Menu

Rahasia Belajar Elon Musk, Si Milyarder Jenius Panutan Anak Muda Masa Kini

Siapa yang nggak kenal Elon Musk? Wah, kalau ada yang nggak kenal, kalian pasti nggak ngikutin berita, nih. Hehe.

Elon Musk aka CEO dari Space-X, sebuah perusahaan teknologi yang lagi anget-angetnya dibahas media belakangan ini memang merupakan sosok yang patut dijadikan panutan. Telah menjadi CEO dalam usia muda, prestasinya dalam bidang teknologi dan eksplorasi luar angkasa berhasil membuat segenap masyarakat dunia melongo kagum.

Bayangkan, baru beberapa hari yang lalu, Elon Musk dikabarkan meluncurkan mobil luar angkasa via roket miliknya yang dinamakan Falcon Heavy. Roket yang lepas landas dari bumi pada hari Selasa (6/2) silam, membawa sebuah mobil sports elektrik bertajuk Tesla Roaster, dan seorang ‘supir’ berupa boneka yang bernama Starman.

Aksi yang dinilai sebagai sebuah lompatan besar dalam sejarah eksplorasi ruang angkasa itu menuai reaksi luar biasa dari media. Elon Musk dipuji di sana-sini, popularitasnya melejit, dan pertanyaan-pertanyaan terkait apa yang terjadi di dalam kepala pria jenius ini pun muncul ke permukaan.

Salah satunya yang paling menarik, tentu saja, bagaimana cara belajar Elon Musk hingga ia bisa menginisiasi diberangkatkannya sebuah mobil luar angkasa ke planet Mars!

Pada tahun 2015 silam, Elon sempat berbagi rahasia mengenai cara belajarnya. Menurutnya, akan lebih efektif jika kita mempelajari sesuatu mulai dari konsep-konsep dasar yang terpenting lebih dahulu.

“[Bagi saya] Sangat penting untuk melihat sebuah pengetahuan sebagai pohon semantik—pasikan kamu menguasai dulu konsep dan prinsip dasarnya, alias batang dan cabang-cabang terbesarnya, sebelum kamu bergerak mempelajaru ‘daun’-nya atau konsep-konsep yang lebih mendetil. Kalau tidak dilakukan seperti ini, konsep-konsep detil tersebut tidak akan memiliki ‘dahan’ yang menyambungkannya dengan ‘batang’ mereka”

Rupanya, metode yang digunakan Musk untuk mempelajari sesuatu ini digunakan pula oleh filsuf kenamaan dunia, Aristoteles. Metodi ini disebut sebagai First Principle Thinking, yang menurut Aristoteles adalah “basis utama untuk mengetahui sebuah hal yang belum pernah diketahui sebelumnya.

Pahami Semuanya dan Terapkan di Bidang Lain

Rahasia selanjutnya yang diterapkan oleh Elon Musk dalam mempelajari sesuatu disebut dengan istilah ‘learning transfer’. Istilah ini mengacu pada sebuah metode yang mana apa yang kita pelajari di satu bidang diterapkan untuk memecahkan masalah di bidang lain. Dalam kasus Elon, ia menggunakan metode ini dengan menerapkan apa yang diketahuinya di bidang teknologi dan rekayasa perangkat lunak dan menggunakannya di dalam industri aerospace dan aeronautika.

Metode learning transfer-nya yang terbilang sukses ini juga membawanya menjadi seorang expert-generalist. Bertolak belakang dengan anggapan bahwa seseorang yang memahami semua bidang tidak bisa menjadi seorang ahli dalam satu bidang yang terkonsentrasi, Elon justru membuktikan bahwa ia bisa menjadi seorang generalist dan tetap menjadi ahli yang fokus di bidang-bidang tertentu.

Hal ini nyaris serupa dengan apa yang ada dalam sebuah notebook anyar keluaran Acer. Bertajuk Acer Chromebook 11, notebook ini nggak hanya bisa menemanimu dalam belajar dan bekerja, tapi juga mantap untuk dibawa main game maupun nonton film. Spesifikasinya yang mantap dengan dukungan prosesor Intel Celeron dna RAM berukuran 4GB, membuat notebook ini ‘ahli’ dalam melakukan berbagai tugas yang sesuai kebutuhan kamu.

Seperti Elon Musk, notebook ini adalah sebuah expert-generalist yang akan memudahkanmu dalam kehidupan sehari-hari. Wih!

Oya, sebagai seorang expert-generalist, Elon memiliki keinginan yang besar untuk terus belajar yang membuatnya mampu untuk menghasilkan ide-ide segar yang merupakan perpaduan dari berbagai disiplin. Dengan mengetahui prinsip utama dari subyek yang akan kamu pelajari dan menerapkannya untuk memecahkan masalah di bidang-bidang lain, kamu pasti bisa deh menjadi the next Elon Musk. Apalagi kalau didukung oleh gadget mumpuni yang membuatmu makin produktif seperti Acer Chromebook 11, kegiatan belajarmu akan jadi lebih mudah dan pastinya menyenangkan!

Baca juga:

(sumber: curiosity, acerid.com)

LATEST COMMENT
Zulva Nur Imawati | 2 jam yang lalu

Makasih kakk udah jawab. Soalnya aku yakin ini jurusan yang aku cari2 sejak dulu. Tapi saya tinggal bukan di perkotaan, agak khawatir sama prospek kerja. Memang sih di daerah saya setelah saya mencari data tenaga kerja RS untuk okupasi terapis tidak ada. Hanya ada fisioterapi itupun hanya 1 orang. Terimakasih kak, semoga dimudahkan sekolahnya. Doakan saya bisa masuk jurusan ini yaa

Mengenal Lebih Dekat Program Studi Okupasi Terapi
Asyila | 4 jam yang lalu

Kalo tembus fkui lewat jalur sbmptn, biayanya semahal di PTS ga sih kak? Jujur aja aku pengen bgt keterima fk cuma kasian papa aku krn mengeluarkan biaya kedokteran ku yg pastinya mahal bgt, dan juga ada ibu dan kakakku yg perlu dinafkahi oleh ayah ku, rasanya aku agak egois ga sih?

Jurusan 101: Tanya Apapun Tentang Jurusan Kedokteran di Youthmanual
Komang S. Satyanata | 5 jam yang lalu

Mohon maaf Baru balas Bantu jawab, Boleh ttapi alangkah baiknya bila ambil aja sbm nya (A)

Seleksi Mandiri Universitas Udayana 2019: Mulai Dari Syarat Pendaftaran Hingga Program Studinya
Sabrina Halimatus Sakdiyah | 5 jam yang lalu

Saya bingung nanti setelah lulus SMA saya ngambil jurusan apa. Kata temanku dan guru seniku gambaran saya bagus tapi menurutku biasa aja soalnya saya melihat temen selain kelasku ada yang lebih bagus dari saya malah jauh lebih bagus. Saya sih pengen banget jurusan kecantikan tapi takut salah melangkah jauh. Tolong saran untuk saya?

8 Pekerjaan yang Banyak Dibutuhkan di Tahun 2020
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©