Menu

Sukses Karier Masa Depan: Skill Lebih Penting Dibanding Gelar?

Saat ini teknologi berkembang sangat cepat dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam soal pendidikan, karier, dan industri. Berkat teknologi, informasi dan pengetahuan menjadi tanpa batas. Banyak cara mendapatkan ilmu dan mengasah skill, sehingga tidak melulu lewat jenjang institusi pendidikan formal yang konvensional.

Beberapa perusahaan multinasional ternama serta startup pun bikin gebrakan: tidak menjadikan latar belakang pendidikan dan gelar sebagai syarat pekerjanya. Sebab mereka lebih mengutamakan skill alias kemampuan yang dimiliki plus pengalaman. Dengan kata lain pekerja di perusahaan seperti Ernst & Young, Random Penguin House, dan PricewaterhouseCoopers nggak mesti sarjana. Bahkan Youthmanual juga memberikan kesempatan yang sama pada lulusan SMA, SMK, Diploma, S1, bahkan S2 untuk bersaing dan memilih yang paling tepat untuk  bekerja bersama kami.

Tentu kemampuan, hard skills maupun soft skills yang dibuktikan dengan pengalaman menjadi hal yang sangat penting di dunia kerja saat ini, terutama skill yang berhubungan dengan industri IT dan digital. Sayangnya banyak perusahaan yang merasa lulusan perguruan tinggi Indonesia yang tidak siap kerja.

Angka pengangguran lulusan sarjana dan diploma per tahun 2018 lalu pun meningkat. Salah satu masalahnya adalah skill yang diajarkan di bangku formal (sekolah dan perguruan tinggi) nggak sinkron dengan kebutuhan industri. Ya, perusahaan mengeluh bahwa fresh grad tidak memenuhi kriteria yang mereka butuhkan, sehingga mereka lebih memilih orang yang berpengalaman.  

Kondisi ini pun direspon oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah serta institusi pendidikan. Tak hanya itu, muncul juga alternatif lembaga pendidikan seperti Lithan. Lithan merupakan digital skill accelerators alias tempat belajar dan mengasah kemampuan yang berhubungan bidang IT,  seperti coding dan pengembangan website. Tujuannya bukan hanya menghasilkan tenaga siap kerja, tetapi langsung memberikan mereka kesempatan kerja di dalam dan luar negeri. Siswanya pun nggak hanya mendalami skill tapi memiliki pengalaman kerja yang real.  Saat ini, Lithan beroperasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Leslie Loh, entrepreneur sukses, investor, sekaligus pengajar yang juga CEO dari Lithan pun sharing mengenai peluang karier anak muda di masa depan serta mengenai tempat belajar alternatif yang didirikannya, Lithan.

Jadi, apa saja masalah sistem pendidikan kita? Dan benarkan perguruan tinggi berkonsep konvensional perlu berubah? Simak penjelasan Leslie Loh berikut ini.

leslie loh

Menurut anda, apakah pendidikan di perguruan tinggi merupakan kunci memiliki karier cemerlang?  

“Berdasarkan artikel dipublikasikan di Jakarta Globe tahun 2016, mendapatkan gelar di bangku kuliah tidak menjamin lulusannya akan mendapatkan pekerjaan yang bagus. Ahmad Mikail, mahasiswa Ekonomi Syariah Universitas Indonesia, menyampaikan pada Jakarta Globe bahwa pengangguran bergelar sarjana cenderung meningkat.

Bahkan, jika mereka beruntung dan cepat memperoleh pekerjaan, standar gaji fresh grad di Indonesia relatif rendah, yakni hanya sekitar 3 hingga 4 juta rupiah.”

Apakah mengejar gelar merupakan “investasi” yang menguntungkan? 

“Berada di kampus untuk mempelajari teori selama 3 hingga 4 tahun tanpa interkasi dengan dunia luar (dunia kerja) tidak akan menghasilkan lulusan yang memiliki skill yang dibutuhkan industri. Dalam kondisi ekonomi digital yang bergerak cepat, apapun yang dipelajari mahasiswa di bangku kuliah, kemungkinan besar tidak akan relevan saat mereka lulus.

Selain nggak memiliki skill mumpuni untuk masuk ke dunia kerja, kemungkinan mahasiswa akan membutuhkan biaya pendidikan yang tinggi (hingga harus meminjam uang). Mahasiswa juga kekurangan (tidak memiliki) penghasilan selama ia berkuliah. Kondisi seperti ini cukup mengkhawatirkan.”

Adakah model pendidikan alternatif yang lebih baik untuk menghasilkan lulusan yang dibutuhkan?

