Menu

Cara Keren SMA Kolese Kanisius Meningkatkan Sikap Toleransi Beragama Muridnya. Harus Banget Ditiru Sekolah Berbasis Agama Lainnya!


Setiap sekolah pasti ingin siswanya punya moral dan toleransi yang baik. Cara menerapkannya pun ada macam-macam. Bagi Youthmanual, salah satu cara yang menarik banget adalah yang diterapkan SMA Kolese Kanisius, Jakarta, yaitu dengan "menceburkan" siswanya ke lingkungan dengan konteks religi yang berbeda dengan agama mereka. Intip, yuk!

***

Setiap tahun, tepatnya di bulan Oktober, SMA Katolik Kolese Kanisius Jakarta (atau Canisius College, disingkat CC aja ya, gaes), punya program yang unik dan seru banget, bernama Pekan Sosial.

Pekan Sosial ini ditujukan untuk semua siswa di SMA CC, namun kegiatannya berbeda-beda untuk setiap angkatan.

Jadi, siswa kelas 10 mengikuti acara Jambore Canisius College (JCC), alias acara perkemahan. Tahun ini, mereka berkemah di Gunung Puntang, Malabar, Jawa Barat

Sementara siswa kelas 11 melaksanakan kegiatan live-in, di mana mereka diberikan kesempatan untuk merasakan hidup sederhana di tengah-tengah masyarakat pedesaan. Tahun ini, mereka live-in di sebuah desa di daerah Kulon Progo, Yogyakarta.

Nah, untuk kelas 12, ekskursi mereka nggak kalah seru, gaes.

Menurut saya, yang membuat ekskursi ini seru—dan penting—adalah temanya, yaitu pluralisme.

Pada tanggal 17 Oktober 2016, siswa kelas 12 SMA CC mengikuti seminar yang diadakan oleh sekolah, bertema "Indahnya Plurarisme Beragama" di Indonesia.

Setelah itu, dari tanggal 18 sampai 21 Oktober, siswa kelas 12 tersebut dipecah menjadi tiga kelompok—kelompok yang live-in di sebuah pesantren di Jawa Barat, kelompok yang sit-in di sekolah-sekolah non-Kristen/non-Katolik, dan kelompok yang membuat karya berupa film dan animasi pendek bertema anti radikalisasi.

Program sit-in yang menarik

Minggu lalu, tanggal 18 Oktober 2016, saya kebetulan berkunjung ke sebuah sekolah Islam di Jakarta, SMA Lazuardi Global Islamic School, dan (nggak sengaja) bertemu dengan beberapa siswa kelas 12 SMA CC yang sedang sit-in di sana.

Jadi, selama empat hari, mereka duduk dan bersekolah sebagai “siswa sementara” SMA Lazuardi, yang notabene sekolah Islam dan punya rutinitas dan nilai-nilai keagamaan yang berbeda dengan SMA CC, sebuah sekolah Katolik.

Siswa-siswi SMA Lazuardi Global Islamic School

Pada hari Minggu, 23 Oktober 2016, saya ngobrol via telepon dengan Pak Arwanto, guru bahasa Indonesia di SMA CC, yang juga salah satu guru pendamping dalam program Pekan Sosial ini.

Menurut beliau, untuk program sit-in ini, pesertanya disebar ke berbagai SMA non-Kristen/non-Katolik di Jakarta, yaitu SMA Lazuardi Global Islamic School (Islam), SMA Madania Bogor (Islam), SMA Garuda Cendikia (umum), SMA Tri Ratna (Buddha), SMA Atisa Dipamkara (Buddha), dan SMA Cinta Kasih Tzu Chi (Buddha).

Selama program ekskursi ke sekolah atau pesantren ini, setiap siswa pesertanya harus merefleksikan hal-hal yang mereka alami dalam satu hari, yang dicatat dalam sebuah buku laporan khusus.

Kata Devin Sebastian, salah satu siswa SMA CC yang sit-in di SMA Lazuardi, “Untuk kegiatan ekskursi ini, kita diberikan satu buku. Setiap hari, buku itu harus diisi dengan refleksi atau hal-hal apa aja yang kita dapatkan selama mengikuti program ini.”

Sementara kata Demos Shakarian, “Kita juga diberikan satu kertas yang isinya adalah kolom penilaian. Jadi kita harus menilai sesama teman kita yang sit-in. Penilaiannya, misalnya, selama sit-in, apakah dia ngobrol sama murid lain atau nggak, apakah dia ikut kegiatan sekolah apa nggak, dan sebagainya”

Keren banget! Jujur aja, saya sangat kagum, terharu, dan senang sekali SMA CC membuat inisiatif program seperti ini. Bagaimana juga, awal dari kebencian adalah ketidaktahuan, dan SMA CC membuat agar siswanya jadi "tahu", sehingga tidak jadi "benci".

4 dari 6 siswa SMA CC yang sit-in di SMA Lazuardi Global Islamic School. Devin berdiri paling kanan, Demos berdiri kedua dari kanan

Anak muda perlu memahami pluralisme

Memang, masyarakat Indonesia—terutama sekarang ini—amat, sangat butuh paham bahwa kita adalah masyarakat plural yang beragam, tetapi harus tetap bersatu di bawah semboyan bhinneka tunggal ika.

Menurut Pak Arwanto, “Tujuan [program ekskursi ini] supaya siswa paham persis, bahwa kita berbeda-beda tetapi hidup berdampingan bersama.”

Bagaimana dengan reaksi para siswa kelas 12 yang ikut ekskursi ini? Kata Pak Arwanto, yang saya ajak ngobrol pada hari Minggu, 23 Oktober 2016, “Saya belum dengar atau baca langsung laporan dari anak-anak. Tapi saya lihat foto-foto dari guru pendamping mereka, ekspresinya ceria-ceria sekali. Tampaknya senang, ya.”

