Menu

5 Kebiasaan Unik Mahasiswa di Jerman

Jerman merupakan salah satu negara di Eropa yang memiliki kualitas pendidikan terbaik di dunia. Indonesia sendiri sudah menjalin kerja sama di bidang perguruan tinggi, sejak tahun 1945. Menurut data, ada 27.000 pelajar Indonesia yang kuliah di Jerman jika ditotal hingga saat ini. Salah satunya adalah Presiden Indonesia yang ketiga, yaitu Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang lebih akrab disapa eyang Habibie.

Selain itu, banyak tokoh-tokoh terkenal dari Jerman yang mendunia. Di antaranya adalah Albert Einstein, Adolf Hitler, dan Ludwig van Beethoven (kalau kamu pecinta musik klasik atau suka main piano, pasti sering dengar simfoni lagu miliknya).

Nah, kebetulan saya adalah lulusan program studi Sastra Jerman. Di program studi tersebut kamu akan belajar banyak hal tentang negara Jerman. Mulai dari budayanya hingga membandingkan para mahasiswa di Jerman dan di Indonesia.  

Meskipun aktivitasnya sama, kebiasaan mahasiswa bisa berbeda-beda—bergantung di mana negara mereka belajar. Kerja kelompok, presentasi, dan ujian itu, sih, kegiatan yang umum dilakukan oleh mahasiswa di seluruh dunia.

Anyway, kalau di Jerman, mahasiswanya memiliki kebiasaan uniknya sendiri, lho. Apa saja, kebiasan unik tersebut? Sama kayak di Indonesia nggak, ya? Cekidot!

1. Mengetuk meja

Akademisches Klopfen

Di Indonesia, ketika kuliah selesai diberikan oleh dosen, biasanya kelas akan berakhir begitu saja atau ditutup dengan ucapan salam, ‘kan? Namun berbeda kalau di Jerman, gaes. Ketika mereka selesai, hal yang biasa dilakukan adalah memberikan apresiasi. Bukan dengan bertepuk tangan, melainkan dengan mengetuk meja.

Hah? Mengetuk meja, yang benar saja? Yups, di Jerman hal tersebut sangat wajar dilakukan di dalam dunia akademik. Bahkan mereka punya sebutannya sendiri, lho! Namanya yaitu Akademisches Klopfen yang berarti ketukan akademik. Semakin ribut, it means semakin baik dosen tersebut memberikan materi kuliah. Unik banget, ya?

Jangan dibandingin di Indonesia. kalau kamu mengetuk meja di dalam kelas, kamu bakal dianggap sebagai pembuat keributan, deh. Hihihi.  

2. Menggunakan kata “Anda” di banyak kesempatan

Dunia pendidikan di Jerman memang sangat formal. Kalau mahasiswa ingin berbicara atau mengirimkan email kepada dosen atau orang yang nggak dikenal atau bisa juga orang yang baru pertama kali bertemu, biasanya mereka akan menggunakan kata Sie yang artinya dadalah “Anda” dalam Bahasa Jerman.

Kalau di Indonesia, kamu tentunya juga hormat kepada dosen kamu. Tapi biasanya kamu nggak meng-Anda-kan dosenmu tadi, melainkan memanggil dengan sebutan bapak / ibu.

3. Tepat waktu

Tepat waktu

Kamu terbiasa telat kalau masuk kelas? Atau rapat organisasi nggak dimulai dengan on-time? Jangan harap hal tersebut terjadi di Jerman.

Di sana kelas dimulai dengan tepat waktu. Dan kalau si mahasiswa itu maksa masuk ke kelas ketika perkuliahan sedang berlangsung, orang-orang akan sangat kesal karena kamu bisa memecah konsentrasi mereka.

Begitu juga ketika mahasiswa memiliki janji bimbingan dengan dosen, mereka akan mengharapkan si mahasiswa  itu datang tepat waktu karena mereka sudah meluangkan waktu di tengah-tengah kesibukan mereka.

Fyi, kalau si mahasiswa itu telat 1 menit saja, nggak ada toleransi! Alhasil, si mahasiswa itu harus atur ulang janji lagi, deh.

