Menu

Persiapan Mental yang Harus Kamu Lakukan Ketika Mendaftarkan Diri Untuk Mendapatkan Beasiswa

Mendaftarkan diri untuk suatu beasiswa itu emang bukanlah proses yang mudah—apalagi untuk mendapatkannya. Persiapannya nggak boleh setengah-setengah dan dikebut semalem aja, sob!

Selain harus tetap menjaga nilai-nilai akademik dan kegiatan non akademik lainnya dalam batas yang memuaskan, kamu juga harus menyediakan syarat-syarat tertulis lain yang diwajibkan seperti CV, surat rekomendasi, sampai esai. Butuh waktu dan kerja keras yang nggak sedikit untuk mempersiapkan itu semua, dan kesungguhan kamu akan terlihat dari apa yang sudah kamu persiapkan.

Nggak cuma syarat-syarat akademik dan tertulis aja, mental kamu juga nggak kalah penting untuk dipersiapkan sebaik mungkin. Hal kecil (tapi paling krusial) yang nggak banyak orang yang tahu tentang beasiswa adalah terkadang persiapannya nggak cuma bikin lelah fisik, tapi juga lelah mental.

So, ada baiknya kalau kamu persiapkan mental kamu matang-matang sebelum siap mendaftar beasiswa, dengan cara…

1. Riset, riset, riset!

Gaes, apa yang kamu tahu soal beasiswa sejauh ini? Bisa belajar gratis karena dibayarin orang? Kalau iya, pengetahuan kamu mengenai beasiswa masih sangat, sangat minim.

Mental kamu bisa aja tiba-tiba benyek kayak tempe kegencet kalau kamu emang nggak memperkaya diri dengan pengetahuan mengenai beasiswa sebanyak-banyaknya dan sespesifik-spesifiknya.

Iya, dong. Masa kamu merasa siap aja petantang-petenteng akan menjalani sesuatu tanpa tahu apa yang sebenarnya akan kamu jalani?

1

Scholarship comes in many different “sizes” and “shapes”. Sebagai permulaan, kenali dulu jenis-jenis beasiswa berdasarkan cakupan, sumber, dan bentuk pembiayaannya. Setelah itu, cocokkan dengan kebutuhan pembiayaan studi kamu. Apakah kamu ingin beasiswa penuh karena kamu berasal dari keluarga yang kurang mampu? Atau kamu lebih suka beasiswa ikatan dinas karena ingin bekerja langsung di instansi tertentu?

Pelajari juga kriteria dan syarat-syarat spesifik yang diperlukan untuk mendaftar suatu beasiswa. Pastinya kamu nggak mau, dong, nyesek gagal seleksi cuma gara-gara “ngeyel” ikutan daftar beasiswa yang kriterianya aja nggak mampu atau bahkan sampai kelewatan untuk kamu penuhi?

Jangan sampai dilewatkan juga untuk perbanyak kepo seputar para penerima terdahulu beasiswa yang kamu incar. Tanya-tanya para alumni atau kakak kelas yang kamu kenal tentang bagaimana mereka bisa mendapatkan beasiswa yang kamu maksudkan. Dari sana, kamu bisa ambil karakteristik para penerima beasiswa dan apa yang harus kamu lakukan agar bisa berhasil seperti mereka.

Merasa masih butuh inspirasi? Coba, deh, baca pengalaman Yoga Febrian yang lolos seleksi beasiswa S1 ke Jepang setelah berkali-kali ditolak berikut ini.

2. Pasang target, bukan ekspektasi

Kesalahan besar yang bikin mental para pencari beasiswa gampang runtuh adalah keburu kemakan “angin surga” yang didapatkan setelah riset. Duh, padahal penerima beasiswa itu membawa tanggung jawab yang lebih besar dari yang kamu bayangkan!

Sejak awal, kamu harus paham sepaham-pahannya kalau beasiswa hanya akan datang pada mereka yang gigih berusaha. Mulai dari berusaha belajar dan menuai prestasi untuk dapat memenuhi kriterianya sampai kalang kabut kesana kemari ngurusin berkas anu-itu untuk melengkapi persyaratannya.

Kamu harus tahu bahwa mereka yang berhasil mendapatkan beasiswa bukanlah mereka yang memasang ekspektasi, melaikan target.

Yup, kalau kamu hanya berandai-andai dengan apa yang bisa kamu lakukan jika kamu mendapatkan beasiswa, kamu nggak akan bergerak kemana-mana. Tapi, kalau kamu memasang target alih-alih hanya berekspektasi, kamu nggak akan kecewa dengan apa pun hasil yang akan kamu dapatkan.

Dengan memasang target, kamu akan tahu apa tujuan kamu yang sebenarnya dalam mendaftar suatu beasiswa. Kamu tahu apa yang akan kamu lakukan, dan hal itu dapat menjadi pendorong positif yang akan tercermin pada kesungguhan kamu dalam menjalani prosesnya. Ingat, nggak ada kesempatan bagi mereka yang cuma berusaha setengah-setengah untuk mendapatkan beasiswa!

2

Kalau kata ibunya Forrest Gump, sih, hidup itu bak sekotak cokelat—kamu nggak akan tahu apa yang akan kamu dapatkan. Karena hidup itu penuh kejutan, jangan mudah berkecil hati jika menemui kegagalan dan terus berusaha sampai mencapai kesuksesan, ya!

(sumber gambar: cdn.com, pemci.coop, bravoforpaleo.com)

LATEST COMMENT
Dinnookk | 43 menit yang lalu

Kasus serupa dengan saya wkw

Q & A Tanya Youthmanual: Bedah Jurusan Ilmu Komunikasi
Suho Wife | 6 jam yang lalu

Kak di unbraw nggak ada bisnis internasionalnya ka?

Daya Tampung SNMPTN 2019 di Universitas Brawijaya
Sheila Amadea | 1 hari yang lalu

Hai, aku bantu jawab. Aku Sheila, saat ini mahasiswi Okupasi Terapi UI tahun kedua. Prospek kerja di daerah bukan perkotaan justru besar banget. Kalau bisa dibilang, Okupasi Terapi adalah salah satu jurusan yang jarang ditemui di Indonesia. Di Bogor, tempat tinggalku sekarang aja hanya ada 1 orang Okupasi Terapis di RS, dan belum termasuk mahasiswa yang sedang praktek klinik atau magang di RSJ (dari info yang aku tahu sejauh ini, ya. Mungkin saat ini sudah bertambah di klinik-klinik). Kalau kamu dari daerah yang jauh dari kota, kemungkinannya sangat sangat besar tenaga Okupasi Terapis dibutuhkan. Jadi, kalau kamu tertarik dengan jurusan ini dan saat ini tinggal di daerah bukan perkotaan, ini jadi peluang yang buagus banget buat kamu meningkatkan kesejahteraan daerah kamu sendiri. Semangat!

Mengenal Lebih Dekat Program Studi Okupasi Terapi
priandari | 1 hari yang lalu

sistem penilaian untuk tesnya bagaimana ya kak?

Serba-Serbi Seleksi Mandiri Universitas Airlangga
Puan Nur R | 2 hari yang lalu

Mau tanya kak kalau ketrima sbmptn boleh ikut Ujian Mandiri atau tidak ya?

10 Perubahan Penting SNMPTN dan SBMPTN 2019
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©