Menu

Kenalan Sama Mahasiswa-Mahasiswa Tertua di Dunia

Males kuliah, capek dengan setumpuk tugas, nyerah ngadepin ujian, pengen kawin aja sama anak sultan Brunei? Don’t be! Lihat, dong, semangat para mahasiswa yang sudah manula.

Hah, emang ada? Yup, walaupun sudah seusia kakek-nenek bahkan buyut kita, namun ada, lho, orang-orang yang masih gigih mengejar ilmu.

Inilah para mahasiswa tertua yang sukses menuntaskan pendidikannya, and they are AWESOME!

Nola Ocs

Pendidikan: Menjadi Sarjana Sejarah di umur 95 tahun dan meraih gelar Master di usia 98 tahun.

Universitas: Fort Hays State University,  Kansas, Amerika Serikat                   

Sebenarnya, ibu empat anak ini kembali ke bangku kuliah di umur 60 tahun, setelah suaminya wafat. Namun ternyata, perjalanan back to school-nya nggak mulus dan sempat on-off alias berhenti-berhenti. Sehingga baru 35 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2007, Nola berhasil lulus.

Gimana, ya, hari-hari Nola di kampus? Awalnya, Todd Leahy, Ketua Departemen Sejarah, nggak yakin kalau Nola bisa mengimbangi mahasiswa lain yang masih muda. Tetapi setelah melihat performa Nola di kelas, Todd pun mengakui kehebatan dan kegigihannya.

Sementara Nola sendiri merasa happy dan nyaman saat gabung dengan mahasiswa yang lain. “[Para mahasiswa] menerima dan menghargai saya,” ungkapnya.

Serunya, ia diwisuda bareng sang cucu, Alexandra, yang berusia 21 tahun. Kompak banget! Wanita yang memiliki 13 cucu dan 15 buyut ini kemudian melanjutkan pendidikannya dan tercatat di Guinness World Records sebagai lulusan Sarjana dan Master tertua di dunia. Ia pun sempat jadi asisten dosen dan bekerja di kapal pesiar sebagai storyteller.

“Menurutku, setiap orang  harus mengejar mimpi mereka. Jangan pikir bahwa kita sudah terlalu tua untuk berbuat sesuatu. Aku sendiri sudah nggak pernah menghitung umurku,” ujarnya saat diwawancara oleh media.

Atomic Leow

Pendidikan: Menjadi Sarjana Kedokteran dan dokter di usia 66 tahun.

Universitas: University GT Popa of Medicine and Pharmacy, Romania

Punya anak, keponakan, dan sepupu yang berprofesi sebagai dokter—serta cucu yang juga masuk sekolah kedokteran!—membuat pria berkewarganegaraan Singapura ini juga ingin menjadi dokter.

Sebenarnya sih, Atomic sudah pernah kuliah, bahkan sampai mengantongi gelar PhD di bidang pertanian. Ia juga memiliki karir cemerlang sebagai hydroponic research scientist.

Namun di usia 60 tahun, pria yang punya filosofi hidup nothing is impossible if you set your mind on it ini meninggalkan comfort zone-nya. Ia terbang ke Romania untuk sekolah kedokteran. “Tantangan terbesar saya adalah harus bisa balik lagi menjadi pelajar setelah bertahun-tahun bekerja sebagai seorang profesional dan ilmuwan riset,” akunya.  

Ia pun menghadapi berbagai tantangan selama enam tahun mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran. “Generation gap antara saya dengan mahasiswa lain merupakan salah satu tantangannya. Saya juga harus beradaptasi dengan cuaca di sana yang sangat dingin,” ungkap pria yang pada bulan Juni lalu resmi menjadi dokter sekaligus lulusan dokter tertua di dunia.

Kepada generasi muda, dokter Atomic berpesan, “Berikanlah yang terbaik dalam apapun yang kamu lakukan,”

Hermain Tjiknang

Pendidikan: Meraih gelar Doktor Ilmu Hukum di usia 91 tahun

Universitas: Universitas Padjajaran, Bandung

"Usia boleh tua, tetapi belajar tidak ada batasan," itulah kata-kata Hermain Tjiknan, seorang pengajar program sarjana dan magister yang getol belajar.

Di usia lanjut, bapak kelahiran Bangka, 26 Juni 1922 ini mengikuti Program Doktor selama 5 tahun. Pria yang memiliki lima anak dan sembilan cucu ini sangat gigih dalam mengerjakan disertasinya yang sempat direvisi sampai tujuh kali. Kebayang nggak, sih? Paper atau skripsi dibalikin sekali aja bisa bikin kita pengen nangis!

Bahkan, karena Bapak Hermain sempat mengira flash disk yang berisi naskah disertasinya hilang, penyakit jantung beliau sempat kambuh sampai masuk ICU. Untunglah ternyata naskah tersebut utuh. Fiuh!

Ya, proses pengerjaan disertasi Bapak Hermain memang nggak mudah. Namun semangatnya juga nggak pernah surut. Dengan berkursi roda, ia diwisuda pada Februari 2014 silam. Sebulan setelahnya, beliau wafat.

Pria yang sempat ikut berjuang melawan penjajah Belanda di masa mudanya tersebut sempat mengingatkan generasi muda Indonesia supaya terus semangat menuntut ilmu, “Agar Indonesia maju, kita harus mencari pendidikan. Bagi saya, pendidikan sekarang jauh lebih baik dari sistem pendidikan pada zaman kolonial dulu,” ujarnya.

***

Beuh… Top banget, ya, mereka? Berarti sebagai yang lebih muda, kita mesti lebih bersemangat lagi, nih! *lap keringet*

Yang pasti kegigihan mereka perlu banget dijadikan motivasi dan contoh bagi banyak orang. Salut!

(sumber foto: Huffington Post, KPBS, greatnews, Universitas Padjajaran)

LATEST COMMENT
Ashput Tradhany | 9 jam yang lalu

Kak, kalau status saya mahasiswa di suatu ptn, jika saya ingin mengikuti sbmptn selanjutnya, apakah saya harus mencabut status mahasiswa saat ini?

Persiapan SBMPTN Buat Mahasiswa yang Ingin Mengulang
Luckman Lucifer | 15 jam yang lalu

Gak ada faedahnya untuk beberapa jurusan. Apalagi kalau mahasiswa cuman dijadikan sumber dana sama masyarakat

Kata Mahasiswa Soal Kuliah Kerja Nyata: Zaman Sekarang, Apa Faedahnya?
Maulida Nur Perdani | 22 jam yang lalu

bantu jawab ya.. kalau memang hanya minat di rumpun soshum, ambil soshum saja bisa kok, gak harus ipc ^^

Strategi Sukses IPC di SBMPTN Serta Pertimbangan Memilih IPC
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©