Sementara sewaktu saya bertemu dengan siswa-siswa SMA CC di SMA Lazuardi, sebenarnya itu adalah hari pertama mereka sit-in, jadi mungkin belum terlalu banyak hal yang mereka rasakan.

Meski begitu, saya tetap bertanya, bagaimana kesan-kesan menjadi siswa SMA Lazuardi? Menurut Devin, “Di sini, belajarnya asyik juga. Kalau guru sedang menjelaskan, semua murid langsung fokus.”

Sementara kalau kata Demos, “Di sini seru, sih. Malah kayaknya lebih seru [daripada Kanisius], nggak tahu kenapa. Apa mungkin karena di sini ada… murid perempuannya? Hahaha, nggak deng! Nggak ngaruh, kok!”

Hehehe, oya, sebagai informasi SMA CC adalah sekolah Katolik khusus laki-laki, sementara SMA Lazuardi sekolah umum yang terbuka untuk laki-laki maupun perempuan.

“Gurunya juga seru-seru semua,” tambah Demos.

Menurut Davin dan Demos, di luar mata pelajaran keagamaannya, belum ada perbedaan yang terlalu terasa selama menjadi "siswa sementara" SMA Lazuardi. Hanya saja, mereka masih membiasakan diri dengan ritual siswa SMA Lazuardi, yaitu melafalkan doa sebelum mulai belajar setiap pagi, lalu mengulas surat-surat pendek dari Al-Quran.

Namun kemudian Demos menambahkan, “Kendalanya paling di transportasi, sih. Sekolah nggak memberikan transportasi, ataupun akomodasi dekat sini. Sementara rumah kita di daerah Sunter semua. Kanisius sendiri di Menteng.”

FYI, SMA Lazuardi terletak di Sawangan, yang jaraknya dari Sunter kurang lebih seperti Planet Mars ke bumi. Jauh banget! Belum lagi macetnya.

Praduga yang nggak terbukti

Menurut Pak Arwanto, dugaan atau apriori tentang susahnya masyarakat menerima perbedaan nggak terbukti.

Maksudnya?

“Selama ini, orang cenderung berpikir bahwa banyak masyarakat yang susah menerima perbedaan.

Realitanya, setelah kami melakukan inisiatif memasukkan siswa-siswa SMA CC ke sekolah-sekolah yang konteks religinya berbeda, ternyata mereka disambut dengan sangat baik. Nggak ada masalah sama sekali,” ujar Pak Arwanto.

Bahkan beliau nggak menyangka bahwa minat siswa kelas 12 terhadap program ekskursi ini tinggi.

“Kami tadinya agak pesimis dengan kegiatan live-in dan sit-in dalam ekskursi ini. Lho, kok, ternyata malah membludak? Ternyata minat para siswa tinggi, sampai tidak semuanya tertampung. Karena waktu yang kami punya untuk mencoba melobi sekolah-sekolah juga terbatas.”

Karena keterbatasan tempat, nggak semua siswa kelas 12 bisa ikut dalam program ekskursi ini. Yang tertampung hanya sekitar 70 siswa.

Buku refleksi dan lembar penilaian yang harus diisi oleh siswa setiap hari, selama ekskursi

Seperti yang disebutkan di atas, siswa yang nggak ikut ekskursi diberikan kesempatan membuat karya film dan animasi pendek, namun dengan tema yang tetap sejalan, yaitu pluralisme dan anti radikalisasi.

Hasilnya baru disajikan kemarin, Senin, 23 Oktober 2016.

Nah, Pak Arwanto sendiri adalah guru pendamping dalam proyek ini. “Arah [karya]nya seperti iklan layanan masyarakat, untuk menyadarkan masyarakat bahwa kita ini plural, dan harus berpikir lebih lanjut tentang radikalisasi.”

Percobaan perdana

Tema kesadaran pluralisme ini baru pertama kalinya diangkat dalam Pekan Sosial SMA CC tahun ini, lho.

Tahun-tahun sebelumnya, ekskursi untuk anak-anak kelas 12 adalah dalam bentuk kerja magang di berbagai perusahaan, sesuai minat dan bakat masing-masing siswa.

Namun, menurut Pak Arwanto, tahun ini SMA CC menghadirkan tema pluralisme karena kebutuhannya semakin mendesak. Anak-anak muda harus semakin berefleksi tentang keberagaman, dan sadar tentang pentingnya toleransi perbedaan.

“Tema program ini memang untuk menjawab kebutuhan. Kemarin baru ada kejadian di Tangerang. Dan setiap hari, ada aja demo-demo fitnah nggak karuan.

Harapannya, dengan program ini, anak-anak bisa menyerap nilai-nilai pluralisme, dan paham bahayanya radikalisasi.”

Siswa kelas 12 SMA CC yang "mondok" beberapa hari di pesantren

***

Salut untuk SMA Kolese Kanisius, dan semoga Pekan Sosialnya sukses terus setiap tahun, ya!

Baca juga:

(sumber gambar: huffingtonpost.com, Instagram @sma.kolese.kanisius, Laila Achmad)


92% Mahasiswa Merasa Salah Jurusan Kuliah. Jangan Sampai Kamu Menyesal!

Cari tahu minat, potensi dan kemampuanmu. Dapatkan rekomendasi jurusan kuliah dan profesi yang paling sesuai. Daftar sekarang dan gabung dengan ratusan ribu siswa lainnya di platform persiapan kuliah dan karier no 1.


How does it make you feel?

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2017 Youthmanual ©