Menu

Bagaimana Cara Menjadi Seorang Pilot? Begini Tahapan Lengkapnya!

Profesi Pilot, Kopilot dan Ahli Penerbangan (khususnya Pilot) adalah salah satu profesi yang melegenda. Nggak jarang ada yang bercita-cita menjadi seorang Pilot sejak bangku TK dan konsisten untuk mewujudkannya sampai pendidikan tinggi—dengan harapan dapat lulus dengan nilai yang baik, lalu menjadi Pilot.

Nah, perlu kamu tahu bahwa jalan menjadi seorang Pilot bukanlah sesimpel mendaftarkan diri menjadi jadi Pilot aja, gaes. Ada jalan yang panjang dan berbagai tahapan yang harus dilalui seorang calon Pilot untuk akhirnya dapat mewujudkan cita-cita menjadi seorang Pilot!

Hal yang paling penting kamu lakukan untuk persiapan menjadi seorang Pilot pastinya sudah mengetahui arah minat dan tingkat kemampuanmu dalam bidang terkait, agar kamu bisa memantapkan diri untuk menjadi seorang Pilot di masa depan.

Lalu, what’s next? Gimana caranya agar di masa depan kamu bisa jadi Pilot?

Sampai sini, mungkin kebanyakan dari kamu bakal bingung harus mulai dari mana, walaupun kamu sudah tahu kamu ingin menjadi Pilot. Di bawah ini, kamu bisa simak tahapan dan perjalanan panjang yang harus ditempuh seorang calon Pilot yang dapat kamu jadikan acuan langkah-langkah konkrit untuk mewujudkan mimpimu.

Tahap 1: Persiapan dan Seleksi Masuk Sekolah Penerbangan

pendaftaran sekolah penerbangan calon pilot

Syarat utama untuk menjadi seorang Pilot adalah menjalani dan menamatkan pendidikan di sekolah penerbangan. Iya, kalau mau jadi Pilot, ada sekolahnya.

Sebelum mendaftarkan diri ke sekolah penerbangan, tentunya kamu harus tahu dulu syarat dan ketentuan untuk menjadi seorang Pilot. Pilot adalah salah satu profesi terapan yang memiliki banyak persyaratan—baik dari segi kemampuan, pengetahuan, performa fisik, atau bahkan finansial. Suka nggak suka, nggak semua orang bisa jadi Pilot!

Perlu kamu ketahui bahwa syarat-syarat (terutama fisik) untuk menjadi taruna/taruni ke sekolah penerbangan bisa berbeda-beda. Namun, syarat-syarat umum untuk menjadi seorang penerbang adalah sebagai berikut.

  • Lulus pendidikan formal tingkat menengah atas/sederajat
  • Usia minimal 18 tahun. Usia maksimal berkisar antara 23-26 tahun
  • Tinggi badan untuk calon taruna 165 cm, calon taruni 160 cm
  • Tidak memiliki riwayat penyakit kronis, tidak buta warna, bebas narkoba
  • Tidak memiliki kondisi mata yang mengharuskan kamu menggunakan kacamata. Namun, ada juga sekolah penerbangan yang tidak mempermasalahkan taruna/taruni yang berkacamata

Dari segi kemampuan dan pengetahuan, kamu pun nggak harus jadi yang terbaik di kelasmu, kok. Ada satu kemampuan dan pengetahuan yang harus kamu miliki (a.k.a harga mati!) untuk bisa menjadi seorang calon penerbang, yaitu Bahasa Inggris. Di samping itu, pengetahuan dasar mengenai dunia penerbangan dan aviasi pun menjadi nilai plus.

Jika kamu sudah memenuhi syarat-syarat di atas, saatnya mencari instansi pendidikan tinggi yang menyediakan program studi Penerbang (Pendidikan Pilot). Instansi pendidikan tinggi khusus penerbangan ada yang bentuknya Sekolah Tinggi ataupun Akademi. Program yang disediakan pun beragam—ada yang hanya memberikan lisensi, ada yang bentuknya diploma. Proses belajarnya pun berkisar antara 6 bulan - 2 tahun. Mau pilih yang mana, tentunya bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan kamu.

