itu, sebaiknya kamu mengerjakan skripsi dengan sungguh-sungguh sehingga dapat menghasilkan penelitian yang berfaedah. Nah, skripsi yang baik dan berkualitas ini ciri-cirinya seperti apa, sih?

1. Latar belakang penelitian jelas

Dalam melakukan sebuah penelitian, pastinya kamu harus menemukan suatu fenomena yang akan kamu jadikan sebagai latar belakang. Kalau nggak ada latar belakang sebagai alasan kamu melakukan penelitian, apa yang mau kamu teliti, hayo?

Makanya, biar kefaedahan skripsi kamu nggak dipertanyakan, ada baiknya kamu ikuti tips berikut ini:

  • Jangan gunakan modal “katanya”—apalagi berita hoax—sebagai latar belakang penelitian kamu. Kalau memang kamu menemukan fenomena yang layak untuk diteliti, carilah data tertulis yang berasal dari sumber yang kredibel agar bisa disajikan ke dosen pembimbing dan penguji. Karya ilmiah, tuh, nggak terima ada “kata-katanya”, gaes!

  • Jika ada, gunakan data statistik lain yang relevan sebagai pendukung data utama yang kamu gunakan. Lebih baik lagi kalau kamu bisa mendapatkan data statistik langsung dari objek yang akan kamu teliti, yang bisa kamu dapatkan dari survei pra-penelitian. Let the numbers speak!

2. Menggunakan artikel jurnal yang memiliki rating baik sebagai referensi

Yang namanya penelitian pasti nggak bisa lepas dari referensi. Artikel jurnal yang kamu gunakan sebagai referensi akan menjadi guideline kamu dalam menyusun kerangka pemikiran yang sesuai dengan penelitian. Ingat, semakin sederhana kerangka penelitian kamu, semakin jauh nasib kamu dari dibantai dosen penguji!

Cara mudah mengenali artikel jurnal yang baik yang layak kamu gunakan untuk menyusun skripsi yang kece adalah dengan melihat jumlah berapa kali jurnal tersebut telah digunakan sebagai referensi oleh orang lain (citated) di Google Scholar. Semakin sering, artinya jurnal tersebut dapat dianggap lebih kredibel dibanding jurnal lain yang jarang dijadikan referensi.

Selain itu, artikel jurnal yang diterbitkan di tanggal yang lebih baru dianggap lebih baik dibanding artikel jurnal lama, karena teori dan penerapan ilmu yang digunakan lebih update dan terbarui.

Kamu bisa cek kualitas artikel jurnal terbaru di Harzing atau Australian Business Dean Council (ABDC) khusus untuk sekolah bisnis dan jurusan ekonomi secara keseluruhan.

3. Menggunakan metode penelitian yang sesuai

Ketika menentukan metode penelitian apa yang akan kamu gunakan dalam menyusun skripsi, pastikan kamu memahami pendekatan data seperti apa yang akan kamu gunakan. Metode penelitian itu sendiri bisa dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu metode kualitatif ataupun kuantitatif.

Fatalnya, banyak yang memilih metode penelitian ini asal-asalan—bahkan atas dasar metode mana yang paling gampang!

Padahal nggak ada satu metode penelitian yang lebih gampang dari yang lainnya, lho, gaes. Metode penelitian ini kamu pilih berdasarkan kecocokan dan kesesuaian dengan bentuk penelitian kamu.

Misalnya, kalau kamu ingin mengobservasi keamanan suatu gedung, kamu harus menggunakan metode kualitatif. Kalau kamu ingin meneliti tingkat kepuasan konsumen, kamu harus menggunakan metode kuantitatif. Nggak ribet, kok!

Dari sana, kamu akan bisa memutuskan langkah penelitian apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, seperti menentukan sampel, instrumen penelitian, sampai hipotesis penelitian kamu. Jangan lupa, cocokkan metode penelitiannya dengan rumusan masalah yang sudah kamu buat juga, ya!

