Menu

Ospek—Kenapa Dulu Saya Nggak Mengikutinya

Ospek? Males, Ah

Dulu banget—nggak lama setelah dinosaurus punah—saya kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri Indonesia yang punya program orientasi mahasiswa baru, seperti kebanyakan universitas di Indonesia lainnya.

Program orientasinya ada untuk semua tingkat: tingkat universitas, fakultas, dan jurusan.

Ditambah lagi, dulu saya double-major, alias kuliah di dua fakultas berbeda dalam satu waktu bersamaan, sehingga seharusnya saya ikut orientasi di kedua fakultas dan jurusan tersebut. Total jenderal, saya mustinya ikut 4-5 program orientasi. Mateng, deh.

Well, saya nggak ikut program-program tersebut satupun. Sa-tu-pun! Bolos! Bobok di rumah! Apaaaa?!

Apakah karena saya takut? Sejujur-jujurnya, enggak. Alasannya cuma karena saya males.

Dari SMP sampai SMA, saya bolak-balik diplonco, mulai ketika orientasi sekolah, inisiasi OSIS, sampai ketika inisiasi klub ekstrakurikuler. Semuanya dikemas dengan cara yang mirip-mirip, yaitu dikasih tugas aneh-aneh, dimarahin, dan disuruh baris-berbaris nggak berhenti-berhenti.

Sehingga saya jenuh. Boseeeen banget harus begini-begini lagi ketika jadi mahasiswa.

“Aaah, yakin bukan karena takut?”

Serius, bukan. Saya yakin universitas saya berintegritas tinggi, sehingga saya percaya mereka nggak akan bikin Ospek yang mencelakakan anak orang, secara fisik ataupun mental. Jadi saya nggak khawatir.

Supaya kamu makin yakin, saya juga nggak punya trauma dari berbagai program Ospek yang pernah saya ikutin. Saat orientasi SMP, saya bahkan dinobatkan jadi peserta MOS terbaik seangkatan, lho (eciyeee…). Ketika inisiasi OSIS dan ekskul SMA, saya juga capek-capek-enjoy aja. Apalagi gara-gara inisiasi, saya jadi dapat pacar (oh ya, pantes enjoooy…)

So you see? Saya nggak punya trauma dengan Ospek, bahkan nggak ribut menentangnya. In general, I’m not afraid of it.

Ketidaksertaan saya dalam program orientasi mahasiswa dulu murni karena saya males.

“Tapi ‘kan Ospek penting!”

Paham, sih, Ospek adalah salah satu aspek terbesar dari kehidupan kuliah. Katanya, kalau kita nggak ikut Ospek, kita akan rugi ini-itu. Jadi terlambat dapat teman. Jadi kurang kenal sama kegiatan perkuliahan dan seputar kampus. Nggak boleh ikut keorganisasian mahasiswa. De el el. De es be.

Namun, walaupun dulu itu saya masih seorang mahasiswa ingusan, visi saya udah lumayan maju dan fokus (eciyeee #part2…).

Tujuan Kamu Apa?

Dari awal masuk kuliah, fokus saya adalah belajar. Seru-seruan cuma bonus. Dan, berdasarkan pengalaman saya bertaun-taun diplonco, saya tau bahwa tujuan utama (sebenernya) pengadaan Ospek hanya untuk itu tadi, seru-seruan. Nggak ada niat luhur mau mengubah mentalitas mahasiswa baru.

Sehingga, walaupun kalimat-kalimat para senior, tuh, dahsyat banget (“Mau jadi apa lo kalau nggak Ospek?! Mau jadi pengecut?! Lo mau selamanya bermental lemah?” kata sang senior yang lagi berasa gagah banget.), saya nggak percaya setitikpun dari kata-kata tersebut.

Secara logika, Ospek beberapa hari nggak akan mempengaruhi mental dan kepribadian kita, maupun kegiatan perkuliahan kita selama empat taun kedepan. Per hari ini, saya udah berkeluarga dan membangun karier sendiri dengan baik (ketauan amat tuanya), dan teori saya terbukti—nggak ikut Ospek, nggak ada ngaruhnye! Kepribadian dan kehidupan saya gini-gini aja, tuh. Keren-keren aja.

Iya, sih, akibat nggak ikut Ospek, di awal perkuliahan saya jadi telat punya teman-teman deket, kuper sama senior, dan agak buta sama kampus. Namun semua hal tersebut akan teratasi dengan sendirinya, dan tetap nggak mengganggu objektif utama saya masuk kuliah, yaitu belajar.

Saya nggak menentang Ospek, asalkan masih wajar dan nggak mencelakakan mahasiswanya. Tapi saya nggak setuju dengan brainwash kakak-kakak senior, bahwa kalau enggak ikut Ospek, hidup kita cilaka.

Percayalah sama kakak yang sudah jauuuh lebih senior ini: tanpa Ospek, hidup kita akan baik-baik saja.

Setuju, mz!

Trus, mau ikut Ospek atau enggak itu bener-bener pilihan pribadi, tergantung tujuan kita di kampus mau ngapain.

Contohnya, sewaktu SMA, tujuan saya sekolah adalah bergaul dan beraktivitas. Jadi, sibuk deh saya ikut ekskul ini-itu, dan bergaul sana-sini.

Tetapi saat kuliah, dari awal, tujuan saya adalah belajar dan nggak berniat untuk aktif di kampus.  Maka ketika saya diancam nggak bisa ikut kegiatan keorganisasian karena nggak ikut Ospek, saya ketawa, soalnya… lah emang saya kagak mau ikut organisasi apa-apa, Kak!

Kalopun nantinya saya berubah pikiran dan pengen terlibat dalam keorganisasian mahasiswa, saya yakiiin banget, pasti ada caranya, walau saya nggak Ospek. Universitas saya adalah universitas hebat yang open-minded, kok.

Namun, ada juga teman saya yang senang berorganisasi, bergaul, dan aktif di kampus. Nah, menurut saya, untuk orang kayak dia, Ospek adalah sesuatu yang perlu ia ikuti.

Jadi sekali lagi, pilihan mau ikut Ospek atau enggak itu bener-bener pilihan pribadi, tergantung tujuan kita di kampus mau ngapain.

Lagian, percaya, deh. Perploncoan dahsyat yang sesungguhnya itu adalah situasi-situasi ngeri di dunia nyata, disaat kita udah lulus dari bangku kuliah. Misalnya, nggak dapat-dapat kerjaan, dapat kerjaan tapi lokasi di Bekasi, atau ditinggal kawin sama pacar. Yang lebih ngeri, plonco di kehidupan nyata begini mana bisa di-sekip?! Aaaarrghhh….

(sumber gambar: regional.kompas.com, www.mcgill.ca, news.okezone.com)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©