Menu

Hal-Hal Kecil Tapi Penting di Tahun Pertama Kuliah

Bagi mahasiswa baru, tahun-tahun terberat di kampus adalah tahun pertama (karena masih adaptasi) dan tahun terakhir (karena harus berhadapan dengan skripshhh… *sinyal hilang*).

Maka kalau sebelumnya Youthmanual sudah mengulas hal-hal yang penting dilakukan mahasiswa di tahun pertama, kali ini kami akan membahas… hal-hal yang penting dilakukan mahasiswa baru di tahun pertama juga!

Lha, kok?

Bedanya, yang dibahas kali ini adalah hal-hal yang kayaknya sepele, padahal sebenarnya krusial untuk mendukung perkuliahan di tahun pertama.

New students, pay attention!

Lindungi File
Selalu buat file cadangan. File seorang mahasiswa terlalu berharga untuk hilang begitu aja akibat kesalahan-kesalahan teknis. Mitamit!

Selain itu, selalu lindungi komputer dari virus dan malware. Dan jangan buka website aneh-aneh, ya *uhuk*

Don’t Be A Sheep
Ambil kelas karena kamu tertarik dan tertantang dengan kelas tersebut, bukan karena sekedar ngikut teman. Udah gede, sob. Broaden your horizon. Don’t be a sheep.

Jangan Remehkan Silabus
Di awal semester, dosen biasanya membagikan silabus atau rancangan pembelajaran. Namun seringkali silabus tersebut langsung dibuat kipas-kipas atau bungkus gorengan oleh mahasiswa, tanpa dilirik-lirik dulu.

Read the syllabus. Keep the syllabus. Silabus adalah sumber informasi apa yang penting dan apa yang nggak dalam sebuah mata kuliah. Misalnya, bagi mata kuliah A, absensi nggak penting, tapi tugas akhir penting banget. Mata kuliah B malah nggak ada tugas akhir, tapi bobot absensi dan kuis besar. Hal-hal begini ‘kan perlu diperhatiin.

Kalau jeli, kadang silabus juga menyimpan petunjuk hal-hal yang akan di-highlight oleh dosen dalam ujian nanti.

Catat Mencatat

Pertajam skill mencatat di kelas. Dengarkan baik-baik penjelasan dosen, cerna, dan catat key points-nya. Jangan nyatet semua hal yang keluar dari mulut dosen, ya. Kamu ‘kan mahasiswa, bukan beo yang cuma, well, asal membeo.  Pahami—bukan hanya hapal—apa yang kamu catat.

Kebiasaan mencatat ini juga akan membuat kamu lebih alert di kelas, nggak ngantuk aja di pojokan.

Pegal-pegal dan tremor pada jemari akan terbayar saat ujian, kok, ketika ternyata 80% bahannya dari penjelasan dosen di kelas, bukan hanya dari textbook. Hore! Siapa tau 'kan?

Coba Hal-Hal Baru
Walaupun kamu pemalu atau introvert, coba hal-hal baru, deh. Jangan langsung menolak sebuah kesempatan asing—misalnya, gabung ke sebuah klub atau datang ke sebuah event kampus—sebelum kamu cobain sekaliii aja.

Follow dan Join

Setelah keterima jadi mahasiswa, follow segala akun media sosial universitas kamu. Entah itu akun media sosial universitas, fakultas, jurusan, BEM, atau komunitas mahasiswa pilihanmu. Akun-akun ini adalah ladang informasi yang subur bagi mahasiswa baru.

Kamu juga bisa gabung ke grup Facebook, Line, atau Whassap kelompok-kelompok diatas. Dicoba dulu aja. Kalau ternyata ada yang genggeus dan nggak cocok, cabut!

Siapin Kuota
Kemungkinan besar, kuota internet smartphone kamu akan banyak kesedot untuk media sosial dan aplikasi chatting, karena dalam kehidupan mahasiswa, komunikasi dan informasi itu krusial.

Tetapi selain untuk kepo-kepoan dan tuker-tuker informasi, kuota internet juga diperlukan untuk kegiatan perkuliahan. Kalau pas nggak nemu wi-fi, mau nggak mau kamu beralih ke provider smartphone ‘kan?