4. Kerapihan penulisan dan daftar pustaka

Kerapihan penulisan memang sering dianggap remeh, namun hal inilah yang paling sering “diserang” oleh dosen penguji. Ketelitian kamu dalam mengetik kalimat per kalimat juga harus diperhatikan banget, lho. Skripsi yang formatnya rapi dan minim salah pengetikan dijamin disayang dosen penguji! Hihihi.

Lalu, perlu kamu perhatikan ketepatan penulisan daftar pustaka yang kamu cantumkan. Ingat, dari mana pun sumber data dan referensi yang kamu dapatkan (buku, artikel jurnal, website), cantumkanlah semuanya di daftar pustaka.

Mau daftar pustaka kamu ujung-ujungnya jadi belasan lembar, nggak masalah, kok. Asal kamu bisa mencantumkan sumber informasi dengan kaidah penulisan yang baik dan benar. Kamu juga bisa menggunakan aplikasi yang membantu kamu menyusun dan merapikan daftar pustaka dalam waktu singkat seperti Mendeley.

Hal ini akan memudahkan kamu saat kamu mempresentasikan proposal kamu nanti. Ketika dosen penguji kamu mempertanyakan data dan referensi spesifik yang kamu gunakan dalam penelitian, kamu nggak usah gelagapan cari jawabannya, karena kamu tinggal mengarahkan dosen kamu untuk mengecek sumber di daftar pustaka yang bersangkutan like a boss.

 

Seni Menghadapi Dosen Pembimbing Skripsi dan Tugas Kuliah Akhir

Sesuai namanya, dosen pembimbing berperan membimbing dan mendampingi mahasiswa dalam mengerjakan tugas akhir dan skripsi. Tujuannya, supaya ilmu yang didapat selama proses pengerjaan karya dan hasilnya bisa maksimal.  Soalnya, skripsi dan TKA merupakan karya penting yang menjadi sumbangsih kamu pada dunia akademis dan peninggalanmu setelah lulus.

Tapi seringkali dosen pembimbing justru dianggap sebagai batu sandungan. Antara revisi berkali-kali, susah ditemui, demanding, cuek, dan segudang masalah lainnya. Drama korea aja kalah kalau dibandingkan dengan drama sama dosen pembimbing.

Nah, untuk menghadapi dosen pembimbing, ada “seni” tersendiri yang perlu kamu lakukan. Diantaranya...

Soal sosok dosen, nggak usah terlalu picky

Di sebagian kampus, mahasiswa boleh mengajukan nama dosen pembimbing yang diinginkan, walau keputusannya tetap pada pihak kampus. Ada juga kampus yang menentukan sendiri. Kalau kamu diberi kesempatan "request", pilih yang keahliannya paling sejalan dengan tema skripsi/TKA kamu. Boleh lah kamu riset dulu "CV" si dosen.

Di sisi lain, jangan fanatik-fanatik amat ke dosen tertentu. Kalau dosen pembimbing yang ditentukan kampus nggak sesuai dengan keinginanmu, mau nggak mau ya terima aja. Jangan sampai kamu antipati duluan, karena bisa bikin suasana nggak asik dari awal.

Hubungi dengan sopan

Ada dosen yang kaku, ada juga dosen yang kesannya gaul dan seru. Gimana pun juga, mereka adalah pengajar kamu. Jika berkomunikasi, kamu mesti sopan dan bisa menempatkan diri.

Misalnya, nggak menghubungi di tengah malam, pakai salam, menyebutkan nama dan jurusanmu (mahasiswa do’i nggak cuma kamu doang, cuy!), memakai kata tolong, maaf dan terima kasih, serta lainnya. Sebaliknya, kalau kirim pesan/email jangan kepanjangan.  Nggak usah lah curhat berkepanjangan kayak cerpen.

