Menu

Mengapa Lulusan Perguruan Tinggi Sulit Dapat Pekerjaan?

Lulusan perguruan tinggi bertitel sarjana predikat magna cum laude kesulitan mendapatkan kerja. Terdesak, ia melakoni pekerjaan yang nggak sesuai passion dan keahliannya, mulai dari jadi penghantar barang, petugas valet parking, hingga fotografer dadakan. Itulah iklan sebuah partai politik yang kontroversial. Maksud dari iklan ini sepertinya ingin mengkritik lawan politik soal lapangan dan kesempatan kerja yang belum merata.

Tapi lupakan dulu soal perpolitikan dan tetek-bengek yang menyertainya. Di sini Youthmanual justru pengen mengulik mengapa lulusan perguruan tinggi sulit mendapatkan pekerjaan? Padahal, ada yang IPK-nya tinggi atau lulusan kampus beken. Kenapa membahas masalah ini? Karena hal tersebut memang terjadi, kok.

Ya gaes, perjuangan kalian nggak berakhir dengan hanya lulus SBMPTN, SNMPTN atau berhasil masuk perguruan tinggi swasta. Juga bukan sekadar diwisuda dan dapat gelar sarjana/diploma. Justru kamu harus berpikir jauh ke depan. Tantangan setelah lulus kuliah jauuuuh lebih besar. FYI, angka pengangguran  berpendidikan tinggi (lulusan perguruan tinggi) cukup besar, lho.

Mau siapa pun pemimpin Indonesia, percaya lah kamu akan syulit dapat pekerjaan jika kamu:

1. Clueless soal bagaimana mengirim lamaran yang baik dan benar.

Gaes, apa yang tertera dalam CV memang penting, pencapaian akademis juga cukup penting, dan skill kamu jelas penting dalam melamar pekerjaan. Tapi jangan mentang-mentang itu hal penting, kamu jadi nggak peduli sama yang lain. Misalnya, kamu mengirimkan lamaran pekerjaan berisi daftar pengalaman, ijazah, dll, tanpa menyertakan surat lamaran yang proper atau kirim email tanpa subjek dan isi. Walau IPK kamu nyaris sempurna dan kemampuan kamu keren banget, kemungkinan besar bakalan nggak dilirik, tuh.  

2. Tak berpengalaman.

Ya, namanya freshgrad, tentu belum ada pengalaman kerja resmi. Pihak perusahaan pun tentu mengerti. Tapi kalau pengalaman organisasi, kepanitiaan, magang, atau volunteer sama sekali nggak ada, ya repot! Sebab kamu bakal kalah saing dengan kandidat lain yang memiliki pengalaman. Maka, sementara belum bekerja, coba deh cari pengalaman seperti dengan menjadi sukarelawan, magang, atau ikutan kegiatan positif.

3. Nggak realistis.

Bisa jadi pilihan pekerjaan si freshgrad atau standar penghasilan yang dikehendaki nggak sesuai dengan dirinya alias nggak realistis. Misalnya, kamu mendaftar untuk posisi senior, padahal pengalaman kamu cuma magang. Atau permintaan gaji kamu nggak tanggung-tanggung dan tidak terbuka buat bernegosiasi. Itulah gaes, pentingnya riset saat melamar pekerjaan.

Jangan cuma berpikir pengen mewujudkan mimpi kerja sebagai X atau punya penghasilan dua digit, tanpa memperhitungkan adanya jenjang karier dan lainnya. Misalnya, kamu nggak bisa ujug-ujug langsung jadi produser televisi atau editor in chief media favorit. Harus dimulai dari menjadi reporter atau bagian kreatif.   

4. Pengetahuan soal beragam profesi dan pekerjaan minim.

duduk laptop

Kamu hanya mencari lowongan posisi A, padahal pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan keahlianmu ada B, C, D, dan Z. Apalagi sekarang ini banyak bermunculan profesi baru. Itulah mengapa kamu harus update informasi mengenai pekerjaan dan karier. Nggak cukup cuma cari tahu soal prodi dan kampus. Pengetahuan yang minim seputar profesi bakal membatasi kesempatanmu untuk mendapat pekerjaan.

