Menu

Sekilas Serba-Serbi Beasiswa Bidikmisi

Bagi kamu yang belum tahu, sejak tahun 2010, pemerintah Indonesia meluncurkan program beasiswa Bidikmisi. Beasiswa ini merupakan bantuan biaya pendidikan kuliah untuk siswa dari keluarga tidak mampu. Menurut Bidikmisi, kriteria “tidak mampu” adalah kalau kamu adalah pemegang Kartu Indonesia Pintar, atau kalau penghasilan kedua orangtuamu maksimal 3 juta rupiah per bulan. Selain biaya kuliah, Bidikmisi juga mencakup biaya hidup selama kuliah, lho, gaes.

Saya sendiri adalah alumni penerima beasiswa Bidikmisi. Maka selama empat tahun lebih dua bulan, kuliah saya dibiayai oleh pemerintah, melalui beasiswa Bidikmisi. Nah, kali ini saya ingin berbagi serba-serbi beasiswa Bidikmisi. Yuk, simak!

1. Besar biaya hidup setiap kampus berbeda-beda

Tiap semester, setiap mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi akan mendapat uang enam juta per semester. Uang tersebut mencakup biaya kuliah dan biaya hidup. Uang ini akan ditransfer dari Kemenristekdikti ke tiap-tiap kampus.

Selanjutnya, pihak kampus akan meneruskan uang tersebut ke masing-masing mahasiswa penerima beasiswa. Umumnya, biaya kuliah akan otomatis dipotong oleh pihak kampus, dan mahasiswa akan menerima biaya hidup saja per bulan, atau langsung kumulatif per semester.

Nah, besar biaya hidup yang diberikan Bidikmisi berbeda-beda di tiap kampus. Umumnya, besar jumlahnya disesuaikan dengan biaya hidup kota setempat dan aturan keuangan universitas.

Dulu, ketika berkuliah di ITB, saya mendapat biaya hidup Rp950,000 per bulan, dan mungkin ini adalah biaya hidup Bidikmisi terbesar di antara kampus-kampus lain, hehehe. Berbeda dengan beswan Bidikmisi di UGM, yang mendapatkan biaya hidup Rp600,000 per bulan. Adil aja, sih, biaya hidup di Jogja memang lebih murah dibandingkan dengan di Bandung.

2. IP kamu akan diawasi setiap semester

Setiap semester, prestasi akademik mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi dimonitor. Sebagai penerima beasiswa, hal ini wajar, dong, ya. Standar IP minimum mahasiswa Bidikmisi adalah 2,75.

Bentuk monitoringnya macam-macam, tetapi kalau saya dulu diminta untuk mengisi formulir laporan kemajuan semester. Dalam formulir tersebut, ada kolom IP tiap semester, organisasi dan kepanitiaan yang diikuti, serta prestasi yang diraih. Kalau ada mahasiswa Bidikmisi yang bermasalah atau telat mengumpulkan laporan ini, nanti pencairan uang beasiswanya bisa ditunda. Jadi jangan sampai terlambat mengumpulkan ya, gaes.

Trus, apa yang akan terjadi gimana kalau IP kita kurang dari 2,75? Biasanya mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi yang nilainya kurang, akan mendapat Surat Peringatan (SP) 1 terlebih dahulu. Harapannya supaya mahasiswa yang bersangkutan lebih memperhatikan nilai akademiknya. Kalau dia sampai mendapatkan SP 3, beasiswa Bidikmisinya akan dicabut.

Jangan terlalu khawatir, gaes. Menurut pengalaman saya dan teman-teman sesama penerima Bidikmisi, asalkan kamu rajin masuk kuliah, mengerjakan tugas, dan nggak bikin masalah sama dosen, IP-mu akan baik-baik aja, kok!

3. Beasiswa Bidikmisi hanya berlaku selama empat tahun

Sudah pasti, mahasiswa penerima beasiswa harus menyelesaikan kuliah dalam waktu yang normal, yaitu empat tahun untuk jenjang S1. Jadi usahakan untuk lulus tepat waktu, ya.

Kalau nggak bisa lulus tepat waktu gimana? Nah, berarti kamu harus cari biaya kuliah dan biaya hidup sendiri. Kalau nggak, nanti pemerintah harus membiayai kuliah kamu sampai kapan?