Etika tersebut nggak hanya bikin komunikasi antara kamu dan dosen jadi lebih baik, tapi juga bisa menunjukkan "kelas" dan intelektualitas kamu.

Jangan datang bimbingan bak “kertas kosong”

Sebelum bertemu dosen, persiapkan dirimu, supaya nggak nge-blank ketika "dibantai". Yang perlu disiapkan antara lain:

  • Baca buku/teori/tulisan akademik yang terkait dengan topik yang ingin kamu angkat.
  • Cek lagi pekerjaan yang telah kamu buat/ide yang kamu siapkan. Pastikan kamu menguasai dan bisa menyampaikannya pada si dosen. Jadi saat pak/bu dosen nanya, misalnya, “Kenapa kamu pilih topik/metode ini?” kamu bisa menjawabnya.
  • Buat daftar pertanyaan serta hal-hal yang ingin kamu sampaikan ke si dosen.
  • Siapkan kelengkapan adminstratif yang diperlukan. Misalnya, surat dan dokumen yang perlu ditandatangani.

Perhatikan dan pelajari kecenderungan si dosen

Jika diperhatikan, karakter, kebiasaan, dan aura tiap dosen berbeda-beda. Ada dosen yang suka menjelaskan dan cerita panjang lebar, ada dosen yang inginnya serba praktis. Ada dosen yang suka bimbingan rame-rame, ada yang suka komunikasi lewat email, bahkan ada juga dosen yang cuma bisa dihubungi di hari tertentu.

Perhatikan deh, kecenderungan tersebut. Baru kamu bisa beradaptasi dan menghadapi si dosen. Misalnya, untuk dosen yang kegiatannya padat beut dan ngajar di mana-mana. Kamu bisa cek jadwal kelas beliau di kampusmu. Bikin deh, janji di sekitar waktu tersebut.  

Contoh lainnya adalah dosen yang  hanya butuh softcopy kemajuan skripsi kamu. Tapi ada juga dosen pembimbing yang pengennya pakai hardcopy. Tanyakan sedari awal mana yang menjadi preferensi dosen kamu.

Prinsipnya, lebih baik menunggu daripada ditunggu

Gimana kalau sampai kamu ditinggal dosen karena telat saat janjian. Or worse, si dosen sampai ngambek? Gara-gara nggak on time, skripsi kamu jadi ikutan nggak on time kelarnya. Kelulusan pun tertunda. Amit-amit!

Dosen pembimbing = tempat berdiskusi dan tempat evaluasi

Sah-sah aja kamu mengemukakan ide dan pemikiranmu pada dosen pembimbing, walaupun pendapat kalian beda. Lagipula skripsi/TKA tersebut adalah karya mahasiswa, bukan karya si dosen lho.

Tapiii… jangan menutup mata dan telinga dengan masukan dan kritikan si dosen. Apalagi kalau kamu merasa masukan dosen pembimbing agak bertentangan dengan rancangan skripsimu. Semua bisa didiskusikan, kok. Komunikasikan dengan baik bareng dosbingmu untuk menyamakan pemahaman dan mencari jalan tengahnya.

Biasanya, mahasiswa yang menutup diri dan nggak mau dengar masukan dosen pembimbing, hasil skripsi atau TKA-nya nggak maksimal. Bukan berarti itu karena dosen pembimbing sentimen sama kamu.

Revisi... lagi?

Jangan patah semangat dan nge-drop saat dosen pembimbing meminta revisi. Ingatlah bahwa kamu bersusah-payah untuk mendapatkan hasil yang terbaik, dan yang terbaik nggak muncul begitu saja tanpa perbaikan dan pembelajaran.

Jadi, kalau ada titipan revisi dari dosen, janganlah panik, galau, dan gundah gulana. Buang-buang waktu! Cara terbaik menghadapi revisian dari dosen pembimbing adalah...