Sejauh ini, beasiswa dalam negeri untuk program studi Penerbang (Pendidikan Pilot) masih sangat jarang ditemukan. Untuk luar negeri, ada yang namanya program cadetship yang ditawarkan oleh maskapai penerbangan untuk menjaring calon-calon Pilot terbaik. Jadi, nggak heran kalau seleksi program cadetship sangat ketat.

Dalam persiapan mendaftarkan diri ke sekolah penerbangan, inilah hal-hal yang harus kamu lakukan.

  • Ikut TOEIC (Test of English for International Communication). Tenang, levelnya masih dibawah TOEFL, kok. Untuk menjadi seorang taruna/taruni, skor TOEIC minimal yang harus kamu kantongi adalah 400
  • Ikut medical examination (medex). Medex adalah istilah tes kesehatan untuk calon penerbang, Pilot, ataupun flight engineer. Yang umumnya dilakukan dalam medex adalah: cek laboratorium, tes audiometri, cek gigi, cek mata, rontgen, ECG, EEG, dan cek fisik. Medex dapat dilakukan di Balai Kesehatan Penerbangan (Hatpen), Jakarta Selatan. Untuk menjadi seorang taruna/taruni, kamu harus lolos minimal medex 1 atau 2 (tergantung kebijakan instansi)
  • Surat dan dokumen yang dibutuhkan untuk mendaftarkan diri di sekolah penerbangan. Lengkapnya bisa kamu cek langsung di instansi masing-masing

Tes TOEIC dan medex nggak hanya sebatas formalitas aja, lho. Kedua hasil tes ini digunakan untuk mendapatkan Student Pilot Licence (SPL), yaitu dokumen perizinan untuk menerbangkan pesawat secara solo (tanpa pendampingan instruktur) ketika masih berstatus pelajar sekolah penerbangan. Medex yang dibutuhkan pun minimal medex 3.

Ketika sudah melakukan pendaftaran, pastinya ada seleksi, dong. Seleksi masuk untuk satu sekolah penerbangan tentunya juga beda dengan sekolah penerbangan lainnya. Itulah kenapa kamu nggak boleh malas untuk mencari informasi terkait sekolah penerbangan pilihanmu.

Secara umum, tes yang akan kamu jalani untuk seleksi sekolah penerbangan adalah sebagai berikut.

  • Tes Potensi Akademik
  • Tes Kemampuan Dasar
  • Tes Kebugaran (SAMAPTA)
  • Tes medis (jika instansi membutuhkan medex 2)
  • Tes Teori Penerbangan
  • Tes Bakat Terbang
  • Wawancara

Untuk menghadapi serangkaian tes ini, kamu harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Ada baiknya jika kamu sudah mencicil mempelajari materi-materi yang akan diujikan dalam tes seleksi masuk sekolah penerbangan agar kamu bisa melewatinya tanpa hambatan.

Lalu, pastikan juga kamu sudah memiliki rencana yang jelas mengenai profesi Pilot yang ingin kamu jalani di masa depan. Misalnya, kamu ingin jadi pilot penerbangan komersial atau pilot pesawat pribadi? Apakah kamu ingin fokus menjadi pilot pesawat jenis fixed wing atau pesawat jenis rotary wing? Soalnya, ini akan sangat berpengaruh pada peminatan program studi yang akan kamu pilih dan lisensi apa saja yang seharusnya kamu dapatkan selama menjalani sekolah penerbangan.

Tahap 2: Ground School

ground school sekolah pilot

Ketika kamu berhasil melalui seleksi masuk sekolah penerbangan, akhirnya kamu selangkah lebih dekat dengan profesi Pilot. Taruna/taruni sekolah penerbangan alias calon Pilot (atau sering juga disebut dengan kadet) akan ditempa dengan pengetahuan dan kemampuan dan dibutuhkan untuk menjadi seorang Pilot.

