Menu

Listrik Kerakyatan, Gagasan Keren Buat Kamu yang Berminat Mendalami Bidang Kelistrikan

Buat kamu yang tertarik untuk melanjutkan kuliah teknik di perguruan tinggi, bidang kelistrikan merupakan bidang keteknikan yang cukup populer dan dipastikan nggak akan ada matinya. Di masa kini (dan di masa depan), siapa sih, yang nggak butuh listrik? Nge-charge handphone untuk keperluan main sosmed aja kamu butuh pasokan listrik. Yegak?

Yup, bidang kelistrikan bisa menjadi salah satu bidang industri yang sangat menjanjikan untuk kamu perdalam di masa depan, apalagi kalau kamu punya minat dan kemampuan yang mumpuni di bidang ini. Tapi, kamu juga harus tahu bahwa semua industri terus berinovasi dan bergerak dinamis mengikuti perubahan zaman dan kebutuhan yang mengikutinya, nggak terkecuali bidang kelistrikan. Makanya, bahaya banget kalau kamu masih kudet seputar inovasi di bidang kelistrikan kalau kamu benar-benar ingin mendalaminya.

Kelistrikan zaman sekarang, tuh, nggak lagi selalu tentang PLTA dan pentingnya energi pembakaran minyak bumi dan batubara. Those are sooo last year! Dalam bidang kelistrikan saat ini, ada the next big thing yang namanya Listrik Kerakyatan—yang nggak cuma sangat inovatif dalam memenuhi hajat kelistrikan masyarakat, tapi juga berkontribusi besar untuk pemenuhan energi baru terbarukan yang sangat ramah lingkungan.

pembangkit listrik kerakyatan ramah lingkungan
Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (angin) emang ramah lingkungan. Tapi apakah PLTB termasuk listrik kerakyatan?

Jadi, Listrik Kerakyatan itu apa, sih?

Listrik Kerakyatan (LK) didefinisikan sebagai suatu model penyediaan dan pengembangan energi listrik, yang terdiri dari berbagai pembangkit sederhana skala kecil dari pemanfaatan energi bersih yang tersedia di sekitar kita, sehingga dapat dibangun sendiri secara bergotong-royong oleh berbagai kelompok masyarakat di tingkat kelurahan di seluruh Indonesia.

Menurut Ir. Dr. Supriadi Legino, Ketua STT-PLN, Listrik kerakyatan adalah suatu gagasan berupa perubahan pola pikir dalam mengelola ketenagalistrikan saat ini dengan menghimpun dan memanfaatkan berbagai teknologi sederhana dan murah yang cocok untuk dikelola oleh masyarakat awam.

“Bahan bakar utama dari Listrik Kerakyatan ini adalah sampah perkotaan dan energi yang berasal dari BioMassa. Tentunya hal ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia yang darurat penanggulangan sampah perkotaan serta krisis energi listrik, terutama di daerah pedesaan serta daerah terpencil," jelas Beliau, dikutip dari wawancara di acara “Karya Untuk Negeri” tahun 2018 lalu.

Apa kriteria untuk membuat program Listrik Kerakyatan?

LK memang bisa dibuat oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Tapi, bukan berarti nggak ada pakem dan standar untuk membuat suatu program LK. Menurut Pak Supriadi dan para inisiator listrik kerakyatan lainnnya: Djoko Paryoto, Sonny Djatnika Sundadjaya, dan Santoso Janu Warsono, ada 5 kriteria utama dalam membangun suatu program LK, yaitu...

1. Mudah

Karena diolah oleh masyarakat, idealnya LK dibangun semudah mungkin, dengan memanfaatkan segala sumber daya yang bisa diakses langsung dari sekitar. Cukup membuat LK berkapasitas kecil (10 kW – 100 kW) dan menggunakan teknologi sederhana yang sudah ada, masyarakat bisa dengan mudah membangun, mengoperasikan, dan memeliharanya.

Selain itu, dengan skalanya yang kecil, maka sentra pembangkit dapat dibangun pada area kecil,  sehingga LK bisa dibangun di sekitar lokasi perumahan, ruko, mall, pasar, atau area umum lainnya yang dapat disambung ke jaringan PLN terdekat.

2. Bersih

Nggak seperti energi masif hasil pembakaran batubara ataupun minyak bumi yang sarat emisi, LK haruslah menggunakan energi bersih yang terdiri dari bauran pembangkit dengan memaksimalkan energi terbarukan. Contohnya adalah tenaga surya (PLTS), tenaga bayu (PLTB) dan tenaga sampah  (PLTSa).

Nggak hanya proses pembuatannya, model LK yang dibuat juga wajib mencerminkan suasana dan perilaku bersih dari segi estetika. Misalnya, tempat pembuangan sampah yang tadinya terkesan jorok bisa diubah menjadi taman yang asri karena sampah organik yang menjadi sumber bau busuk telah diolah menjadi energi dan pupuk di dalam digester yang bentuk dan warnanya didesain menjadi lebih artistik.