“Saya percaya bahwa applied learning atau metode belajar terapan adalah jawaban atas masalah pendidikan akademis yang tradisional.

Negara Swis mengadopsi metode belajar terapan ini dan hasilnya tenaga kerja mereka merupakan yang terbaik dalam 2018 Global Talent Competitiveness Index dan menjadi yang paling kompetitif di dunia.”

Bagaimana dengan program metode belajar terapan yang dipraktikkan Lithan?

“Program metode belajar terapan di Lithan dilakukan dengan menginterasikan antara bekerja dengan belajar, jadi di sini belajar adalah bagian dari bekerja dan bekerja adalah bagian dari belajar.

Siswa kami memulai proses belajar dengan menguasai kemampuan praktis (yang diperoleh) dari pelatihan coding atau coding boothcamp. Coding boothcamp kami tidak diisi dengan teori  melainkan memiliiki kurikulum   berbasis kompetensi yang memberikan pelatihan kemampuan yang dibutuhkan industri serta didukung dengan mentoring dari pelaku industri.

Bootcamp intensif ini hasilnya tiga kali lebih mendalam dibandingkan program belajar tradisional karena bootcamp ini melatih menghadapi lingkungan kerja yang real dengan jam kehadiran 9 pagi hingga 6 sore, baik di kelas langsung maupun di kampus virtual

Selain itu, siswa kami akan mendapatkan pelatihan kerja full time sembari kuliah secara part time. Dalam masa 6 bulan magang, mereka akan mendapatkan penghasilan sembari belajar. Setelahnya dilakukan 24 bulan pelatihan kerja. Jadi siswa akan memiliki pengalaman kerja penuh waktu selama 30 bulan sebelum kelulusan dari Lithan.”

 Apakah lulusan program Lithan akan memperoleh penghasilan lebih tinggi ketimbang fresh grad pada umumnya?

“Kami berharap lulusan Lithan akan mendapatkan gaji pertama 50 persen lebih tinggi ketimbang lulusan perguruan tinggi konvensional. Sebab lulusan kami telah siap kerja dengan pengalaman 30 bulan

Setelah melalui 6 bulan intensif bootcamp Lithan, siswa akan menapaki karier sebagai web developer. Ini merupakan profesi yang diprediksi akan sangat berkembang di masa depan, melebihi perkembangan profesi lain.

Lulusan kami merupakan talent yang siap bekerja secara global yang diakui secara internasional. Siswa juga mengembangkan kemampuan komunikasi dan kolaborasi, selama mereka belajar, berpergian, bekerja, dan mengembangkan jaringan di lingkungan internasional dan multikultural di Lithan. Mereka juga akan bertemu dan berkolaborasi dengan pelaku industri  serta dengan pekerja dari berbagai negara. “

Apakah program metode belajar terapan di Lithan terjangkau?

“Program kami sangat terjangkau karena siswa bisa memperoleh penghasilan selama mereka belajar. Siswa mulai mendapatkan penghasilan 6 bulan setelah masuk progam kami. Dengan kesempatan bekerja sembari mengenyam pendidikan, mereka akan bisa menyelesaikan pendidikan dengan biaya sendiri.

Siswa yang membutuhkan bantuan finansial bisa mendaftar pinjaman pendidikan yang bisa mereka cicil. Sedangkan bagi siswa dengan performa akademik cemerlang mendapat penawaran pinjaman biaya pendidikan tanpa bunga yang dapat dibayarkan saat mereka mendapatkan pekerjaan.”

***

Gaes, kalau tertarik berkarier di bidang IT dan penasaran dengan gaya belajar alternatif sambil bekerja, kamu bisa cek ke www.lithan.com.

Baca juga:

(sumber gambar: Lithan, www.digitalnewsasia.com)

LATEST COMMENT
Della Kurnia | 6 jam yang lalu

open endorse @fxdellk

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
Ryan Lissabilla | 9 jam yang lalu

Ga suka Matematika,Tapi suka otak atik

13 Ciri Kamu Cocok Kuliah di Jurusan Teknologi dan Komputer
Aditya Guntur | 15 jam yang lalu

Open endorse pria Instagram @guntur_g9

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
Shahfa Ananda | 21 jam yang lalu

apa aja sih kak jurusan yang berkaitan dengan fisika selain teknik sipil?

Daya Tampung SNMPTN 2019 di Universitas Brawijaya
Arif Alfon Gordon | 1 hari yang lalu

Jadi, ketika saya lulus sbm, harus saya lepaskan kak??

Program Bidikmisi Jalur SNMPTN, SBMPTN dan Ujian Mandiri/PMDK/UMPN 2019
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©