Menu

Ospek, Penting Nggak, Sih?

Selayaknya manusia, Ospek itu ada berbagai macam jenisnya. Beragam banget dari kampus ke kampus.

Ada Ospek yang benaran orientasi—yaitu mengenalkan mahasiswa baru ke lingkungan kampus lewat berbagai program yang kalem dan manusiawi—tanpa perploncoan.

Ada Ospek yang masih kental nuansa plonconya, dari yang agak sadis sampai sadis banget.

Ada Ospek yang sebenarnya nggak wajib, jadi kalau di-sekip, ya nggak masyalah.

Ada Ospek yang wajib, sehingga kalau kita nggak ikut, kita nggak boleh ikut sidang tugas akhir, misalnya (kejam!).

Ada Ospek yang setengah wajib—kalau di-sekip akibatnya nggak fatal, tapi kita mendapat beberapa “sanksi”, misalnya, jadi nggak boleh ikut beberapa organisasi mahasiswa, atau jadi telat dapat jaket almamater.

Kalau kampus kamu kebetulan memberikan fleksibilitas kepada mahasiswanya, terserah mau ikut Ospek atau enggak (baca: nggak maksa), selamat, ya! Menurut saya pribadi, Ospek emang seharusnya begitu. Nggak dipaksa.

Nah, kalau kamu punya privilege tersebut, kamu tinggal mempertimbangkan, deh, untung rugi dalam mengikuti Ospek.

Kalau belum yakin mau ikut atau skip, saya meng-compile poin-poin untung-rugi ikut Ospek yang paling umum, untuk jadi bahan galau bersama.

KONTRA

Kalau kamu males ikut Ospek, nggak apa-apa, sih, soalnya Ospek itu…

1. Buang waktu dan buang tenaga

Apalagi sebenarnya Ospek nggak punya manfaat yang “harga mati”. Sebagai contoh, ‘kenalan’ sama kampus atau sistem perkuliahan pasti akan berjalan otomatis, kok. Nggak sesusah kenalan sama Raisa. Jadi, nggak harus’dibimbing’ lewat Ospek juga.

Begitu juga dengan soal cari teman. Mahasiswa baru bisa dilepas sendiri kayak kambing, kok. Nanti juga dapat teman sendiri. Wong udah pada gede. Lagian, kamu bakal ngendon di kampus selama kurang lebih empat tahun, lho. Masa iya, sih, nggak bisa cari teman seluas-luasnya tanpa Ospek?

Intinya, semua ‘tujuan’ Ospek itu tergantikan. Nggak kayak mantan kamu. Hiks.

2. Buang duit

Terutama kalau Ospek kampus kamu masih kental dengan nuansa perploncoan, dan mewajibkan kamu mencari aneka macam barang sebagai perlengkapan Ospek. Emangnya beli pisang sekian senti, pita, termos, dan sejuta pernak-pernik lainnya nggak pake duit, kak? Hiks.

3. Penuh dengan ancaman kosong

Kebetulan, saya adalah contoh nyata manusia yang (ternyata) sukses-sukses aja kuliah, berkarier dan berkeluarga walaupun nggak ikut Ospek sama sekali saat jadi mahasiswa.

Sehingga saya dengan pede bisa menyatakan bahwa ancaman senior itu kebanyakan omong kosong, misalnya ancaman kita akan bermental memble, dan bakal jadi susah ikut keorganisasian.

Secara logika, diplonco beberapa hari nggak akan mempengaruhi kepribadian kita yang udah terbentuk sekian belas tahun lamanya. Tempaan mental yang sebenarnya—dan seberat-beratnya—pun akan terjadi NANTI saat kuliah (dengan segala derita kuliah fail melulu, dosen killer, telat dikirimin duit sama ortu, skripsi nggak kelar-kelar, jomblo menahun, aaarghhh…), bukan saat Ospek.

4. Beresiko

Kalau Ospek kampus kamu masih menggunakan metode perploncoan, secara teori, para senior seharusnya “ngerjain” mahasiswa baru dalam batas kewajaran. Kasarnya, nih, mereka harusnya paham cara nggampar yang benar, yang cuma bikin pipi pedes, tapi nggak bikin rahang patah.

Namun siapa yang bisa menjamin? Siapa tahu ada mahasiswa baru yang kondisinya lemah dibawah rata-rata, atau ada senior yang ‘kelepasan’ sampai melukai juniornya secara fisik atau mental. Akibatnya bisa fatal.

