Menu

Kata Jokowi, Penerimaan Mahasiswa di PTN Perlu Dibatasi. Bagaimana Nasib Calon Maba 2018?

Kata Presiden Joko Widodo, Perguruan Tinggi Negeri perlu dibatasi, baik jumlah mahasiswanya maupun fokus studinya. Pernyataan Presiden Jokowi ini sekaligus merespon apa yang disampaikan Budi Djatmiko Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) bahwa PTN banyak mengambil “jatah” mahasiswa baru. Apa yang terjadi jika kuota mahasiswa baru PTN dikurangi pada 2018 mendatang? Apakah peluang menembus SNMPTN, SBMPTN, atau seleksi mandiri bakalan makin sulit?

Dibatasi 3000 Maba

“Perguruan Tinggi Negeri memang harus dibatasi,” ungkap Presiden Jokowi saat penutupan Rembuk Nasional APTISI di Universitas Esa Unggul 29 November lalu. “Saya lebih senang kalau perguruan tinggi itu fokus. Tidak semuanya diambil. Mahasiswanya diambil semuanya. Ada PTN yang mahasiswanya lebih dari 30,000 bahkan 40,000,” begitu kritik beliau.  

Sementara itu APTISI meminta pada Presiden agar mengurangi kuota penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri, yaitu maksimal 3,000 – 3,500 maba S1 reguler per PTN. Padahal selama ini banyak PTN yang menerima maba lebih dari jumlah tersebut. Misalnya, daya tampung maba S1 Universitas Brawijaya tahun 2017 lalu adalah 10,000 orang. Ini saja sudah turun dibandingkan kuota tahun sebelumnya yaitu 12,000 maba S1, dan tahun 2013 mencapai 16,000 maba. Yup, memang Universitas Brawijaya merupakan perguruan tinggi yang membuka kuota terbanyak untuk maba, dan merupakan kampus yang paling banyak dipilih calon mahasiswa pada SBMPTN 2017 lalu.

Sementara Universitas Indonesia menyediakan kuota S1 reguler pada 2017 sebanyak 4,860 kursi, dengan perincian 30 persen kuota atau 1,478 kursi untuk jalur SNMPTN  dan 70 persen atau 3,382 kursi untuk SBMPTN.

Kuota PTN dikurangi, Bagaimana Peluang Maba 2018?

Bagaimana jika daya tampung mahasiswa S1 di perguruan tinggi negeri beneran dikurangi? Nah, begini gambaran seleksi dan penerimaan mahasiswa baru tahun 2018.

* Jika kuota penerimaan maba S1 per PTN hanya 3,000-3,500 mahasiswa, maka Universitas Brawijaya harus menurunkan kuota hingga 65-70 persen. Sementara UI harus menurunkan kuota hingga sekitar 25-30 persen dan kuota Universitas Padjadjaran bakal turun hingga separuh lebih (lebih dari 50 persen)!

* Sebagian besar PTN bakalan menurunkan daya tampungnya. Berikut ini jumah kuota penerimaan maba 2017 beberapa PTN dari jalur SBMPTN. Jumlah ini belum termasuk penerimaan lewat jalur SNMPTN, yang minimal 30 persen dari total daya tampung, dan jalur seleksi mandiri.

Yup, kampus di atas bakalan mengurangi kuota mahasiswa baru mereka hingga 25–60 persen, seandainya jumlah mahasiswa baru di PTN dibatasi.

* Peluang kamu untuk masuk SBMPTN adalah sekitar 18 persen. Ini berdasarkan jumlah peserta SBMPTN 2017 lalu yang mencapai 797,023 orang, sementara daya tampungnya 148,066 mahasiswa. Kalau kuota SBMPTN 2018 dikurangi, bisa-bisa peluangnya cuma tinggal 10 persen, sob. Artinya kemungkinan sekitar 700 ribu peserta SBMPTN 2018 terancam gagal. Waks!

* Gimana dengan SNMPTN? Tahun lalu sih, peluangnya sekitar 19 persen dengan peserta 517,418 dan yang diterima 101,906 mahasiswa. Seandainya dikurangi, peluang lolos SNMPTN kemungkinan tinggal sekitar 10-12 persen aja. Atau bisa jadi, jatah siswa yang bisa ikutan seleksi SNMPTN di SMA-SMA bakalan jauh berkurang.

* Seleksi mandiri pun bakalan lebih ketat, karena pesertanya semakin banyak (dari yang nggak lolos SNMPTN dan SBMPTN), sedangkan daya tampung yang tersedia makin kecil.

* Jika melihat gambaran di atas, secara umum seleksi perguruan tinggi negeri bakalan  kompetitif abis. Kalah deh, Hunger Games! #lebay 

* Kemungkinan besar, jika daya tampung S1 reguler berkurang, pendaftar program vokasi dan S1 pararel akan melonjak. Ini terutama bagi calon mahasiswa yang memang bertekad masuk PTN.

* Pendaftar perguruan tinggi swasta juga otomatis mengalami peningkatan.

***

Pengurangan jumlah mahasiswa baru PTN masih menjadi wacana, yang artinya bisa saja dilakukan dan bisa saja tidak/belum dilakukan pada penerimaan mahasiswa baru 2018 mendatang. Presiden sendiri sudah memberi sinyal agar perguruan tinggi, terutama PTN, nggak memiliki terlalu banyak mahasiswa. Tentu tujuan utamanya adalah peningkatan kualitas pendidikan.

Kalau menurut Youthmanual sih, jumlah banyak atau sedikit mahasiswa itu relatif. Yang terpenting adalah apakah fasilitas yang tersedia memadai bagi mahasiswanya, bagaimana kualitas pendidikannya, serta apakah rasio dosen-mahasiswa sudah ideal.

Di sisi lain, bagi kamu yang punya mimpi masuk PTN, mesti tahu bahwa persaingannya berat. Dengan daya tampung saat ini saja sudah sangat kompetitif, apalagi jika kuotanya sampai dikurangi. Artinya, kamu perlu mempersiapkan diri dengan optimal. Do your best and good luck!

LATEST COMMENT
Khaedirul faqih | 11 jam yang lalu

karena bidikmisi itu sesuai dengan yang lebih dahulu mengeluarkan pengumuman

Program Bidikmisi Jalur SNMPTN, SBMPTN dan Ujian Mandiri/PMDK/UMPN 2019
Khaedirul faqih | 11 jam yang lalu

kalo ga salah disuruh prioritaskan yang lebih dahulu keluar pengumuman

Program Bidikmisi Jalur SNMPTN, SBMPTN dan Ujian Mandiri/PMDK/UMPN 2019
Rudjanah Widya Sari | 17 jam yang lalu

Boleh kok S1/S2 itu diambil kan cuman sebentar klo udh slesai D4 nya

Apa Sih, Bedanya D1, D2, D3, D4 dan S1?
Arifin Yuwono | 17 jam yang lalu

Kebetulan saya jg lulusan Gizi dari AKZI Depkes RI. Maaf hanya ingin sharing saja. Terimakasih

Profesiku: Ahli Diet dan Nutrisi, Irna Herawati
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©