Nah, dalam sekolah penerbangan, apakah kamu langsung terjun ke lapangan untuk menerbangkan pesawat? Tentu tidak. Khususnya di Indonesia, kelas temu muka dan kelas terbang memiliki porsi yang terpisah. Kamu diwajibkan untuk mendapatkan pembekalan secara intensif sebelum siap menerbangkan pesawat.

Oya, pelatihan Pilot memang terkenal dengan pendidikan gaya kemiliteran, karena sedikit banyak calon Pilot memang membutuhkan latihan ketahanan fisik. Tapi, bukan berarti kamu akan berlatih fisik secara intens selama berbulan-bulan tanpa mempelajari kemampuan dan pengetahuan yang relevan. Dalam ground school, kamu akan mendapatkan pembekalan berupa ilmu-ilmu penting, diantaranya:

  • Aircraft System and Component: mempelajari cara kerja dan sistem dari masing-masing komponen mesin yang umum digunakan oleh pesawat
  • Airframe and Aircraft System: mempelajari tentang airframe yang digunakan oleh pesawat dan perkembangannya seiring kemajuan teknologi
  • Human Factor: mempelajari informasi mengenai tingkah laku, kemampuan, dan keterbatasan manusia serta karakteristik mengenai perancangan peralatan, mesin, sistem, pekerjaan dan lingkungan untuk menghasilkan keamanan, kenyamanan, dan efektifitas dalam penggunaannya
  • Meteorology: mempelajari tentang cuaca, awan, serta analisanya dampaknya terhadap suatu penerbangan. Disini juga akan diajarkan cara membaca TAFOR (Terminal Aerodrome Forecast) yang memberi informasi ramalan cuaca yang kemungkinan besar akan terjadi di area bandara
  • Navigasi: mempelajari dasar intercept, membaca instrumen navigasi udara seperti ADF dan VOR, membuat flight plan, dan navigasi-navigasi dasar lainnya yang dirasa sangat penting untuk penerbangan apa pun
  • Principle of Flight (Aerodynamics): mempelajari tentang cara terbang pesawat, mengapa pesawat bisa terbang, daya angkat pesawat (lift), sampai beberapa efek yang ditimbulkan gerakan pesawat
  • Radio Telephony: mempelajari tata cara menyampaikan informasi kepada tower atau ATC dengan baik dan benar sesuai dengan standar. Diperlukan sertifikasi khusus sebagai tanda kelulusan kelas ini
  • Rules and Regulation: mempelajari tentang aturan dasar, syarat dasar menjadi pilot. Di antaranya adalah membahas CASR 61 tentang Licencing Pilot and Pilot Instructor dan CASR 91 tentang General Operasi

Tahap 3: Simulasi dan Solo Flight

simulasi penerbangan sekolah pilot

Setelah kamu memperkaya diri dengan pembekalan teknis dan ilmu-ilmu penting lainnya seputar penerbangan dan navigasi, kamu pun akhirnya siap untuk praktik langsung ke lapangan… dalam bentuk simulasi.

Calon Pilot rata-rata sudah bisa menginjak tahap simulasi setelah 3-5 bulan setelah mengikuti ground school. Setiap taruna/taruni diwajibkan menjajal masing-masing simulator ini sesuai dengan fase belajarnya, dan wajib didampingi oleh professional flight instructor.

Dalam simulasi, calon pilot akan belajar menerapkan kemampuan yang mereka dapatkan selama ground school ke lapangan menggunakan sarana praktik simulator yang sesuai. Program praktik simulasi yang dilakukan pun beragam, mulai dari pengenalan perangkat-perangkat terbang dalam kokpit, SOP menyalakan mesin pesawat, prinsip manuver sederhana, layout landasan udara, landing, sampai nanti di fase lanjut dimana calon Pilot mampu memecahkan masalah yang terjadi dalam penerbangan seperti menghadapi turbulence, koordinasi rute penerbangan dengan ATC, intercontinent flight, serta penanganan situasi emergency dan survival.

Semua hasil latihan taruna/taruni di simulator akan terekam dalam sistem dan menjadi catatan dalam logbook masing-masing. Selain menggantikan porsi jam terbang menggunakan pesawat asli, simulasi penerbangan juga  motivasi serta melatih mental dan kepercayaan diri calon Pilot saat berlatih.

