Menu

Izna Iskandar, Guru Muda yang Bahagia Karena Mengajar


Selamat Hari Guru! Setiap tanggal 25 November, kita memperingati Hari Guru Nasional. Malahan biasanya sekolah-sekolah mengadakan upacara bendera pada hari ini, demi menghormati para pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

Apalah artinya kita tanpa guru-guru kita. Ya, kan?

Di Indonesia, tanggal 25 November ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional karena bertepatan dengan pembentukan organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Sementara pada masa pemerintahan Belanda, kaum guru bernaung di bawah organisasi Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang dibentuk pada tahun 1912.

Youthmanual Hari Guru 2

Di Hari Guru Nasional ini, Youthmanual ngobrol sama Ibu Izna Iskandar, seorang guru muda yang sudah lima tahun mengajar di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan Swasta di Cikarang. Simak obrolannya, yuk!

Hai, Bu Izna! Tanya-tanya dikit, ya. Dulu kuliah jurusan apa, sih, dan kenapa ambil jurusan itu?

Dulu saya kuliah di jurusan Hubungan Internasional. Saya kuliah di jurusan tersebut karena dipilihkan Mama. Pokoknya dulu saya terserah Mama aja, sebaiknya kuliah di mana. Yang penting nggak ada pelajaran hitung-hitungannya. Hahaha! Jangan ditiru , ya.

Apa yang paling dikangenin dari masa kuliah Bu Izna?

Ikut organisasi kampus, bebas main kemana aja dan kuat nongkrong sampai pagi. Sekarang jam 10 malam aja udah ngantuk!

Izna Iskandar Hari Guru

Sekarang mengajar apa di sekolah?

Sekarang ini, saya mengajar Pendidikan Kewarganegaaan dan Bimbingan Karir (BK). Dulu namanya Bimbingan Konseling, tapi saya dan murid-murid sepakat bahwa di usia mereka, nakal adalah hal yang wajar, meski tetap harus ada bimbingan untuk membantu mereka memikirkan tujuan hidup. Jadi nama Bimbingan Konseling diganti menjadi Bimbingan Karir, agar murid yang dipanggil ke ruang BK kesannya bukan selalu murid yang bermasalah.

Apa sih, Bu, enaknya jadi guru?

Pertama, saya jadi bisa lebih mengenal karakter anak-anak jaman sekarang. Karena saya ketemu anak-anak muda setiap hari, saya jadi bisa melihat gambaran Indonesia di masa depan. Saya pun senang bisa ambil bagian dalam membentuk anak muda Indonesia.

Kedua, saya merasa nggak punya beban apapun. Dalam profesi saya, nggak ada deadline pekerjaan dari bos yang bikin saya takut. Semua sudah ada di kurikulum, dan setiap hari, kita tinggal menyampaikan hal-hal yang sudah dirancang kurikulum kepada murid.

Meskipun sudah ada formulanya, saya nggak bosan, kok, mengajar setiap hari. Di sekolah ‘kan ada banyak kegiatan selain belajar mengajar. Selain itu, tingkah pola murid yang ajaib dan bikin saya jadi nggak bosan.

Nggak enaknya jadi guru?

“Berat”nya jadi guru cuma terasa di awal-awal aja, sih. Jadi guru ‘kan nggak bisa cuma modal berdiri di depan kelas trus sembarangan cuap-cuap. Setiap bulan, guru harus menyiapkan silabus berdasarkan kurikulum yang distandarkan oleh Dinas Pendidikan. Jadi, saya harus paham betul materi yang akan saya sampaikan. Kalau ada hal-hal yang nggak saya pahami, saya harus cari jawabannya sampai dapat. Jadi kalau nanti murid nanya, saya bisa jawab.  

Trus, semakin lama, saya ‘kan semakin paham dengan materi yang akan saya ajarkan. Jadi tinggal berangkat ke sekolah dengan gembira aja, deh!

Tantangan lainnya terjadi ketika saya harus mengurusi manajemen sekolah. Sebagai guru, kita juga harus ngurusin tunggakan uang sekolah siswa, hambatan biaya untuk kegiatan murid, bahkan target penerimaan siswa masuk. Belum lagi urusan buku-buku yang harus dibeli siswa. Kadang ada siswa yang sudah dikasih uang sama orang tuanya untuk beli buku, tapi malah dipakai jajan. Hal-hal seperti ini kadang bikin jengkel, tapi di situlah justru peran saya sebagai guru diuji. Guru hadir bukan hanya sebagai pengajar, lho, tapi juga pendidik. Agar murid-murid tahu, mana yang terbaik bagi mereka.