  1. Dengar dan perhatikan penjelasan beliau baik-baik kenapa kamu harus revisi. Pastikan kamu paham alasan dosbingmu meminta kamu merevisi skripsimu. Revisi skripsi bukan akal-akalan dosen untuk bikin kamu sibuk, lho.

  2. Pastikan poin mana saja yang direvisi, dan catat seperti apa saran revisinya. Apakah hanya beberapa bagian, menambahkan bagian yang kelupaan, atau harus rombak total satu bab atau bahkan lebih.

  3. Kalau ada hal yang nggak kamu mengerti, tanyakan pada dosen pembimbing. Jangan gengsi, ya. Malu bertanya, sesat di saat sidang!

  4. Karena kamu tahu apa saja yang harus diperbaiki, maka jangan ulangi kesalahan yang sama di tahap selanjutnya. Ingat, mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang bisa belajar dari kesalahan.

  5. Jangan lupa bilang terima kasih sama dosen. Atas masukan… dan revisiannya. Hiks!

  6. Terakhir, terima revisian dengan lapang dada dan ikhlas. Semoga semua indah pada waktunya (dan dapat A pada sidangnya). Hehehe.

 

Tips Semangat Mengerjakan Skripsi Agar Kamu Nggak Terus-Terusan Skripsi-block

Ada kalanya kamu dilanda skripsi-block alias merasa “mentok” dan nggak mood untuk menyelesaikan skripsimu—entah karena jenuh, terlalu banyak revisi, atau hal-hal lainnya yang bikin kamu hilang semangat buat ngerjain skripsi.

Bahaya, gaes, kalau skripsi-block kamu berlangsung terlalu lama. Bisa-bisa jadwal penyelesaian skripsimu molor dan kamu nggak bisa wisuda tepat waktu! Berikut beberapa tips yang bisa kamu terapkan untuk mengatasi rasa stuck selama mengerjakan skripsi.

1. Bikin buddy system dengan temen-temen kamu yang juga lagi nyusun skripsi. Skripsian bareng sama temen se-geng bisa jadi kegiatan yang seru, lho. Selain bisa memotivasi satu sama lain, kamu juga bisa saling tukar pikiran dengan temen kamu yang kebetulan memiliki topik skripsi yang mirip. Sekiranya kamu merasa malas di tengah jalan, kamu pun bisa minta tolong geng kamu untuk mengingatkan kamu buat kembali semangat lagi.

2. Tentukan jadwal bimbingan rutin. Ketiadaan waktu bimbingan yang pasti selama ngerjain skripsi, bisa jadi biang kemalasan nih! Apalagi kalau dosbing kamu bukan tipe yang suka ngejar-ngejar progress mahasiswanya. Kalau udah gini, kamu pasti akan berpikir ‘Ah nanti aja deh masih lama’. Ujung-ujungnya kamu bakal ngerasa males dan skripsi pun jadi terbengkalai.

Solusinya? Buat perjanjian dengan dosen pembimbing untuk menyusun jadwal bimbingan rutin, misal satu atau dua minggu sekali. Dengan begini, kamu jadi ngerasa punya tanggung jawab untuk menyelesaikan skripsimu sesuai dengan target yang sudah ditentukan sebelumnya.

3. Pembimbing kamu super sibuk? Coba tawarkan untuk bimbingan via e-mail agar lebih praktis dan kamu tetap bisa ber-progress meski tanpa harus bertatap muka langsung. Dengan cara ini, kamu nggak akan lagi lama-lama stuck dan bingung sendirian dalam mengerjakan skripsi.

4. Temukan motivasi pribadimu buat ngelarin skripsi! Ingin segera lulus biar bisa membahagiakan orang tua? Mau cepet-cepet kerja? Pengen liburan? Atau mau balas dendam ke mantan dengan lulus duluan? Apapun itu, jadikan hal tersebut motivasi yang memacu kamu untuk segera menyelesaikan tugas akhir. Penat dan lelah mungkin akan datang menghampiri, tapi dengan mengingat motivasi-motivasi tadi kamu pastinya bakal dapet tambahan semangat untuk melanjutkan skripsi yang tertunda.

