Menu

6 Perbedaan Pola Pikir Mahasiswa di Indonesia dengan Mahasiswa di Luar Negeri

Mahasiswa adalah anak muda—yang katanya, mereka adalah kaum intelektual, berkreatifitas tinggi, makhluk yang paling cepat merespon perubahan, bertata krama, dan pastinya berpendidikan. Tapi apakah semua mahasiswa itu sama? Ada nggak, sih, bedanya pengaruh budaya, sosial, lingkungan terhadap perilaku anak-anak muda—yang notaben-nya mereka semua adalah mahasiswa.

Nah, gimana, ya, kalau generasi bangsa ini kita bandingkan dengan generasi bangsa negara lain? Apakah sama baiknya? Atau justru malah harus dilakukan upaya perubaha? Yuk, cari tau di bawah ini

1. Budaya membaca

Budaya membaca

Budaya membaca mahasiswa di Indonesia, jauh panggang dari api, gaes. Mahasiswa di luar negeri itu rajin banget baca buku, bahkan rata-rata mahasiswa di luar negeri membaca 1-2 buku perminggunya. Prinsipnya, kalau mau jadi sarjana, mereka wajib baca ribuan buku. Wihh, keren, ya!  

Well... kalau di Indonesia sendiri, menurut penelitian minat bacanya masih sangat rendah dibandingkan negara-negara lain.

2. Kemampuan nomor 1, penampilan nomor sekian

Kemampuan nomor 1, penampilan nomor sekian

Yang dimaksudkan di sini mengenai prioritas keuangan mereka, ya, gaes. Kebanyakan dari mahasiswa luar negeri lebih mengutamakan prioritas pemanfaatan keuangan mereka untuk keperluan kuliah.

Nah, setelah kebutuhan kuliah udah kelar semuanya, baru, deh, mereka mikirin “bulan ini mau shopping kemana, ya?”.

Sementara, kalau di compare sama gaya hidup mahasiswa di Indonesia, sebagian besar (nggak semuanya kok) lebih mengutamakan belanja keperluan ini itu, untuk sekedar memenuhi trend gaya hidup.

3. Media sosial? Penting nggak, ya?

Mahasiswa di luar negeri sangat jarang yang tau apa itu Instagram, Twitter dan beberapa jajaran Social Media lainnya—yang hampir bikin semua mahasiswa di Indonesia merasa nggak PD kalau nggak punya.

Buat mereka, terlalu membuang-buang waktu untuk mengetahui apa yang orang lain lakukan. Itu juga-lah yang membuat mereka mempunyai lebih banyak waktu  untuk membaca buku atau berdiskusi mengenai aliran pemikiran mereka terkait dengan berbagai topik. Hal ini lebih terkait ke budaya mereka, yang terkesan individual. Well... ada plus minusnya juga, sih.

4. Kerja part time. Gengsi nggak, ya, mereka?

Kerja part time

Sebagian besar mahasiswa Indonesia itu gengsinya segede gaban. Nggak mau kerja part time ini lah, kerja part time itu lah. Maunya kerja yang ini, yang itu. Pilah pilih ini itu.

Di luar negeri kebanyakan mahasiswa kerja part time dan nggak pilah pilih, lho. Mulai jadi pelayan restoran, kasir, pegawai pom bensin, hingga penulis—yang waktunya mereka bisa bagi dengan perkuliahan. Bahkan, hal itu nggak jadi penilaian dari mahasiswa lainnya mengenai pekerjaan orang lain.

Kerja part time nggak membuat mereka gengsi,  lho. Buat mereka lebih gensi itu kalau minta duit sama orang tua.

5. Sebagian besar kampus di luar negeri, nggak ada sistem absensi

nggak ada sistem absensi

Kebayang nggak, sih, kalau di Indonesia nggak pakai sistem absensi. Apa kelasnya masih penuh? Beberapa kampus di luar negeri itu nggak pakai sistem absensi, lho? Kenapa? Soalnya mahasiswa di sana sudah sangat sadar mengenai pentingnya belajar.

Jadi, nggak ada absensi sekali pun mereka akan tetap datang dan hadir mengikuti pembelajaran di kelas. Yang penting buat mereka, akumulasi tugas dan ujiannya bagus. itu udah bisa membantu mereka naik ke semester berikutnya. Nggak ada sangkut pautnya dengan kehadiran.

Pola pikir dan kebiasaan yang benar-benar perlu dicontoh, ya, gaes.

6. Tetap ke kampus, walaupun nggak ada dosen

Mahasiswa di luar negeri, mereka sangat concern dengan study mereka. Hal ini disebabkan oleh banyaknya tugas dan budaya belajar di sana serta persaingan yang sangat ketat. Oleh karena itu, walaupun nggak ada jadwal kuliah mereka tetap datang ke kampus.

Kalau mahasiswa di negara kita gimana? Sebagian besar (sekali lagi, walaupun nggak semuanya kok) ke kampus kalau ada jadwal kuliah aja, kalau nggak ada ya mereka lebih milih nongkrong di cafe, jalan-jalan ke mall atau diam di rumah.

***

Itulah beberapa  perbedaan pola pikir mahasiswa di indonesia dengan mahasiswa di luar negeri. Melihat dan mengadopsi budaya orang lain, selama itu positif, kenapa nggak. Ya, ‘kan?

Segera buat perubahan positif. Dimulai dari diri sendiri—yang pastinya akan berdampak bagi diri sendiri dan tentunya berdampak baik pula bagi bangsa ini.  Miris lihat Indonesia, kalau mindset generasinya masih gitu-gitu saja .

 

Baca juga:

 

(Sumber gambar: news.okezone.com, upi.com, theodysseyonline.com, japanese-school.net theconversation.com )

LATEST COMMENT
Aufa B | 3 jam yang lalu

Lebih baik ikut utbk jarena ada beberapa univ yg mandiri juga menggunakan kombinasi dengan nilai utbk

Jadwal Lengkap SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri 2019
Aufa B | 3 jam yang lalu

Nama tesnya utbk, jalur masuknya sbmptn

Jadwal Lengkap SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri 2019
Witri syafrida femelia | 8 jam yang lalu

min saya ikut utbk soshum dan saintek namun nilai soshum saya lebih tinggi, saat mendaftar sbmptn saya ingin ambil program studi soshum untuk kedua pilihannya apakah bisa min?atau harus ambil jurusan satu saintek dan satu soshum?

Serba-Serbi SBMPTN 2019, Cek Informasi Lengkapnya!
Dela Amelianta Ginting | 10 jam yang lalu

Kak maksud dari" jangan menempatkan prodi dgn kriteria kelulusan skor tinggi di bwh prodi yg skor lukusnya relatif rendah" itu kyk mana ya..

Pengertian Keketatan Persaingan, Daya Tampung, dan Peluang dalam SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©