4. Dosen bukanlah dewa

Nah, ini yang menjadi salah satu masalah umum di Indonesia. Susah sekali buat ketemu dosen saat skripsi. Kamu harus rela mengejar-ngejar jodoh dosen buat bimbingan. Parahnya lagi, dosennya rapat terus lah, ngajar lah, bahkan nggak pernah ada di kampus?

Eits, tenang saja. Hal tersebut nggak akan terjadi di Jerman, gaes. Karena para dosen di sana sadar sekali bahwa mereka bukanlah dewa melainkan pelayan masyarakat. Mereka sadar bahwa mereka punya tanggung jawab untuk mengajar dan membimbing para mahasiswanya.

Eh, tapi, kalau mahasiswa itu ingin ketemu dosen, mereka harus kirim email kepada dosen terlebih dahulu, sih. Nggak tiba-tiba nyegat si dosen di depan pintu, lho, ya!

Kalau si mahasiswa itu sudah kirim email dengan baik dan benar. Maka, si dosen  HARUS menyediakan waktu untuk mahasiswanya dan membantu masalah-masalah akademik yang dialami para mahasiswa. Enak banget, ya?

5. Hidup murah

Hidup di Jerman serba mahal? Ya, stigma itu memang benar.

Tapi nggak berlaku kalau  kamu adalah mahasiswa. Hidup sebagai mahasiswa benar-benar dimanjakan di Jerman. Bagaimana nggak? Dengan status sebagai mahasiswa, kita berhak untuk tinggal di asrama yang murah.

Bahkan dosen saya pernah cerita. Kalau ada mahasiswa yang berasal dari luar Jerman, diperbolehkan untuk tidur di aula kampus. Of course dengan syarat yang berlaku. Syaratnya adalah sebelum jam perkuliahan di mulai, aula tersebut nggak boleh kotor. Ataupun kalau kotor harus dibersihkan.

Selain itu, mahasiswa nggak perlu membayar pajak dan harga asuransi juga lebih murah. Kartu mahasiswa bisa digunakan untuk naik bus dan kereta secara gratis di kota tempat kita tinggal. Harga makanan di kantin juga disubsidi serta banyak potongan harga yang diterima mahasiswa ketika berbelanja atau masuk museum.

Kalau si mahasiswa itu tetap merasa biaya hidup disana mahal. Di Jerman banyak sekali pekerjaan part time dan kesempatan magang yang hanya ditawarkan kepada mahasiswa. Dan meskipun magang, mereka tetap mendapatkan uang.

***

Itulah, kebiasaan-kebiasaan unik mahasiswa di Jerman. Kira-kira Indonesia bisa mencontoh kebiasaan tersebut nggak, ya? Atau kamu malah tertarik untuk kuliah di Jerman?

 

Baca juga:

 

(Sumber gambar: businessinsider.de, medium.com, haz.de)

LATEST COMMENT
Arif Alfon Gordon | 6 jam yang lalu

Jadi, ketika saya lulus sbm, harus saya lepaskan kak??

Program Bidikmisi Jalur SNMPTN, SBMPTN dan Ujian Mandiri/PMDK/UMPN 2019
Achmad Choirul Huda | 9 jam yang lalu

Min jadi univ mau nerima kita dipilihan kedua kan? Banyak kabar hoax yg bilang gitu :(

Strategi Menentukan Pilihan Pertama dan Kedua pada SBMPTN 2019
Azizah Nur | 11 jam yang lalu

Bismillah maba oseanografi itb 2021:)). O iya kalo oseano di itb tesnya saintek atau soshum?

Serba-Serbi Jurusan Oseanografi—Untuk Kamu yang Ingin “Kenalan” Lebih Jauh dengan Laut dan Seisinya
bae eristhaaak | 11 jam yang lalu

Wahh :') aku tahun ini gak keterima sma negeri walaupun nem bagus tapi karena zonasi dan kurangnya perkiraan. Tapi aku berusaha untuk yakin bahwa semua sekolah sama yang membuat beda adalah isinya atau diri kita sendiri walaupun bakalan masuk swasta semoga ini merupakan jalan terbaik dari tuhan.

Masuk SMA Favorit dan Unggulan, Penting Nggak, Sih?
Dipamustafa | 11 jam yang lalu

pentingan mana sih? daya tampungnya apa peluang(keketatan)?

Pengertian Keketatan Persaingan, Daya Tampung, dan Peluang dalam SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©