5. Bikin timetable dengan detil, lengkap dengan target mingguan yang ingin kamu capai. Dari timeline skripsi yang sudah disajikan di atas, kamu bisa bikin jadwal yang lebih detil dengan objektif yang lebih jelas untuk tiap minggunya. Memiliki goal dan perencanaan yang jelas merupakan langkah menuju sukses dan menghindarkan kamu dari "khilaf" lalai ngerjain skripsi sampai tiba-tiba udah di ujung semester.

 

Tips Sukses Sidang Skripsi: Do’s and Don’ts

Ada yang bilang “nasib” skripsimu akan bergantung di tangan penguji. Sidang skripsi pun menjadi momen yang sangat menentukan. Yup, gelar sarjanamu dipertaruhkan di sini. Sadis!

Skripsi bukan hanya sekadar melakukan riset dan menyusun karya akademik terbaik. Kamu juga harus mempresentasikan dan mempertanggungjawabkannya di depan penguji ahli.

Lah, memangnya ada yang nggak lulus sidang skripsi? Bukannya selama pengerjaan skripsi udah dibantai dan direvisi melulu sama dosen pembimbing?

Kenyataannya, memang ada mahasiswa yang nggak lulus sidang skripsi. Ada juga yang lulus, namun dengan hasil (nilai) yang mengecewakan. Keduanya jelas bukan pilihan dong, ya?! Maka, selain menyusun skripsi dengan sebaik-baiknya, kamu juga perlu memberi perhatian ekstra pada sidang skripsi.

Cek apa saja yang perlu  kamu lakukan dan hindari, demi hasil sidang skripsi gemilang dan paripurna.

Soal dosen penguji

Do: Cari tahu siapa penguji kamu dan latar belakang mereka. Seperti, program studi yang mereka ajar, profesi yang digeluti, dan lainnya. Dari situ kamu bisa punya gambaran hal-hal yang menjadi concern penguji, termasuk pertanyaan macam apa yang kira-kira bakal diberikan. Misalnya, dosen penguji yang dikenal sebagai aktivis lingkungan, kemungkinan akan memberi pertanyaan yang berkaitan dengan lingkungan.

Don’t: Meminta mengganti penguji. Who are you alias emangnya kamu siapa sampai bisa ngatur? Mungkin kamu mendengar desas-desus bahwa penguji A killer abis atau penguji B pelit nilai, tapi jangan sampai sok ide untuk meminta menukar penguji. Pertama, itu bukan wewenang kamu. Kedua, nggak etis. Ketiga, bisa bikin pihak kampus yang mengurusi bête. Keempat, bukan nggak mungkin hal ini sampai ke telinga si penguji. Nah, lo...

Soal penampilan

Do: Menganakan pakaian formal yang rapi dan nyaman. Selain bikin pede, penampilan yang baik bikin kamu terlihat meyakinkan dan siap.

Don’t: Berpenampilan ngasal. Ini bisa mengesankan kamu nggak serius dan belum siap menghadapi sidang. Sebaliknya, jangan juga pakai sesuatu yang nggak nyaman hanya supaya terlihat kece. Misalnya, sepatu yang kekecilan atau setelan pakaian yang panas. Hal ini bisa menjadi distraksi selama sidang.

Soal tipe sidang

Do: Biasanya, mahasiswa boleh memilih apakah akan sidang terbuka alias boleh disaksikan orang-orang (baca: sesama mahasiswa), atau sidang tertutup alias hanya dihadiri kamu dan penguji. Pilihlah tipe yang paling sesuai untukmu.

Don’t: Memilih tipe ujian karena disuruh teman/orang lain, padahal kamu nggak nyaman.