5. Keahlian nggak sesuai kebutuhan.

Kamu mesti tahu hard skills dan soft skills yang dibutuhkan industri dan menguasainya. Nilai dan gelar aja nggak berpengaruh di era persaingan seperti saat ini. Misalnya, kamu lulusan prodi Jepang yang ingin melamar di perusahaan Jepang. Nah, kemampuan bahasa Jepang kamu mesti baik dan bakalan jadi penilaian penting Kalau ternyata skill bahasa kamu melempem, jangan heran kalau kamu nggak diterima.

Begitu pula kemampuan lain seperti pengetahuan dan penguasaan teknologi. Kalau kamu gaptek, kamu nggak memenuhi kebutuhan industri.

Jadi penting banget untuk mengasah kemampuan, baik kemampuan teknis maupun nonteknis. Jangan Cuma sekadar kuliah, kejar nilai, dan lulus, tanpa mengembangkan skills.

6.  Kurang niat.

Ya, gimana mau diterima bekerja kalau usaha yang dilakukan minim. Menulis lamaran, walaupun lengkap, tapi standar. Disuruh tes, kamu nggak menunjukkan yang terbaik. Diberi kesempatan wawancara, kamu nggak melakukan persiapan apapun. Ingat gaes, yang melamar pekerjaan itu banyaaaak. Kamu harus stand out secara positif. Buat diri kamu unggul dengan memberikan yang terbaik.

Minimal kamu perlu riset perusahaan yang dilamar, deh. Dari situ kamu bisa mendapatkan gambaran kandidat seperti apa yang dibutuhkan.  Baru deh, pasang startegi untuk bisa memperoleh pekerjaan. Contohnya, dengan mengirim surat lamaran yang berkesan. Memangnya perlu segitunya? Perlu banget!

7. Nggak proaktif!

Gimana mau dapat pekerjaan kalau kamu cuma diem-diem bae!

Oke, ceritanya kamu sudah menemukan beberapa lowongan pekerjaan dan mendaftar. Jangan berhenti di situ, apalagi kalau belum ada panggilan. Gabung dengan LinkedIn dan situs pencarian pekerjaan lainnya. Ikutan komunitas yang sesuai dengan bidang studi yang diambil/profesi yang ingin digeluti, misalnya komunitas desainer grafis. Di situ biasanya ada banyak informasi.

Jangan ragu bertanya pada senior, keluarga, dan jaringanmu. Bukan bermaksud nepotisme, namun dari mereka kamu mungkin bisa dapat informasi lowongan pekerjaan yang OK. Trus, jangan puas dengan hanya mengirim beberapa lamaran pekerjaan. Update terus informasi lowongan yang dibuka. Kalau bukan kamu yang proaktif, akan sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai.

8. Menganggap enteng bisnis dan self employment.

anak muda

Nggak mesti cari kerja, 'kan? Bisa dong, buka bisnis sendiri atau merintis startup? jadi founder atau CEO muda kan kece, tuh! Atau bisa juga kerja sendiri, jadi fotografer, desainer, atau content creator profesional.

Optimisnya sih bagus, tapi jangan sampai halu, eaaa. Anak muda yang memutuskan untuk berbisnis itu bagus. Bagus banget. Tapi jangan pernah berpikir itu mudah. Jangan juga setengah-setengah menjalaninya. Apa yang menjadi fokus bisnisnya harus dimatangkan. Jangan hanya, misalnya, karena lagi tren kopi kekinian kamu langsung latah bikin yang serupa. Tanpa riset dan nggak ada keunikan (dibandingkan kopi kekinian lainnya).

Kamu harus tahu bahwa di balik kesuksesan seseorang ada usaha keras dan terus-menerus yang dilakukan.    