Inilah penyebab utama kematian atau kecelakaan fisik dalam berbagai kasus tragis Ospek.

PRO

Namun nggak ikut Ospek juga ada ruginya, lho. Soalnya Ospek itu…

1. Memberikan beberapa program orientasi yang memang berguna

Misalnya, seminar perkenalan sistem perkuliahan, team building, simulasi kegiatan-kegiatan dalam kampus, dan sebagainya.

Sayangnya, nggak semua kampus menawarkan program orientasi yang positif dan kalem seperti ini.

2. Bikin kamu lebih dekat dengan senior.

Dekat dengan senior itu berharga, lho. Ada banyak banget “ilmu informal” yang bisa ditransfer dari senior, misalnya, cara menguasai mata kuliah tertentu, cara ngadepin dosen galak, info kos-kosan dan tempat makan enak, info lowongan magang dan sebagainya. Mereka juga bisa bantu-bantu kamu, misalnya, dengan minjemin buku teks wajib.

Sebagai bonus, senior biasanya asik diajak nongkrong bareng. They usually have the best dirty jokes and card tricks.

Kedekatan dengan senior ini paling efektif terjalin lewat Ospek. Soalnya, di luar ajang Ospek, ade kepentingan ape senior mau ditempelin ama junior? Sok akrab amat?! *ditoyor senior*

3. Bikin kamu lebih cepat adaptasi dengan kampus.

Salah satu masa gelap saat kuliah adalah hari-hari awal. Semua terasa membingungkan dan overwhelming. Apalagi kalau kampus kamu besar dan padat dengan manusia (ya, masa’ padet sama cendol… emangnya ini pujasera?).

Ospek akan memberikan kamu sense of direction dengan lebih cepat, sehingga ketika perkuliahan udah berjalan, kamu nggak buang waktu untuk bingang-bingung di kampus, kayak anak ayam kehilangan induknya. Kamu juga jadi tahu, sebagai mahasiswa baru, kamu punya akses ke area mana aja, dan mana aja area yang off-limit.

The sooner your campus feels like home, the better.

4. Last but not least, bikin kamu terhindar dari diskriminasi

Tahukan kamu, bahwa selalu ada setitik diskriminasi kepada mahasiswa yang nggak ikut Ospek, baik dari senior maupun dari teman-teman seangkatan?

Kadang diskriminasi ini bisa kebawa sampai bertahun-tahun, kadang enggak. Diskriminasinya pun bisa tajam banget, sampai berasa dikucilin, bisa enggak. Tergantung kultur dan sikap mahasiswa kampus kamu.

Sebagai mantan mahasiswa yang dulu nggak ikut Ospek, hal ini sangat gue rasakan. Nggak enak, dong? Ember.

***

Jadi gimana, kira-kira kamu bakal ikut Ospek nggak? Kenapa? Dan bagi yang udah bukan mahasiswa baru lagi, dulu ikut Ospek nggak?

(sumber gambar: kmip-uny.blogspot.co.id, himadiksi.student.uny.ac.id)

LATEST COMMENT
Just adulting: (Sal) | 7 jam yang lalu

Tambahan: Bisa juga dalam bentuk rasio. Misal DT2018 jumlahnya 10, peminat 2018 ada 1.000. Rasionya 10:1.000 atau 1:100 yang bisa diartikan 1 kursi dalam prodi di PTN tersebut diperebutkan oleh 100 orang

Pengertian Keketatan Persaingan, Daya Tampung, dan Peluang dalam SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri
Just adulting: (Sal) | 7 jam yang lalu

Keketatan itu perhitungan Daya Tampung 2018 dibagi Peminat 2018 dan dikali 100, hasilnya dalam bentuk persen. Semakin kecil persentase keketatan berarti semakin sulit masuknya sekalipun DT-nya banyak karna peminatnya sudah pasti banyak, begitu sebaliknya

Pengertian Keketatan Persaingan, Daya Tampung, dan Peluang dalam SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri
Johan adham p | 9 jam yang lalu

Apakah memungkinkan kalo jurusan ipa masuk hi tapi ke univ swasta?

5 Tanda Bahwa Jurusan Hubungan Internasional Cocok Buat Kamu
Dela Amelianta Ginting | 11 jam yang lalu

Kak maksud tingkat keketatan itu yg gimana ya, apa harus ambil tingkat keketatan yg tinggi biar peluang lulus besar?

Pengertian Keketatan Persaingan, Daya Tampung, dan Peluang dalam SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©