Apa ritual pagi Bu Izna di sekolah?

Saya biasanya nunggu di gerbang sekolah untuk menyambut anak-anak yang baru datang sekaligus mengecek kelengkapan mereka. Misalnya, kalau ada yang bawa motor, dia pakai helm nggak? Atribut sekolahnya lengkap nggak? Seragamnya rapi nggak?

Pengalaman  paling berkesan selama menjadi guru?

Karena sekolah tempat saya mengajar lokasinya agak di pedalaman, kadang ada aja murid yang kesurupan. Kadang ada juga murid yang penyakitnya kambuh di tengah-tengah saya mengajar. Tapi satu hal yang paling berkesan adalah ketika para siswa menobatkan saya sebagai guru terfavorit di sekolah. Rasanya semua yang saya lakukan untuk mereka nggak sia-sia!

 Youthmanual Hari Guru 4

Skill apa yang Ibu Izna miliki yang dulu nggak didapat dari bangku sekolah atau kuliah?

Kemampuan untuk mempengaruhi orang lain secara persuasif! Waktu kuliah, saya memang belajar soal teori Diplomasi, tapi ilmu aplikatifnya justru baru saya dapat ketika menjadi guru.

Bagi saya, skill mempengaruhi orang lain itu penting banget, lho, karena saya jadi bisa bikin murid-murid mau melakukan sesuatu yang nggak mereka suka, namun perlu dilakukan demi kebaikan mereka. Saat baru awal-awal mengajar dulu, saya kewalahan banget menghadapi para siswa, karena belum paham betul ilmu yang satu ini.

Kapan Ibu Izna sadar bahwa passion ibu adalah mengajar?

Sekitar tahun 2010, ketika saya masih kerja di korporat dan merasa nggak nyaman dengan aktifitas sehari-hari di kantor.

Apa hal-hal kecil yang biasa ibu lakukan sejak kuliah dan ibu rasakan manfaatnya sampai sekarang?

Ketemu dan ngobrol sama banyak orang. Sekarang saya jadi cukup luwes dalam networking.

Rekomendasikan buku atau film yang oke, dong, Bu!

Untuk buku, Tetralogi Laskar Pelangi. Sementara untuk film, Di Timur Matahari.

Tips ujian dari Ibu Izna apa sih?

Banyak-banyak latihan soal. Menurut saya, latihan soal, tuh, manfaatnya banyak banget—kita jadi “dipaksa” untuk memahami pertanyaannya lalu “dipaksa” membaca demi mencari jawabannya. Akhirnya, materinya jadi nempel di kepala karena kita menulis ulang jawaban-jawaban latihan soal yang kita kerjakan.

Lalu yang paling penting, jangan nyontek, ya. Kita harus jujur sama diri sendiri tentang kelemahan kita, supaya guru bisa membantu “memperbaiki” kelemahan kita tersebut. Sekolah adalah tempat yang paling tepat untuk melakukan banyak kesalahan, kemudian mencari cara untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan kita, agar kesalahannya nggak terulang lagi.

Menurut Ibu Izna, apa saja nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang guru?

Selain cerdas, tentu saja kita juga harus sangat niat mengabdikan diri untuk mendidik murid. Guru adalah profesi yang memberikan dampak besar untuk orang lain, lho. Jadi kepentingan orang lain—dalam hal ini, murid—harus selalu jadi nomor satu.

Saya percaya, apa yang diberikan dari hati, akan tertangkap oleh hati. Maksudnya, kalau saya mengajar dengan tulus, murid-murid juga pasti jadi semangat dan mau melakukan sesuatu sebaik mungkin.

Youthmanual Hari Guru 5

Terima kasih, Bu Guru Izna! Semoga di hari guru ini, mengajar dan mendidik murid-murid bisa bikin Ibu semakin bahagia!

***

Universitas di Indonesia yang menawarkan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan:

Universitas Pendidikan Indonesia
Universitas Pasundan Bandung
Universitas Katolik Indonesia Sanata Dharma
Universitas Negeri Jakarta
Universitas Muhammadiyah Malang

(sumber foto: Iyank, Whatsappstatus, Ezyshine, Blogspot, Etsystatic)


How does it make you feel?

COPYRIGHT ©2015 - 2017 YOUTHMANUAL. ALL RIGHTS RESERVED.