Setelah agenda simulasi per fase selesai, calon Pilot akhirnya diperbolehkan untuk praktik ke lapangan menggunakan pesawat sungguhan. Kurang lebih apa yang akan dilakukan dalam praktik ini sama dengan apa yang dilakukan ketika simulasi. Bedanya, di dalam praktik lapangan, kamu akan menghadapi situasi yang sebenarnya. Wih!

Praktik lapangan ini akan dilakukan dalam 2 bentuk: dengan instruktur atau tanpa instruktur alias solo flight. Tahap dimana calon Pilot sudah diperbolehkan untuk solo flight tergantung kebijakan sekolah penerbangan ataupun kemampuan dari masing-masing calon Pilot. Selain mengikuti fase, durasi flight pun disesuaikan dengan situasi dan kondisi lapangan yang terjadi pada saat itu.

Perlu diperhatikan bahwa pada tahap ini, calon Pilot sudah mulai “menabung” jam terbang mereka. Jam terbang ini merupakan tolak ukur pengalaman yang dimiliki oleh seorang pilot, yang bisa digunakan untuk mencari pekerjaan di bidang penerbangan atau promosi jabatan. DI sekolah penerbangan, seorang calon Pilot dapat mengantongi sebanyak 120-200 jam terbang, tergantung dengan program pelatihan yang diambil.

Tahap 4: Lisensi Penerbangan

lisensi penerbang pilot

Taruna/taruni yang sudah sah terdaftar di sekolah penerbangan pasti sudah mengantongi Student Pilot Licence (SPL) untuk menerbangkan pesawat terbang selama masih berstatus siswa di sekolah penerbangan. Tentunya lisensi ini nggak akan terpakai jika nanti kamu sudah lulus dan menjadi Pilot—baik secara pribadi, komersial, maupun lainnya.

Lisensi penerbangan a.k.a surat izin terbang untuk Pilot ada banyak macamnya, tergantung dengan kebutuhan profesi yang ingin kamu ambil di masa depan dan jenis pesawat terbang serta penerbangan yang akan kamu jalani. Persiapan yang dibutuhkan taruna/taruni untuk mengambil lisensi ini pun berkisar antara 4-8 bulan, dimana kamu sudah harus menyelesaikan ground school serta melengkapi logbook simulasi dan praktik lapangan sampai standar jam terbang yang ditentukan.

Di Indonesia, lisensi penerbangan yang bisa dikantongi seorang Pilot (mulai dari yang pemula sampai profesional) untuk bisa membawa pesawat terbang adalah sebagai berikut.