Selain itu jam terbang alias pengalaman juga diperlukan, apalagi kalau mau self-employment. Jadi fotografer bukan hanya bermodalkan kamera kece, namun keahlian yang diasah lewat belajar dan berlatih. Jadi makeup artist harus memulai dari bawah dan jauh dari kata glamor. Kalau kamu belum punya skill dan minim pengalaman, masih banyak PR yang mesti dikejar.

Jika kamu pengen enaknya aja dan menganggap berbisnis atau pekerjaan lainnya bisa ditaklukkan dengan mudah, jangan heran kalau masih menganggur, ya.

9. Attitude minus

Kompetensi memang penting banget. Namun perilaku dan pembawaan dirimu juga nggak kalah penting. Alkisah ada seorang pelamar muda yang saat diwawancara tetiba bertanya begini, “Jadi, Anda mau menggaji saya berapa?” Maksudnya mungkin menunjukkan kepercayaan diri dan nggak pengen banyak berbasan-basi, tapi jatuhnya malah nggak sopan. Bikin ilfil, gaes.

Di saat melamar pekerjaan, perusahaan masih belum banyak mengetahui siapa sebenarnya dirimu. Maka apa yang kamu lakukan bisa menjadi penilaian, seperti datang telat ketika wawancara/tes kerja. Tidak sopan saat berbalas email/pesan singkat, kelakukan kurang pantas saat wawancara (makan permen karet, duduk dengan posisi sesukanya, utak-atik hape, dan lainnya), serta postingan medsos yang provokatif juga bisa membuat perusahaan enggan mempekerjakanmu.

10. Manja.

jam kasur

Namanya juga kerja, apalagi pekerja (atau pebisnis) pemula, kamu harus siap bekerja keras, siap capek, siap ditantang, siap saat diremehkan, siap ditegur, dan sebagainya. Kamu mesti mempersiapkan mental dan energi. Perusahaan bisa menilai lho, kandidat yang “manja” dan belum siap bekerja. Atau bisa jadi hal itu terlihat saat masa percobaan.

Contoh sikap manja lainnya adalah menghabiskan waktu dengan berleha-leha, dibandingkan mengisinya dengan mengasah skill. Trus, banyak mengeluh, malas bangun pagi, dan lainnya. Selama belum membuang sikap manja tersebut, kamu akan sulit mendapat pekerjaan.  

***

Sudah dicek ‘kan, gaes. Ternyata ada beberapa hal yang menghalangimu meraih pekerjan. IPK tinggi atau prestasi saat kuliah bukan jaminan kamu nggak bakal menganggur. Nah, kamu sendiri lah yang bisa mengubah keadaan. Jadi, perhatikan sepuluh poin di atas supaya kamu nggak melakukannya.  

(sumber gambar: pexels.com)

LATEST COMMENT
Ahmad Faidoli Siregar | 6 jam yang lalu

Apa bisa modal jago gambar kita masuk jurusan arsitektur?

5 yang harus Kamu Persiapkan Sebelum Masuk Jurusan Arsitektur
Cindy Tan | 8 jam yang lalu

Semoga lolos dan keterima SBMPTN ke UI 2019

Berapa Passing Grade SBMPTN 2019?
Hawwa 'Ainaa | 11 jam yang lalu

Saya sma jurusan ipa, apakah bisa masuk fsrd lewat jalur snmptn?

Serba-Serbi Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB
Adrian Sasori | 23 jam yang lalu

Kak, mau bertanya. Boleh nggak mengambil 1 prodi saja di 2 PTN berbeda?

Serba-Serbi SNMPTN 2019 yang Penting Kamu Ketahui
Adrian Sasori | 23 jam yang lalu

Kak, mau tanya. Boleh nggak mengbila 1 prodi pada 2 PTN yang berbeda? Sekian terima kasih!

Serba-Serbi SNMPTN 2019 yang Penting Kamu Ketahui
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©