Wan! Cu! Wan-Cuci!
Kalau kamu ngekos atau tinggal di asrama, dari rumah, siapkan baju yang minimal cukup untuk dua minggu sebelum harus dirotasi. Ini adalah jumlah yang ideal supaya kamu nggak harus keseringan nyuci, tapi juga nggak kudu pakai ulang baju-baju yang udah bau ketek.

Meski demikian, sebelum keluar dari rumah orangtua, sebaiknya kamu udah tau cara nyuci baju yang benar, baik manual maupun pake mesin.

Pahami Info Medis
Kamu juga harus paham info medis diri sendiri, seperti golongan darah, alergi obat, dan sejarah penyakit bawaan. Seandainya ada kejadian darurat di kampus, kamu ‘kan jauh dari orangtua.

Don’t Judge
Biasanya, teman-teman sekolah kamu dari SD sampai SMA punya profil yang serupa dengan kamu. Namun di universitas, teman-teman kamu datang dari Sabang sampai Merauke, dengan ras, agama, latar belakang budaya dan ekonomi serta pola pikir yang berbeda-beda.

Kemungkinan besar kamu akan culture shock. Kemampuan bersosialisasi kamu pun tertantang, karena jadi harus luwes bergaul dengan orang-orang diluar comfort zone.

Maybe you will enjoy it, maybe you won’t. Yang pasti, selalu akan ada godaan nge-judge seseorang. Misalnya, “Ih, becandaan tuh orang norak banget. Kampungan.” Atau, “Tuh, si anak orang kaya yang nggak pernah susah.” You will want to judge everyone about everything akibat profil mereka yang sangat berbeda dengan profil kamu sendiri.

For your own sake, don’t. Walaupun nge-judge-nya cuma dalam hati, ya. Kebiasaan ini akan jadi penyakit hati dan bikin pikiran kamu sempit dan picik.

Bukan berarti kamu harus suka sama semua orang, tetapi sebelum kamu memutuskan untuk nggak suka sama si A atau si B, open your mind and always be kind first.

“Halo? Mama?”

Last but not least, kalau kamu anak rantau, buat jadwal rutin untuk kontak-kontakan dengan keluarga. Jangan cuma chatting di smartphone, tapi juga telponan atau bahkan video chat dengan mereka. Setua dan sesibuk apapun kita, kita akan selalu butuh family connection. Mereka juga kangen kamu, lho, hiks. *lap airmata*

(sumber gambar: ideastalk.ph, thenextweb.com, billydteacher.wordpress.com)

LATEST COMMENT
Sheila Amadea | 12 jam yang lalu

Hai, aku bantu jawab. Aku Sheila, saat ini mahasiswi Okupasi Terapi UI tahun kedua. Prospek kerja di daerah bukan perkotaan justru besar banget. Kalau bisa dibilang, Okupasi Terapi adalah salah satu jurusan yang jarang ditemui di Indonesia. Di Bogor, tempat tinggalku sekarang aja hanya ada 1 orang Okupasi Terapis di RS, dan belum termasuk mahasiswa yang sedang praktek klinik atau magang di RSJ (dari info yang aku tahu sejauh ini, ya. Mungkin saat ini sudah bertambah di klinik-klinik). Kalau kamu dari daerah yang jauh dari kota, kemungkinannya sangat sangat besar tenaga Okupasi Terapis dibutuhkan. Jadi, kalau kamu tertarik dengan jurusan ini dan saat ini tinggal di daerah bukan perkotaan, ini jadi peluang yang buagus banget buat kamu meningkatkan kesejahteraan daerah kamu sendiri. Semangat!

Mengenal Lebih Dekat Program Studi Okupasi Terapi
priandari | 16 jam yang lalu

sistem penilaian untuk tesnya bagaimana ya kak?

Serba-Serbi Seleksi Mandiri Universitas Airlangga
Puan Nur R | 23 jam yang lalu

Mau tanya kak kalau ketrima sbmptn boleh ikut Ujian Mandiri atau tidak ya?

10 Perubahan Penting SNMPTN dan SBMPTN 2019
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©