  • Private Pilot Licence (PPL): adalah lisensi pertama yang bisa didapatkan oleh seorang Pilot untuk membawa pesawat terbang. Syarat untuk mendapatkan PPL adalah mengantongi 40-60 jam terbang, sesuai kebijakan yang berlaku di suatu negara ataupun persyaratan di suatu sekolah penerbangan. Pilot yang memiliki PPL hanya boleh menerbangkan pesawat dengan jumlah penumpang yang terbatas (sedikit) dan tidak boleh menerima bayaran.
  • Commercial Pilot License (CPL): adalah lisensi yang bisa didapatkan Pilot setelah PPL. Syarat untuk mendapatkan PPL adalah mengantongi 120-250 jam terbang, sesuai kebijakan yang berlaku di suatu negara ataupun persyaratan di suatu sekolah penerbangan. Pilot yang memiliki CPL diperbolehkan untuk menerbangkan pesawat dengan jumlah penumpang yang lebih banyak dan tentunya menarik bayaran dari pekerjaannya. Ini adalah lisensi minimum yang harus dikantongi seorang Pilot jika ingin bekerja di maskapai penerbangan perintis atau pun komersial.
  • Instrument Rating (IR): adalah lisensi tambahan untuk melengkapi CPL bagi Pilot profesional untuk dapat menerbangkan pesawat dengan instrumen. Misalnya, ketika harus menerbangkan pesawat di malam hari, cuaca yang agak buruk (kabut, mendung, badai) dan serta kondisi apapun yang dapat menghalangi penglihatan dan mengharuskan Pilot untuk terbang di ketinggian tertentu, namun tetap berada di bawah Instrument Flight Rules (IFR) dan Visual Flight Rules (VFR). Setelah memperoleh CPL, siswa sekolah pilot dapat melanjutkan jam terbangnya sekitar 10 jam untuk memperoleh IR.
  • Multi-Engine Rating (MER): adalah lisensi terbang untuk menerbangkan pesawat bermesin ganda, yang juga melengkapi lisensi-lisensi sebelumnya (PPL, CPL, dan IR). Dalam menerbangkan pesawat bermesin ganda dengan kecepatan yang lebih cepat, tanggung jawab yang dipegang oleh pemegang lisensi ini lebih tinggi karena kinerja mesin-mesinnya harus seimbang. Pemegang lisensi MER juga dapat bekerja dibidang penerbangan lain selain menjadi pilot, seperti instruktur.
  • Airline Transport Pilot License (ATPL): adalah lisensi yang diperlukan untuk menjadi captain di pesawat penumpang dengan berat tertentu. Di Indonesia sendiri kategorinya adalah pesawat di atas 3,409 kilograms atau untuk pesawat dengan konfigurasi kursi penumpang 30 atau lebih. Untuk mendapatkan ATPL, seorang Pilot harus mempunyai CPL, sertifikat kesehatan kelas satu, dan memiliki minimal 1500 jam terbang.
  • Type Rating (TR): adalah lisensi tambahan yang dibutuhkan seorang Pilot untuk menerbangkan pesawat tipe tertentu. Beda tipe pesawat, beda pula lisensi TR yang dibutuhkan.

Setelah kamu memutuskan “jalan Pilot” mana yang ingin kamu tempuh di masa depan, kamu bisa mempersiapkan diri untuk mengambil lisensi apa saja yang dibutuhkan. Tahapan yang harus dilalui calon Pilot untuk mendapatkan masing-masing lisensi dimulai dari mengikuti ground school (course), mengikuti tes tertulis dan wawancara (exam), lalu tes terbang (check ride). Materi yang diujikan akan menyesuaikan dengan persyaratan masing-masing kebutuhan dari lisensi.

Oya, ada juga hal-hal lainnya yang harus kamu perhatikan sebagai dokumen persyaratan untuk memperoleh lisensi, diantaranya:

  • Update hasil tes TOEIC. Jika skor minimum untuk syarat untuk mendapatkan SPL adalah 400, skor minimum untuk mendapatkan CPL adalah 700
  • Medex rutin, Untuk mendapatkan CPL, minimum medex yang sudah harus kamu lalui adalah 3. Ada pula persyaratan lainnya seperti sertifikat kesehatan kelas 1 untuk mendapatkan ATPL

Tahap 5: Magang, Jadi Pilot, dan Perbanyak Jam Terbang untuk Naik Pangkat

tahapan menjadi pilot

Eits, jangan kira setelah mengantongi berbagai lisensi kamu dapat langsung berkarier sebagai Pilot profesional (terutama dalam penerbangan komersial), ya. Perjalanan yang harus kamu lalui sebelum mendaftarkan diri menjadi seorang Pilot Profesional masih panjang, terutama jika kita berbicara mengenai jam terbang.

Mayoritas maskapai penerbangan komersial mensyaratkan batas minimum jam terbang sebagai salah satu syarat pendaftaran. Nah, mungkin aja jam terbang yang sudah kamu kantongi belum mencapai batas minimum yang disyaratkan oleh maskapai terkait. Artinya, kamu harus menabung jam terbang lagi dengan cara magang.

Yup, jadi Pilot juga ada magangnya, gaes. Selain untuk mengasah kemampuan dan melatih profesionalitas lewat jam terbang, periode magang seorang Pilot juga dapat dijadikan sebagai ajang memupuk soft skill dan memperkaya wawasan dan pengalaman dalam bidang penerbangan dan aviasi modern. Seperti kata pepatah: alah bisa karena biasa. Yegak?