Soal presentasi dan public speaking

Do: Latihan presentasi skripsi dan tanya-jawab sidang di depan cermin atau dengan sparing partner.

Don’t: Berusaha menghafalkan kata per kata dari presentasi kamu. Selain menguras energi dan sulit, hal ini juga bikin kamu nggak leluasa berimprovisasi saat presentasi. Belum lagi kalau ada kata yang salah atau lupa, konsentrasi jadi gampang buyar.

Do: Siapkan slide presentasi dengan baik. Masukkan poin penting dalam skripsi untuk membantu kamu menjelaskan. Jika ada materi presentasi lain yang kira-kira sesuai, bisa dibawa. Misalnya, alat peraga, contoh objek yang diteliti, maket, dan lainnya.

Don’t: Memasukkan “semua” isi skripsi dalam slide presentasi. Mungkin penguji bakalan bertanya- tanya, apakah Itu materi presentasi atau isi ebook? #eaaa.

Do: Bicara dengan pelafalan jelas, nggak terburu-buru, dan terdengar. Beri penekanan pada hal-hal yang ingin kamu highlight, seperti permasalahan yang diangkat dan hipotesis.      

Don’t: Hanya membaca slide, nggak melakukan eye contact dengan penguji, atau berbicara terlalu pelan.

Do: Pikirkan baik-baik bagaimana kamu membuka presentasi  Apakah dengan menyebutkan fakta di lapangan yang mengejutkan, menyampaikan hipotesa, memberikan contoh kasus, atau lainnya. Ini ibarat paragraf pembuka di sebuah tulisan, harus menarik dan kuat, karena pada poin ini penguji lagi fokus padamu.

Don’t: Bertele-tele dalam mempresentasikan skripsimu. Mungkin kamu pengen memberikan pemaparan yang rinci dan jelas. Tapi  kebanyakan informasi dan nggak to the point bisa bikin jenuh.

Soal sesi tanyal-jawab saat sidang

Do: Percaya diri ketika menyampaikan isi skripsimu dan menjawab pertanyaan. Ingat, kamu lah yang paling tahu mengenai karya yang dibuat. Kamu yang melakukan riset, survei, wawancara, dan eksplorasi.

Don’t: Panik saat ditanya atau dicecar penguji. Dalam sidang, akan ada pertanyaan-pertanyaan yang menantang. Nah, ada penguji yang gayanya agresif seolah “menyerang”. Ini dilakukan untuk mengetes dan mendorong kamu menampilkan yang terbaik. Jangan harap sidang berisi puja-puji, gaes. Emangnya jumpa fans? Kamu harus siap tenang menghadapi cecaran. Kalau panik menguasaimu, bisa-bisa malah nge-blank.

Do: Jawab pertanyaan dengan argumen. Begitu pula jika ada perbedaan pandangan antara penguji dengan dirimu. Tetap hargai mereka. Berikan sanggahan dengan disertai fakta di lapangan serta teori yang mendukung.

Don’t: Emosional ketika menjawab pertanyaan. Don’t take it too personal!

Do: Meminta penguji mengelaborasi atau menjelaskan pertanyaan apabila menurutmu kurang jelas. Saat menjawab kamu juga bisa sedikit  mengulangi pertanyaan. Contohnya:

Penguji: “Kenapa Anda memilih sampel A dalam penelitian ini.”

Kamu: “Alasan mengapa saya memilih sampel A dalam penelitian ini adalah….”

Don’t: Memotong pertanyaan atau omongan penguji. Mungkin kamu lagi on fire pengen menjelaskan atau mempertahankan pendapat, tapi sabar dong, ah! Dengan nggak menyimak sepenuhnya apa yang disampaikan penguji, kamu bisa salah kaprah. Penguji pun bisa merasa nggak dihargai atau mengira kamu nggak konsen/kurang menguasai masalah. Jadi berabe, ‘kan?


Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©