FYI, beasiswa Bidikmisi dihentikan saat kamu sudah mencapai akhir dari semester 8. Meski demikian, kebijakan kampus bisa beda-beda, sih. Bisa aja ketika jatah beasiswa Bidikmisimu habis, tetapi studimu belum selesai, kamu dialihkan ke beasiswa lainnya. Tetapi biasanya pengalihan beasiswa ini terkait dengan biaya pendidikan aja, gaes, sementara biaya hidup harus kamu tanggung sendiri. Kalau kamu merasa berat, kamu bisa cari beasiswa—di kampus atau luar kampus—yang menyediakan biaya hidup.

4. Bidikmisi nggak selalu cair tepat waktu

Hal ini penting untuk kamu tahu, nih. Uang dari beasiswa Bidikmisi tidak selalu cair tepat waktu. Malah bisa molor banget. Saya pernah, lho, mengalami beasiswa ngaret turun sampai tiga bulan lamanya.

Dalan situasi seperti ini, biasanya pihak kampus akan menalangi dulu biaya hidup mahasiswa Bidikmisi. Jadi nanti, ketika uang Bidikmisi turun, jatah biaya hidup kita langsung dipotong kampus. Masalahnya, kadang proses penalangan dana dari kampus ini pun bisa lama.

Makanya, tiap mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi sebenarnya sangat disarankan untuk punya uang pegangan, sehingga ketika uang belum cair, mahasiswa nggak kelimpungan dan langsung panik “menodong” kiriman dari orang tua. Apalagi pada dasarnya kamu mendapat beasiswa Bidikmisi karena orang tua kamu mengalami kesulitan secara finansial ‘kan? Jadi mulai belajarlah mengelola keuangan secara bijak.

5. Tidak selalu berprestasi untuk mendapatkan Bidikmisi

“Duh, Kak. Nilai raporku biasa-biasa aja. Prestasi aja nggak punya. Apa aku bisa dapat beasiswa Bidikmisi?”

Bisa banget, gaes. Karena pada dasarnya, Bidikmisi ini menekankan pada faktor ketidakmampuan finansial mahasiswa penerimanya, bukan prestasi akademiknya. Hanya selama kuliah, mahasiswa Bidikmisi memang diharapkan bisa mempertahankan prestasi akademiknya. Intinya, asalkan kamu memenuhi kriteria tidak mampu, kamu akan berpeluang untuk dapat Bidikmisi.

Tapi jangan coba tipu-tipu, gaes, karena seleksi Bidikmisi ini sangat detail. Contohnya, dulu tim Bidikmisi dari kampus saya—yaitu ITB di Bandung—sampai datang survei ke rumah saya di Jogja. Selain memeriksa kondisi rumah, tim seleksi ini juga akan mencari tahu seputar aset keluarga calon penerima beasiswanya.

***

Mau dapat info lebih lengkap mengenai beasiswa Bidikmisi? Kamu bisa lihat cek di situs bidikmisi.belmawa.ristekdikti.go.id. Sampai saat ini, beasiswa Bidikmisi telah membantu ribuan siswa dari keluarga tidak mampu, untuk melanjutkan pendidikannya sampai kuliah. Mungkin aja kamu salah satunya!

(sumber gambar : populer.web.id, blog.ruangguru.com, memegenerator.net)

LATEST COMMENT
Sheila Amadea | 11 jam yang lalu

Hai, aku bantu jawab. Aku Sheila, saat ini mahasiswi Okupasi Terapi UI tahun kedua. Prospek kerja di daerah bukan perkotaan justru besar banget. Kalau bisa dibilang, Okupasi Terapi adalah salah satu jurusan yang jarang ditemui di Indonesia. Di Bogor, tempat tinggalku sekarang aja hanya ada 1 orang Okupasi Terapis di RS, dan belum termasuk mahasiswa yang sedang praktek klinik atau magang di RSJ (dari info yang aku tahu sejauh ini, ya. Mungkin saat ini sudah bertambah di klinik-klinik). Kalau kamu dari daerah yang jauh dari kota, kemungkinannya sangat sangat besar tenaga Okupasi Terapis dibutuhkan. Jadi, kalau kamu tertarik dengan jurusan ini dan saat ini tinggal di daerah bukan perkotaan, ini jadi peluang yang buagus banget buat kamu meningkatkan kesejahteraan daerah kamu sendiri. Semangat!

Mengenal Lebih Dekat Program Studi Okupasi Terapi
priandari | 15 jam yang lalu

sistem penilaian untuk tesnya bagaimana ya kak?

Serba-Serbi Seleksi Mandiri Universitas Airlangga
Puan Nur R | 22 jam yang lalu

Mau tanya kak kalau ketrima sbmptn boleh ikut Ujian Mandiri atau tidak ya?

10 Perubahan Penting SNMPTN dan SBMPTN 2019
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©