3. Cepat

Selain mudah untuk dibangun, pembangkit LK (apa pun jenisnya) harus menggunakan teknologi yang sederhana dan tidak memerlukan proses rancang bangun yang rumit. Kalau dibangun menggunakan rancangan pembangkit konvensional yang sungguh sangat ribet dan memakan waktu, namanya bukan LK dong. Hehehe.

Misalnya, LK memilih PLTS tipe photovoltaic (PV) yang sudah banyak dipakai dan tersedia di pasar dan dapat dibangun dalam waktu kurang dari 6 bulan. Untuk pembangkit sampah, sebaiknya, tipe biogas yang berasal dari sampah organik dengan pengolah digester dan genset yang bisa dibuat atau dibeli di dalam negeri. Untuk tenaga bayu, dipilih turbin angin skala kecil yang dapat dibeli di pasaran dan dicari jenis turbin yang dapat menghasilkan listrik pada kecepatan rendah.

4. Mandiri

Secara kepemilikan, pemilik LK adalah rakyat yang diwakili oleh para pengusaha lokal (misalnya anggota asosiasi kontraktor listrik) atau koperasi yang berperan sebagai Independent Power Producer (IPP) yang akan menjual listriknya ke PLN atau langsung kepada masyarakat untuk daerah-daerah yang belum terjangkau oleh jaringan PLN.

Untuk itu, LK harus bisa dikelola oleh masyarakat setempat dan sebanyak mungkin pengembang di tingkat pedesaan yang akan dilatih dan dibimbing oleh para teknisi dan pakar dalam bidang teknik dan manajemen yang memiliki kompetensi terkait.

5. Gotong Royong

Karena model listrik kerakyatan baru bernilai bila dibangun sebanyak mungkin secara masal, maka program LK ini harus menjadi gerakan nasional yang diikuti oleh seluruh masyarakat di tingkat desa atau kelurahan  di seluruh penjuru tanah air.

Listrik Kerakyatan harus menjadi gerakan dengan membangkitkan lagi budaya  gotong royong yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pengusaha lokal sebagai IPP, perguruan tinggi sebagai mentor, PLN sebagai pembeli tunggal, pemerintah daerah sebagai pembina, bank-bank nasional, serta Balai Latihan Kerja untuk melatih para calon operator dan teknisi.

panel surya listrik kerakyatan
Solar panel—salah satu teknologi pengolah sumber tenaga hybrid listrik kerakyatan selain tenaga bayu

Kenapa Indonesia butuh lebih banyak gagasan dan pembangkit Listrik Kerakyatan?

LK merupakan gagasan yang super inovatif dan solutif (dan anti-mainstream!) bagi permasalahan di industri kelistrikan kita. Meskipun sudah banyak pembangkit listrik konvensional yang beroperasi dengan baik dan rancangan situs-situs PLT yang akan segera direalisasikan dalam waktu dekat, gagasan LK patut untuk didukung dan digalakan lebih luas di Indonesia karena...

1. Kita sebagai konsumen bisa langsung mengontrol apabila kuantitas dan kualitas pelayanan listrik yang diperoleh tidak memuaskan. Selama ini, pengelolaan listrik dilakukan oleh pemerintah melalui BUMN atau oleh perusahaan listrik swasta sehingga konsumen cuma bisa “nrimo”. Ketika kuantitas pelayanan listrik kurang, tinggal bangun program LK sesuai kebutuhan dan kemampuan tanpa perlu melewati birokrasi panjang, perizinan yang ribet, dan pendanaan yang gila-gilaan.

2. Sangat tepat diimplementasikan di Indonesia karena dapat menjangkau daerah terpencil sekali pun. Kalau ngomongin pembangkit listrik, yang kebayang oleh kamu pastinya adalah bangunan mega besar yang memakan lahan, waktu, tenaga, dan biaya yang nggak sedikit. Belum lagi masih banyak daerah di Indonesia yang belum tersentuh listrik karena kendala lokasi dan biaya pembangunan PLT. Asal bahan baku tersedia dan ada tenaga ahli yang membimbing, LK bukanlah hal yang sulit untuk diimplementasikan.

3. Gagasan LK mengajak masyarakat untuk turut andil mengatasi permasalahan pelayanan listrik, termasuk pengembangan kelistrikan di tempat mereka. Nggak cuma memberdayakan masyarakat, tapi juga tenaga-tenaga ahli dan peneliti dalam pengelolaan listrik oleh rakyat yang mandiri dan berbasis konsep manajemen pengetahuan.

4. Efektifitas waktu, tempat, dan biaya. Walaupun kapasitas per unitnya sangat kecil, namun apabila jumlahnya sangat banyak, maka LK dapat menjadi alternatif untuk mengatasi berbagai permasalahan yang menyulitkan sistem konvensional yang sangat tergantung pada pembangkit skala besar dan jaringan transmisi. Model pembangkitan skala kecil tersebar ini memiliki keunggulan utama yaitu bisa dibangun hampir di setiap lokasi dan waktu penyelesaian yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan pembangkit konvensional skala besar.

