Menu

8 Alasan Kenapa Saya Memilih Bekerja Sebagai Barista di Starbucks


Oleh Jane Reggievia Santoso (janefromtheblog@blogspot.co.id)

Setelah lulus kuliah dari luar negeri tahun 2013 lalu, saya pulang ke Indonesia, tepatnya ke Bali. Seperti kebanyakan fresh graduate lainnya, saya mencoba melamar kerja ke beberapa perusahaan, namun nggak ada panggilan lanjutan. Pada akhir tahun 2013, tiba-tiba saya mendapat ide untuk melamar kerja sebagai barista di salah satu coffee shop chain terkenal. Yup, Starbucks!

Tiga hari setelah saya nge-drop CV di sana, saya langsung mendapat panggilan untuk interview. Pada akhirnya, saya diterima bekerja di Starbucks dan bekeja di sana selama tujuh bulan.

Mungkin kamu bingung, kenapa seorang Sarjana seperti saya melamar kerja sebagai full-time barista. Padahal pekerjaan seperti ini ‘kan biasanya dilakukan oleh mahasiswa tengah semester. Secara part-time, pula!

Well, selain karena saya memang dari dulu kepingin belajar bikin kopi, berikut 10 alasan mengapa saya bekerja sebagai barista Starbucks:  

1. Hobi membuatkan kopi untuk orang lain

Saya suka kopi dan juga suka membuatkan kopi untuk orang lain. Malah, kalau di rumah, saya hobi bikinin kopi untuk para anggota keluarga, lho. Trus, setiap kali saya ke coffee shop, saya selalu kagum dengan para barista yang meracik kopi saya. Mereka lah yang memotivasi saya untuk belajar membuat kopi yang enak untuk orang lain.

2. Sudah ingin memakai “green apron” semenjak SMA

Sebenarnya, saya sudah kepingin jadi barista Starbucks sejak SMA. Saat kuliah dulu, saya pernah mencoba melamar jadi barista, namun saya nggak diterima. Ternyata cita-cita jadi barista Starbucks ini malah kesampaian saat saya lulus kuliah. Dream achieved!

youthmanual - barista starbucks

Kesampaian "cita-cita" pakai green apron!

3. Agar bisa keluar dari comfort zone

Walaupun sempat kuliah di luar negeri selama empat tahun, saat lulus dan kembali ke rumah orangtua, rasanya saya balik lagi ke comfort zone yang “aman” dan adem ayem. Dengan bekerja menjadi barista, saya jadi bisa merasakan dunia di luar comfort zone saya, meng-explore diri sendiri, sekaligus ketemu orang-orang baru.

4. Supaya bisa jadi penulis yang lebih baik

Apa, sih, hubungannya jadi penulis yang baik dengan bekerja sebagai barista?

Saya hobi nulis, dan ayah saya bilang, penulis yang baik harus punya skill menganalisa orang (duh, dalem!). Nah, coffee shop ‘kan adalah tempat yang didatangi oleh beragam orang setiap harinya. Mereka datang untuk memesan kopi, lalu duduk untuk menikmatinya bersama sahabat, teman kerja, atau sendirian. Masing-masing dari mereka punya cerita yang menarik, dan saya nggak bisa melewatkan itu! Bahkan coffee shop adalah subjek favorit saya untuk tulisan-tulisan saya.

Jadi, hampir setiap hari, kalau sedang nggak ramai, saya selalu berusaha memperhatikan pelanggan yang datang ke gerai Starbucks tempat kerja saya. Seringkali mereka memberikan saya inspirasi cerita yang seru dan menarik, lho! 

5. Supaya bisa bertemu dengan orang-orang baru

Di Starbucks, para barista dibiasakan untuk membangun percakapan dengan pelanggan, biasanya ketika kami membersihkan meja kotor,  atau membuang bekas cups di area meja.

Percakapannya bisa dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan simpel, seperti, “How was your coffee?”. Lalu biasanya saya akan bertanya, apa yang mereka lakukan selama di Bali. Sebagian besar pasti menjawab untuk berlibur, meskipun banyak juga yang datang ke Bali untuk bekerja atau melakukan perjalanan bisnis. Walaupun nanya-nanya orang asing, tuh, kesannya kepo banget, tapi sebenarnya mereka senang, lho, diajak ngobrol. Malah suka ada yang tiba-tiba curhat mendadak!

Tapi sebelum memulai obrolan, kamu harus lihat-lihat dulu, mana orang yang bisa diajak ngobrol, mana yang lagi nggak mau diganggu. Daripada sapaan kita malah dibalas dengan tatapan judes?

6. Agar bisa menjadi bagian dari hari orang lain!

Salah satu deskripsi pekerjaan barista adalah menjadi bagian dari hari orang lain. So sweet banget, ya? Saya mau banget, lho, menjadi bagian dari hari kamu. Cihiiiy.

7. Ingin mencoba menggunakan mesin mewah Mastrena Espresso!

Pelanggan Starbucks sejati pasti tahu Mastrena Espresso, dong, mesin espresso dan steam milk yang dipakai di hampir seluruh gerai Starbucks? Karena saya nggak mungkin beli mesin tersebut (duitnya mending buat nyicil mobil, deh!), saya kerja jadi barista Starbucks aja, deh, supaya berkesempatan nyobain mesin kinclong itu!

youthmanual- barista starbucks

8. Ingin kopi gratis

Siapa, sih, yang nggak mau dapet kopi gratis setiap hari di tempat kerja? Hehehe.

“Oh, jadi kalau kerja di Starbucks, kita bisa dapet kopi gratis, Kak?” Bisa! Tapi ada jatahnya, dan harus kita sendiri yang buat kopinya. Tetap lumayan banget, ‘kan?  

***

Believe it or not, bekerja sebagai full timer barista Starbucks selama tujuh bulan kemarin adalah satu hal terbaik yang saya lakukan di awal tahun 2014 lalu. Padahal banyak orang yang bilang saya “gila”, karena saya mau aja “membuang waktu” bekerja sebagai barista. Mereka bilang, ada banyak job di luar sana yang cocok untuk lulusan S1, tapi saya malah memilih menjadi pekerja kasar di coffee shop.

Iya, sih, gaji seorang barista memang nggak besar, tapi pengalaman yang didapat jauuuh lebih besar dan berharga daripada uang #cieh. Lagian saya juga happy menjalankannya, so why not, right?

(sumber gambar: cosmopolitan.com, janefromtheblog.blogspot.com)


92% Mahasiswa Merasa Salah Jurusan Kuliah. Jangan Sampai Kamu Menyesal!

Cari tahu minat, potensi dan kemampuanmu. Dapatkan rekomendasi jurusan kuliah dan profesi yang paling sesuai. Daftar sekarang dan gabung dengan ratusan ribu siswa lainnya di platform persiapan kuliah dan karier no 1.


How does it make you feel?

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2017 Youthmanual ©