Meskipun kebanyakan  maskapai penerbangan komersial besar tidak membuka lowongan magang untuk Pilot, kamu masih bisa mendapatkan pengalaman magang ini di maskapai-maskapai penerbangan yang lebih kecil (penerbangan perintis) ataupun di penerbangan lepas berlisensi, yang tentunya tidak menyediakan pesawat berjenis Boeing atau Airbus. Yang penting, kamu mampu menabung jam terbang dan kompetensi lainnya yang dibutuhkan untuk mendaftarkan diri maskapai penerbangkan komersial.

Setelah kamu menabung jam terbang dan berhasil mendapatkan posisi di salah satu maskapai penerbangan komersial, artinya kamu sudah menjadi seorang Pilot profesional. Pilot pun juga memiliki tingkatan dan jabatan yang berbeda tergantung dengan jam terbangnya.

Hal ini dibedakan dalam jumlah bar yang ada di bahu masing-masing pilot. Untuk Pilot yang memiliki 1-3 bar disebut dengan First Officer (FO), dan Pilot yang memiliki 4 bar di bahunya disebut dengan Captain. Meskipun patokan untuk tiap maskapai berbeda-beda, pada umumnya tahapan yang harus dilalui masing-masing adalah:

1 Bar (Cadet): mengantongi 0-500 jam terbang. Biasanya adalah Pilot yang baru menyelesaikan sekolah penerbangan

2 Bar (Junior First Officer): mengantongi 500-2500 jam terbang

3 Bar (Senior First Officer): mengantongi 2500-5000 jam terbang

4 Bar (Captain): mengantongi lebih dari 5000 jam terbang

Sebenarnya, selain menentukan pengalaman dan jam terbang, jumlah bar di bahu pilot juga akan menentukan job desc dan posisi Pilot in Command (PIC) yang sebaiknya ada dalam suatu penerbangan.

Misalnya, jika PIC adalah yang bertanggung jawab dalam penerbangan dan menerbangkan pesawat, maka posisi First Officer (yang dulunya dikenal sebagai co-pilot) melakukan tugas lain seperti membaca checklist penerbangan, berbicara di radio komunikasi, atau membantu navigasi dan monitor hal lainnya. Tapi kembali lagi: sistem bar ini tergantung dengan kebijakan masing-masing maskapai.

***

Gimana, gaes? Tertarik untuk menjalani panjangnya perjalanan untuk menjadi Pilot?

 

Baca juga:

(sumber gambar: the national.ae, diamiondair.at, flightsafetyaustralia.com, sfcpl.com)

LATEST COMMENT
Just adulting: (Sal) | 7 jam yang lalu

Tambahan: Bisa juga dalam bentuk rasio. Misal DT2018 jumlahnya 10, peminat 2018 ada 1.000. Rasionya 10:1.000 atau 1:100 yang bisa diartikan 1 kursi dalam prodi di PTN tersebut diperebutkan oleh 100 orang

Pengertian Keketatan Persaingan, Daya Tampung, dan Peluang dalam SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri
Just adulting: (Sal) | 7 jam yang lalu

Keketatan itu perhitungan Daya Tampung 2018 dibagi Peminat 2018 dan dikali 100, hasilnya dalam bentuk persen. Semakin kecil persentase keketatan berarti semakin sulit masuknya sekalipun DT-nya banyak karna peminatnya sudah pasti banyak, begitu sebaliknya

Pengertian Keketatan Persaingan, Daya Tampung, dan Peluang dalam SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri
Johan adham p | 9 jam yang lalu

Apakah memungkinkan kalo jurusan ipa masuk hi tapi ke univ swasta?

5 Tanda Bahwa Jurusan Hubungan Internasional Cocok Buat Kamu
Dela Amelianta Ginting | 11 jam yang lalu

Kak maksud tingkat keketatan itu yg gimana ya, apa harus ambil tingkat keketatan yg tinggi biar peluang lulus besar?

Pengertian Keketatan Persaingan, Daya Tampung, dan Peluang dalam SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©