5. Dapat menjadi salah satu solusi untuk memberikan kontribusi dalam mencapai sasaran kebijakan pemerintah dimana porsi energi terbarukan dalam bauran energi harus mencapai 23 persen pada tahun 2025. Fenomena menurunnya harga bahan bakar fosil yang terjadi saat ini juga nggak bisa dijadikan alasan untuk menunda penggunaan energi terbarukan, karena jumlah cadangan energi fosil akan selalu berkurang dan pada suatu saat bisa melonjak kembali kalau pasokan tidak lagi dapat memenuhi permintaan. Duh!

6. LK juga membantu realisasi salah satu program ambisius pemerintah dalam mewujudkan penyediaan listrik 35 GigaWatt. Secara matematis, membangun 1 unit pembangkit dengan kapasitas 1000 MegaWatt nilai atau total kapasitasnya sama persis dengan membangun 1000 unit pembangkit dengan kapasitas masing-masing yang hanya 1 MegaWatt. Jadi kalau mau mewujudkan 35 GigaWatt, tinggal bangun 35.000.000 LK aja, lah. Hehehe.

7. Menciptakan lapangan kerja yang lebih luas di bidang energi sekaligus mengatasi problem emisi dan limbah yang merusak lingkungan. Nggak cuma meminimalisir energi dari hasil pembakaran batubara dan minyak bumi yang nggak ramah lingkungan, pembangunan LK juga menanggulangi permasalahan pembuangan limbah dan sampah di Indonesia yang dapat didaur ulang menjadi sumber energi dan tidak terus menumpuk sampai menyebabkan problem lingkungan lainnya.


Digester Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang dipasang di area perumahan. Nggak memakan banyak tempat, 'kan?

Wah, menarik banget! Tapi, bisa nggak, ya, gagasan Listrik Kerakyatan dipelajari dan didalami di bangku kuliah?

Bisa banget, dong.

Sekolah Tinggi Teknik PLN (STT-PLN) sebagai salah satu inisiator dan penggala penuh gagasan Listrik Kerakyatan bisa menjadi wadah kamu untuk mendalami bidang kelistrikan dan pastinya Listrik Kerakyatan secara spesifik. Dari segi akademik, kamu bisa memilih 7 program studi keteknikan (D3 dan S1) dengan 4 jurusan esensensial dalam dunia kelistrikan: Teknik Elektro, Teknik Sipil, Teknik Informatika, dan Teknik Mesin. Tinggal pilih mana yang paling sesuai dengan minat dan kemampuanmu.

STT-PLN juga meluncurkan Program Vokasi dan Inisiatif Listrik Kerakyatan (LK) dalam rangka mendukung ketahanan energi nasional secara ramah lingkungan serta melibatkan masyarakat. Kamu juga bisa terlibat dalam inovasi dan pengembangan gagasan LK selama berkuliah di STT-PLN dengan program TOSS (Tempat Olah Sampah Setempat) yang kini telah diimplementasikan berbagai daerah di Indonesia yang membutuhkan pelayanan listrik lebih serta berkomitmen untuk mengatasi permasalahan sampah. Keren!

Gimana? Tertarik untuk mendalami dan berkarya di bidang Listrik Kerakyatan?

Baca juga:

  • TOSS, Inisiatif Keren STT PLN & Mahasiswa Untuk Listrik Kerakyatan dan Mengurangi Sampah
  • Kelas Kerjasama STT-PLN: Kuliah Langsung Ikatan Kerja
  • 5 Fakta Seru Tentang STT-PLN yang Bikin Kuliah Teknik Jauh Lebih Menyenangkan

(sumber gambar: listrik-kerakyatan.id, finance.detik.com)

LATEST COMMENT
Aufa B | 3 jam yang lalu

Lebih baik ikut utbk jarena ada beberapa univ yg mandiri juga menggunakan kombinasi dengan nilai utbk

Jadwal Lengkap SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri 2019
Aufa B | 3 jam yang lalu

Nama tesnya utbk, jalur masuknya sbmptn

Jadwal Lengkap SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri 2019
Witri syafrida femelia | 8 jam yang lalu

min saya ikut utbk soshum dan saintek namun nilai soshum saya lebih tinggi, saat mendaftar sbmptn saya ingin ambil program studi soshum untuk kedua pilihannya apakah bisa min?atau harus ambil jurusan satu saintek dan satu soshum?

Serba-Serbi SBMPTN 2019, Cek Informasi Lengkapnya!
Dela Amelianta Ginting | 10 jam yang lalu

Kak maksud dari" jangan menempatkan prodi dgn kriteria kelulusan skor tinggi di bwh prodi yg skor lukusnya relatif rendah" itu kyk mana ya..

Pengertian Keketatan Persaingan, Daya Tampung, dan Peluang dalam SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Youthmanual ©